DOKTER DINGIN ITU PAPAKU

DOKTER DINGIN ITU PAPAKU
Bab. 175.Perasaan yang Aneh.


__ADS_3

Mobil terus melaju meninggalkan Rumah besar yang kini sudah berada diluar Rumah dan berada di tengah jalan raya yang kala itu sudah mulai sepi karena hari mulai malam.


"Siapa mereka kalau mereka adalah keluarga mengapa Wanita itu berteriak minta tolong Aku benar-benar mendengarnya meskipun hanya sekali teriakan, apa telingaku salah mendengar tapi tidak Aku benar-benar mendengar dengan jelas dan jika Aku salah dengar mengapa ada anak kecil yang di bawa dengan cara Aneh seperti itu, Anak kecil itu terlihat sedang tertidur dan dibawa seperti membawa karung beras saja pasti mereka bukan keluarga ataupun bukan orang baik-baik apa jangan-jangan di Rumah Bara baru saja terjadi perampookan dan penculikan, tapi mengapa harus anak kecil dan Wanita sederhana itu yang di culik, apakah Wanita itu Ibunya, oH itu tidak mungkin tadi Aku bisa melihat sedikit jelas wajah mereka jauh berbeda bahkan kulit mereka juga, kalau Aku cuma menerka-nerka Aku tidak akan tau apa apa jadi memang sudah benar jika Aku harus mengikutinya. "


Baim terus melajukan mobilnya dan terus bermonolog sendiri.


"Deerrrrttt....!


" Drrrrrrrtttt...! Ponsel HP Baim yang diletakkan di dalam saku mulai berderit pertanda ada panggilan masuk.


"Apa lagi sih ini, Eva. .!aduh ngagguin orang saja tapi kalau tidak Aku angkat dia pasti marah-marah, sudah Aku trima saja dari pada sepulang ke Rumah aku dapat marah-marah nya.


" Halo...!


"Kok belum pulang? "


"Aduh, sayang maaf banget tadi Aku sudah pergi ke Rumah Bara anaknya tidak ada jadi Aku langsung pulang tapi teman nelpon ngajak makan malam sekarang Aku lagi di Rumah teman Aku akan pulang sdikit terlambat kamu tidur saja lebih dulu tidak perlu menungguku sudah ya sayang, Aku tidak enak ini sama teman Nanti kita bicara lagi, "


"Tit..! Tanpa menunggu jawaban dari Istrinya Baim langsung mematiikan sambungan teleponnya.


" Amaan, Aku bisa dengan leluasa mengikuti mereka Eva sudah tidak akan lagi mengagguku. "


_________


"Kepalaku kenapa tiba-tiba pusing begini dan perasaan hatiku kenapa tidak enak, lebih baik Aku ke dapur untuk membuat kopi. "


"Den Rendra? "mau apa ke dapur, biar Bibi yang siapkan, "


Rendra yang baru saja keluar dari dalam kamarnya dan berniat untuk melanjutkan tugas dari pekerjaan nya tidak bisa fokus karena hatinya merasa resah.


"Aku mau membuat kopi Bi tapi kenapa Bibi di dapur ini sudah malam, '


" Bibi belum ngantuk Den dan Den Rendra sendiri kenapa belum tidur, apakah pekerjaan di Rumah sakit sangat banyak sehingga Den Rendra lembur mengerjakannya di Rumah? "


"Sebenarnya tidak begitu banyak tapi tidak tau ini Bi, bawaannya males dan perasaan Aku tidak enak begini, Arsel hari ini baik-baik saja kan Bi, "


"Iya, Den semua baik-baik saja , "


"Ya sudah buatkan Aku kopi dan bawa masuk ke kamarku ya Bi, "


"Baik, Den, "


Rendra bergegas masuk kembali ke Ruang kerjanya.


"Aku benar-benar resah apa ada sesuatu yang terjadi dengan Robi dari kemarin dia tidak datang dan tidak menemui Aku coba Aku hubungi dia, minta cuti dua hari sampai lupa untuk memberikan kabar padaku apa cinta membuatnya lupa segalanya lupa teman yang sekaligus Bosnya dasar Robi hanya mementingkan dirinya sendiri.


Rendra segera meraih ponsel hpnya yang dia letakkan diatas Narkas dan langsung menekan satu Nomor telepon milik Robi.

__ADS_1


"Tut... Tut.. Tut..!


" Sial, jam segini sudah sibuk no hpnya pasti lagi ngobrol dan lagi ngegombal sama ceweknya itu, tapi Aku harus mencoba lagi, ini lebih penting dan Aku tidak mau menunggu. "


Rendra kembali memenceet nomor telepon Robi dan lagi-lagi tidak bisa tersambung dengan nada sibuk, karena sudah mencoba berkali-kali dan gagal Rendra melemparkan ponsel hpnya ke atas Ranjang karena kesal dan memilih berbaring tidak lagi memiliki semangat untuk melanjutkan pekerjaan nya rasanya hati dan pikirannya sangat suntuuk dan gelisah yang Rendra sendiri tidak tau mengapa.


Menunggu Bibi Yem membawakan secangkir kopi Rendra mencoba memejamkan kedua bola matanya, Baru juga mulai mencoba mereem tiba-tiba ponsel hpnya berdering.


Dengan malas dan tanpa melihat siapa yang sedang menelpon Rendra segera menaruh ponsel hpnya didekat telinganya.


"Halo..!


" Halo Ren, HP kamu itu kenapa sih daritadi Aku hubungi tidak bisa. "


"Robi..! seru Rendra yang langsung dengan gerakan reflek duduk.


" Iya, Aku, HP kamu dari tadi Aku hubungi tidak bisa, memangnya kamu lagi ngapain sih Ren, "


"Hei, kau jangan memfitnaah, justru yang dari tadi menelpon itu Aku dan HP kamu itu yang sibuk, sudah jangan bikin drama, bilang saja kamu tidak mau disalahkan dan kamu tau Aku yang menghubungi makanannya kamu Berpura-pura agar Aku tidak marah kepadamu benar begitu kan? "


"Issh Aku ini serius Ren, sekarang Aku sudah berada di halaman Rumah mu, buka pintunya, "


"Apa kau kesini mau ngapain malam-malam begini,"


"Tentu saja ada yang penting cepat buka,


Rendra bergegas turun dari Ranjang dan melangkah keluar ketika sampai di depan pintu Bibi Yem sudah berdiri disana dengan membawa secangkir kopi untuk Rendra.


"Den, mau kemana ini kopinya, "


"Taruh diatas meja dan tolong buat satu lagi ya Bi,"


"Apa, Den Rendra mau satu cangkir kopi lagi? "


"Iya, buatkan cepat, "


Rendra segera melangkah pergi meninggalkan Ruang kerja nya sementara Bibi Yem menatap tidak percaya jika Tuannya menginginkan kopi lagi, meskipun merasa aneh dan Heran Bibi yem tetap melangkah ke dapur dan membuatkan satu cangkir kopi lagi.


Di Ruang tamu Rendra segera membuka pintu.


"Kamu gilaaa datang ke rumah orang malam-malam begini Rob, "


"Terpaksa Ren, Ayo Aku mau bicara serius dengan mu, "


"Masuk saja ke Ruang kerja kita bicara disana Aku khawatir Alena belum tidur Nanti bisa mengaggu tidurnya. "


"Ayolah, "

__ADS_1


Robi segera melangkah pergi meninggalkan Ruang tamu dan berjalan dengan cepat terlebih dahulu ke Ruang kerja Rendra.


Robi yang sudah hafal Rumah Rendra sangat mudah mengetahui dimana Ruang kerjanya. Rendra sengaja masuk ke dapur menunggu Bibi yem selesai membuatkan kopi.


Bibi yem sedikit terkejut karena Rendra sudah berdiri disampingnya.


"Den Rendra bikin kaget saja."


"Bibi tidur saja kopinya biar Aku bawa sendiri ke dalam kamar, "


"Oh, Baik Den, '


Bibi yem segera pergi setelah memberikan satu Nampan berisi kopi kepada Rendra.


" Nih, kopi untuk kamu, sekarang katakan mau apa kamu datang ke sini malam-malam seperti tidak ada hari esok saja."


"Ini Soal Nesa Ren, Apa kamu tidak ingin melihat nya, kamu tidak bodoh kan kamu pasti sudah tau dimana Alamat Rumah Bara, "


"Aku sangat sibuk sekali, sebenarnya ada sih keinginan melihat Mikha tapi Aku tidak mau dituduh lagi sama Nesa, capek Rob dianya begitu, makanya Aku tidak datang untuk melihat, Aku rasa Vanessa sudah bahagia jadi biarkan saja."


"Bahagia bagaimana Ren, bukankah kita tau Bara itu brengsek dan dia ada perempuan lain dan satu hal yang ingin Aku kasih tau ke kamu anak buahku melihat ada penjagaan' ketat di Rumah Bara mulai malam ini bukankah ini Aneh, "


Rendra menarik napas panjang kemudian menghembuskan nya dengan perlahan.


"Hari ini sebenarnya hatiku juga tidak enak, Aku juga khawatir tapi Aku bingung harus bagaimana, "


"Kamu itu terlalu gengsi sudah kamu cari tau saja mengapa Rumah Bara ada penjagaan. "


"Besok Aku akan lihat, mereka, sekarang sudah malam habiskan kopimu kemudian kita tidur, "


"Baiklah tapu besok Aku tidak bisa ikut, Paman memberikan tugas penting yang harus Aku kerjakan. "


"Tidak masalah aku bisa pergi sendiri lagi pula kamu hanya bisa bikin repot saja Ini masalah kecil dan aku bisa melakukannya sendiri meskipun kamu tidak ikut, "


Robi yang yang mendengar perkataan Rendra mendelik seketika Ingin rasanya Robi memukul Rendra yang terlihat sangat sombong dan sok berani di mana sebenarnya Rendra sudah berusaha mati-matian untuk tidak lagi menemui ataupun melihat Mantan istrinya dikarenakan Robi sangat mengetahui jika hati Rendra pasti merasa sangat sakit melihat Mantan istrinya membanggakan suaminya di depannya tapi karena Rendra adalah orang yang sangat cerdas dirinya bisa berpura-pura baik-baik saja meskipun hatinya sedang remuuk redam.


"Memangnya kamu mau bertemu langsung begitu? "


"Menurutmu Apakah aku akan melakukan hal itu mau ditaruh di mana mukaku Nesa membanggakan suaminya dan dia pasti menertawakan aku, Apakah menurutmu aku akan datang dengan bertamu seperti layaknya tamu pada umumnya? "


"Lalu kamu mau coba datang Bagaimana mau seperti maaling, di sana banyak penjagaan yang sangat ketat Kamu tidak akan pernah bisa masuk ke sana, "


" sudah cepat habiskan kopimu kopiku sudah habis Aku mau pergi ke kamarku untuk beristirahat, Malam ini kamu tidur di ruang kerja saja jangan ikut tidur di kamarku karena aku tidak ingin tidur bersama dengan dirimu dan tidak perlu kamu khawatir aku bisa pergi sendiri dan kamu bisa menyelesaikan tugas yang diberikan Papa kepadamu jangan lupa tutup pintu Aku khawatir Alina tiba-tiba datang dan masuk ke sini mengira aku berada di sini dan tiba-tiba tidur di sampingmu bisa-bisa kacau nanti. "


"Tenang Ren, Aku jamin aman pergilah Aku akan mengunci pintunya. '


Setelah mengulas senyum Rendra melangkah pergi meninggalkan Robi di Ruang kerja.

__ADS_1


__ADS_2