
Rendra yang merasa kesal dan geram ketika dirinya bertemu dengan Vanessa memilih berjalan dengan sangat cepat meninggalkan Robi yang berjalan di belakangnya, dengan sangat tergesa-gesa dan terburu-buru Rendra langsung menuju mobilnya dan langsung Naik dan duduk di belakang kemudi.
Dengan sedikit tergesa-gesa pula Robi sedikit berlari kecil untuk mengikuti langkah kaki Rendra yang sangat cepat.
Robi tidak ingin Rendra Nekat meninggalkan dirinya karena dirinya lambat dalam melangkah, disaat Rendra sedang marah apapun bisa Rendra lakukan, untuk itu Robi memilih berjalan dengan cepat kemudian masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Rendra.
Robi yang melihat Rendra akan mengemudikan mobilnya perlahan-lahan Robi menahan tangan Rendra.
"Kita akan pulang kan, biar Aku yang mengemudikan Mobilnya kamu bisa duduk dengan nyaman sambil rebahan."tawar Robi pada Rendra.
"Apa kau takut? "
"Sebenarnya tidak cuma kadang-kadang kamu kan suka nekad, "jawab Robi sambil tersenyum Rendra yang mendengarkan perkataan Robi mendelik seketika akan tetapi kali ini Rendra tidak ingin berdebat ataupun beradu mulut dengan Robi untuk itu Rendra segera meminta Robi untuk bergeser.
"Baiklah cepat geser kalau begitu, "seru Rendra dengan nada suara keras, sungguh hatinya benar-benar merasa marah dan terluka dengan sikap yang sudah Vanessa lakukan kepadanya.
Robi yang melihat teman sekaligus Bosnya berwajah sangat kusut dan masam hanya bisa menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar.
"Sudah Ren, tidak perlu terlalu dalam memikirkannya anggap saja hari ini kamu tidak bertemu dengannya, biar hati kamu tenang dan tidak sakit begitu, " ucap Robi sambil menjalankan Mobilnya meninggalkan Area pantai.
"Tidak perlu mengguruiku, Aku tau itu cepat pergi ke Rumah sakit terdekat, "
"Apa, ke Rumah sakit terdekat, mau ngapain? "tanya Robi yang merasa heran.
"Apa kamu lupa dengan Wajahku yang memar ini, tentu saja mau berobat dodol masak mau makan, di mana-mana yang Namanya Rumah sakit itu tempat untuk orang berobat. "sinis Rendra yang merasa sangat kesal dengan pertanyaan Robi yang dianggapnya bodoh.
"Astaga, Ren. Aku tidak bodoh Aku tau cuma Aku tidak paham maksudmu, bukankah kamu punya Rumah sakit sendiri bahkan kamu bisa di Rawat secara geratis karena kamu pemiliknya. "
"Apa kamu pikir Aku bodoh kalau Aku ke Rumah sakit tempatku, yang ada semua pada bertanya kenapa bisa seperti ini, sudah Aku tidak mau orang-orang yang mengenalku mengetahui jika Wajahku babak belur begini, lain kali Aku akan buat perhitungan dengan laki-laki brengsek itu, kurang Ajaaar sekali sih dia dan apa ini juga gara-gara sumpah kamu yang ada suara petir itu, apes sekali Nasibku ketemu dengan Nesa dan dengan cara yang sangat menyebalkan, Vanessa harus diberikan pelajaran karena telah berani menuduhku, "
"Maksud kamu apa Ren, jangan bilang kamu mau buat aneh aneh, Ren. Semua bukan salah Nesa juga tapi salah kamu, kenapa juga jalan tidak pakai hati-hati dan lihat lihat, coba kalau kamu berjalan dengan berhati-hati tidak mungkin akan terjadi begini."
"Kamu membela Vanessa?" Aku tahu kamu dan Vanessa itu bertemakan cukup baik tapi tidak sepatunya juga kamu membela dia seperti itu karena yang mengaji kamu itu Aku bukan Vanessa jadinya kamu seharusnya itu patuh dan taat hanya kepadaku bukan kepadanya. "geram Rendra yang mulai tersulut emosi.
"Diiih, marah, Jangan tersinggung dong Ren aku kan mengatakan apa adanya semua karena kamu yang salah juga Coba kamu berhati-hati semua tidak akan jadi seperti ini dan kamu juga bicaranya juga terlalu berlebihan untuk apa kamu mengurusi dan mengatakan seperti itu, jatuhnya Vanessa jadi marah dan tidak respek padamu kan?
"Sudahlah pusing Aku mendengarkan kamu, percepat laju Mobilnya Aku mau segera diberikan perawatan biar Aku bisa cepat pulang dan tidur dengan nyaman. "
"Ya, ya sabar Bos sebentar lagi juga akan sampai." jawab Robi yang kini mulai fokus melajukan Mobilnya.
__ADS_1
Berjalan dengan sangat tergesa-gesa dan masuk kedalam Mobil juga dengan sangat tergesa-gesa bahkan tanpa sadar Vanessa menutup pintu Mobil dengan suara yang cukup keras.
Hal itu membuat Mama Sukma yang kebetulan duduk di bangku belakang paling kanan mendelik seketika.
"Nesa.. ! kamu kamu mau tutup pintu Mobil itu yang pelan sedikit apa tidak bisa, bukan main banting saja, kami kami ini sudah sabar nungguin kamu yang mau beli jajanan untuk anakmu eh, datang datang kok membanting pintu, dasar tidak punya sopan santun, " sungut Mama Sukma emosi, sementara Vanessa tidak mau ambil peduli dengan sikap Mama mertuanya, memilih diam dan membuang muka.
Vanessa memilih membuang muka menatap luar jendela, sudah pasti sikap Vanessa yang tidak seperti biasanya semakin membuat Mama Sukma marah dan geram.
Sedangkan Arum memilih memejamkan mata mendengar keributan di belakangnya dengan kedua tangan memeluk erat perutnya.
Sementara Bara mengernyitkan dahinya, merasa heran dengan sikap Istrinya yang tidak seperti biasanya, serasa Aneh dan terlihat sangat kesal dan marah entah siapa yang telah membuatnya kesal dan marah dan setelah Bara amati Vanessa datang dengan tangan kosong tidak ada jajanan yang dia bawa.
Bara mulai memahami mungkin istrinya kesal karena tidak mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Sayang jajarannya sudah habis ya, Nanti kalau di depan ada lagi Aku akan belikan, sudah jangan cemberut dan marah ya, kita pulang sekarang tapi sebelumnya kita akan mampir ke Rumah sakit terdekat yang ada di sekitar sini, Aku tidak mau harus bolak-balik nganterin Mahkluk Gaib ini, "
"Bara..! situasi begini kamu juga masih bisa menghinanya. "
"Iih, Mama cuma begitu saja Mama marah dahlah Nanti kalian saja yang masuk Aku tidak mau, " cicit Bara yang tidak ada respon dari siapapun semuanya sibuk dengan pemikiran nya sendiri sendiri.
Mobil melaju dengan kecepatan rata-rata kini sudah mulai mendekati Rumah sakit yang mereka tuju.
"Permisi Mba, Mau memeriksakan perut dari Anak saya dia mual mual. "
"Oh mari silakan masuk, "
"Ayo Arum kita masuk, Bara ayo masuk, "
"Ah, Mama. ogah Ma, Bara tunggu disini saja, pusing kepala Bara menciiuum bau obat yang menyengat '
" Ya sudahlah, Nesa, kamu temani Bara jangan boleh kemana-mana, "
"Ya, Ma,"
Arum dan Mama Sukma akhirnya masuk mengikuti salah satu suster yang membawanya ke sebuah ruangan perawatan.
Di luar Bara tanpa basa basi yang melihat Istrinya duduk dengan pandangan mata yang sulit untuk di terka memilih duduk disampingnya kemudian tanpa meminta izin langsung merebahkan kepalanya pada Pangkuan istrinya.
"Mas, apa yang kamu lakukan? "
__ADS_1
"Aku yang seharusnya bertanya padamu, kamu itu kenapa sayang kenapa melamun terus sejak kembali pulang dari membeli jajanan yang tidak dapat itu, apakah penjualnya sangat menjengkelkan? "
"Tidak, tidak ada apa-apa Mas itu hanya perasaan kamu saja jangan tiduran begini tidak enak di lihat orang ini Rumah sakit, "
"Hmmm, Baiknya tapi Aku tidak mau di abaikan begini, "
"Siapa yang ngabein Mas, Aku cuma lagi memikirkan Arum, "
"Ngapain dia dipikirkan biarkan saja, kan ada Mama dan sekarang sudah di dalam pasti setelah itu dapat obatnya langsung dia sembuh, jadi tidak perlu dipikirkan sayang."
"Aku tidak tau perasaan dan penglihatan Aku benar apa salah, sepertinya Arum bukan sakit maag biasa, "
"Maksudmu bagaimana? "
"Jika Aku melihat tanda-tandanya Arum seperti orang yang lagi hamil, "
"Deg...! Jantung Bara seolah mau lepas.
Bara yang tiduran di pangkuan Istrinya langsung bangun terduduk.
" A-apa? hahaha kamu itu kalau bicara jangan aneh-aneh sayang, " ucap Bara dengan bibir bergetar.
Tiba-tiba raut Wajah Bara mendadak pias dan entah mengapa tiba-tiba berkeringat.
Vanessa yang melihat perubahan Wajah dari Suaminya mengeryitkan dahinya.
"Kamu kenapa Mas, kok mendadak Aneh begini, "
"Tidak apa-apa sayang dan kamu jangan berpikiran yang macem-macem mana mungkin itu, "
"Aku tau Mas, mana mungkin Arum hamil sedangkan dia belum bersuami tapi Aku khawatir jika dugaan Aku benar mungkin Arum adalah korban dari perbuatan pacarnya yang tidak bertanggungjawab, kan kasian jika benar begitu, "
"Ne-Nesa, sudah diam jangan membicarakan Arum lagi pening kepalaku, "
"Isssh, kok Mas yang sewot sih, "
"Sudahlah, sayang. jangan berpikir yang aneh Arum kan juga sudah bilang dia punya Maag dan dirinya tadi belum makan pasti itu maag dia yang kambuh, "
"Bisa jadi begitu, tapi, __
__ADS_1
" Sudahlah Sayang kita tidak usah membahas itu, karena hal itu bukan urusan kita, "ucap Bara memberikan ketegasan meskipun sejujurnya di dalam hatinya mulai ada rasa cemas dan keresahan.