DOKTER DINGIN ITU PAPAKU

DOKTER DINGIN ITU PAPAKU
Bab. 140.Sangat Panik


__ADS_3

Bara yang menghentikan laju Mobilnya dengan menginjak Rem secara mendadak membuat Vanessa, Arum dan Mama Sukma terkejut.


"Baraaa...!kamu itu kenapa sih, kalau mau nginjak Rem pelan-pelan dikit Mama bisa jantungan ini Nanti, "


"Hmm, Mama tenang saja kan Mama duduk di samping Vanessa kalau Mama jantungan ada dia Aman pokoknya,"


"Baraaa...!


Bara tersenyum nyengir, mendengar omelan dari Mamanya.


" Mama sudah buat Aku begini menyedihkan Aku juga mau buat kerjain Mama enak saja pasangan Suami Istri di pisahin Pokoknya Mama harus tanggung jawab." gumam Bara dalam hati yang mana langsung mengemudikan Mobil dengan kecepatan sedang.


******


"Ciiiiit.. !sebuah Rem dadakan di injaak oleh Robi.


" Ren lo gilaa ya, pakai Narik narik tangan gue Kalau Aku tidak bisa mengontrol kita bisa Nabraak tauk, "


"Cepat minggir biar Aku yang nyetir, "


"Bonyok dan babak belur begitu lo mau nyetir, Aku heran sama lo masa bisa kalah dari Si Bara, makanya Ren sebelum Nantaangin Orang itu latihan dulu, kalau begini kan Malu maluin, Beruntung aku cepat datang dan nolongin kamu, jika tidak bisa terkapaar di situ kamu, bikin malu saja apalagi jika mereka tahu kalau kamu seorang Dokter bisa-bisa kacau semuanya, lihat tuh Bara seger buger cuma berdarah di mulut saja pukulan kamu banyak tapi kurang kuat,kini baru nyadar kan lo, Anak itu tidak bisa kau anggap reemeh, Ren lain kali lo sewa preeman saja biar dia juga bisa Babak belur kayak kamu."ucap Robi memberikan saran pada Rendra yang langsung Robi mendapatkan pelototan dari Rendra.


"Ngomong apaan sih minggir Aku masih kuat untuk nyetir, "


"Hmm, ya.. ya Bos, anak buah harus ekstra sabar dan ngalah, sudah di tolongin bukannya bilang trimakasih yang ada marah-marah melulu saja Aku sumpahin lho ketemu Nesa dalam keadaan bonyok dan Babak belur begini biar di ketawain. "


"Gleeeeerrrrr...!


"Ren itu tadi suara apaan ya?


"Mana Aku tau Sudah cepat lo minggir, biar Aku yang pegang kemudi. "


Dengan patuh Robi mengeser duduknya berpindah tempat dan Rendra juga melakukan hal yang sama, kini dirinya yang berada di depan kemudi.


"Ren, bukankah itu tadi suara guntur ya? "


"Tauk, " jawab Rendra dengan cuek tanpa menunggu lagi Rendra segera mengemudikan Mobil Robi dengan kecepatan cukup kencang.


Robi yang merasakan Rendra seperti membawa mobilnya dengan gaya seorang pembalap di mana setelah melajukan mobil dengan arah lurus menuju ke arah rumahnya tiba-tiba di persimpangan jalan Rendra Memutar Balik dengan arah yang berlawanan Hal itu membuat Robi semakin merasa bingung dan heran, karena arah Rendra melajukan mobilnya bukan lagi menuju ke rumahnya dan Robi tidak tahu kemana Rendra akan membawanya pergi.


"Ren, kita mau kemana? "


"Diam dan ikuti saja, kepalaku lagi pusing dan hatiku lagi kesal Aku mau mencari tempat yang tenang, lagi pula Wajahku masih terlihat begitu buruk jika Arsel melihat Papanya pulang dengan begini bisa tidak berhenti bertanya dan Alena pasti mencari kesempatan untuk cari muka Aku muak semua itu, untuk itu Aku akan memenangkan diriku di tempat yang segar dan nyaman, kita ke pantai yang ada di dekat sini, "


"Astaga Ren, ke pantai ngapain? "


"Bertapa, "jawab Rendra asal karena dirinya merasa sangat kesal dengan teman sekaligus anak buahnya yang banyak tanya.


"What..!


" Apa? What.. What, memangnya mau ngapain lagi bukankah tadi juga sudah ku bilang jika Aku mau menenangkan diriku, sudah diam Jangan brisik. "

__ADS_1


"Cieeee, yang takut ketahuan Alena jika mukanya Bonyok dan Babak belur begitu. "


"Berani ngledek lagi Aku turunin kamu dengan tidak hormat mau, "


"Ya, ya Aku diam, tapi sebenarnya Alena itu cantik lo Ren masa kamu tidak tertarik, "


"Bisa diam tidak,dan jika kamu mau ambil saja untukmu Aku tidak tertarik. "


Robi tidak lagi banyak bicara karena dia menyadari Rendra benar-benar sedang kesal, Robi bisa memaklumi betapa kesal hatinya karena harus kalah dari laki-laki yang telah merampas Istrinya.


Karena melajukan Mobil dengan kecepatan kencang tidak menunggu lama Rendra sampai di pantai, Rendra segera menempatkan Mobilnya di tempat parkir, kemudian bergegas turun tanpa menunggu Robi dan Robi harus berlari-lari kecil mengejar langkah kaki dari Rendra.


"Mau kemana? "


"Diam dan ikuti jika mau, '


" Astaga galak bener ini Bos hari ini, "


Rendra memilih tempat yang sedikit sunyi pengunjung dan tanpa menunggu nunggu blngin langsung duduk sambil melepaskan sendal sepatunya untuk dijadikan alasan tidur.


"Aku mau rebahan sebentar, kamu boleh pergi kemanapun kamu mau bangunkan Aku ketika hari sudah mulai senja, "


"Ren, serius lo mau terpaar disini, kotor banyak pasir kenapa tidak pakai tikar saja, tunggu Aku belikan. "


Robi segera pergi ke toko yang ada di pinggiran pantai, ada banyak penjual disana, mulai dari makanan,Pakaian Mainan juga tikar.


Dengan berlari-lari kecil Robi menghampiri Rendra dan mulai membentangkan tikar nya dan tanpa bicara Rendra langsung tidur dengan kepala dia tutup dengan menggunakan jaketnya.


"Rendra, Rendra mau sampai kapan lo hidup begini, apa sesulit itu melupakan Mantan Istrimu, memang sih Vanessa sangat cantik tapi Alena juga tidak kalah cantik, juga kulihat sayang padamu tapi kenapa hatimu ini sekeras batu, "


Robi mendengus kesal antara tidak tega dan kesal, sementara Rendra sudah tertidur dengan pulas.


"Krucuk.. krucuk..!


" Aduh Aku lupa jika Aku belum makan tapi bagaimana dengan Rendra apa lebih baik Aku tinggal sebentar, ini perut bisa kena mag kalau tidak segera diisi Aku cari makan saja dulu dan kubawa makanan itu kesini. "


Bergegas Robi bangkit dari duduknya dan melangkah pergi untuk mencari makan.


Mobil yang di tumpangi Bara dan Vanessa juga sudah sampai di pantai.


Arum tampak senang dan bahagia setelah turun dari Mobil.


"Sayang kita jalan jalan kesana ayo, "ajak Bara pada Istrinya.


Vanessa menganggukkan kepala dan mulai mengikuti langkah kaki Bara yang mengajaknya berjalan akan tetapi belum ada dua langkah suara Mama kembali menggelegar bagaikan halilintar.


" Tunggu..!"mau kemana kalian, enak daja main pergi tanpa kami, "


"Aduh, Ma. Aku sama Nesa mau berpacaraanlah Ma, sudah Mama sama Arum saja Jalan-jalannya. "


"ayo sayang..!

__ADS_1


" Baraaa... ! kelewatan banget sih kamu jadi anak, apa kamu tidak tau kami ini juga lapar, enak kamu dan Istrimu baru makan sedangkan kita, sudah sekarang cepat cari makanan untuk kita, Mama akan tunggu disana dengan Arum ingat tidak pakai lama, "


"Hmmm, Iya Ma, ayo Sayang. "


"Arum kita duduk disini, kebetulan Tante bawa tikar juga, kamu tidak apa-apa kan Bara dan Nesa pergi berdua untuk beli makanan, Tante khawatir Bara akan curiga kalau Tante paksa-paksa terus harus dengan kamu, "


"Tidak apa-apa Tante, "


Mama Sukma tersenyum manis mendengar jawaban dari Arum.


Kurang lebih hampir satu jam mereka menunggu Akhirnya Bara dan Vanessa datang dengan membawa Makanan untuk mereka.


"Ini,Ma makanannya, "ucap Bara sambil menyodorkan kresek berisi makanan kepada Mamanya.


" Kamu tidak makan Nesa? "


"Masih kenyang Ma, "


"Baiklah Ayo Arum kita makan, "


Mama Sukma dan Arum makan hanya berdua saja sementara Vanessa yang juga duduk disana memilih makan cemilan kripik nangka yang rasanya ada manis kecut dan pedas ditemani oleh Bara.


"Sayang buka mulutnya, "


"Apaan sih, Mas malu ada Mama, '


" Biarin saja kan kamu istriku, "


Vanessa melirik kearah Mama mertuanya yang ternyata kala itu menatapnya, dengan pandangan mata yang sedikit terlihat dingin begitu juga dengan tatapan mata Arum.


"Tidak usah Mas, Aku bisa makan sendiri, "


"Hmmm, tidak mau, baiklah jika tidak mau Aku suapin Aku peluk di depan mereka bagaimana? "ucap Bara dengan suara lirih tepat di telinga Vanessa.


Vanessa yang tau kenekatan dari Bara suaminya mau tidak mau memilih pasrah dan menerima di suapin Bara meskipun sesungguhnya dirinya sangat malu.


Mama Bara yang melihat hal itu mendelik tidak percaya dengan kenekatan Putra dan menantunya, begitu juga dengan Arum wajahnya terlihat semakin masam dan tanpa pikir panjang Arum segera melahap makanan yang ada di depannya dengan sedikit terburu buru karena terbawa perasaan kesal dan marah. Tidak lama kemudian.


"Hoeekk...!


" Hoooeek...!


"Arum kamu kenapa? " tanya Mama Sukma panik begitu juga dengan Bara dan Vanessa dengan gerakan spontan mereka langsung menoleh ke arah Arum.


"Kepala Arum pusing Tante..!


" Arum Wajahmu pucat, kamu sakit? " tanya Vanessa yang juga ikut panik.


sementara Bara memilih membuang muka


"Halah itu pasti lagi Acting. "

__ADS_1


__ADS_2