DOKTER DINGIN ITU PAPAKU

DOKTER DINGIN ITU PAPAKU
Bab. 145.Merasa Aneh


__ADS_3

Sampai di depan Mobil Bara menatap Mamanya dengan pandangan sendu ketika mengetahui Arum duduk di bangku depan.


"Ma, Bara sedikit pusing tolong Mama yang kemudikan Mobilnya ya, kepala Bara pusing sekali, "


Mama Sukma menatap tajam pada Putranya yang sedang mengatupkan kedua tangan sambil membuka Mobil belakang dimana Mamanya sedang duduk bersantai sambil rebahan.


"Kamu lagi bikin drama lagi ya? "


Bara tidak menjawab perkataan dari Mamanya Bara hanya mengulum senyum sambil sedikit nyengir kuda di mana Mamanya Pasti sangat memahami apa maksud dari Putranya.


Dengan sedikit Malas Mama Sukma akhirnya keluar dari pintu Kemudian berjalan memutar kemudian masuk dan duduk di dalam mobil di belakang kemudi, sementara Bara tersenyum lega dan senang karena Mamanya sangat pengertian dan kali ini mau menuruti semua yang Bara inginkan sehingga Bara bisa duduk berduaan dengan Vanessa di bangku belakang sementara Mamanya yang akan mengemudikan mobil.


"Dasar buncin karatan, " sungut Mama Sukma yang merasa kesal karena kali ini dirinya benar-benar diuji kesabaran dimana Putranya berkali-kali membuat Drama agar dirinya selalu membantu.


"Mas beneran pusing? "


"Iya, Sayang pusing sekali boleh ya bersandar bentar Aku mau rebahan. "


Dengan terpaksa Vanessa Mengaggukkan kepala, Bara tersenyum senang dan dengan cepat langsung merebahkan tubuhnya diatas pangkuan istrinya.


Vanessa sempat terkejut dan menatap tajam Suaminya yang mana Suaminya meminta izin bersandar tapi ternyata bukan bersandar melainkan rebahan dan tiduran dipangkuannya.


"Mas, malu sama Mama, " lirih Vanessa protes dengan kelakuan Suaminya, yang Vanessa nilai sangat berlebihan, Vanessa sendiri sedikit merasa heran apa yang dilakukan Bara Suaminya kali ini benar-benar berlebihan, seolah-olah dirinya tidak akan memiliki Waktu untuk bisa bersama, sehingga saat ini sikap dan kelakukannya bagaikan orang yang kehausan.


"Tenang Sayang Mama tidak akan marah, "


"Tapi, kan ngak enak Mas jangan ngawur di sembarangan tempatlah, "


"Sudah sayang kepalaku pening tolong diamlah dan turuti apa kata Suamimu, "


Vanessa tidak lagi bicara apapun, Pandangannya lurus kedepan sementara Mama Sukma sudah mulai mengemudikan Mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali Mama Sukma melirik ke arah sepion untuk melihat kedua orang penumpang yang ada di belakangnya.


Tampak Mama Sukma menarik napas panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan, melihat tingkah dan kelakuan dari Putranya Mama Sukma hanya menggelengkan kepala.


Kurang lebih dua jam perjalanan akhirnya Mobil yang ditumpangi Oleh Keluarga Bara sudah sampai di Rumah, dengan cepat Mama Sukma menyerahkan Mobil kepada Satpam penjaga pintu untuk di masukkan ke dalam garasi sementara Mama Sukma membantu Arum masuk ke dalam Rumah.


Dengan penuh perhatian dan sangat hati-hati Mama Sukma meminta Arum untuk beristirahat.


"Beristirahatlah Arum biar badan kamu cepat segar, Tante pergi dulu. "


"Tante, "


"Ya, ada apa?


" Saya ingin Mas Bara ada disini, saya ingin tidur dengannya. "


"Baiklah, Nanti Tante akan minta Bara untuk menemanimu, sekarang kamu beristirahatlah jangan terlalu banyak pikiran, jaga kesehatanmu, ingat sekarang kamu itu sedang berbadan dua jadi harus lebih banyak rileks dan tidak stres. "


"Ya, Tante, saya akan menunggu Mas Bara sepertinya saya tidak akan bisa tidur jika Mas Bara tidak datang untuk menemani ini juga sepertinya kemauan dari bayi yang ada di dalam perutku Tante, "


"Ya, kamu yang sabar Aku akan panggilkan Bara, "


Pintu kamar segera Mama Sukma tutup setelah dirinya keluar dari dalam kamar Arum. Dengan langkah sedikit tergesa-gesa Mama Sukma Naik ke dalam Kamar Atas tempat dimana Bara dan Vanessa beristirahatlah.


"Tok, Tok, Tok..! "


"Ada yang ngetuk pintu biar Aku yang buka, '


Vanessa segera bangkit dari duduknya kemudian melangkah menuju ke pintu.


" Mama..!


"Bara Mana? "tanya Mama Sukma tanpa basa basi.


"Itu, Ma silakan masuk, Mas dicariin Mama, "seru Vanessa pada Bara Suaminya.


Bara yang kala itu sedang duduk santai merasa heran dan sedikit curiga, karena tidak biasanya Mamanya memanggil dirinya


"Oh, ada apa Ma? "


"Bara kamu cepat pergi ke kamar Arum dia membutuhkan kamu, " ucap Mama Sukma dengan suara yang sangat lirih ketika Vanessa sedang pergi ke ruangan kecil untuk membuatkan Mamanya minum dan Vanessa juga menghidangkan buah-buahan segar seperti anggur.


"Ma, jangan membuat Aku sulit Aku tidak mau Nesa tau Mama bilang sama Arum kalau Aku sudah tidur. "


"Tidak bisa Bara, itu bukan kemauan Arum tapi sepertinya itu kemauan dari janin yang ada di perutnya. "

__ADS_1


"Tapi, Ma, "


"Ma, Ini minuman dan sedikit cemilan, "ucap Vanessa ketika dirinya keluar dengan membawa buah buahan segar dan minuman untuk Mamanya.


"Oh, trimakasih Nes, ini lho Mama mau minta Bara turun untuk mencari obat yang Suster berikan untuk Arum, karena Mama dan Arum mencari tidak ketemu dan Mama ingat Bara yang pasti tau di letakkan dimana, Mama Minta bantuan Bara untuk nyari dulu di bawah ya? "


"Oh, Iya Ma silahkan, "


"Ayo, Bara Istrimu sudah mengizinkan, kamu sekarang cepat turun dan cari sampai ketemu. "


Dengan senyum terpaksa Bara menganggukkan kepala.


"Ya, Ma. Sayang Aku turun ke bawah dulu, kalau capek cepat beristirahat jangan menunggu ku, '


" Ya, Mas. "


Bergegas Bara dan Mama Sukma turun ke lantai Bawah kemudian dengan cepat berjalan menuju ke kamar Arum.


Di mana di dalam kamar Arum sudah menunggu, Bibir Arum tersenyum senang ketika melihat Kedatangan Bara masuk ke dalam kamarnya bersama dengan Mama Sukma.


"Mas Akhirnya kamu datang, Tante trimakasih sudah membantu memanggil kan Mas Bara. "


"Ya sekarang kalian beristirahatlah Tante akan kembali ke dalam kamar." Tanpa menunggu jawaban Mama Sukma segera keluar dari dalam kamar dan langsung menuju ke kamarnya sementara Bara tetap berdiri dan Arum berjalan mendekati.


"Ayo Mas kita tidur, Aku ingin tidur dengan di temani Mas Bara, " ucap Arum sambil menggengam tangan Bara dan Bergelayut manja di lengannya.


Tanpa bicara Bara mengikuti apa yang Arum inginkan berjalan mendekati Ranjang.


"Mas, Kira-kira Mas mau anak kita Nanti laki-laki apa perempuan? "


"Apa saja, "


"Hemm, Mas sentuh disini dia ingin di belai Papanya. "ucap Arum sambil membawa tangan Bara untuk menyentuh perutnya.


Apa yang dilakukan Arum dan Apa yang diminta Arum membuat Bara kesal dan jengkel, akan tetapi Bara tahan dan simpan dalam hati dengan sangat lembut dan halus Bara menolak keinginan Arum.


" Kamu sudah ngatuk kan, tidur saja tidak perlu banyak bicara apapun, dan biarkan Bayi yang ada di dalam kandungan kamu tidur dengan pulas, jangan di ganggu dia. "


"Tapi Mas, dia ingin di belai papanya, ayolah Mas, "


"Biarkan begini Mas, "


Bara memejamkan kedua bola matanya, sambil menarik napas berat.


"Maafkan Aku Nes, apakah kamu sekarang sudah tidur tunggu Aku akan segera kembali ke kamar setelah Wanita ini tidur, ' gumam Bara bermonolog sendiri.


" Cepat tidurlah Aku tidak bisa tidur jika berada di kamarmu ini, "


"Kalau begitu besok Aku akan pindah ke kamarmu, "


"Apaan, sih, cepat tidur jangan bikin Aku kesal. "


Mendengar perkataan Bara yang menyakitkan Arum langsung membalikkan badan menatap pada Bara.


"Mas, Aku bukan orang lain Aku istrimu dan di dalam perutku ada anakmu, pokoknya Aku tidak mau tau mulai saat ini Mas harus memberikan perhatian lebih juga padaku, "


"Ya, cepat tidurlah, "


"Aku mau di peluk, "


Bara membulatkan kedua bola matanya mendengar perkataan Arum.


"Ayoo..!


Dengan sangat berat hati Bara mulai melakukan apa yang diminta oleh Arum. Hampir dua jam lamanya Bara menunggu Arum untuk tidur, dan ketika saat itu tiba Bara menarik napas lega dengan sangat perlahan lahan Bara keluar dari dalam kamar Arum dan melangkah menuju ke lantai atas kamarnya.


Tanpa Bara ketahui ketika dirinya keluar dari kamar Arum, tampak sepasang mata sedang melihatnya dengan pandangan mata tidak berkedip.


"Tuan Bara, kenapa dia keluar dari dalam kamar Ulet Bulu malam malam begini ada apa ini, sepertinya ada yang tidak beres, apakah Non Nesa tau, atau jangan jangan Tuan sudah terkena bujuk Rayu Wanita uler itu, kuraang ajaar sekali jika memang begitu, Aku harus menyelidikinya. "


Mba Sri segera masuk ke dalam kamarnya ketika Bara Naik ke kamar atas, karena jika mbak Sri tidak segera Naik, Bara bisa melihat keberadaannya dan hal itu akan semakin kacau.


Mba Sri sangat yakin jika kini Tuannya pasti sudah mulai tergoda rayuan dari Wanita yang selalu mengganggunya.


"Dasar Wanita tidak tau malu Aku akan buat kamu menyesal telah mengganggu kehidupan Rumah tangga dari Tuanku. " sinis Mba Sri yang langsung masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Di lantai Atas Bara sudah sampai di depan pintu kamarnya dengan sedikit terburu-buru Bara langsung membuka pintu, kemudian menguncinya kembali, Bara menarik napas lega karena bisa kembali ke kamarnya dan bisa tidur disamping Istrinya.


Dengan sangat perlahan-lahan Bara merebahkan tubuhnya tepat menghadap pada Istrinya, Bara tidak langsung memejamkan mata, Bara justru sibuk menatap dan memperhatikan Vanessa yang sudah tertidur dengan sangat pulas.


Dengan perlahan-lahan Bara membelai dan menyibabkan anak Rambut yang menutupi Wajahnya.


"Aku sangat mencintaimu, " lirih Bara yang kemudian mengecup kecil kening Istrinya baru kemudian Bara memejamkan mata.


Vanessa yang sebenarnya tidak tidur mengernyitkan dahinya, merasa heran sekaligus penasaran, setelah Suaminya tertidur.


"Masa mencarikan obat sampai dua jam, memangnya mencarikan obat dimana dan apakah Mas Bara pergi ke luar untuk membeli obat, " Gumam Vanessa yang mulai memundurkan Wajahnya menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengan Wajah sang Suami yang sudah tertidur dengan sangat pulas.


Vanessa yang masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Bara ketika Bara mengatakan jika Arum hanya sakit maag dikarenakan dirinya adalah seorang Suster yang pernah bekerja di sebuah Rumah Sakit dan sudah pasti dirinya mengetahui banyak tanda-tanda dari orang sakit ataupun orang yang sedang hamil, karena keduanya memiliki tanda-tanda yang sangat jauh berbeda dan hal itu Vanessa sangat memahami ketika Suaminya mengatakan Arum hanya sakit maag itu ucapan dusta belaka.


Entah apa maksud dari Suaminya berbohong kepadanya. Mungkin Bara lupa jika dirinya dulu seorang Suster sehingga mudah dan bisa dibohongi.


Hal itu membuat Vanessa semakin merasa curiga ada apa dengan semua ini.


Memilih menjaga jarak ketika tidur dan memilih membelakangi karena Vanessa merasa kesal dimana Suaminya mulai tidak berkata jujur kepadanya.


Beberapa macam pertanyaan kini mulai menari-nari di pelupuk matanya.


"Jika Arum benar hamil dia hamil dengan siapa bukankah Arum belum punya Suami dan sikap Mama mengapa kini mulai sedikit berubah, sikapnya yang dingin dan sangat kasar padanya mulai sedikit melunak dan terkesan lembut kepadanya, padahal sebelum itu sikap Mama mertuanya benar-benar sangat dingin dan galak semua terjadi begitu cepat dan jika di cermati semua berubah ketika Arum masuk Rumah sakit yang dikatakan Suaminya Arum sakit Maag.


Beberapa kali Vanessa menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan. karena tidak bisa tidur dengan nyeyak dan karena Vanessa ingin melihat Putrinya apakah di dalam kamarnya sudah tertidur, Vanesa bangkit dari Ranjang dengan perlahan-lahan kemudian turun dan melangkah menuju pintu.


Bara yang merasa kecapekan tidak menyadari jika Istrinya sudah keluar dari dalam kamar.


Sampai di lantai bawah lampu temaram masih menyala, sengaja lampu di Ruang bawah tidak pernah dipadamkan hanya di ganti dengan cahaya lampu yang sedikit redup.


Suatu hal kebiasaan yang juga sering Vanessa lakukan ketika berada di Rumah Ayah dan Ibunya dimana Rumah yang lampunya sudah padam kerap membuat merinding jika tengah malam keluar melewati nya entah mengapa ada rasa was-was akan kehadiran mahkluk kasap mata, untuk itu, Ayahnya mengatakan untuk tidak mematikan lampu hanya menggantinya dengan lampu redup.


Sampai di lantai bawah Vanessa yang berniat pergi ke kamar putrinya melihat tidak sengaja bertemu dengan Mba Sri yang ternyata baru keluar dari dalam kamar Mikha.


"Non Nesa, mau ke kamar Non Mikha ya?


" Iya, Aku ingin melihatnya Mba Sri juga baru dari kamar Mikha ya? '


"Iya, Non, tadi saya sudah dari sana dan keluar lagi karena saya lupa meletakkan minuman botol di dekatnya, biasanya Non Mikha kalau malam kan suka minum dan malas turun jadi saya selalu sediakan Air putih di dalam botolnya di dekat Ranjang. Non Nesa kok belum tidur bukankah Tuan sudah berada di dalam kamar Non? "


"Kamu tau Mas Bara baru Naik ke kamar atas? "


Dengan tersenyum nyengir Mba Sri menganggukkan kepala.


"Itu tadi Mas Bara di Minta Mama untuk membantu mencari obatnya Arum mungkin karena tidak ketemu akhirnya Mama meminta Mas Bara untuk pergi ke toko obat jadi dia balik ke kamar atasnya malam."


"Oh, jadi Tuan pergi untuk mencari obat tapi Tuan tidak keluar Rumah,Non, "


"Maksudmu bagaimana Mba? kok Aku jadi bingung. "


"Eng, Anu, Tuan baru keluar dari dalam kamar Ulet Bulu, "


"Ulet Bulu? siapa itu? "


"Astaga Aku lupa, kenapa juga bilang Ulet Bulu mana ngerti Non Nesa. Anu Non itu Arum maksudnya. "jawab Mba Sri sambil tersenyum nyengir karena salah bicara.


Vanessa mengernyitkan dahinya mendengar perkataan dari Mba Sri pengasuh dari Mikha Putri nya.


" Oh, jadi Mama dan Mas Bara baru keluar dari dalam kamar Arum, mungkin mereka bingung mencari sehingga mereka berdua berada di dalam kamar Arum sampai malam."


"Nyonya besar tidak ada Non, kan Nyonya besar sudah masuk kamar sejak pukul 7,30 Sore tadi cuma ada Tuan yang ada di dalam kamar Ulet bulu maksud saya Arum."


"Oh..!


" Non, silakan kalau mau melihat Non Mikha, masuk saja, "


"Tidak jadi, Mba Sri kan baru dari sana dan Aku khawatir jika Aku datang kesana Nanti Mikha bangun kan Mba Sri baru dari kamarnya Aku balik ke kamar saja untuk tidur, Oh ya trimakasih infomrmasi nya, Mba. Aku pergi tidur dulu. "


"Sama-sama Non, "


Vanesa segera Naik ke kamar atas untuk kembali tidur. Mba Sri yang melihat Vanessa pergi tersenyum.


"Aku sudah bilang sama Non Nesa, Nanti tinggal kamu rasain apa yang akan Non Nesa lakukan padamu Ulet Bulu, dasar, Ulet Bulu yang tidak punya malu, "


Naik ke lantai kamar atas dengan berbagai macam pertanyaan yang mulai berkecamuk di alam pemikirannya. Membuka pintu dengan perlahan-lahan dan menguncinya juga dengan perlahan-lahan, Bara yang tertidur pulas tidak menyadari jika Istrinya baru saja dari luar kamar.

__ADS_1


Mungkin karena kelelahan membuat Bara tidur dengan sangat pulas.


__ADS_2