DOKTER DINGIN ITU PAPAKU

DOKTER DINGIN ITU PAPAKU
Bab. 180.Vanesa yang Kabur


__ADS_3

Rendra yang bingung tidak tau harus melakukan apa di dalam kamar mandi dirinya hanya duduk sambil membuka pintu jendela dinding kamar mandi dengan melihat keadaan di luar.


"Kenapa tadi Vanessa tidak bersama Mikha ada di mana Anakku itu, apakah sudah berangkat sekolah, sepagi ini atau mereka memiliki aturan nya sendiri anak kecil tidak boleh ikut makan bersama dengan Orang tuanya maksudku orang dewasa, tadi Aku juga tidak melihat Mama mertua Bara dan Istri barunya apakah mereka tidak berada di satu Rumah, sungguh Aneh kehidupan keluarga ini, Aku semakin penasaran saja, tunggu Sepuluh menit lagi Aku akan keluar, beruntung kamar mandi di sini sangat nyaman dan bagus jadi tidak begitu masalah jika untuk sementara menunggu disini.'


Rendra membuka jendela untuk mendapatkan udara segar. Di luar Arum yang kesal karena Bara sangat cuek padanya mulai merasa geram dan berniat untuk kembali menemui Bara di Ruang makan.


"Enak saja mereka mau makan berdua bersenang-senang sedangkan Aku di acuhkan Aku kan juga Istrinya untuk itu Aku juga berhak untuk mendapatkan perhatian dari Mas Bara, Aku harus kesana dan harus selalu bergabung dengan mereka, biar mereka tidak bisa berdua duan lagi, "


Arum segera bangkit dari tempat duduknya kemudian berjalan menuju pintu dan membuka nya tapi belum sampai pintu itu terbuka semua Arum buru-buru kembali masuk.


"Astaga Bantal perut Aku belum Aku pakai, beruntung Aku ingat. "


Arum buru-buru mengeluarkan bantal perut yang bdua gunakan untuk membuat perutnya terlihat buncit, ketika sedang sibuk menggikat dan memasangnya , Tiba-tiba pintu dibuka secara lebar dari luar.


"Arum kamu masih disini?


" Deg...!


Jantung Arum serasa mau lepas Wajahnya langsung terlihat panik dan syok, buru-buru Arum merapikan dan menutup kembali perutnya yang tadinya sedang dia buka untuk mengikatkan tali bantal perut dimana bantal talu ada empat karena berbentuk persegi empat cuma bagian tengah sedikit berisi sehingga ketika dipakai akan terlihat seperti orang yang sedang hamil karena perutnya membuncit.


"Ma-Mama..! kenapa Mama ada disini? "


Ucap Arum dengan terbata-bata dengan satu tangan menyembunyikan dua tali


yang belum sempat Arum ikatkan. Arum meneguk kasar ludahnya kemudian tersenyum sambil duduk.


"Mama ingin tau apa kamu sudah makan, jika belum Ayo Mama temani makan. "


"Sudah kok Ma, Eh belum maksud Arum itu Arum belum lapar dan belum ingin makan, "


Melihat ekspresi Aneh dari sikap Arum Mama sukma mulai merasa heran dengan perlahan-lahan Mama Sukma mendekati tempat Arum duduk.


"Apa kamu sakit? coba Mama lihat! "


Mama Sukma yang khawatir dengan Arum mulai menghulur kan tangannya untuk menyentuh perut Arum, dengan sigap dan dengan gerakan refleks Arum memahan tangan dari Mama Sukma.


"Arum baik-baik saja kok Ma, tidak perlu khawatir, " ucap Arum sambil menepis tangan Mama Sukma agar tidak sampai menyentuh perutnya.


"Perut kamu juga tidak sakit kan? "


"Oh tidak Ma, Arum muaal kalau berada di luar kamar jadi Arum untuk sementara di dalam kamar dulu, "


"Oh, begitu baiklah, kalau begitu Mama keluar dulu, "


Mama Sukma segera melangkah menuju ke pintu sementara Arum menarik napas lega.

__ADS_1


"Hampir saja ketahuan, "gumam Arum dalam hati,.


" Arum apa kamu mau Mama bawakan makanan ke kamar? " Tanya Mama Sukma yang tiba-tiba membalikkan badan dan menoleh ke arah Arum, tentu saja hal itu membuat Arum merasa terkejut karena dirinya yang sudah bernapas lega mulai bangkit berdiri dan karena Mama mertuanya tiba-tiba berbalik menoleh kearahnya, dengan cepat Arum kembali duduk dengan menyembunyikan tali bantal yang belum sempat Arum ikatkan.


"Tidak perlu Ma, " jawab Arum dengan cepat.


Mama Sukma yang merasa heran dengan sikap Arum mengernyitkan dahinya.


"Itu tali apa Arum melambai di samping bawah paahaa mu? "


"Deg...!


Jantung Arum benar-benar seperti berhenti mendadak mendengar perkataan Mama mertuanya.


" Ah bukan apa-apa Ma, ini tsli baju Arum yang belum sempat Arum ikatkan. "


"OhOh, ya sudah Mama pergi dulu kalau begitu, kalau kamu butuh apa-apa tinggal bilang sama Mama atau kamu minta pada Suamimu. '


" Ya, Ma, Arum akan meminta nya Nanti jika Arum butuh, "


"Baiklah Mama pergi dulu, "


"Ya, Ma! " jawab Arum dengan bibir tersenyum.


Ketika Mama Sukma sudah keluar dari dalam kamarnya dan setelah Arum menunggu beberapa saat memastikan jika Wanita Tua itu tidak tiba-tiba datang lagi Arum segera bangkit dari duduknya dan buru-buru menutup pintu kamarnya.


Arum menarik napas lega setelah pintu berhasil dia tutup.


"Aaaah, hampir saja ketahuan dasar Wanita Sialan main masuk kamar orang tidak pakai ketuk pintu beruntung Aku cerdas. " gumam Arum bermonolog sendiri sambil tersenyum.


"Mereka adalah orang orang bodoh yang mudah di bodohi. "lirih Arum tersenyum Puaaas sambil mengikatkan kembali dua tali bantal perut yang belum sempat dia ikatkan.


Di lantai kamar atas Vanessa sudah bersiap untuk pergi setelah mengambil tas kecil Vanessa berniat untuk keluar dari dalam kamarnya.


Vanessa tersenyum senang ketika melihat ke lantai bawah suasana sepi.


"Ini kesempatan Aku untuk pergi Mas Bara pasti masih berada di dalam Ruang makan Aku harus cepat-cepat pergi, sebelum Mas Bara menyadari jika Aku akan kabur.


Dengan langkah cepat Vanessa segera menuruni anak tangga kemudian berjalan menuju ke pintu dengan gerakan cepat pula Vanessa segera membuka pintu dan berniat untuk keluar akan tetapi ketika pintu itu sudah berhasil Vanessa buka dengan kuncinya dan Vanessa tinggal menarik pintu untuk bisa keluar, tiba-tiba sebuah tangan tangan menepuk punggungnya.


"Kau mau kemana Sayang? "


"Deg..!


Serasa jantung hendak mau lepas merasakan tepukan tangan dan mendengar suara yang tiba-tiba sudah ada dibelakangnya.

__ADS_1


Dengan gerakan spontan Vanessa menoleh kebelakang, Wajahnya langsung berubah pias ketika melihat Bara sudah berdiri di belakangnya.


Rasa terkejut dan Panik seketika menghilang berubah menjadi rasa marah dan kesal, dengan gerakan kasar Vanessa menepis tangan Bara yang mulai berusaha menggenggam tangannya


"Lepaskan tanganku...! Aku mau pergi Aku mau mencari di mana putriku kamu sembunyikan." sinis Vanessa.


" Hei, jangan berbuat konyool Sayang Aku tidak mengizinkan kamu pergi cepat kembali ke kamarmu, "


"Tidak, Aku tidak mau, kamu jangan menghalangiku tolong minggir dan biarkan Aku pergi, "


"Tidak semudah itu Cantik kamu istriku dan Aku tidak mengizinkan kamu pergi untuk itu dengar dan turuti perintahku jangan macam-macam. "


"Lepaskan, Aku mau bertemu dengan Anakku kamu tidak punya hak melarangku, "geram Vanessa dengan suara keras karena Vanessa bicara sambil berteriak.


" Ssssttttt, diam cepat kembali ke dalam kamarmu secara baik-baik atau Aku akan memperlakukan kamu dengan tidak baik. "ucap Bara tenang sambil memegang dan menarik tangan Vanessa masuk.


"Aku tidak takut, lepaskan Aku..!


"Tidak Akan, "


Merasa sudah kesal dan geram Vanessa menundukkan wajahnya dan menggigit tangan Bara.


"Auuuwhh..!


Teriakan kesakitan keluar dari bibir Bara dan otomatis genggaman tangannya lepas, kesempatan itu Vanessa pergunakan untuk lari menuju ke pintu Bara yang menyadari dengan sigap langsung menyambar tangan Vanessa dan menariknya dengan kasar.


" Masuk Aku bilang!


"Tidak, Aku tidak mau..!


Karena Vanessa melawan dan memberontak akhirnya Bara menarik kasar Istrinya untuk masuk dan Naik ke dalam kamar lantai Atas.


" Tidak, lepaskan Aku, Sakit Mas, Mama tolong..! "


Vanessa yang melihat Mama Sukma membuka pintu dan menyakisikan semuanya hanya bisa diam dan kembali masuk ke dalam kamarnya, Mama sukma tidak ada keberanian untuk menolong Vanessa yang di tarik dengan sangat kasar oleh putranya.


"Mas lepaskan sakit...!" teriak Vanessa dengan keras.


Bara yang sudah diambang emosi tidak memperdulikan teriakan Istrinya. Vanessa yang berkali-kali berteriak dimana suaranya sangat keras sampai ke kamar mandi tempat Rendra duduk.


" Nesa, itu suara Nesa ada apa dengan nya, "


Bergegas Rendra keluar dari dalam kamar mandi dan mencari sumber suara dari teriakan Vanessa, ketika sampai di Ruang Tamu Rendra terbelalak melihat Sikap Bara yang kasar, terhadap Mantan Istrinya dan tentu saja hal itu membuat Rendra murka.


"Baraaaa... beraninya kau...! geram Rendra dengan menggepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat.

__ADS_1


__ADS_2