DOKTER DINGIN ITU PAPAKU

DOKTER DINGIN ITU PAPAKU
Bab. 112.Rencana Arum


__ADS_3

Bara sungguh tidak menyangka jika Arum benar-benar bersikap nekat dan sangat membahayakan keadaannya, Hal itu membuat Bara semakin was-was dan khawatir jika dirinya terlalu lama berada di dalam rumah itu maka Bara khawatir Rahasianya akan segera terbongkar dan Bara tidak ingin semua itu terjadi karena Bara tidak ingin istrinya mengetahui perselingkuhan dirinya Karena sesungguhnya Bara tidak ingin kehilangan istrinya Vanessa.


Bara menarik nafas lega ketika Arum mau meralat panggilan kepada dirinya sungguh hati Bara sudah berdebar-debar dan sangat was-was dan khawatir dikarenakan Vanessa juga termasuk istri yang sangat cerdas dan Bara sangat khawatir jika tiba-tiba Vanessa mencurigai dirinya dan Bara tidak akan sanggup jika Vanessa marah ataupun sampai meninggalkan dirinya.


"Oh, kebetulan sekali Suamiku tadi bilang lapar ayo silahkan masuk dan silahkan di taruh diatas meja itu. "ucap Vanessa memberikan saran dan perintah kepada Arum.


Bara yang mendengar istrinya mengatakan kalimat suamiku sungguh membuat hati Bara bersorak senang, sangat senang dan diam-diam merasakan bahagia karena baru kali ini Vanessa istrinya mengakui dirinya sebagai Suaminya, ingin rasanya saat itu juga memeluk tubuh istrinya sebagai ungkapan rasa senang yang tidak bisa di lukiskan dengan kata-kata.


Karena sejujurnya Bara memahami dan mengerti sampai saat ini Vanessa belum sepenuh hati menerima kehadiran dirinya bahkan Bara belum bisa yakin jika Vanessa benar-benar sudah mencintai dirinya dan menerima dirinya sebagai seorang Suami meskipun Vanessa sudah tidak lagi melakukan penolakan ketika Bara meminta haknya, akan tetapi Bara merasakan apa yang dilakukan oleh istrinya belum sepenuh hati Masih ada Rendra mantan suaminya yang selalu membuat istrinya tidak bisa lepas dari kenangan dan cintanya di masa lalu.


Bara meneguk ludahnya dengan kasar kemudian menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan, Bara yang melihat hal itu segera menghentikan langkah kaki Arum yang hendak masuk ke ke dalam kamar.


" Tunggu..! tidak usah masuk biar Aku sendiri yang akan membawanya, "ucap Bara yang mana Langsung merampas nampan yang ada di tangan Arum sementara Arum tersenyum miring melihat sikap dan kelakuan Bara yang terlihat sangat panik.


Arum pun bukan gadis yang akan mengalah dengan begitu saja karena baginya dia sudah sering kali terdidik dengan kekerasan dan suatu hal yang sangat menantang di mana dia tidak dididik untuk menjadi seorang gadis yang cengeng dan mudah menyerah dalam segala hal, mungkin karena hal itu terjadi karena dia hanya hidup dengan saudara laki-lakinya yang mana saudara laki-lakinya memperlakukan dia dengan sangat keras dan mendidik juga dengan sangat keras di mana Segala sesuatu harus berhasil tidak boleh ada kata gagal dalam setiap melakukan kegiatan ataupun, karena jika hal itu terjadi maka dirinya akan mendapatkan hukuman dari Abangnya.


Arum tidak pernah tahu mengapa Abangnya itu sangat keras dan kasar terhadap dirinya bahkan mendidik dia dengan sangat tegas di mana untuk memenuhi kebutuhan hidupun Arumlah yang harus bekerja keras dan selalu menuruti setiap kemauan dan keinginan dari Abangnya bahkan terkadang Arum merasa Abangnya bukan lagi sosok seorang Abang yang sangat melindungi adiknya akan tetapi Arum bagaikan seorang budak yang harus mengerjakan segala sesuatu dengan benar tidak boleh ada satu kesalahan sedikitpun.


Sungguh miris dan sangat menyakitkan kehidupan yang dijalani oleh Arum setelah kepergian dari kedua orang tuanya yang mana Arum sendiri tidak pernah tahu seperti apa wajah orang tuanya, Arum hanya tahu dia hidup hanya bersama dengan Abangnya dan sejak kecil Abangnya yang selalu membantu dalam biaya sekolahnya tapi setelah dia beranjak dewasa Arumlah yang harus bekerja keras untuk memenuhi semua kehidupan mereka berdua, Abangnya sangat suka mabuk-mabukan dan bermain judi sehingga hari-harinya hanya sibuk di meja judi bersama dengan teman-temannya.


Hal itu sudah biasa Arum lakukan dan Arum tidak mengeluh untuk hal itu dan sekarang Abangnya meminta dirinya untuk memperjuangkan apa yang menjadi haknya maka Arum harus melakukannya dengan baik dan benar selain itu Arum sendiri juga memiliki hati pada sosok laki-laki yang telah merengut mahkotanya untuk itu Arum melakukan dengan senang hati.


Mau sampai kapan kedudukannya dirahasiakan dan mau sampai kapan dirinya harus di lihat sebagai seorang pembantu Baru, Arum tidak mau berlama-lama menyandang status yang menurutnya sangat hina dan rendah untuk itu Arum tidak membuang-buang waktu lama dia akan memulai dari sekarang agar secepatnya kehadiran dirinya sebagai Istri kedua segera diakui bukan lagi di Rahasiakan.


Arum menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan, dia sangat memahami maksud dari Suaminya Bara yang melarang dirinya untuk masuk kedalam kamarnya sehingga nampan berisi makanan yang dia bawa Bara ambil sendiri, hal itu bertujuan agar dirinya bisa secepatnya pergi dari kamar suaminya dan tidak mengaggu Suaminya.

__ADS_1


Memahami akan niat dan tujuan dari Suaminya Arum juga tidak akan tinggal diam, karena mulai hari ini perjuangan dirinya untuk mendapatkan pengakuan sebagai Istri kedua akan dimulai.


Dengan senyum tersungging di bibir Arum menyerahkan Nampan berisi makanan pada Bara tapi pada saat Bara melangkah masuk dengan sengaja Arum menyentuh gelas berisi minuman yang ada di atas nampan dan dengan sengaja dia tumpahkan kebawah tepat dengan trik pura-pura dirinya jatuh tersandung dengan posisi menbungkuk padahal tidak ada batu bagaimana bisa tersandung, semua Arum lakukan agar tumpahan dari Air yang ada di gelas mengenai bajunya.


Tidak perlu khawatir akan terkena pecahan gelasnya karena sudah menjadi Aturan di dalam Rumah itu jika membawa makanan ke kamar tidak boleh dengan gelas kaca semua serba anti pecah, hal itu dimaksudkan jika terjadi sesuatu tidak akan membahayakan terlebih kebanyakan semua penghuni Rumah berada di kamar lantai atas dengan pintu dan jalan yang berbeda.


"Byuuur...!


"Aduuh..!


" Arum. ..!kamu tidak apa-apa? " tanya Vanessa dengan sedikit panik berjalan menghampiri Arum dan membantunya berdiri.


Berbeda dengan Bara yang melihat Arum jatuh di bawahnya dengan air yang mengenai tubuhnya menatap dengan pandangan mata yang sangat kesal dan geram.


Tentu saja Bara menahan marah di depan istrinya karena dia tidak ingin istrinya mengetahui jika dia sangat tidak suka dengan pembantu baru yang ada di Rumah ini yang sesungguhnya dia adalah istri keduanya, untuk itu Bara selalu bersikap kasar kepada wanita yang ada di depannya.


"Aku tidak apa-apa Mba,"


"Arum baju dan rambut kamu basah, "


Dengan tersenyum nyengir Arum mengaggukan kepala.


"Hehehe, Iya Mba. "


Melihat tingkah Arum yang sangat menyebalkan Bara mengambil langkah tidak ingin berlama-lama melihat Arum di dalam kamarnya.

__ADS_1


"Cepat kau pergi dan ganti bajumu sana, "


"Tapi, Mas eh maksud saya Tuan, kalau saya bejalan keluar dalam keadaan seperti ini Nanti akan bikin basah lantai dan kotor. "


"Lalu, apa yang kau mau, sudahlah cepat pergi sana kalau basah dan kotor sehabis kamu mandi tinggal kamu bersihkan beres kan, " sinis Bara yang sudah merasa tidak nyaman dengan kehadiran Arum di dalam kamarnya.


"Iya, tapi... Mba apa boleh saya menumpang mandi dan meminjam baju Mba tidak perlu yang bagus yang sudah tidak dipakai juga tidak apa-apa, saya khawatir ada anak kecil disini kalau saya keluar dalam keadaan basah begini takutnya akan membuat dia terpeleset. "ucap Arum beralasan agar Vanessa mau mendengarkan apa yang dia inginkan.


" Kamu benar disini ada anak kecil, baiklah kamu masuk kedalam kamar mandi itu, Nanti biar Aku ambilkan baju ganti untuk kamu, "


"Trimakasih, Mba, "


Dengan hati berbunga Arum melangkah masuk kedalam kamar mandi.


"Hei kamu tunggu, tidak boleh Aku tidak mengijinkan kamu mandi di kamar mandi kami, pergi cepat Jangan banyak alasan. "


"Sudahlah Mas, tidak apa-apa jangan galak begitu sudah Arum masuklah jangan dengarkan ucapan dari Suamiku, "


Bara mendelik mendengar ucapan dari istrinya sementara Vanessa hanya tersenyum, Arum yang melihat hal itu tersenyum sinis.


"Suamiku.. Suamiku helooo, dia juga Suamiku lho, " teriak Arum dalam hati dengan perasaan kesal dan geram masuk ke dalam kamar mandi.


Sementara Bara yang mendelik kearah sang istri dan Vanessa sang Istri tersenyum cuek, Bara menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan sambil menggelengkan kepalanya, meskipun sesungguhnya hatinya sangat berbunga bunga senang karena sudah dua kali Istrinya menyebut dirinya sebagai Suami, ada rasa bangga dan haru yang tidak bisa dia lukiskan dengan kata-kata.


"Awas kau Sayang berani sama Suami, abis kau Nanti , Aku akan memberikan hukuman yang manis untukmu, "gumam Bara sambil tersenyum menyeringai sambil menatap istrinya.

__ADS_1


__ADS_2