
Di sepanjang jalan Bara dan Vanessa tidak lagi banyak bicara meskipun sesekali Bara melirik pada wanita yang ada di sampingnya, Bara mengulum senyum ketika melihat istrinya marah dan ngambek karenanya.
"Sepertinya Nesa sudah mulai mencintai Aku buktinya dia tidak suka Aku membicarakan Rendra, smoga Nama dan kenangan dari Dokter sialan itu sudah lenyap dan hilang dari pemikirannya. "gumam Bara dalam hati sambil terus melajukan Mobilnya dengan kecepatan sedang.
Bara langsung membelokkan Mobilnya masuk ke tempat parkir, suasana pagi yang belum terlalu Siang akan tetapi Restoran yang di pilih Bara sudah cukup Ramai pengunjung, dimana Restoran ini termasuk Restoran yang paling terfavorit bagi para pengusaha kaya yang malas untuk sarapan pagi di Rumah.
"Sayang kita duduk disini ini bangkunya kosong. "
Vanessa mengaggukan kepala tapi ketika dirinya hendak duduk tiba-tiba perasaan hatinya begitu berdebar debar, hingga tanpa sadar membuat raut Wajah Vanessa sedikit memucat.
Bara yang melihat Istrinya duduk dengan gelisah menatap heran dan merasa khawatir.
"Sayang apa kamu sakit? "
"Tidak,"
"Tapi kenapa Wajahmu menjadi pucat begitu, Aku keterlaluan ya, sampai membuat kamu begitu, "ucap Bara dengan tatapan mata sendu.
Vanessa tersenyum kecut.
"Tidak ada hubungannya dengan itu, "
"Lalu, katakan jangan di pendam saja bukankah Aku ini Suamimu,
" Aku merasa tidak nyaman dan merasa ada yang mengawasi, "
Bara menarik Napas panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan.
"Jangan jangan Arum mengikuti dan mengawasi Vanessa, karena Aku tidak mengizinkan ikut bisa jadi dia Mdmbututti kami, dasar Wanita tidak tau malu, sudah di tolak masih juga mengaggu." gumam Bara dalam hati.
" Ehemm, Baiklah Sayang Aku duduk di depanmu saja, biar kamu melihat Aku tidak melihat yang lain kita cuma sebentar disini makanannya enak sekali Sayang, Aku dulu sering kesini dan sekarang karena Aku punya Istri Aku bawa kamu Nanti kalau ada Waktu Aku juga akan membawa Mikha kesini juga, "
"Benarkah Makanan disini Enak, "
"Sangat Enak,"
"Apa harganya mahal, "
Bara tersenyum sambil mengagguk kecil.
"Lumayan, "
"Berapa kisarannya, "
__ADS_1
"Hmmm, satu juta, "
"Satu Juta untuk satu porsi mahal sekali, seharusnya makan di pinggir jalan saja kita bisa hemat banyak. "
Bara terkekeh mendengar perkataan Istrinya.
"Satu juta tidak ada apa-apa nya dibandingkan dengan Cinta kamu ke Aku, sudah tuh makanannya datang, "
Vanessa melongo melihat makanan yang dibawakan oleh pelayan.
"Cuma ini, satu juta permenunya? "tanya Vanessa merasa heran.
Bara tersenyum melihat Vanessa yang keheranan dengan menu yang dia pilih dan dugaannya Vanessa belum pernah mencoba kesini ternyata benar dan hal itu membuat Bara merasa senang dan bangga.
Bara hanya memesan dua menu makanan di Restoran itu, salah satunya Sup sarang burung walet dan Saffron rice pilaf.
"Ayo di coba ini sangat enak sayang, " ajak Bara yang hatinya mulai lega karena Wajah pucat dan cemas di dalam diri Istrinya sudah berangsur-angsur menghilang, Bara sangat sayang pada Istrinya, apapun akan dia lakukan demi bisa membuat Wanita yang ada di depan nya tersenyum bahagia.
Vanessa mulai mengaduk dan menikmati makanan yang ada didepan nya, sementara Bara memandang dengan senyum tersungging dibibir.
"Sungguh Aku suka dan Aku sangat tergila-gilaa padamu Nes, cepatlah berikan Aku keturunan agar Aku tidak lagi merasa was-was dan khawatir akan kehilangan dirimu, "
Vanessa yang merasa dirinya diperhatikan menghentikan makannya, mendongak menatap kedepan.
"Hmmm, Sapa bilang kenyang kok, sangat kenyang apalagi kalau tiap hari bisa mendapatkan Vitamin darimu, "
"Apaan sih, cepat makan jangan ngegombal saja. "
"Baiklah kita makan sayang tapi di suapin ya. "
"Ogah, makan sendiri, "
"Hmmm."
****
"Bagaimana apakah semua berjalan dengan lancar, Dok, "
"Sangat lancar semua sudah mendapatkan persetujuan dari keluarga Pasien dan mereka setuju jika kita harus menyelamatkan salah satu dari Ibu dan anak mereka sepakat untuk memilih Ibunya, Dokter, "
"Hmm, Sebenarnya Aku tidak setuju Aku berharap keduanya bisa selamat, "
"Tapi bagaimana caranya? "
__ADS_1
"Nanti Aku pikirkan untuk sementara ikuti saja kemauan dari keluarga pasien, "
"Baik, Dokter, eh lihat disana bukankan dia itu Suster Vanessa? "ucap Dokter Bambang yang kala itu sedang menikmati sarapan pagi dengan Dokter Rendra.
Mereka sedang berdiskusi tentang salah satu pasien yang akan melahirkan akan tetapi kondisi dari Ibunya juga sangat rawaan dimana, hanya bisa menyelamatkan salah satu dari keduanya.
Rendra memicingkan kedua bola matanya ketika melihat Vanessa sedang tersenyum dan bercanda dengan laki-laki yang ada di depannya.
"Sangat Romantis, pasti sengaja si brengsek itu mau pamer kemesraan disini pasti dia tau kalau Aku akan sarapan pagi disini, makanya dia membawa Nesa kesini, huuuffp enak banget Bara sekarang jadi Suaminya Nesa, memilih makan diluar dengan memilih Restoran termahal pula, malang banget Nasib ku Waktu itu yang cuma tiap hari di buatkan mie goreng, mie rebus itu melulu yang dia sajikan dasar tidak adiiil," sungut Rendra dalam hati.
Dokter Bambang yang kalau itu melihat raut Wajah Dokter Rendra yang terlihat memerah dan tegang, meneguk ludahnya dengan kasar.
"Sial kenapa Aku bodoh sekali seharusnya Aku tidak memberitahu Rendra biar dia tidak kesal begini, bagaimana pun juga Dokter Rendra ini pasti masih memiliki rasa Sayang pada Mantan Istrinya, apa yang harus Aku lakukan Aku sudah membuat kesalahan fatal, Aku harus berpikir cepat. "
Dokter Bambang segera meneguk habis minumannya sambil berpikir bagaimana bisa mencairkan suasana yang kini terlihat tegang.
"Dokter Rendra, Saya sudah selesai mari kita pulang, "
Dokter Rendra tersenyum melihat salah satu Dokter kepercayaannya merasa khawatir.
"Tidak masalah Dokter Bambang tidak perlu buru-buru, benar dia Suster Vanessa, dia sudah bahagia bersama Suaminya mari kita Nikmati makanan kita ini, sayang kan kita beli mahal kalau tidak habis, "
Dokter Bambang menatap takjub dengan Dokter Rendra yang ternyata selain pintar menyembuhkan beberapa pasien yang sakit, dirinya nugas bisa mengobati luka hatinya sendiri, sudah pasti rasanya sakit melihat Mantan bermesraan di depan mata akan tetapi Dokter Rendra masih mampu berpura-pura baik-baik saja.
"Oh, iya Dokter, ini memang sangat Enak mari kita makan.'
Rendra seolah cuek dengan apa yang ada disekelilingnya dirinya menyelesaikan makan.
" Dokter saya ke toilet sebentar. "
"Silahkan Dokter, "
Rendra segera bangkit dari duduknya kemudian berjalan menuju ke belakang di mana Rendra akan pergi ke kamar mandi kecil tapi setelah dokter Bambang tidak melihat renda berputar langkah kakinya menemui salah satu pelayan restoran.
"Permisi Mas, bisa saya minta tolong, "
"Oh, bisa apa yang bisa saya bantu, "
"Tolong sampaikan pada Mas yang duduk disana itu, untuk menemui saya di belakang saya tunggu disamping tempat parkir, katakan teman lamanya ingin bertemu, "
"Oh, baik Mas, akan saya sampaikan, "jawab salah satu pelayan Restoran yang langsung pergi untuk memberitau pada orang yang di maksud oleh Rendra.
Rendra tersenyum miring.
__ADS_1
" Kita akan bertemu disini, dan akan Aku pastikan kamu akan segera melepaskan Vanessa, enak saja mau mempermainkan, dasar laki-laki brengseek. " Geram Rendra sambil mengepalkan kedua tangannya.