
Berkali-kali Bara meneguk ludahnya dengan kasar bayangan ketakutan dan kecemasan mulai menari-nari di atas pelupuk matanya sementara Vanessa duduk tenang sambil menatap lurus ke depan, tidak lagi mempedulikan dan perhatikan Suaminya yang kini terlihat sangat resah duduk di sampingnya.
"Tidak..tidak apa yang dipikirkan Vanessa pasti salah dan tidak benar, tapi jika benar bagaimana ini, apa yang harus Aku lakukan bagaimana Aku bisa menghadapi kemarahan Nesa, tidak tidak Arum tidak boleh hamil kalau perlu jika dia hamil Aku harus memintanya untuk menggugurkannya tapi apa Aku tega begitu, bukankah itu juga Anakku, bagaimana ini, Rileks Bara semua yang dipikirkan Vanessa pasti salah, " gumam Bara dalam hati.
Di dalam Ruangan Suster yang memeriksa Arum sudah selesai.
"Suster bagaimana apakah maagnya kambuh lagi? " tanya Mama Sukma setelah mendudukkan bokongnya di depan meja Suster yang sedang menuliskan sesuatu mungkin resep obat yang akan dia berikan.
"Apakah Suaminya tidak ikut mengantarkan hari ini, karena saya juga ingin bicara dengan Suaminya. "
"Suami, Oh ada Sus, Suaminya ada di luar, "
"Kalau begitu tolong panggilkan karena ada suatu hal penting yang ingin saya bicarakan. "
"Oh, baik Sus, "
Dengan cepat Mama Sukma pergi keluar mencari keberadaan Bara.
"Bara..!
Suara khas Mama Sukma membuat Bara dan Vanessa yang kala itu duduk berduaan langsung menoleh ke sumber suara.
" Mama, sudah selesai ya ayo kita pulang. "
"Belum, kamu diminta ke dalam sama Suster yang memeriksa Arum, "
"Aku, ngapain Ma? "
"Mana Aku tau cepat masuk, "
"Baiklah, Ayo sayang kita masuk, "
"Tunggu, Vanessa biar disini Suster hanya mencarimu, kamu tidak apa-apa kan Nes, nunggu kami disini? "
"Iya, tidak apa-apa Ma, "ucap Vanessa seraya kembali mendudukkan bokongnya di kursi.
"Ayo Bara cepat kita masuk, "
"Iya, Ma. "
Bara menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan.
"Ada apa sih pakai memanggilku ini pasti alasan Mama karena tidak mau ngeluarin uang buat nebus obatnya Arum, dasar Mama pelit anaknya juga yang harus di korbankan huruf, tapi kenapa jantungku berdebar-debar begini, tapi kan Aman Aku bawa uang lebih jadi tidak akan kurang. " gumam Bara bermonolog dalam hati.
"Tok, Tok, Tok..! "
"Masuk, silahkan duduk, "
Dengan senyum tersunging di bibir Bara langsung mendudukkan bokongnya di depan Suster.
Di Ruang terpisah Arum yang merasakan semakin pusing memegangi kepalanya.
"Kenapa pusing sekali, "
"Arum, rebahan saja dulu,"seru Mama Sukma yang memilih meninggalkan Bara berdua dengan Suster di Ruangannya, Mama Sukma memilih menemani Arum yang masih merasa kesakitan.
" Tante kepala Arum sangat pusing dan pening sekali. "
"Iya tidak apa-apa, kamu istirahat dulu, kita tunggu Bara kesini tadi Suster manggilnya. '
" Ya, Tante, "
Di Ruangan tempat Bara menemui suster, Bara duduk dengan tenang menunggu apa yang akan Suster di depannya katakan.
Karena cukup lama Suster itu belum juga bicara bahkan dirinya masih sibuk menuliskan sesuatu dan Bara yang mulai tidak sabar memutuskan untuk bertanya lebih dulu.
"Suster memanggilku ada apa dan berapa seluruh biaya yang harus saya bayarkan."
Tampak Suster itu menghentikan menulis kemudian tersenyum.
"Biayanya tidak terlalu mahal dan juga saya rasa tidak terlalu penting karena yang terpenting adalah kabar gembira buat Mas nya, Selamat Istri Mas hamil, "
"A-apa, maksud Suster? " tanya Bara gugup.
"Suster apa yang suster katakan? "Tiba-tiba suara Mama Sukma ikut mengema di Ruangan itu.
"Ma-Mama..! ucap Bara terbata-bata karena tiba-tiba Mamanya juga masuk ke dalam ruangan tepat pada Saat Suster itu mengatakan jika Arum sedang hamil.
__ADS_1
" Iya, Istri dari Mas ini bukan sakit maag tapi dia hamil, sekali lagi selamat ya dan saya harap Nyonya diberikan perhatian yang lebih karena masa-masa hamil muda itu rawan dengan banyak nya gangguan dan janin yang ada di dalam kandungan kini berusia tiga minggu, dan ini resep obat yang bisa Mas tebus di loket depan. "
"Trimakasih Sus, biar saya yang menebusnya." jawab Mama Sukma cepat.
Dengan senyuman ramah Suster itu berlalu pergi, sementara Bara bagaikan orang yang linglunng, diam terpaku, wajahnya pucat bibirnya terkatup rapat.
"Bara temui Istrimu biar Mama yang nebus obatnya. "
"Ma, A-arum bukan Istri Bara, "
"Plaaaaakk...! Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Bara.
" Saat seperti ini kamu juga masih mau mungkir kamu pikir Mama tidak tau apa-apa, kalian sudah menikah kan Mama tau itu, sudah cepat temui Istrimu..!"
"Ma, tolong, tolong Bara Ma, tolong jangan katakan apapun pada Nesa Ma, Bara Mohon. "ucap Bara yang langsung menjatuhkan tubuhnya berlutut dihadapkan Mamanya.
" Baik, tapi Mama tidak mau kamu membuat Arum dan cucu Mama kenapa napa, ayo kita temui Arum lebih dulu sepertinya dia kesakitan. "
Dengan Wajah sendu Bara mengikuti langkah kaki dari Mamanya.
"Arum, kita pulang Nak, kamu bisa minta bantuan Suami kamu, dan Suster bilang kamu bukan sakit maag tapi kamu lagi hamil,"
"Apa? Aku hamil, Mas Aku hamil, "seru Arum girang, wajahnya berbinar senang.
Bara hanya mengagguk lemah.
"Sudah kalian keluar Mama mau nebus obatnya dulu.
Arum segera memeluk Bara yang kali ini Bara tidak menolak juga tidak membalas pandangan matanya kosong pikirannya begitu kacau dan bingung.
Dengan manja Arum melingkarkan tangan nya pada leher Bara.
" Mas, Aku mengandung Anakmu, dan ingat janji kita, Mas akan selalu adil dan memberikan kasih sayang juga pada Aku dan anakku kan? "
"Ya, "
jawab Bara datar sambil melepaskan tangan Arum yang melingkar di lehernya.
"Apa yang harus Aku lakukan ternyata Mama memang sudah tau jika Arum juga Istriku, sekarang Aku harus bagaimana, Aku tidak mau Vanessa mengetahui ini semua pasti dia tidak akan memaafkan Aku dan pasti akan meninggalkan Aku, tidak, Vanessa tidak bisa meninggalkan Aku bukankah Aku sudah membuatnya berjanji di dalam surat perjanjian hitam diatas putih, beruntung Aku sudah memiliki surat perjanjian itu sehingga Aku bisa bernapas dengan lega. "
Karena pikiran Vanessa sedang kacau Vanessa melangkah tanpa melihat ke kanan maupun kiri bahkan karena mode melamun menabrak seorang Suster yang berjalan sedikit terburu-buru hingga kertas yang dipegangnya jatuh.
"Maaf, saya tidak sengaja, "
"Tidak apa-apa Mba, " ketika wanita itu membungkuk hendak mengambil kertas yang jatuh tepat dibawah kaki Vanessa.
"Biar saya yang ambilkan, "
Dengan cepat Vanessa segera mengambil kertas yang tanpa sengaja pula terbaca olehnya satu Nama tertera disana.
"Bara..!
Untuk sesaat Vanessa tertegun menatap tulisan kertas yang dia pegang.
" Permisi Mba, kertasnya,"
"Oh, Iya ini, "
Setelah memberikan kertas kepada Suster Yang ada didepannya Vanessa segera, melangkah pergi.
"Namanya mirip dengan Mas Bara, tapi mana mungkin Namanya ada disana, Arum dan Mama sangat lama Aku juga haus lebih baik Aku membeli minuman saja."
Vanessa segera melangkah keluar menemui penjual yang ada di pinggiran sekitar Rumah sakit.
"Pak Es Doger nya dua, "
"Saya juga Pak, Es Doger nya satu, "
Kedua orang yang datang hampir bersamaan ditempat yang sama dan sama sama memesan Es Doger membuat diantara mereka saling tatap.
"Kau,__
" Tuh, kan. sudah kubilang jangan ngikutin Aku terus kenapa sih, ngak dengar. "
"Helo Suster sombong, bukan Aku yang ngikutin tapi sepertinya kamu, Aku yang lebih dulu memesan Es Doger ngapain kamu ikut kesini, "
"Kau, __
__ADS_1
" Maaf, Mas, Mba Es Doger nya tinggal dua, bagaimana ini, "
"Kasihkan Aku saja pak, Dia ngak usah, sudah Bonyok begitu mau makan Es, jangan dikasih Pak, "
"Hei, enak saja Aku yang datang lebih dulu jadi itu semua buat Aku bukan buat kamu,"
Pedagang itupun bingung karena keduanya sibuk bertengkar.
"Ada apa sih kalian ini, ini pak uangnya, berikan padaku Es nya. "
Tanpa menunggu jawaban dengan cepat Robi langsung mengambil Es doger yang ada di tangan sang Bapak penjual.
Vanessa dan Rendra yang kala itu bertengkar langsung terdiam dan mendelik untuk sesaat tapi beberapa detik kemudian keduanya berteriak.
"Robiiiiii....! Itu Es Aku, cepat berikan. "
Dengan gerakan spontan Rendra dan Vanessa menggikuti langkah Robi.
"Aku harus mencari tempat yang Aman dan sunyi agar tidak ada yang melihat kekacauan diantara mereka berdua, terlebih Si Brengsek Bara itu dia tidak boleh tau kalau Vanessa dan Rendra sedang bertemu." gumam Robi dalam hati.
" Stop... !
"Stop.. !
" Kalian jangan mendekatiku bisa jatuh Es nya, tunggu dan diam disitu, " seru Robi pada Rendra dan Vanessa.
"Nih, Nes, Es Doger yang seger dan mantep buat kamu, "
Dengan senyum mengembang sambil tersenyum mencibir ke arah Rendra.
"Weeeek, Aku dapat. "
"Robi, Aku mana? " teriak Rendra yang merasa tidak dipedulikan.
"Minta sama Nesa kalian berbagi saja, ini buat Aku, enak dan seger, "
"Issh, Ogah banget, "
Rendra yang kesal langsung melangkah pergi memilih duduk sambil bersendekap dada.
"Rob, kamu berbagai sama dia, "
"Oh, tidak bisa Aku mau menikmati sendiri , " jawab Robi yang langsung memilih menyingkir sedikit jauh.
Entah mengapa Vanessa merasa dilema antara tega dan tidak akhirnya Vanessa melangkah mendekati Rendra.
"Makan, "
Rendra yang dalam posisi kesal memilih membuang muka.
Vanessa yang melihat egoisan Rendra menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar.
"Tidak mau, tidak masalah akan Aku habiskan dan Dokter tidak akan bisa merasakan betapa segarnya Es ini, " ucap Vanessa yang kemudian duduk dan berniat melahap nya.
Dengan gerakan cepat tangan Rendra memegang tangan Vanessa yang hendak memasukkan Es kedalam mulutnya.
"Aku juga mau, kita makan bersama. "ucap Rendra yang langsung mengarahkan Es Doger kearahnya dan pada Akhirnya mereka menikmati Es Doger bersama-sama.
Robi yang melihat hal itu tersenyum senang.
" Smoga kalian masih berjodoh Aku rindu dan Aku suka melihat kalian yang bisa bersama lagi, " Gumam Robi dalam hati.
Seolah lupa akan sttus masing-masing mereka berdua menikmati Es Doger sambil tertawa dan sesekali saling pandang hingga tanpa sadar ketika kedua bola mata Vanessa melihat cincin yang melingkar di jarinya dengan gerakan cepat Vanessa mundur dan melepaskan Es Doger pada Rendra.
"Maaf, Aku masuk dulu, "
Tanpa menunggu jawaban Vanessa segera melangkah pergi tapi belum beberapa langkah Rendra menahan tangan Vanessa.
Membuat Vanessa berhenti dan menatap heran penuh tanda tanya pada Rendra hingga menaikan satu alis matanya.
"Ada apa?
"Tidak ada, cuma trimakasih untuk hari ini, Aku hanya ingin berpesan padamu, jika ada masalah, kamu tidak sendiri Ada Robi dan juga Aku, kamu bisa menemuii kami jika kamu membutuhkan teman untuk bicara, satu hal yang harus kamu tau Aku akan selalu menunggu, "
"Trimakasih juga Dokter Rendra, tapi Aku mau memberikan kepastian, Aku bahagia dengan Suamiku, jangan lagi kau membuang-buang waktu hanya untuk menunggu, selamat tinggal. "
Vanessa segera pergi setelah melepaskan genggaman tangan Rendra, sementara Rendra hanya bisa tersenyum kecut menatap kepergian Mantan Istrinya.
__ADS_1