DOKTER DINGIN ITU PAPAKU

DOKTER DINGIN ITU PAPAKU
Bab. 165.Kecurangan Bara


__ADS_3

Sungguh Vanessa tidak pernah membayangkan kepahitan dan kekecewaan akan kembali berulang, Lagi-lagi dirinya harus menerima penghianatan dari orang-orang yang Dia cintai.


Di saat bunga-bunga cinta dan di saat hati sudah mulai menerima, kekecewaan dan sakit hati kembali menghampiri, seolah Dunia tidak adil untuk nya, ingin berteriak dan menjerit akan tetapi bibir tak mampu untuk bersuara, serasa berat dan sesak yang ada hanyalah buliran bening yang terus mengalir tanpa suara.


Dengan buliran bening yang mulai menetes membasahi pipi, dengan bibir bergetar dan tubuh seolah tiada bertenaga Vanessa menatap sendu Mama Sukma yang berdiri di depan nya.


Mama mertua yang selalu dia hormati meskipun kehadiran dirinya tidak pernah disukai, sungguh Vanessa tidak menyangka jika Mama mertuanya juga mengetahui, jika Putranya telah memiliki Istri lagi.


Tinggal satu atap dengan Istri kedua hingga masuk dalam hitungan bulan kedua Vanessa tidak pernah tau jika Arum sesungguhnya bukanlah Tamu anak dari teman Mamanya tapi menantu kedua di Rumah itu dan Wajarlah sikap dari Mama mertuanya sungguh sangat baik dan menyayanginya selama ini, sungguh Vanessa merutuki kebodohannya karena tidak bisa memahami situasi yang ada di dalam Rumah ini dimana dirinya dipermainkan dan dijadikan orang bodoh yang buta akan berkali-kali sanjungan dan sikap manis dari Suaminya yang seolah olah hanya dirinya yang di cinta dan yang ada di dalam hatinya.


Vanessa tersenyum getir dengan Bibir bergetar menertawakan kebodohannya. Bisa dipastikan Mama mertuanya sangat bahagia,


Terlebih menantu keduanya kini tengah mengandung Anak dari Putranya.


Sungguh Vanessa merutuki kebodohannya yang tidak mengetahui semua Rahasia yang disembunyikan Suaminya selama ini.


"Ma, ini bohong kan ?"ucap Vanessa dengan suara yang hampir tidak bisa terdengar dengan jelas.


"Hei, kamu masih tidak percaya jangan tanya pada Mama kalau tidak percaya sana pergi tanya pada Mas Bara biar dia jelaskan, semuanya dan Aku harap kamu segera pergi dari sini, Mas Bara tidak membutuhkan mu, dia mencintai Aku dan dia lebih bahagia jika bersamaku dengan bayiku, Huss.. husss.. pergi sana. "


"Ma..!


Mama Sukma menganggukkan kepala sebagai tanda jawaban kepada Vanessa yang bertanya.


Dengan langkah luunglai Vanessa mundur satu langkah kemudian membalikkan badan dan berjalan menuju kepintu, tepat pada saat yang bersamaan Bara yang kebingungan mencari Vanessa dan dari dalam Ruang tamu yang memiliki kaca jernih.


Dimana kaca itu bisa tembus terlihat ke samping belakang Rumah melihat Vanessa dan Mamanya membuat Bara bergegas Masuk yang kebetulan bersamaan dengan Vanessa yang hendak membuka pintu dari luar.


"Sayang rupanya kau disini..!


Vanessa yang melihat Bara hendak menyentuhnya meraih tangan Vanessa dengan sangat cepat dan kasar Vanessa hempaskan, Vanessa memandang hanya beberapa detik kemudian berlari Naik ke kamar atas.


Bara yang mendapatkan perlakuan itu sedikit bingung.


Bara menatap Mamanya dan Vanessa secara bergantian.


"Ma, ada apa dengan Vanessa dan kau Arum mengapa kalian ada disini, apa yang kalian lakukan dan mengapa Vanessa sepertinya sedang kesal, apa Mama bicara sesuatu atau kamu Arum apa yang terjadi, "tanya Bara panik.


"Wanita itu menamparku Mas dan, __


" Apa? Apa kalian berbicara tentang Rahasia ini? "


"Melihat Mamanya mengangguk Bara dengan sangat cepat berlari mengejar istrinya yang sedang berlari masuk ke dalam kamar.


" Nesa, Nesa mengetahui semuanya, Aku harus bagaimana dan apa yang akan dia lakukan, " Bara berlari lebih kencang bahkan beberapa perabotan yang ada di dalam Rumah yang tertata rapi di pinggir jalan ruangan terpaksa jatuh akibat tersenggol Bara yang sedang berlari seperti orang kesetanan.


"Nesa tunggu..!


Bara berusaha meraih tangan Istrinya ketika hampir sampai di dekat Vanessa dan Vanessa yang sudah sangat marah dan kesal lagi-lagi mengibaskan dengan sangat kuat sehingga lagi-lagi Bara gagal meraih tangan dari Vanessa.


" Sayang tunggu dengarkan Aku, "

__ADS_1


Sampai di dalam kamar Vanessa segera menutup pintu dengan cepat dan lagi-lagi Bara yang sangat cepat bisa menahan pintu agar tidak tertutup.


Vanessa yang sudah diliputi rasa marah dan kesal dengan kuat mencoba menutup pintu.


"Keluar Aku ingin sendiri,"


"Tidak, Aku juga ingin masuk, "


"Jangan salahkan Aku jika tangan mu terjeepit pintu, "


"Kau tidak akan melakukan itu, kau tidak akan tega berbuat begitu ayolah buka pintunya biarkan Aku masuk juga. "


Vanessa yang sudah sangat emosi dengan kuat mendorong pintu untuk ditutup dan tentu saja hal itu akan membuat tangan Bara terjepit karena yang bisa masuk hanya tangannya, karena tangan Bara mampu menahan pintu yang hendak ditutup.


Bara memejamkan kedua bola matanya ketika Vanessa mendorong kuat Pintu yang pastinya akan membuat tangan Bara sakit.


"Bodoh, Lepaskan tanganmu dari pintu ini agar tidak sakit, " teriak Vanessa dengan sangat keras.


"Deg..!


Satu kalimat kasar yang belum pernah sekalipun Vanessa katakan padanya, Bara bisa melihat kemarahan Istrinya saat ini benar-benar pada batas puncaaknya.


"Tidak akan, Izinkan Aku ikut masuk biar Aku jelaskan semuanya."


"Aku tidak butuh penjelasan, pergiiiii..!


Vanessa yang kalap karena emosi nya yang sedang meluap menekan lebih kuat pintu dan Bara semakin memejamkan matanya menahan sakit karena tangannya terjeepit.


" Vanessa yang melihat Bara bersikap keras kepala tidak mau melepaskan pintu Akhirnya mengurangi dorongannya dan membiarkan pintu terbuka.


"Sayang Trimakasih mengizinkan Aku masuk, Aku mau menjelaskan semuanya, Aku, __


"Jangan sentuh Aku..! dan jangan coba-coba mendekati ku Aku benci kamu! "


"Deg..!


Jantung Bara seolah berhenti berdetak sungguh dirinya tidak menyangka kemarahan Istrinya benar-benar sangat dalam dan larangan nya tidak boleh mendekat atau menyentuh itu sangat menyakitkan hatinya.


Dengan bibir bergetar.


" Sayang maafkan Aku, Sayang waktu itu Aku, ___


"Diamlah, Aku tidak butuh penjelasan apapun darimu dan kamu tidak bersalah, Aku yang salah Aku yang bodoh karena tidak tau jika diriku hanya dipermainkan Aku, sungguh Aku sangat bodoh karena mempercayai dirimu percaya jika kamu benar-benar mencintaiku Aku yang bodooh karena yang sebenarnya semua perhatian dan cinta mu itu hanya omong kosong kamu tidak pernah mencintai ku kamu hanya kasian pada kehidupan ku, "teriak Vanessa dengan derai Air mata.


"Tidak, itu tidak benar jangan bicara seperti itu hatiku sakit, Aku sangat mencintai mu, Aku sangat, ____


" Cukup Tuan Bara, cukup, kamu mengaggap Aku bodoh, mulai hari ini Aku mau mengakhiri semuanya. "


Bagaikan petir yang menyambar di siang hari kedua bola mata Bara terbelalak dengan gerakan cepat Bara hendak memeluk Tubuh Istrinya yang sedang marah, akan tetapi dengan gerakan cepat pula Vanessa mengambil pisau buah yang ada diatas meja.


"Diam di situ dan jangan coba-coba mendekatiku, karena jika kamu lakukan Aku akan menikaamkan pisau ini ke jantungku. "

__ADS_1


"Deg....!


" Nesa, sayang jangan main-main dengan pisau itu Aku mohon. "ucap Bara dengan bibir bergetar tak percaya Vanessa istrinya benar-benar sangat marah.


Tubuh Bara pun seolah limbung tidak bertenaga Wajah panik dan takut mulai menguaasai hatinya.


" Sayang tolong berikan pisau itu kepadaku, mana ? berikan padaku sayang Aku janji tidak akan memelukmu atau mendekat tapi tolong berikan pisaunya padaku, "pinta Bara dengan wajah mengiba berharap Hati istrinya luluuh dan mau mendengarkannya.


"Tidak, diam dan jangan mendekat. "


Vanessa dengan cepat mengambil koper yang ada di dalam kamar kemudian dengan tangan kiri memasukkan semua baju sementara Tangan kanan masih memegang pisau.


Bara yang berniat ingin mengambil pisau dari tangan Istrinya merasa sulit menemukan celaaah.


"Selesai memasukkan semua baju yang dirasa perlu Vanessa segera menarik koper menuju pintu.


Bara yang melihat hal itu semakin panik dan takut, tidak mau memperdulikan larangan Istrinya Bara berdiri tepat di depan pintu menjadi dinding penghalang agar Vanessa tidak bisa keluar.


"Minggir, Aku mau keluar..!


" Tidak, Aku tidak izinkan, "


"jangan main-main Tuan Bara, Aku bisa membuuunuhmu, "


"Bunuuuh saja, lebih baik Aku mati dari pada Aku harus mati kehilanganmu, kamu tidak boleh pergi Aku Suamimu Aku melarang kamu pergi. "


"Apa? Suami?


Vanessa tertawa sinis.


" Suami yang menghianati Istrinya begitu, dengar Aku tidak sudiih memiliki Suami penghianat sepertimu, kamu bisa melanjutkan hidup bahagia mu dengan Anak dan Istri barumu biarkan Aku pergi, minggir..!


"Tidak, "


"Aku bisa membunuhmu jika kamu menghalangi jalankku. "teriak Vanessa dengan berapi-api


"Lakukan saja Aku tetap tidak akan mengizinkan kamu pergi, "


Vanessa yang sangat kesal dan sangat marah memberikan pukulan kaki pada tubuh Bara sehingga tubuh Bara jatuh kesamping karena tidak menyangka akan mendapatkan tendangan.


Kesempatan itu Vanessa gunakan untuk membuka pintu dan ketika pintu hampir terbuka.


"Jangan berani-beraninya kamu keluar dari sini karena jika kamu lakukan maka, Aku akan kirim pergi jauh Mikha darimu saat ini juga. "


Vanessa yang terkejut segera membalikkan badan.


"Apa maksudmu? "


"Kau ingat Sayang kamu sudah menandatangani perjanjian dan tunggu silakan baca isi perjanjian kita, disana tertulis kamu tidak akan pergi meninggalkan Aku apapun yang terjadi karena jika kamu pergi maka selamanya kamu tidak akan bisa melihat dan bertemu dengan Mikha dan kamu menyetujuinya. "


Membaca surah perjanjian yang sudah tertulis Tubuh Vanessa menjadi lemas.

__ADS_1


Pisau dalam tangannya pun dia biarkan terjatuh.


"Kau curang, " Seru Vanessa dengan derai air mata yang kemudian memukuli dada bidang Bara sementara Bara memejamkan mata membiarkan Istrinya melepaskan kemarahannya dengan memukuli dirinya.


__ADS_2