DOKTER DINGIN ITU PAPAKU

DOKTER DINGIN ITU PAPAKU
Bab. 26.INGIN MENANGIS


__ADS_3

"Kenapa Aku begitu bodoh, Aku kan menyimpan Brosur undangan pembukaan buktik terkenal di kota ini lebih baik Mama Aku belikan baju disana saja, tapi bagaimana caraku pergi, sedangkan kalau Aku mengajak Robi otomatis dia akan mencurigai diriku dan Aku akan ketahuan telah menyembunyikan brosur milik nya, tidak ada cara lain selain Aku harus pergi sendiri tidak perlu mengajak Robi, gengsi juga jika ketahuan Aku yang ambil Brosur miliknya, "gumam Rendra dalam hati yang mana kini mulai berjalan mendekati meja dimana Robi sedang sarapan pagi.


Ketika melihat Rendra sudah datang dan duduk di depan nya Robi segera memberondong beberapa pertanyaan, bukan apa apa Robi juga memiliki kecemasan sendiri apabila tiba-tiba Paman Admaja sebagai Papa Rendra meminta Rendra untuk pulang ke Jakarta dikarenakan Mr. Abdullah sudah menyetujui dan menandatangani semuanya dan di London sudah tidak ada pekerjaan apapun.


"Bagaimana Ren, siapa yang meneleponmu Apakah Paman menyuruhmu untuk pulang dan apakah dia juga mengatakan sesuatu padamu? tanya Robi dengan bertubi-tubi.


Rendra mengeryitkan dahinya dia merasa Robi sangat aneh biasanya tidak memperdulikan tentang siapapun yang akan menghubungi dan menelepon dirinya, akan tetapi kali ini Robi terlihat sangat antusias untuk ingin tahu siapa yang sedang menelpon dirinya seolah ada sesuatu yang dikhawatirkan Robi.


"Kenapa kamu terlihat aneh dan cemas begitu, ada apa? "


"Haiss, sudah kebiasaan dari seorang Boss apa ya, ditanya belum di jawab sudah memberikan pertanyaan balik mana minta pertanyaan nya di jawab lebih dulu lagi. " sindir Robi pada Rendra yang mana sukses membuat Rendra mendelik sambil memukulkan satu sumpit ke kepala Robi.


"Kamu itu ya, ingin tau aja, sebagai anak buah itu tidak boleh bertanya macam-macam kepada bosnya karena itu bukan urusan anak buah, kamu itu cuma anak buah, Ngapain juga kamu bertanya emangnya kalau ada sesuatu kamu yang mau bertanggung jawab, itu tadi Mama yang menelponku dia memintaku untuk membelikan baju yang bermerek dan terkenal di London Ini sementara Aku tidak tahu, apa kamu tahu di mana tempat tempat baju yang bermerek dan terkenal di London? "


Dengan cepat Robi menggelengkan kepala dia tidak ingin Rendra bertanya banyak dan meminta jawaban darinya karena Robi sendiri sedang pusing akibat dari kehilangan brosur undangan tentang peresmian butik terkenal yang ada di London, dimana dia berniat untuk mempertemukan Rendra bersama dengan Vanessa.


Rendra menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan ketika Robi menggelengkan kepala ada segurat kekecewaan di dalam dirinya yang mana dirinya sendiri juga tidak tahu di mana ada butik yang terkenal di kota London, karena Rendra sendiri tidak mempercayai dengan brosur yang dia dapat ketika berada di Rumah Robi.


Karena bagi Rendra belum tentu brosur yang dia dapat di rumah Robi itu adalah brosur yang benar-benar undangan dari sebuah butik terkenal yang ada di kota London, bisa jadi itu hanya sebuah promosi yang dilakukan beberapa orang di London yang bisa jadi hanya mengaku-ngaku sebagai butik terkenal dan bermerek agar bisa menarik pembeli.


"Rob sehabis ini apakah kamu ingin berpergian? "


"Iya, Aku mau melihat lihat kota London, kenapa Apa kamu tidak mau pergi dengan ku, "


"Untuk hari ini tidak Aku mau beristirahat di Hotel saja, lagi males keluar, kamu pergi sendiri saja. "


"Baiklah kalau begitu, biar Aku tidak kesorean ketika pulang ke hotel Aku berangkat sekarang saja, "


"Pergilah hati-hati di jalan Rob. "


"Sip..! "

__ADS_1


Robi segera beranjak meninggalkan Rendra yang kala itu juga bangkit dari duduk nya untuk pergi kembali masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.


Rendra bergegas naik ke kamar hotel ketika Robi sudah tidak terlihat lagi dengan cepat Rendra mencari kertas brosur yang dia Simpan Dan dia bawa ketika mengambil kertas itu dari rumah Robi.


Setelah menemukan Rendra menyungingkan sebuah senyuman meskipun Rendra sendiri tidak tahu alamat brosur itu benar-benar sebuah butik terkenal dan memiliki baju yang bermerek ataukah hanya sekedar promosi belaka, yang mana hanya untuk mengikat dan menarik para pembeli agar mereka mau datang melihat dan membeli barang mereka.


"Smoga brosur ini tidak menipuku karena jika menipuku sudah pasti Aku akan dimarahi oleh Mama karena aku memberikan baju yang tidak bermerek dan benar-benar tidak bagus menurut seleranya, yang mana sudah pasti Mama akan menjadi bahan Bulian teman-teman arisannya yang super jahil dan super gosip, yang mana teman-teman arisan Mama itu benar-benar orang-orang yang suka memamerkan kekayaan dan juga fasilitas dari kehidupannya sendiri.


Dengan cepat Rendra segera melangkah keluar dari hotel kemudian meminta pada supir taksi untuk membawanya ke Alamat yang sudah tertera di brosur itu.


Hari semakin siang dimana terik panasnya mentari membakar tubuh, meskipun London terkenal dengan cuaca dingin akan tetapi kala siang juga masih ada hangatnya dan panasnya sinar mentari.


Vanessa yang sibuk dengan segala persiapan untuk besok, akhirnya bernapas dengan lega ketika semua sudah selesai dan Vanessa semakin senang dan bahagia ketika Putri nya Mikha sudah datang.


"Mama....!


" Hai, sayang sudah pulang, mana Papa. "


"Tuh..! Mikha menunjuk pada Bara yang baru saja turun dari dalam mobil.


" Aku belum membelikan Mikha piano dan juga belum memesankan makanan untuk kalian, apakah kita akan pergi makan dulu? "tawar Bara pada Vanessa.


"Tidak usah, Nanti Aku akan bawa Mikha ke warung yang ada di depan itu untuk makan disana rasanya juga lumayan enak apa Mas Bara mau makan disana juga. "


"Tidak, Aku tidak ada Waktu Aku harus pergi untuk membelikan Piano Aku khawatir kalau kesorean bisa tutup tokonya. "


"Baiklah, Kalau begitu hati-hati jangan lupa makan, "


"Sudah pasti, sayang Aku pergi dulu, " ucap Bara sambil mengecuup lembut kening Vanessa, kemudian berpindah dengan sdikit berjongkok mengecuup putrinya.


"Sayang baik baik sama Mama tidak boleh Nakal disini ya, Papa pergi dulu mau memberikan kejutan buat Mikha. "

__ADS_1


"Horeee... Mikha akan dapat hadiah dari Papa. "


"Ya, sudah Papa pergi dulu.daaaaaa... sayang emmmmuuaaaah. " Bara pergi sambil memberi kan Ciuumaan jarak jauh pada Putrinya.


Sementara Vanessa hanya menggelengkan kepala.


"Sayang, Aku pergi dulu, jaga baik baik dirimu dan putri kita, " ucap Bara sambil mengedipkan sebelah matanya.


Vanessa dan Mikha melambaikan tangan melepas kepergian sang Papa.


"Mikha sayang, pasti kamu lapar, ayo kita pergi makan di warung itu, disana rasanya enak tidak kalah dengan makanan yang ada di Restoran. "


Tanpa membantah Mikha menurut ajakan sang Mama. sebuah warung yang cukup dekat dengan butik di mana Vanessa mengelola yaitu warung kaki lima yang mana tidak perlu pakai menyebrang ataupun jauh mereka sudah bisa menikmati makan di tempat itu cukup ramai pengunjung karena makanan yang ada di warung itu cukup enak dan membuat beberapa orang yang pernah membeli dan datang ke tempat itu merasa ketaagihan karena rasanya yang luar biasa sangat ennak.


Setelah memilih tempat duduk Mikha dan Vanessa menunggu pesanan makanan untuk mereka, suatu pelayanan yang cukup bagus di mana Ketika sang pengunjung memesan makanan mereka tidak perlu menunggu terlalu lama, karena dengan cepat beberapa pegawai yang ada di warung itu segera memberikan pelayanan yang memuaskan di mana Langsung mengantarkan pesanan makanan dari para pengunjung.


Mikha makan dengan sangat lahap karena pesanan makanan yang dipesan oleh Vanessa terlihat sangat cocok di lidah Mikha terbukti anak kecil yang baru duduk di kelas 1 SD sudah hampir menghabiskan pesanan makannya.


"Spageti dengan Ayam tabur yang cukup banyak dengan rasa tidak terlalu pedas membuat Mikha menyantapnya dengan lahap.


Merasa kenyang dan merasa bosan harus menunggu sangat Mama makan Mikha meminta ijin kepada Mamanya untuk pulang ke butik lebih dulu.


Meskipun tempat nya sangat dekat dan tidak perlu menyebrang jalan akan terapi Vanessa tetap tidak tega kalau anaknya pulang ke butik sendiri, untuk itu Vanessa menelpon salah satu pegawaynya untuk menjemput Mikha.


Dengan riang Mikha pergi pulang ke butik dengan di jemput salah satu pegawai Mamanya.


Sambil berlari lari kecil Mikha kecil hendak masuk ke dalam butik, akan tetapi langkah kakinya terhenti ketika Mikha tanpa sengaja kedua bola matanya melihat seseorang yang baru saja turun darie mobil taksi.


"Om, Tampaaaan...! seru Mikha ketika sosok laki-laki itu berjalan ke arah butik.


Sedangkan sosok laki-laki itupun segera tengadah kedepan dimana tampak seorang gadis kecil cantik sedang tersenyum sambil melambaikan tangan nya.

__ADS_1


Sosok laki-laki yang tidak lain adalah Rendra segera mengembangkan sebuah senyuman ketika melihat siapa yang memanggilnya.


Tanpa menunggu lagi dengan sedikit berlari Rendra segera menghampiri gadis kecil itu, dan berjongkok di depan nya sambil merentangkan kedua tangan nya yang mana gadis kecil itu langsung memeluuknya dan entah mengapa lagi lagi mendapatkan pelukan dari gadis kecil yang ada di depan nya membuat Rendra seolah ingin menangis dan hati serasa seesak, setiap menatap gadis kecil yang ada di depan nya, yang mana Rendra sendiri tidak tau apa sebabnya.


__ADS_2