
Mama Sukma dan Vanessa keduanya terlihat sangat panik ketika melihat Arum wajahnya sangat pucat, terlebih dia seperti sangat mual mungkin karena terlalu banyak makanan yang dia masukkan ke dalam mulut atau mungkin memang dia memiliki sakit maag karena belum makan dari siang karena menunggu kedatangan Bara dan Vanessa kala itu.
"Bagaimana ini? "
"Aku mau ke kamar mandi Tante perutku serasa di aduk dan Aku tidak tahan, "
"Baik, baik Aku antar ayo itu ada kamar mandi terdekat, "
Vanessa segera menggulurkan tangannya untuk membantu Arum, karena Arum merasa badannya begitu lemas maka mau tidak mau menerima uluran tangan dari Vanessa yang berniat membantunya.
Meskipun sesungguhnya Arum tidak akan sudih tapi karena terpaksa akhirnya mau.
"Bara, kenapa diam saja sana bantuin? "
"Ma, kan sudah ada Vanessa biar dia yang membantu cukup kurasa Arum juga cukup kuat untuk berjalan, sudahlah Ma Bara itu capek Mau rebahan saja. "
"Bara, kau, __
" Mama tidak perlu deh marah-marah melulu Bara pusing mendengarnya, kalau Mama khawatir Mama kejar mereka dan bantuin, biar Bara disini menunggu, paling juga masuk angin. "
"Ya itu juga gara-gara kamu Arum makan siangnya telat mungkin maag dia kambuh, "
"Sudah Ma, jangan ceramah disini Bara capek, "
Bara tidak memperhatikan dan tidak mempedulikan Mamanya yang mendelik mendengar perkataannya Bara segera merebahkan tubuhnya di tikar dengan beralaskan sebuah jaket sebagai bantal kemudian tanpa bicara lagi langsung memejamkan kedua bola matanya.
Sungguh Bara merasa lelah dengan setiap omelan dan sikap Mamanya yang sering marah-marah bahkan terlihat sangat antusias mendekatkan dirinya dengan Arum.
Hal itu membuat Bara semakin pening untuk itu Bara memilih tidur dan tidak lagi mau peduli dengan apapun yang akan Mamanya katakan.
Sampai di depan kamar mandi Arum segera masuk dan tidak mengizinkan Vanessa untuk ikut, sehingga Vanessa menunggu di luar.
Arum yang sudah beberapa menit menahan agar tidak muntah di depan Mama mertua dan Bara kini bisa lega memuntahkan semua.
"Hoeek..!
" Hoeek!
"Aku kenapa ini mual sekali apa karena terlambat makan, "gumam Arum dalam hati.
Arum merasa lega karena setelah memuntahkan semua badannya terasa lebih enakkan, tapi ketika tangannya hendak menyentuh handle pintu tiba-tiba rasa mual kembali menyerang sehingga Arum kembali lagi lari ke depan wastafel dan memuntahkan lagi apa yang terasa mual.
Kali ini tidak ada apapun yang keluar kecuali cairan berwarna sedikit kuning dan kali ini mualnya semakin sering bahkan dalam jarak beberapa menit mual lagi hingga tubuh Arum terasa lemas.
Vanessa yang ada di luar merasa cemas karena Arum sudah cukup lama berada di dalam kamar mandi dan belum juga keluar.
"Tok, Tok, Tok! Arum, buka pintunya Arum apa kamu baik-baik saja? "
Tidak lama pintu pun dibuka dari dalam tampak Arum keluar dengan Wajah pucat.
"Apa kamu baik-baik saja, ayo Aku bantu, tapi duduk dulu boleh Aku melihat sebentar, "
"Mau apa kau, tidak usah, jangan Pegang-pegang, "Tepis Arum pada tangan Vanessa yang mencoba melihat dan mengecek keadaannya.
Vanessa hanya bisa meneguk ludahnya ketika mendapatkan penolakan dari Arum.
" Baiklah masih kuat jalan apa tidak jika masih ayo, Nanti kita cepat pulang saja, "
"Ya, " Jawab Arum dingin.
Vanessa hanya bisa menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan.
"Keras kepala juga ini anak mungkin memang benar apa yang dikatakan Mba Sri Arum ini sangat tidak suka kepadaku tapi, kenapa tidak suka kepadaku apa salahku padanya, ada-ada saja, " gumam Vanessa dalam hati yang mengikuti langkah kaki Arum dibelakangnya.
Vanessa sengaja melangkah di belakang Arum dari pada di samping menjajari langkah kaki Arum, karena jika ada apa-apa atau jika Tubuh Arum limbung Vanessa bisa sigap menahannya dari belakang.
"Bagaimana Arum, Wajahmu pucat sekali? " tanya Mama Sukma ketika Arum dan Vanessa sudah sampai di tempat mereka duduk.
Dengan penuh perhatian Mama Sukma membimbing Arum untuk duduk dan dengan gerakan cepat Mama Sukma menarik jaket yang ada di bawah kepala Bara kemudian dia berikan pada Arum untuk menghangatkan tubuhnya.
Sontak saja apa yang dilakukan Mama Sukma membuat kepala Bara yang tertidur dengan nyaman di atas jaket sebagai bantalnya tiba-tiba kepalanya terjadug pasir meskipun tidak sakit akan tetapi sungguh membuat Bara yang kala itu tertidur langsung terbangun.
"Mama...! kalau mau ambil jaketku bilang dong jangan main tarik saja, beruntung di bawah ini Pasir bukan batu coba kalau batu bisa bikin kepalaku pecah dan pening."
" Kelamaan, tuh Arum sudah kedinginan, tubuhnya menggigil begitu. "
__ADS_1
"Ma, jaketku kok di kasihkan Arum sih, mana kembalikan, "seru Bara dengan suara keras dan kasar sambil berusaha menarik jaketnya.
"Baraaa!
" Mas, jangan..!"Vanessa juga ikut menahan tangan Bara yang hendak menarik paksa jaket yang ada pada Tubuh Arum.
"Sayang itu jaketku, Aku tidak mau Wanita itu makainnya kalau kamu yang pakai tidak apa-apa, "
"Mas, kita pulang Arum sakit, "
"Apa? pulang, kita baru sampai belum sempat bersenang-senang kok pulang, biar dia dan Mama yang pulang duluan kita disini. "
"Bara, kamu itu tidak punya perasaan sekali sih, "
"Salah sendiri, ini kan salah Mama juga ngapain ikut Aku dan Nesa kalau sudah begini masa Aku harus berkorban lagi untuk menuruti kalian, ogah Mama pulang pakai taksi saja Bara yang akan pesankan, "
"Baraaaaa! kurang ajaaar kamu yaa? "
Dengan kesal Mama Sukma segera menarik telinga Bara hingga membuat Bara kesakitan.
"Aduh Ma ampun tolong lepasin tangan Mama sakit nih, "
"Awas berulah lagi Aku jewer sampai puutuss baru tau rasa kau, "
"Astaga Ma, galak benar sih, "
"Mas, kita pulang Arum beneran sakit kita akan langsung membawanya ke Rumah sakit tadi dia juga sangat lama di dalam kamar mandi,"
"Tapi, sayang kita kan belum bersenang-senang, "
"Lain waktu juga bisa Mas, itu Arum pucat banget apa Mas tidak lihat, "
"Cuiih ogah lihat dia paling juga bohongan itu, cari perhatian dia, "sinis Bara yang langsung mendapatkan tatapan mata sendu dari Arum.
"Mas Bara kok begitu sih, Aku tidak bermaksud untuk, ___
" Halah diam kau, bikin kacau semuanya, " sahut Bara dengan dingin. "
"Mas, jangan kasar-kasar kenapa sih, kasian kan Arum dia beneran sakit, tadi mau Aku lihat tapi dia menolak, untuk itu kita bawa saja dia langsung ke Rumah Sakit."
"Kamu itu Nes, selalu saja memikirkan orang ya sudah ayo kita pulang tapi aku ogah ngantar ke Rumah sakit.
"Araaagh, terserah kalian, cepat kalau mau pulang, "
Bara yang kesal dan geram segera bangkit dari duduknya kemudian melangkah menuju ke tempat parkir di mana Mobilnya dia parkir kan sementara Mama Sukma dan Vanessa membantu Arum untuk berjalan mendekati Mobil.
Mama Sukma sengaja meminta Arum untuk duduk di depan agar kepalanya tidak sering pusing dan meminta Arum untuk bersandar meskipun dengan hati kesal dan geram Bara tidak bisa menolak keinginan dari Mamanya dan membiarkan Mama dan istrinya duduk di belakang.
Dengan perlahan-lahan Bara mulai menghidupkan Mobilnya tapi sebelum mobil itu melaju Vanessa melihat seorang penjual jajanan di pinggir jalan yang kala itu sedang dikerumuni banyak orang untuk membeli, jajanan yang ditaruh diatas Cup besar seperti gelas dengan isian keju dan jangung ini adalah jajanaan kesukaan Mikha.
"Mas tunggu sebentar, Aku mau beliin jajanan itu untuk Mikha."
" Dengan cepat Vanessa turun dan berlari ke arah sang penjual.
Mama Sukma semakin geram melihat sikap dari Vanessa menantunya.
"Issh, Norak sekali kan tidak perlu juga di belikan Katanya mau cepat antar Arum ke Rumah sakit melihat jajanan begitu langsung turun huuuuf dasar, __
" Mama, bisa ngak sih diem, semua orang tua pasti begitu Ma, kesukaan Anaknya itu Nomor satu ngak seperti Mama sudah tau Aku tidak terlalu suka dengan mahkluk gaib di sampingku ini Mama justru suruh dia duduk dideket Putra Mama yang Tampan ini itu kan Namanya Mama tidak tau kesukaan Anak," ucap Bara dengan santai membuat Mama Sukma mendelik seketika menatap tajam pada Bara dan Bara hanya tersenyum nyengir melihat kemarahan dari Mamanya.
"Baraaa...! sekarang kamu pinter ya membantah Mama, sudah kena pelet nya Vanessa kamu jadi begitu,"
"Isssh, Mama sudahlah kita tunggu sebentar kalau Aku turun mau nemanin paling juga Mama larang, "
Lagi-lagi Mama Sukma mendelik dengan perkataan Bara putranya, sungguh akhir-akhir ini putranya sangat pintar membantah dan hal itu semakin membuat dirinya kesal dan pusing.
Vanessa yang berjalan cepat akhirnya sudah berdiri di depan sang penjual dan keberuntungan ada pada Vanessa karena langsung mendapatkan pelayanan sehingga tidak perlu menunggu lama.
Ketika Vanessa hendak berjalan pergi kembali ke Mobilnya yang jaraknya kurang lebih limapuluh meter, tanpa sengaja Jajanan yang di pegang Vanessa ditabrak orang yang berjalan dengan tergesa-gesa, hingga jatuh.
"Oh, Maaf, saya tidak sengaja, " ucap orang itu yang buru-buru membungkuk hendak mengambil tapi melihat isi jajanan tumpah ke lantai pasir orang itu buru-buru mendongak.
"Maaf, biar saya ganti dengan yang baru, "ucap orang itu yang tanpa menunggu jawaban langsung berlari ketempat sang penjual jajanan.
Vanessa yang kala itu sangat kesal melihat orang yang menabraknya sengaja Vanessa memalingkan muka agar dirinya bisa mengontrol kekesalan hatinya.
__ADS_1
Vanessa sungguh heran dan terkejut karena orang itu langsung pergi untuk menganti jajanannya yang jatuh, tanpa menunggu jawaban dan tanpa peduli Vanessa tidak menatapnya.
" Eh, tunggu, tidak perlu biarkan saja,"seruan Vanessa percuma saja karena orang itu sudah pergi tanpa Vanessa ketahui siapa orang yang sudah menabraknya.
"Maaf Mba, jajanan ini tolong berikan pada saya kasian Istri saya lagi marah karena ngidam dia tidak bisa menunggu lama, sebagai gantinya ini ambil bisa buat beli lagi dan dapat lebih dari duapuluh Nantinya, trimakasih ya saya permisi dulu. "
Gadis yang memegang jajanan ditangannya melongo tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, tiba-tiba datang seorang laki-laki Tampan langsung meraih jajanan miliknya dan Menganti nya dengan uang dengan alasan istrinya ngidam.
"Beruntung sekali Istrinya itu, Suaminya sangat sayang padanya, dan Aku juga beruntung karena dapat uang lebih, smoga kalian bahagia selalu, " gumam gadis yang kemudian kembali memesan jajanan yang baru.
Sementara laki-laki itu berlari sedikit kencang dan hanya dalam hitungan menit sudah berdiri di depan Vanessa.
"Maaf, ini gantinya, "ucap laki-laki itu sambil menggulurkan jajanan kepadanya.
Vanessa cukup heran dan merasa Aneh karena laki-laki yang membuat jajanannya jatuh, tidak menggunakan waktu lama hanya dalam sepuluh menit sudah berada di depan nya dengan jajanan Baru padahal jika harus beli biasanya menunggu duapuluh menitan baru selesai.
"Cepat sekali? '
" Hehehe iya, ini maaf ya, sudah membuat menunggu? "ucap laki-laki itu menggulurkan jajanan pada Vanessa.
Vanessa yang tadinya berdiri membelakangi kini membalikkan badan untuk mengambil jajanan yang diberikan kepada nya, dan ketika tangannya terulur, alangkah terkejutnya Vanessa ketika mengetahui siapa yang ada di depan nya.
"Mas Rendra..!
" Nesa...! kok kamu sih, itu tadi jajaanan buat Mikha ya, "
Vanessa mengagguk.
"Maaf, Aku sudah menjatuhkannya. "
"Tidak apa-apa, "
"Kamu pergi dengan Suamimu, "
"Iya, dia menunggu di Mobil, "
"Nes, jangan terlalu percaya pada Suamimu sepertinya Suamimu juga ada main dengan Wanita lain, "
"Mas Rendra tidak perlu repot repot mengurus kehidupan keluargaku Aku permisi dulu, oh ya jangan mengikuti Aku terus, "
"Deg..!
"Maksud Kamu apa Nes?
Vanessa tersenyum miring kemudian menggelengkan kepalanya dan berniat melangkah pergi tapi sebelum itu Vanessa berdiri sangat dekat dengan Rendra.
" Cepat obati luka kamu itu tidak perlu terus mencari dan mengikuti Aku jalan kita sudah berbeda, lanjutkan kehidupan kamu karena Aku sudah melanjutkan kehidupan Aku. "
Setelah mengucapkan itu Vanessa kembali melangkah dengan meletakkan jajanannya pada telapak tangan Rendra.
" Ambil ini untukmu, tidak perlu berpura-pura tidak sengaja lagi dan tidak perlu diganti. "
Rendra sungguh tertegun dengan apa yang Vanessa katakan padanya, sungguh dirinya tidak menyangka Vanessa yang sekarang sungguh sangat dingin dan kata-katanya menyakitkan.
Hingga bayangan Vanessa menjauh Rendra masih berdiri termangu, sungguh dirinya tidak menyangka Wanita yang siang dan malam dia rindukan setelah bertemu sungguh sangat menyakitkan.
"Menggikutinya, siapa yang menggikutinya Aku sendiri tidak tau dirinya disini dan apa dia bilang jangan berpura-pura dia pikir aku berpura-pura menabraknya, sombong sekali Vanessa sekarang, berani bersikap dingin lagi dan asal menuduhku Akan Aku ambil Anakku, Aku juga punya Hak atas Mikha, " geram Rendra yang tanpa sadar meremaas hancur jajaanan yang ada di tangannya.
Apa yang terjadi antara Rendra dan Vanessa ternyata dilihat oleh Robi dan Robi hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Apa Vanessa membuat kamu Marah Ren? "
"Dia menuduhku, menggikutinya dan menuduhku sengaja menabraknya, sombong sekali dia sekarang, dia pikir Aku ini apa seenaknya saja menuduhku, mana Aku tau Nesa ada disini mana Aku tau jika akan menabraknya, benar-benar menjengkelkan. "
"Sabar Ren, mungkin Vanessa lagi kesal, atau ada kata-kata kamu yang tidak dia suka, "
"Mana ada aku bicara biasa saja cuma, ___
" Cuma apa Ren, kamu bicara apa? "
"Aku bilang jangan terlalu percaya pada Suaminya. "
"Nah pasti kata-kata itu yang membuatnya marah. "
"Tapi apa yang aku katakan kan benar Bara itu laki-laki brengsek dia srigala berhulu domba. "
__ADS_1
"Iya, tapi kita juga tidak bisa langsung bicara begitu karena jatuhnya pasti tidak akan di percaya. tuh kan kamu sudah membuktikannya, Vanessa justru marah dan membencimu. "
"Ah entahlah Aku pusing Ayo kita pulang, " seru Rendra yang langsung melangkah menuju ke tempat parkir.