
Dengan langkah lunglai dan tak bersemangat Bara masuk ke dalam hotel kamarnya setelah membersihkan luka yang ada di tangannya Bara segera keluar kamar dan berniat pergi ke dalam kamar Mikha untuk menemui Mikha dan istrinya.
Perlahan-lahan Bara mulai membuka pintu kamar Mikha. Kebetulan Mikha sedang menghadapi ke pintu sehingga dia segera mengetahui kedatangan dari Papanya.
"Papa...! teriak Mikha sambil berlari menghambur dalam pelukannya.
" Bara mencoba tersenyum meskipun senyum itu terlihat sangat dipaksakan, sungguh hati Bara tidak tenang pikirannya sangat kacau dan hatinya sangat bingung.
Vanessa yang melihat suaminya sudah datang bangkit dari tempat duduknya.
"Mas Baru datang, "
"Iya, sayang, "
"Hei wajahmu terlihat lelah sekali Mas, apa kamu sedang lapar ayo Mas kita makan bersama Mikha baru saja makan, hari ini Mikha pintar lho dia mau makan sendiri, Mikha sayang bermain dulu sama Mbak sri ya, Mana dan Papa mau makan, Mba Sri tolong ajak Mikha bermain, "
"Baik, Nyonya, "
Mbak Sri segera membawa Mikha masuk kesebuah ruangan dimana disana Mbak Sri bisa mengajak Mikha untuk bermain, Bara memang menyewa sebuah kamar hotel yang sangat bagus dimana satu kamar saja bagaikan satu Rumah yang memiliki banyak ruangan bagaikan rumah.
"Duduk sini Mas kita makan, " ajak Vanesa pada Bara yang disanbut dengan anggukan dan senyum kecut.
"Kamu kenapa Mas, apa Papa Marah padamu sehingga kamu terlihat sedih begini. "
"Iya, Sayang Papa sangat Marah padaku dan besok Papa meminta Aku untuk menemuinya mungkin Aku akan meninggalkan kalian disinih seharian, "
"Oh, cuma itu tidak apa-apa Mas, Aku dan Mikha tidak masalah Mas tinggal satu hari besok, "
"Sayang Maafkan Aku, "ucap Bara sambil langsung memeluk tubuh istrinya membuat Vanesa mendelik karena heran hingga membuat Vanessa menggelengkan kepalanya.
" Kamu benar-benar baik dan mencintaiku Mas, Aku berjanji akan berusaha mencintai mu, Aku akan membalas semua perhatianmu padaku, cuma mau bertemu dengan Papamu dan meninggalkan Aku sebentar saja kamu sudah bersedih begini, Aku benar-benar beruntung memiliki kamu sebagai Suamiku dan mungkin memang sudah saatnya Aku membuka hati untuk mu dan melupakan Mas Rendra lagi pula Mas Rendra juga sudah punya istri pastinya, kan kemarin saat Mikha bertanya apakah dia memiiki anak Mas Rendra menjawab punya dan bahkan mereka melakukan panggilan lewat video call, Aku akan sangat bodoh jika masih terus mengharapkan nya, Mas Bara sangat mencintai Aku dan dia sangat menyayangi Aku dan putriku juga sangat dicintai nyanya, " gumam Vanessa dalam hati sambil membalas pelukan dari Suaminya.
"Sayang jangan tinggalkan Aku, ' lirih Bara dengan suara yang serak.
Mendengar suara Suaminya yang sedikit Aneh tidak seperti biasanya Vanessa melepaskan pelukan Bara dan menatap lekat lekat wajah tampan yang ada di depan nya.
Vanessa sedikit tersentak kaget karena Wajah Suaminya sembab.
"Kau menangis Mas, hei kenapa segitunya sih Aku tidak akan meninggalkan mu, "
"Benarkah Sayang apa kamu mau berjanji, "
__ADS_1
"Kenapa mesti pakai janji Mas, "
"Aku ingin kau berjanji padaku apapun keadaan ku kamu tidak akan meninggalkan Aku, "
Vanessa mrnggulum senyum.
"Seperti anak kecil saja Mas sudah Ayo kita makan, "
"Sayang berjanjilah Aku mohon, "
Vanessa memukul gemas pipi suaminya.
"Iya, Aku berjanji, "
"Trimakasih Sayang sekarang hatiku sudah bisa tenang, "
"Nah, sekarang ayo makan Aku lapar, "
"Hehehe iya, Ayo Sayang, "
Bara dan Vanessa berjalan ke meja makan dimana di depan mereka sudah ada menu makanan yang di pesan Bara sebelum dia pergi menemui Arum.
"Biar Aku ambilkan makannya, "
Vanessa mengeryitkan dahinya ketika melihat tangan Bara yang terluka.
"Mas, tangan kamu kenapa? "
"Oh, ini hahaha tidak kenapa napa tadi dia nyiuum dinding habis kesal di telpon begitu. " jawab Bara berpura-pura.
"Oh, ya sudah sini biar Aku ambil sendiri dan Aku suapin Mas makan apa Mas mau? "
"Kau mau menyuapi ku?
" Iya, memangnya kenapa? Mas tidak mau ya? "
"Astaga Sayang bagaimana Aku akan menolak tentu saja Aku mau, Ayo cepat suapin Aku lapar banget nih, "
Dengan telaten Vanessa mulai menyuapkan Nasi kedalam mulut suaminya.
"Sayang..?
__ADS_1
" Hmmm, "
Bara yang memanggil Vanessa dan Vanessa hanya menjawab singkat karena dia sedang sibuk menunduk untuk memisahkan duri dari ikan yang ada di piringnya.
"Kapan kamu akan hamil anakku, "
"Hahaha kenapa sudah tidak sabar ya? "
"Iya dong, Aku mau kamu cepat hamil anakku biar Aku tidak takut kehilangan kamu lagilagi dan Sayang bukan kah kita sudah melakukan nya hampir ada tiga minggu ya masa belum nonggol juga su baby apa aku kurang kenceng genjotnya entar malem kita coba lagi ya, "
"Idih apaan sih mana bisa cepat begitu lagi pula kamus dari mana coba kalau Aku sudah punya anak dari kamu Aku tidak akan ninggalin kamu, "
"Ya pada umumnya begitu Sayang kalau sudah punya anak dia kan punya perasaan gak tega dan gak ingin anaknya hidup tanpa Ayah kandung nya. "
"Kamu salah Mas, Aku tetap ninggalin Mas Rendra meskipun Aku sedang mengandung anaknya karena Aku tidak pernah mau menoleri suatu perselingkuhan."
"Uhuk..
" Uhuk..
"Uhuk..!
" Mas pelan-pelan kok bisa sampai kesedak begini sih, "
"A-aku tidak apa-apa sayang, apa itu suatu kepastian maksudku apa kamu akan melakukan begitu pada semua yang menghianati kamu? "
"Ya, "
"pyaaaarr...!
Tiba-tiba Gelas yang ada di dekat Bara tersenggol jatuh. "
"Mas, kamu kenapa sih, kok seperti orang yang sedang gugup begitu, hei kamu juga berkeringat, ada apa sih Mas aneh banget, Nih tisunya cepat hapus tuh kringat, masa di ruangan ber AC masih juga kepanasan. "
Bara tersenyum nyengir kuda ketika Vanessa memberondong dengan berbagai macam pertanyaan.
"Tapi kamu kan sudah berjanji ya sayang kalo berjanji kan harus di tepati jadi kamu tidak akan mengingkari kan, "
Bara bertanya dengan wajah penuh harap, sementara Vanessa hanya tersenyum.
"Kalau Aku segalanya tergantung dari kesalahan itu sendiri, bisa ditepati bisa juga tidak jadi trgantung, "
__ADS_1
"Deh... !
Seolah-olah kerongkongan nya kering Bara berkali-kali meneguk ludah nya.