DOKTER DINGIN ITU PAPAKU

DOKTER DINGIN ITU PAPAKU
Bab. 190.Vanesa Pingsan


__ADS_3

Vanessa yang merasa heran ketika menatap lurus ke depan tetapi di depan sudah tidak ada lagi kerumunan dan Semua terlihat sudah sangat legam kembali menoleh ke arah samping di mana wanita muda yang ada di sampingnya menunduk sambil sesenggukan.


"Ada apa kenapa kamu menangis? "


Wanita muda itu hanya menggelengkan kepala dan masih terus dengan berderai air mata bahkan ketika dirinya hendak bicara seolah-olah tidak ada suara yang keluar selain Isya tangis dan cucuran air mata.


"Baiklah Kamu tidak usah menjawab pertanyaanku kamu yang tenang saja dan yang sabar kita akan pergi ke rumah sakit, Aku tidak tahu apa maksud dan tujuan kamu tapi yang jelas kamu bersabar saja semua pasti baik-baik saja, "ucap Vanesa memberikan semangat dan ketenangan kepada wanita yang ada di sampingnya sementara wanita itu hanya mengangguk menganggukkan kepala.


Mobil melaju dengan kecepatan cukup tinggi sehingga tidak lama mobil taksi yang ditumpangi Vanessa dan seorang gadis muda sudah sampai di depan halaman sebuah rumah sakit di mana Rumah Sakit itu tidak terlalu besar akan tetapi juga tidak terlalu kecil.


Vanesa yang tidak mengerti apa yang tengah terjadi karena dirinya ketika itu berada di dalam mobil taksi dan yang turun hanya sopir taksi untuk melihat keadaan yang ada di kerumunan di depan mobil mereka berhenti dengan jarak 50 meter, Sopir taksi ini dia dengan cepat memarkirkan mobilnya kemudian membuka pintu dan meminta dirinya dan wanita muda yang ada di sampingnya untuk segera turun.


" kita sudah sampai Nona silakan turun, "


Dengan sangat tergesa-gesa wanita muda yang ada di samping Vanessa segera membuka pintu Kemudian turun dengan sangat cepat hal itu tidak lepas dari pandangan Vanessa yang merasa sangat heran dan terlihat aneh seolah-olah wanita itu sedang terburu-buru.


"Ayo Pak sopir bantu Aku menemukan Orang baik itu, dia pasti di bawa kesini, "


"Tenang, Nona jangan panik begitu percayalah Orang baik itu akan bisa diselamatkan dengan segera. "


"Aku benar-benar bodoh, Aku sudah mencelakakan orang lain, "


"Sudah Nona jangan menangis terus ayo kita cari,"


"Pak Sopir..!" seru Vanesa karena Sopir itu seperti nya lupa akan penumpangnya.


"Oh, Nona maaf , Nona tunggu saja disini saya akan mengantar Nona ini masuk ke dalam sebentar, kasian dia benar-benar merasa bersalah. "


Vanesa menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan.


"Tidak apa-apa Pergilah saya akan menunggu, "


Mendapatkan persetujuan dari Vanessa sopir taksi itu segera masuk ke dalam bersama dengan wanita muda yang ada di sampingnya, Vanessa yang merasa bosan dan jenuh jika hanya harus menunggu di depan mobil mulai ikut masuk ke dalam rumah sakit, Vanessa berniat untuk duduk-duduk di ruangan yang kosong untuk menunggu sopir taksi yang akan membawanya kembali ke rumah Bara.


"Mikha sayang sabar sebentar ya Nak, Mama akan menjemput kamu pulang setelah ini, Mikha anak Mama yang hebat dan kuat kan, Mama yakin Mikha bisa bersabar. " Gumam Vanesa bermonolog sendiri.


Tidak lama kemudian Vanessa yang baru saja mendudukkan bokongnya di pojok ruang Rumah sakit yang kala itu tidak terlalu ramai dengan banyaknya orang merasa heran dan sedikit aneh ketika melihat sopir taksi dan wanita muda berjalan di belakang beberapa dokter yang ada di depannya, sangat terlihat jelas mereka terlihat tegang dan penuh dengan kecemasan Hal itu membuat Vanessa yang kala itu duduk bangkit berdiri dan berjalan mendekati.


"Dok, tolong lakukan sesuatu, saya tidak mau menanggung beban perasaan bersalah tolonglah Dok, "rengek Wanita muda dengan terus berlinang Air mata.


" Maaf, Nona kami sudah berusaha dan di Rumah sakit ini tidak ada stok Golongan darah itu, sedangkan Wanita yang di dalam sana membutuhkan secepatnya. "


"Ada apa ini kenapa kalian telihat panik? "


"Kami lagi membutuhkan Golongan Darah AB untuk menolong Wanita yang ada di dalam sana sementara Pihak Rumah sakit tidak memiliki stok golongan darah itu. "


"Dok, berapa pun akan saya bayar tolong selamatkan Wanita yang tidak bersalah itu, dia sudah mengorbankan nyawanya demi Aku yang ceroboh ini, "


"Maaf Nona saya sudah bilang, di Rumah sakit ini tidak memiliki stok Darah golongan AB dan jika menunggu besok semua sudah terlambat. "


"Dokter tolonglah lakukan sesuatu, pertama atau bagaimana biar Wanita itu bisa bertahan, "


"Dokter, membutuhkan darah AB? " tanya Vanessa.


"Benar, Nona, "


"Ambil Darahku berikan padanya Aku memiliki Golongan Darah AB. "


"Wah, benarkah Mba kamu punya golongan darah itu Ah trimakasih, Dokter, cepat lakukan agar Wanita yang ada di dalam sana bisa selamat. "


"Baiklah, Mari..!


Wajah Wanita muda itu mulai bersinar Senang dan Vanessa mulai melangkah mengikuti Dokter yang ada di depannya.


" Nona kamu tunggu diluar biar Aku dan Nona ini yang masuk. "

__ADS_1


"Baik, "


"Mari Nona silakan masuk, duduklah, "


"Apa benar Nona bersedia mendonorkan Darah Nona dan mohon maaf kami harus secepatnya melakukan dan kami tidak memiliki Waktu untuk memeriksa kesehatan Nona, apa Nona Yakin Nona saat ini sehat? "


"Sangat Yakin ambillah Dok dan selamatkan Wanita itu, "


"Baiklah Mari ikut saya keruangan sebelah. "


Vanessa berjalan mengikuti dokter yang ada di depannya dan ketika pintu ruangan dibuka ternyata sudah ada beberapa dokter dan suster di dalam sana mereka yang melihat kedatangan dari dokter yang bersama dengan Vanessa merasa sangat senang dan girang karena mereka yakin dokter sudah membawakan satu orang pendonor darah untuk pasiennya.


"Wah Dokter Nugraha hebat sekali sudah bisa menemukan pendonor darah hanya dalam duapuluh menit. "


"Ini kebetulan saya bertemu dengan Nona berhati mulia ini dia tidak keberatan mendonorkan Darahnya pada orang yang tidak dia kenal, Mari Nona silakan masuk. '


Dokter itu membuka kelambu penutup yang mana didalam nya sudah terbaring Wanita Paruh baya yang ternyata tidak Asing bagi Vanessa.


"Mama Sukma..!


" Nona mengenalnya? "


"Oh, tidak Mari kita lakukan Aku sudah siap, sebentar Aku lepas penjepit rambutky lebih dulu, Oh ya Apakah Aku boleh meminta satu syarat sebelum Aku memberikan Darah ku pada Wanita ini, "


"Oh, boleh apa yang Nona inginkan? "


"Jangan katakan jika Saya yang memberikan Darah padanya, saya tidak ingin Wanita ini tau jangan memberikan identitas Saya. "


"Oh, baiklah, sekarang apa kita bisa memulai nya?


Vanessa menganggukkan kepala. beberapa dokter dan suster sudah mempersiapkan alat-alat yang digunakan untuk melakukan perpindahan darah dari Vanessa kepada wanita yang ada di sampingnya, sebelumnya Vanessa menyempatkan diri untuk menoleh pada Wanita yang sedang terbaring lemah sambil mengulum senyum.


"Mama, kamu tidak perlu khawatir kamu akan baik-baik saja, bersabarlah sebentar lagi Mama akan sembuh dan bisa cepat pulang. "


kurang lebih 2 jam Vanessa berada di ruangan yang sama dengan Mama Sukma, setelah melakukan Donor Darah dan setelah memberikan beberapa jawaban atas segala pertanyaan dari Dokter.


"Trimakasih banyak Nona tapi apa Nona serius tidak ingin mendapatkan uang dari apa yang sudah Nona lakukan.


" Tidak Dokter saya ihklas, saya permisi dulu, "


Vanessa segera membuka pintu dan melangkah keluar sampai di luar Vanessa Bertemu dengan wanita muda yang menunggu.


"Mba, apa Wanita itu sudah selamat dari kritisnya? "


"Sudah kamu masuklah Aku pergi dulu, "


"Tunggu Mba, siapa namamu dan tidak bisa kamu pergi hanya dengan tangan kosong ambillah ini ada cek kosong isi berapapun yang Mba mau, "


"Tidak perlu Aku ihklas melakukan semua, simpan untukmu saja dan Namaku Vanessa, Aku pergi dulu, "


"Trimakasih Mba, "


Vanessa tersenyum sambil menganggukkan kepala, kemudian mulai berjalan keluar dari Rumah sakit, sementara Wanita muda itu langsung masuk ke dalam Ruangan.


Baru berjalan kurang lebih sepuluh menit dan belum sampai pada pintu luar Rumah sakit, Vanessa merasakan kepalanya mulai berdenyut dan mata berkunang kunang.


"Kenapa pusing, " lirih Vanessa sambil memegangi kepalanya dan beberapa detik kemudian.


"Bruuugh..!


Tubuh Vanessa terkulai lemas jatuh bkeng lantai.


" Lihat ada yang pingsan. "


beberapa orang segera berlari mendekati Vanessa yang kala itu jatuh pingsan dan juga beberapa dokter yang kebetulan lewat.

__ADS_1


"Ada apa ini? "


"Ada yang pingsan Sus, "


"Cepat bawa keruangan saya. " seru seorang Suster yang berjalan lebih dulu dan membukakan pintu.


"Baringkan disitu, kalian minggir biar Aku periksa. "


Beberapa orang yang memeriksa segera menyingkir. Suster dengan membawa peralatannya mendekati Vanessa yang terbaring.


"Suster Vanessa..!"


Dengan bibir terasa kelu dan gemetar Suster itu mundur.


"Hei, kenapa Dia sampai pingsan? "


"Saya tidak tau, "


"Pergi dan cepat cari tau..! "bentak Suster yang ada di tempat itu dengan suara keras.


"Lho Sus kenapa kami kamu marahi, "


"Sudah pergi cepat, "


"Baik,"


"Suster Vanessa kamu kenapa?


"Coba Aku lihat, apa ini? di tangannya ada bekas jarum, itu Artinya Suster Vanessa baru saja mendonorkan Darah, Dia mendonorkan Darah untuk siapa, bukankah Suster Vanessa tidak boleh mendonorkan Darah seingatku, ____


Aku harus cepat memberitahu Dokter Rendra. "


Dengan gerakan cepat dan lincah Suster itu memencet Nomor Dokter Rendra.


"Deerrtt.... Dreeeetttt..!


" Ren ponsel kamu bergetar itu, "


"Ada-ada saja orang lagi sibuk siapa juga yang menelpon di sore hari begini. "


Dokter Rendra segera mengeluarkan ponsel hpnya dan melihat layar depan yang sudah tertera Nama.


"Suster Yuni, tumben menelpon ada apa dan kenapa perasaan Aku jadi tidak enak begini. "


"Halo, suster Yuni ada apa?


" Dokter, gawat Suster Vanessa pingsan sepertinya Suster Vanessa baru saja mendonorkan Darah orang, "


"Apa? Vanessa pingsan, sekarang ada di mana? "


"Kami berada di Rumah sakit xx Jaya. "


"Baik, tunggu Aku kesana, "


"Ada apa Ren, "


"Vanessa pingsan Aku ke Ke rumah sakit dulu kamu boleh ikut Aku tidak perlu memikirkan Mikha, Bara tidak akan berani menyakiti, ayo putar arah, "


"Iya sebentar, "


"Minggir kelamaan kamu biar Aku yang setir, "


"Ren, pelan-pelan jangan ngebut Aku belum mau mati, '


" Diam kau! pegangan yang kuat, "

__ADS_1


"Busyet, ini Dokter cukup bagus juga jadi pembalap motor, orang kalau sudah cinta gak mikir banyak langsung saja gas tanpa peduli temannya ketakutan begini, huuuffp sabar-sabar, Nasib jadi bawahan itu begini harus ngikutin semua perintah Boss.


__ADS_2