
Melihat Mikha yang sudah berhenti menangis membuat Mbak Sri merasa tenang dan lega rasa khawatir dan was-wasnya karena takut kedua orang laki-laki yang telah menawan mereka terganggu dan akhirnya marah kini sudah tidak lagi Mba Sri rasakan karena Mikha sudah mau berhenti menangis.
Dengan senyum mengembang di bibir Mba Sri membelai dan memeluk Mikha dengan penuh kasih sayang bahkan berkali-kali Mba Sri mengecup puuccuk kepala dari Mikha agar gadis kecil itu tenang dan merasa nyaman.
Mbak Sri sangat mengerti jika saat ini Mikha merasa sangat sedih penuh dengan ketakutan yang Mbak Sri sendiri juga ikut merasakan akan tetapi berusaha untuk tenang dan tidak memperlihatkan jika dirinya lemah dan juga takut serta berputus asa.
"Ayo...! katanya mau kabur, Ayo..! "ajak Mikha kepada Mba Sri yang merasa sangat tidak sabar dengan keadaan dan ingin segera pergi dari rumah itu sementara Mbak Sri yang diajak udah sedikit merasa bingung karena tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana, untuk kabur tidak mungkin Mbak Sri akan melompat dari jendela di mana jendela yang ada di dalam kamar itu cukup tinggi dan sangat berbahaya jika Mbak Sri melompat dari ketinggian kamar dan jika Mba Sri keluar melalui pintu depan sudah pasti dua orang penjaga yang menawan mereka tidak akan membiarkan mereka bisa keluar dengan selamat, dikarenakan kedua orang laki-laki itu sudah pasti akan menahan dan membawa mereka kembali masuk ke dalam kamar.
Karena melihat Mba Sri hanya diam saja lagi-lagi Mikha menggoyang-goyangkan tubuh Mbak Sri agar segera melakukan apa yang Mikha minta.
"Ayo, kenapa disna saja kita cepat kabur Mikha sudah tidak mau berada disini Mikha mau ketemu sama Mama dan Papa Mikha rindu pada mereka, "
"sssstttt, Iya Mba Sri tau tapi Non Mikha jangan menangis Kita Harus berpikir dengan jernih dan tepat karena jika kita salah langkah kita tidak akan bisa keluar dari tempat ini, yang ada orang-orang itu akan menyakiti kita Non Mikha sudah mengertikan? jika orang-orang itu bukanlah orang-orang baik dan Non Mikha harus waspada dan juga berhati-hati tidak boleh membuat orang-orang itu merasa curiga dan juga marah kepada kita, "
dengan tangis yang mulai tertahan dan mencoba untuk tidak keluarkan suara yang keras lagi Mika menganggukkan kepala melihat hal itu Pak Sri menggulung senyum dan memeluk tubuh Mika sambil mengecup pucuk kepala Mika.
"Baiklah sekarang kita mulai berpikir bagaimana caranya kita bisa keluar dari tempat ini Kita akan mengamati keadaan sekeliling ruangan ini bila ada yang bisa membuat kita keluar dari sini tanpa melalui pintu itu akan lebih baik. "ucap Mba Sri pada Mikha.
Meskipun Mbak Sri sendiri memahami Mikha yang masih kecil belum tentu mengerti dan paham dengan apa yang dia katakan akan tetapi setidaknya Mikha tidak lagi menangis dan membuat suasana semakin kacau di mana keadaan dirinya yang tidak tahu entah sampai kapan akan seperti itu karena sampai saat ini dan Sampai detik ini Mbak Sri tidak melihat tanda-tanda jika dirinya dan Mikha akan ada yang membantu dan menyelamatkan mereka.
Mbak Sri menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan kedua bola matanya menatap ke sekeliling ruangan mencari cara bagaimana agar dirinya bisa keluar dari kamar itu, tanpa sepengetahuan dua orang penjaga yang ada di luar ruangan dan tidak mungkin Mbak Sri juga menggunakan jendela untuk melompat dikarenakan jarak antara jendela dan lantai bawah cukup tinggi dan itu sangat berbahaya bagi Mikha yang masih anak-anak.
Karena tidak mendapati ide maupun Celah yang bisa membuat mereka bisa keluar dari tempat itu Mbak Sri mengusap kasar wajahnya mulai merasa putus asa.
__ADS_1
Mikha yang melihat hal itu menatap Intens kepada Mbak Sri Yang sepertinya sangat lemah dan tidak bersemangat, Mikha menyadari jika pengasuhnya mungkin saat ini sudah tidak memiliki semangat dan keinginan untuk bisa pergi dari tempat ini, terlihat wajahnya sendu dan berputus Asa.
"Non, tidak ada pilihan lain Aku harap Non Mikha bersabar saja, semuanya serba sulit, tidak ada celah sedikitpun untuk kita bisa lolos dan kabur dari tempat ini aku harap non Mika tidak lagi menangis dan membuat kesal dua orang penjaga yang ada di luar sana, karena kita tidak bisa berbuat apa-apa kita ditempatkan di sebuah kamar yang cukup tinggi sehingga untuk keluar jika melompat pun kita tidak akan bisa karena sangat tinggi dan berbahaya terlebih untuk Non Mikha yang masih anak-anak jadi kita berdoa dan bersabar semoga Mama Non Mikha segera datang untuk menyelamatkan kita."
"Bukan cuma Mama Mba tapi Papa Bara juga Pasti Papa Bara akan membantu dan menolong kita, kalau Mama rasanya sangat mustahil Mama itu seorang wanita Dia pasti sangat lemah beda dengan Papa Mba, Papa seorang laki-laki dan dia akan membantu dan menolong kita di sini dengan segera. "
Mendengar perkataan poloos Mikha Mbak Sri hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum kecut meskipun Mbak Sri yang sempat mendengar jika semua yang terjadi kepada dirinya dan juga Mikha itu atas perintah dan suruhan dari Tuannya yaitu Tuan Bara.
"Ya, Non, sekarang kita duduk saja dan menunggu ya, ayo duduk disini, "bujuk Mba Sri pada Mikha dan kali ini Mikha tidak lagi menangis dirinya menurut, duduk di samping Mbak Sri kemudian kepalanya dia taruh di pangkuan Mbak Sri dan tidak lama kemudian Mika yang mungkin kelelahan karena beberapa waktu lalu menangis dengan waktu yang cukup lama membuatnya lelah yang akhirnya ketiduran.
Dengan perasaan iba Mbak Sri membelai lembut rambut Mikha hatinya merasa sangat sedih dan Iba, dirinya tidak menyangka jika Tuannya yang selama ini sangat baik dan lembut ternyata bisa berbuat yang buruk dan nekat kepada putrinya yang kini Mbak Sri ketahui ternyata Mikha bukan anak kandung dari Tuannya.
"Jika seperti ini terus mau sampai kapan dan mungkinkah Non Nesa bisa menukar kami semetara kami pergi tidak membawa ponsel HP, kasian Non Mikha Anak sekecil ini harus merasakan kepedihan hidup. "
Duduk diam di dalam mobil taksi dengan hati resah.
"Kemana Aku harus mencari Mikha Putriku ini sudah hari kedua Aku tidak bersama dengan nya, Aku tidak tau harus kemana dan dimana Mas Bara menyembunyikan Mikha, apakah Aku lebih baik kembali saja dan bertanya dimana Mikha berada karena jika Aku mencari sendiri sepertinya akan sia-sia tapi Robi bilang Aku tidak boleh kembali bagaimana ini, "
"Derrrrrt.... Drrrrrttt... Drrrrrttt....!
Mas Bara dia menelponku, Aku angkat apa tidak ya, lebih baik Aku angkat dan Aku tanya dimana Mikha dia sembunyikan.
" Halo...!
__ADS_1
"Halo sayang bagaimana apakah sudah bertemu Mikha? "
"Kau, katakan dimana kamu sembunyikan Anakku Mas, Mikha tidak salah biarkan dia kembali bersamaku kasian pasti dia Nangis apa kamu ngak kasian sejak bayi dia bersamamu apa kamu tidak punya hati sedikitpun. "
"Ssssstttt, tenang sayang, jangan berisik, Aku sudah katakan padamu jika kamu inginkan Mikha maka kamu harus menuruti semua permintaan ku, jadilah Istri yang baik tidak perlu melawanku kamu tidak perlu khawatir dirimu tetap yang pertama dalam hatiku kamu hanya menunggu sebentar setelah Arum melahirkan kita akan kembali ke London kita akan hidup bahagia lagi, "
"Aku tidak mau, Aku lelah Aku mau sendiri Aku tidak mau siapa siapa Aku mau bersama dengan Anakku saja, tolonglah Mas katakan dimana Mikha kamu sembunyikan!!! '
" Ssssst, jangan berteriak teriak pulang kembali ke Rumah Nanti Aku akan bawa Mikha ke Rumah sekarang pulanglah. "
"Aku tidak mau, "
"Baiklah jika kamu tidak mau kamu tidak akan bertemu dengan Anakmu, "
"Tit..!
Bara langsung mematikan sambungan telepon membuat Vanessa gusar antara menolak dan juga tidak.
" Halo, Mas.. Mas jangan matikan telponnya, "
Vanessa segera memencet Nomor telpon Bara akan tetapi rupanya ponsel Bara sengaja di Nonaktifkan.
"Sial, bagaimana ini, tidak. keselamatan Anakku lebih utama Aku akan kembali pulang biar Mas Bara segera membawa pulang Mikha, Aku tidak peduli meskipun Aku harus hidup di madu karena yang terpenting itu anakku akan Aku lakukan apa saja demi anakku, baiklah Aku akan pulang, Pak balik kembali ke Alamat ini, "
__ADS_1
Vanessa segera memberikan Alamat Rumah Bara dan Sopir taksi pun segera memutar arah untuk kembali ke alamat yang di berikan Vanessa kepada nya.