
Robi yang berteriak memanggil-manggil Rendra dan Rendra tidak memperdulikan teriakan dari Robi terus berjalan menuju ke luar pintu di mana Rendra sudah lebih dulu keluar dari tempat itu, sungguh hati Robby merasa sangat kesal dan geram karena baru kali ini dia dipermainkan oleh Rendra,
"Sial kenapa sih hari ini Aku apes banget, bisa-bisanya itu Bos pelit nyuruh Aku yang bayar tau begini Aku tidak mau meminta makan di Restoran, jadinya kan sama saja Aku yang rugi, mana Aku minta dua Porsi dengan makanan yang super jumbo dengan harga yang cukup lumayan mahal benar-benar brengsek ini sih Rendra Awas aja kalau berani lagi Kamu ngerjain aku Aku tidak akan membantumu Biar tahu rasa biar sampai duda Lapuk tua. " sungut Robi dengan Wajah yang benar-benar kesal.
Rendra yang sudah duduk di dalam mobil memperhatikan Apa yang dilakukan Robi sambil tersenyum miring, ketika Robi mulai dekat dengan Mobilnya Rendra segera berteriak dengan cukup keras.
"Cepat Naik, kalau tidak Aku akan tinggalkan kamu disini, "
Robi yang mendengar teriakan Rendra lagi-lagi dibuat melotot dan kesal karena lagi-lagi dirinya harus dipermainkan oleh Rendra.
"Benar-benar Bos tidak berperasaan," sinis Robi yang pada akhirnya dia membuka pintu dan Naik ke dalam mobil dan duduk di samping Rendra, sementara Rendra tersenyum melihat tinghah Robi yang sedang kesal.
tidak menunggu lama Robi segera mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Ren, tanggung jawab lo gara-gara kamu uang aku habis nih, Bagaimana aku bisa mengganti uang pacarku yang meminta ganti rugi tiga kali lipat jika dompet aku sekarang sudah kering krotang begini, nih lihat gara-gara kamu dompet aku kering. "
"Sekali-kali bayarin Bos itu kenapa sih Rob, jadi orang itu harus selalu menolong berbagi jangan pelit-pelit sudah sering Bos mentraktir dan memberi uang kepada anak buahnya dan sekarang aku mau mencoba cara baru sekarang giliran anak buah yang bayarin Bos sekali-kali kamu Jadi Bosnya aku yang jadi anak buahnya gampang kan. "
Rendra berucap sambil mengulum senyum.
"Issh, enak saja tapi tidak masalah Ren, aku orangnya sabar dan penuh dengan pengertian jadi tidak masalah jika kali ini aku membayar sendiri dan mentraktir kamu untuk makan bersamaku, Tapi ini hanya berlaku kali ini saja karena jika kamu membutuhkan bantuanku maka kamu harus memberikan uang tambahan kepadaku sebagai rasa terima kasih dan juga sebagai pemulus rencanamu, bagaimana adilkan? "
Rendra yang tidak mengerti maksud dari ucapan Robi menaikkan satu alisnya kemudian menatap Robi dengan pandangan mata penuh rasa keheranan,
"Maksud kamu apa, katakan yang jelas biar aku paham sungguh aku merasa tidak memahami apa maksud dari perkataanmu, "
"Hmmm, Rendra, Rendra kamu itu tidak paham atau pura-pura tidak paham lebih Baiklah aku akan menjelaskan dengan sabar kepadamu Bukankah kamu membutuhkan bantuan maka kamu diwajibkan untuk memberikan bayaran atau uang tambahan untukku, begitu, bagaimana apa sekarang sudah paham? "
" Oh jadi kamu itu intinya meminta bayaran setiap kali aku menyuruhmu bekerja membantuku begitu, "tanya Rendra mengulangi perkataan dari Robi.
" Nah itu cerdas, "
"Issh, mata duitan lho, ogah Aku, "
"Hmm tidak masalah ketika tidak mau tapi aku juga berhak untuk menolak apa yang kamu perintahkan dan apa yang kamu inginkan kepadaku pekerjaan kita hanya sebatas pekerjaan yang ada di perusahaan bukan pekerjaan mengintai orang atau mengawasi orang.
'lo ngancam Aku?
"Hahaha, bukanlah Bos Aku mana berani ngancam Bos, Aku cuma mau Bos bersikap adil. '
" Sial, lo Rob, emangnya lo tadi itu habis berapa sih? "
Dengan senyum tersungging di bibir Robi langsung menuliskan Nominal dari jumlah yang dia bayarkan kepada pelayan restoran, Tentu saja Robi tidak akan menuliskan dengan jumlah yang jujur dikarenakan Robi ingin mengambil juga keuntungan dan bagi Robi sekali-kali Rendra di permainkan.
Sungguh sangat capek dan kesal ketika dia harus mencari informasi tentang perselingkuhan bara di mana Dirinya yang sangat muak dan benci dengan Bara terpaksa harus bersitatap bahkan berpura-pura manis dan baik di depannya dan satu hal yang membuat Robi tidak bisa terima dengan sangat menyebalkan Bara membuang lembaran uang ke mukanya sungguh hal itu sangat menyakitkan hati Robi.
"Nih, lihat sendiri? "
Robi langsung menuliskan Nominal dari jumlah tagihan yang dia bayarkan kepada sang pelayan ketika dirinya berada di dalam restoran.
"Busyet, masa dia juta lo mau memerasku? '
" Duh, Ren, cuma dua juta saja lo sudah seperti orang yang kebakaran jenggot saja, lu tidak tahu Betapa sulitnya Aku bekerja dan betapa susahnya Aku bekerja untuk mendapatkan bukti hitung-hitung kelebihannya untuk bayar pekerjaanku yang ekstra itu."
"Baiklah, untuk kali ini aku akan memberikan karena mengingat pekerjaanmu dalam membantuku mencarikan bukti sudah berhasil, Anggap saja sebagai uang hadiah dari rasa terima kasih Baiklah aku akan memberikan ganti rugi di Rumah. "
Rendra segera melajukan mobilnya menuju ke Rumah nya sementara Robi yang melihat Rendra melanjutkan Mobil menuju ke rumahnya, berteriak sedikit kencang.
"Ren, antar Aku pulang dulu pacarku sudah menunggu di Rumah ini, bisa kacau kalau Aku tidak segera pulang mana ponsel hpnya Aku bawa lagi, putar balik aku mau pulang ke rumah saja bayarnya besok-besok aja tidak masalah. "
" Tidak bisa aku juga harus cepat sampai di Rumah karena Arsel sudah mencariku sejak tadi kasihan kalau dia menunggu terlalu lama sudah kamu diam dan ikut di saja. "
"Arsenal apa Arsel Ren, jika boleh tau lo sayang banget sama Arsel apa lo juga punya rasa sama Ibunya? "
"Pertanyaan kamu sangat konyol. "
" Jawab dulu pertanyaanku jangan les aja lagi pula ibunya Arsel si Alena dia juga cakep cantik apa kamu tidak tertarik sedikitpun kulitnya tidak jauh beda dengan Nesa dan hidungnya juga mereka berdua sama-sama Mancung dan, __
"Sudah diam cepat pegangan Aku ngebut, "
Rendra yang tidak ingin mendengarkan perkataan dari Robi langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Hal itu membuat Robi tidak lagi bisa konsentrasi untuk bertanya karena Rendra melajukan mobil dengan kecepatan yang sangat tinggi bahkan bagaikan seorang pembalap mobil yang sudah terlatih dan dalam duapuluh menit Mobil sudah sampai di halaman Rumah Rendra.
Rumah baru yang baru tiga bulan dia huni bersama dengan satu Pembantu satu satpam penjaga Rumah satu Perempuan muda dan satu Anak kecil.
"Sebenarnya sudah lengkap kehidupan Rendra tapi masih saja Robi merasa kehidupan Rendra terasa sepi dimana Rendra yang berhati batu tidak mau membuka hatinya untuk siapapun.
Mungkin jika saat itu keadaan Alena baik-baik saja seperti gadis Normal pada umumnya yang memiliki keluarga dan semangat hidup sudah pasti Rendra tidak akan membawanya masuk ke dalam Rumah nya.
__ADS_1
Rendra segera turun dari Mobil menatap heran pada Robi yang masih duduk dan tidak ada pergerakan jika dirinya akan ikut turun.
"Robi, lo mau nginap di dalam Mobil, cepat turun. " seru Rendra yang membuat lamunan Robi ambyar.
"Apa Ren? "
"Turun cepat! "
"Ya, kamu duluan saja, tidak perlu menungguku,"
"Tidak cepat Aku kunci pintu dan akan Aku biarkan kamu berada di halaman terus tidak bisa masuk ke dalam juga tidak bisa keluar Rumah. "
"Issh, Dokter kok sukanya ngancam ngancam, pantes aja Nesa tidak tahan. "
"Apa lo bilang? "
Rendra yang mendengar umpatan Robi langsung berjalan mendekati Robi dan berniat untuk menjewer telinga Robi akan tetapi Robi lebih dulu menghindar dengan berlari masuk ke dalam rumah lebih dulu.
"Gawak Rendra ngamuk lagi, "
"Ting tong, ting tong, " Aduh lama amat bukannya.
Robi segera mencet bel agar segera dibukakan pintu karena Rendra berjalan mendekatinya dan wajah Rendra masih terlihat sangat horor mungkin Rendra akan memberikan pukulan atau ceweran kepada Robi.
Sementara Rendra tersenyum miring melihat kecemasan dari wajah Robi. Tidak lama kemudian pintu pun dibuka dari dalam Robi yang terburu-buru karena menengok ke belakang tidak sengaja tubuhnya terdorong pintu yang terbuka hingga masuk dan hampir menabrak orang yang membukakan pintu untuknya.
"ooopps, maaf, "
"Tidak apa-apa masuklah, "seru seorang Wanita yang tidak lain adalah Alena.
Robi segera melangkah masuk sementara wanita yang membukakan pintu masih berdiri di pintu rupanya dia sedang menunggu Rendra.
" Mas, biar Aku bawakan masuk tasnya, "
"Tidak usah trimakasih, "
"Issh, Dokter bodoh kenapa menolak kalau Aku mau saja, Nungguin Vanessa yang belum tentu di dapat kan tidak masalah sambil cari yang segar-segar dasar Bodoh."
"Buugh..!
" Auuwh.! Ringis Robi ketika Rendra memukulnya.
"Apa yang kamu pikirkan? "
"Sudah masuk ke kamar tamu sana pergi mandi, bau pasti sudah dari sore, Alena antar Robi ke kamarnya. "
"Iya, Mas, ayo Aku tunjukkan kamarnya, "
Alena segera membuka pintu kamar kemudian masuk ke dalam dengan menyalakan lampu di dalamnya.
"Silahkan masuk dan beristirahatlah Aku pergi dulu, "
ketika langkah kaki Alena hendak keluar pintu Robi mencegah dengan berseru memanggilnya.
"Alena tunggu, "
memberikan badan kemudian menatap rapi idengan senyum tersungging di bibir.
"Ya, apa ada yang bisa saya bantu? "
"Eng..kamu, __ eng..kamu, _
" Iya, kamu mau ngomong apa Rob, "
" Mau sampai kapan kamu mau menunggu Rendra Apakah kamu tidak tahu Penantian kamu itu akan sia-sia saja dan apakah kamu tidak ingin, ___
"Cukup, jika yang ingin kamu tanyakan masalah pribadi ku maaf, itu urusanku, jika tidak ada yang lain Aku permisi dulu. "sahut Alena memotong ucapan sebelum Robi menyelesaikan ucapannya.
Robi hanya bisa menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan sementara Alena segera melangkah keluar dari kamar.
Meskipun dengan Wajah masam Alena tetap berusaha tersenyum ketika dirinya bertemu dengan Rendra.
"Apa Mas mau Aku panaskan Air hangat untuk mandi? "
"Tidak perlu Lena trimakasih. "
Rendra merasa heran karena Alena masih saja diam dan berdiri di depan Rendra yang kala itu sedang duduk bersantai sambil membuka leptop nya di Ruang tamu, sengaja Rendra membuka leptop disana agar Robi tidak perlu masuk ke dalam ruangan kerjanya untuk menyelesaikan tugas-tugas di perusahaannya.
"Ada apa, kenapa masih berdiri disitu? "
__ADS_1
"Oh tidak ada Mas, biar Aku panaskan makanan untuk makan malam. "
"Tidak perlu Aku dan Robi baru saja Makan. "
"Oh, begitu, "
Rendra menghentikan kegiatannya dan menatap Wanita yang ada didepan nya dimana Wanita itu belum juga beranjak pergi.
"Apakah kamu membutuhkan Uang? "
"Oh, Tidak Mas, "
"Lalu kenapa masih disini, "
"A-Aku, _
" Ya, katakan ada apa? "
"A-Aku, __
" Mama.... Papa...!Hore Papa sudah pulang. "
"Hai, Putra Papa kenapa kamu belum bobo, ini sudah malam, "
"Papa, Mama sini.. lihat ini!
" Apa itu sayang? "
"Papa, Mama Arsel mau seperti ini, lihat teman teman Arsel pada punya foto Papa dan Mamanya, Nih lihat juga ada yang saat Mamanya gendut katanya ini foto saat Bian dalam perut Mamanya, Pa cepat ambilkan foto Papa dan Mama yang seperti ini, Arsel juga mau kasih tau mereka kalau Arsel punya biar Rico tidak kurang ajar padaku, masak Pa Arsel di katain Anak pungut Papa, kurang aajar ksn itu, "
"Uhuk..!
" Uhuk..!
"Mas, kamu baik-baik saja, "tanya Alena khawatir dengan gerakan spontan Alena berniat untuk memijiit dan menepuk bahu Rendra tapi dengan sigap Rendra mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Alena tidak menyentuh dirinya.
"Iya Aku baik, "
Alena tersenyum getir mendapatkan penolakan dari Rendra, entah sekeras apa hati Laki-laki yang ada di depannya Alena tidak pernah diberikan sedikitpun kesempatan untuk berbuat baik dan menyentuh nya meskipun itu hanya sebatas memijiit ataupun memberikan perhatian kecil.
Benar-benar dingin dan acuh akan tetapi justru itulah yang membuat Alena menjadi semakin penasaran dan tertantaang untuk berjuang mendapat hati Dokter Tampan yang ada didepan nya.
Jika orang lain mungkin sudah berkali-kali dirinya harus memberikan kepuasaan pada orang yang sudah banyak berkorban dan menolong sebagai bentuk imbaalaan rasa trimakasih, tapi Dokter ini jangankan bisa berbuat lebih menyentuh tangan dan semua yang berhubungan dengannya Alena sama sekali tidak di izinkan, padahal Alena sudah setengah mati mencintai dan relaa sepenuh hati melayaani seandainya Laki-laki yang ada didepan nya menginginkan dan meminta, bahkan Alena pernah berbuat Nekad untuk bisa menarik hati dari Laki-laki yang ada di depan nya ini tapi semuanya sia-sia.
"Mama, kenapa bengong Papa batuk harusnya Mama beri Papa Minum dan di pijit seperti ini, "
Arsel langsung memijiit tangan Papanya untuk memberikan contoh pada Mamanya.
"Sayang tidak boleh begitu ini di ruang terbuka tidak boleh asal pijiit kalau di lihat orang lain kan malu, "
"Oh jadi harus di dalam kamar ya, ayo Pa, masuk kamar, biar Mama pijitin Papa. "
Rendra langsung mendelik mendengar perkataan poloos dari Putranya sementara Alet menunduk dengan tersenyum malu.
Karena Anak kecil yang meminta dan tubuh Rendra ditarik untuk berjalan mengikuti langkah kakinya mau tidak mau Rendra pun berjalan mengikuti Langkah Arsel putranya.
sampai di dalam kamar Archer meminta Rendra untuk duduk dan meminta Alena untuk ikut masuk.
"Ayo Ma cepat Ambil minumnya untuk Papa, Bian bilang Mama dan Papanya selalu Romantis. "
"Uhuk.. Uhuk..!
Minuman yang di ulurkan Alena hampir saja menyembur keluar karena perkataan Poloos Arsel Putranya.
" Mas kau baik-baik saja, "
"Sudah-sudah kalian keluar semua Papa lagi pusing tidak mau diganggu, Arsel cepat kamu tidur ini sudah Malam.
" Tapi Pa fotonya mana?
"Arsel dulu Papa dan Mama lupa berfoto karena sedang bahagia bilang begitu sama temanmu. "
"Kalau tidak percaya bagaimana? "
"Pukul saja, " jawab Rendra asal karena dirinya sedikit merasa kesal dan terganggu.
"Oh, begitu baiklah Pa, Ma temani Arsel bobo ya, Nanti kalau Arsel sudah bobo Mama balik ke kamar Papa buat Papa senang yang Romantis kayak Mama dan Papanya Bian.
" Ya, ya Ayo kita keluar, "
__ADS_1
Alena segera mengajak Arsel keluar dari dalam kamar Rendra dan Rendra baru bernapas lega setelah mereka pergi Rendra langsung mengunci kastanya.
Tanpa sepengetahuan siapa pun Ada sepasang mata yang melihat dan mendengar, percakapan dan perbincangan dari keluarga itu.