
Vanessa masih duduk dengan lampu yang sengaja di padamkan, sudah hampir satu jam Vanessa menunggu hingga rasa kantuk mulai menyerang dengan bibir yang hampir tiap menit menguap, Vanessa yang kesal marah dan juga mata mulai mengantuk mulai merebahkan kepalanya bersandar pada kursi hingga terdengar suara deru Mobil berhenti di depan Rumah.
"Rupanya mereka sudah datang, lama sekali mereka ini, hanya untuk periksa ke Dokter saja sangat lama, " geram Vanessa yang mulai kesal,
"Mas, Trimakasih ya, sudah mau menemani Priksa dan juga jalan jalan sebentar. "
"Ya, "
"Mas, tadi sudah lihat kan bayi kita sehat, Mas jangan buat Aku setrees ingat apa yang Dokter pesan, Apa yang Aku mau Mas harus memenuhinya. 'ucap Arum dengan manja
" Ya, Aku tau, sudah sekarang ayo kita masuk, tolong jangan pegang pegang begini di Rumah Aku tidak mau Istriku tau, "
"Idih, kenapa sih Mas, Aku ini kan istrimu juga, Aku juga punya hak atas dirimu karena kamu juga Suamiku, lagi pula lihatlah lampu di Ruang tamu kelihatannya padam pasti mereka sudah tidur jadi Mas tidak perlu takut dan khawatir lagi,"
"Maumu apa, kan semua sudah Aku turuti Arum, "
"Masuk dengan di peluk Suamiku Nanti kalau sudah di Ruang tamu dan berpisah Mas Baru boleh tidak memelukku, Aku itu bawaannya ingin selalu kamu peluk Mas, ini pasti deh karena keinginan Anakmu yang ada di dalam perutku, "cicit Arum dengan manja sambil bergelayut manja di lengan Bara.
Tampak Bara menarik napas berat, sepertinya dia tidak ingin melakukan karena sangat berisiko jika berpelukan di dalam Rumah tapi melihat lampu yang semua sudah padam Bara berpikir pasti aman karena tidak ada orang disana semua pasti sudah tidur, lagipula Bara tidak ingin anaknya yang ada di dalam perut Arum kecewa dan marah nendang nendang lagi ke Mamanya jika tidak di turuti untuk itu Bara menganggukkan kepala menerima dan mulai membiarkan Arum berbuat sesukanya.
"Ya sudah tapi setelah berada di dalam kamu tidak boleh lagi begini, "
"Siap, Mas, " ucap Arum dengan hati senang dan berbunga-bungaberbunga-bunga langsung berjalan disamping Bara dengan setengah merebahkan kepalanya pada lengan dan bahu Bara ketika berjalan masuk ke dalam Rumah.
Meskipun jika harus jujur Bara sangat tidak suka akan tetapi Bara juga tidak bisa menolak karena Arum juga Istrinya yang memang pantas mendapatkan kasih sayang dan perhatian darinya terlebih saat ini Arum sedang mengandung anaknya.
Beberapa saat membuka pintu akhirnya pintupun terbuka, Bara melepas genggaman tangan Arum kemudian berbalik untuk mengunci pintu Rumah sementara Arum menunggu.
Melihat Bara sudah selesai Arum langsung menghambur dan memeluk Bara.
__ADS_1
"Arum, sudah di dalam jangan begini, " ucap Bara dengan suara lirih. Bara tidak ingin Arum di dalam rumah bertindak nekat seperti apa yang telah dia lakukan di luar rumah di mana beberapa kali sangat manja dan sangat membuat Bara sesak dan muak akan tetapi Bara, tidak bisa berbuat apa-apa dikarenakan Bara juga tidak ingin Arum kecewa dan mengalami strees karena hal itu bisa berpengaruh pada kehamilannya untuk itu Bara memilih diam dan menerima semua yang Arum lakukan kepadanya.
"Sebentar saja kan belum masuk kamar, lagi pula tidak ada orang, Mas jangan takut, "ucap Arum sambil tersenyum dengan memposisikan dirinya kini berdiri dihadapan Bara sehingga mereka berdiri dengan saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Tanpa Arum sadari perkataannya ada yang mendengar dan mengawasinya.
Vanessa melihat semua yang Arum lakukan pada Suaminya, kedua bola matanya menatap tajam dengan deru napas yang mulai naik turun tidak beraturan.
" Kurang ajar sekali sih Wanita ini, benar-benar mau mengoda Suamiku, kamu pikir aku akan membiarkan saja, " geram Vanessa dalam hati.
"Tapi Arum, bukankah tadi kamu sudah berjanji jika di dalam Rumah akan menurut dan tidak macam-macam. "
"Iya, Mas ini kan cuma sebentar saja, "
"Sudahlah Aku mau Naik ke kamar ku kamu masuklah kedalam kamarmu,"
"Tunggu, Mas..! "
Arum menahan langkah kaki Bara dengan melingkarkan tangannya pada leher Bara.
"Apa, kau gilaa, ini di Rumah, "
"Baiklah kalau begitu biar Aku saja yang menciiuum Mas, "
Mendengar hal itu Bara langsung mendelik dan Arum tidak memperdulikan hal itu dia langsung mendekatkan Bibir nya pada Bara dan pada saat yang bersamaan sebuah tangan menariknya dengan kasar disertai sebuah tamparan keras yang mendarat dengan tepat pada Wajah Arum dan dalam hitungan detik lampu di Ruang Tamupun menyala.
"Plaaaakk..!
"Aduuuuh...siapa sih! Arum yang terkejut langsung berteriak dan Bara yang mendengar teriakan Arum dengan gerakan refleks langsung menghampiri dan menahan tubuhnya Arum yang limbung hendak jatuh akibat tamparan yang datang dengan tiba-tiba.
Bara dan Arum keduanya sama-sama terkejut ketika melihat siapa yang kini berdiri di depan mereka.
__ADS_1
Bara yang saat itu dengan gerakan refleks membantu Arum memegang tubuhnya agar tidak jatuh, dengan cepat melepaskan genggamannya, tubuhnya bergertar dan Wajahnya berubah pucat.
"Jadi seperti ini kalian dibelakangku? "bentak Vanessa dengan suara keras.
"Ne-Nesa, Sayang semua tidak seperti yang kamu bayangkan, Aku, __
Vanessa mengangkat tinggi tangannya memberi tanda kode agar Bara tidak lagi melanjutkan ucapannya dan tanpa bicara Vanessa langsung berlari Naik masuk ke dalam kamarnya.
Bara tidak tinggal diam dirinya juga segera berlari mengejar istrinya berusaha meraih tangan Istrinya yang saat itu sedang marah.
"Nes, tolong dengarkan penjelasanku, "
"Braaakk..! Pintu dibuka dengan sangat kasar oleh Vanessa dan dengan gerakan cepat Vanessa hendak menutup dan mengunci pintu kamarnya akan tetapi tangan Bara lebih cepat menahan pintu sehingga dirinya juga bisa masuk ke dalam.
" Sayang tolong dengarkan Aku apa yang kamu lihat itu tidak benar, itu semua, __
"Apa? itu semua apa, Arum menciumu kamu diam saja, kamu suka kan? " teriak Vanessa dengan kesal.
"Sayang bukan begitu, Arum itu lagi sakit dan Aku, __
" Ya, Arum sakit karena Dia hamil kan?
"Deg..!
Bara yang tidak menyangka Vanessa mengetahui jika Arum hamil tidak bisa bicara apa-apa, tiba-tiba bibirnya terasaa keluh, ketakutan nya yang selama ini dia simpan terjadi juga.
" Sa-Sayang, kau tau itu? " tanya Bara dengan suara terbata-bata dan dengan bibir bergetar.
"Kenapa? "
__ADS_1
"Kenapa kamu harus begitu peduli dengan Wanita itu, Arum hamil dengan pacarnya kenapa harus kamu yang peduli dan membantunya Mas, apa kamu tidak memikirkan perasaanku, apa kamu tidak tau betapa sakitnya Aku melihat dia bermanja padamu, kenapa Mas? kenapa harus kamu bersikap baik untuk melindungi dan menjaganya, apa karena Dia Anak dari Teman Mama sehingga Mas bersikap begitu, kenapa tidak memikirkan perasaanku? " teriak Vanessa yang Airmatanya mulai luruh.
Bara segera memeluk dengan erat tubuh Istrinya. Di dasar hatinya yang paling dalam Bara merasa lega dan senang karena Istrinya tidak tau jika Arum sedang Hamil anaknya.