
Arum yang diijinkan Vanessa untuk segera masuk ke dalam kamar mandi segera melangkah dan langsung pergi ke dalam kamar mandi, sementara Vanessa tidak memperdulikan Bara yang sedang melotot menatap dengan pandangan mata yang sulit dimengerti, dengan santai Vanessa melangkah ke arah pintu berniat untuk turun dari dalam kamar.
"Hei, Nona, kau mau kemana? sudah membantah apa yang Suami larang sekarang justru mau main kabur saja tanggungjawab nih, "seru Bara sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Apaan sih Mas, Aku membantah apa coba, sudahlah Aku mau turun Aku mau menunggu Mikha pulang, "jawab Vanessa dengan santai dan tenang dia terus melangkah ke pintu.
Sepertinya Vanessa tidak menyadari pada saat dirinya berucap dengan sangat santai bahkan tidak memperhatikan Bara Suaminya, kala itu Bara sedang menatap tajam kepadanya sambil tersenyum miring sepertinya Bara sedang merencanakan sesuatu yang Vanessa tidak tahu.
"Satu...!
" Dua..!
"Tiga...! Aku tangkap kau, '
Bara segera bangkit dan hanya dengan satu kali lompatan dirinya sudah bisa menarik tubuh Vanessa hingga jatuh ke dalam pelukannya.
" Mas, Apaan sih, "
Sungguh Vanessa sangat terkejut bahkan tubuhnya pasti akan jatuh kelantai seandainya tidak menabrak dada bidang Bara yang ada di belakangnya karena Bara menarik tubuh Vanessa ke belakang.
"Tidak boleh kabur harus tanggungjawab, suapin Aku, "
"Aduuh cuma makan saja minta disuapin segala sudah lepas kasian Mikha kalau pulang Aku tidak menunggunya, "
"Issh Alasan, Mikha sudah besar sayang dia juga tau kalau Mamanya pasti ada di dalam kamar, terlebih kalau papanya di Rumah sudah pasti Mamanya akan selalu bersama Papanya dia sudah paham itu, sudahlah Ayo suapin Aku makan, Aku sangat lapar Nih, "
"Aduh Mas ngalah sedikit sama anak kecil kenapa? sudah Aku mau nunggu Mikha. "
"Baik, berani melangkah keluar, Aku minta jatah hari ini, " ucap Bara dengan santai.
__ADS_1
Bara sengaja memberikan ancaman seperti itu kepada Vanessa karena dia tahu Vanessa tidaklah seperti wanita ataupun istri pada umumnya di mana dia akan sangat senang dan bahagia jika suaminya minta jatah atau Suaminya memanjakan dirinya dan memberikan kasih sayang serta kepuasan di atas Ranjang Vanessa sangat sulit diajak bahkan diminta apabila tidak sesuai dengan keinginan dan kemauan dalam hatinya.
Mendengar perkataan Bara Vanessa mendelik dengan sempurna membuat Bara tersenyum jenaka ke arahnya dengan sedikit malas dan terpaksa akhirnya Vanessa duduk di samping suaminya kemudian mengambil nampan berisi makanan dan mulai menyuapi Suaminya.
"Buka mulutnya, "
"Aduh galaknya, jangan galak-galak dong sama Suami, harus nurut dan selalu mendengar apa yang Suaminya perintahkan jika diminta harus ihklas, Nanti kamu akan dapat pahala Sayang."
"Haiss pakai kotbah lagi dah cepat nguyahnya biar cepet habis, "seru Vanessa tidak sabar.
Bara hanya tersenyum mendengar perkataan dan perintah dari istrinya, bahkan dengan santai sambil mengunyah Bara menjatuhkan kepalanya pada pangkuan Istrinya.
"Mas, Apaan sih, masak makan begini, ini tidak boleh lho makan sambil tiduran begini bisa tersedak kamu Nanti, "
Bara mengulum senyum sambil menaik naikkan Alis matanya sambil menatap Istrinya.
Bukankah seharusnya dia sangat bahagia dimanjakan dan diperhatikan Suaminya dengan penuh kasih sayang yang sangat lebih, tapi entah mengapa justru kali ini Vanessa merasakan sangat takut dan was-was.
"Kenapa menatap Aku begitu duduk cepat ayo lanjutkan makannya katanya mau disuapin, "ucap Vanessa untuk mengusir satu perasaan aneh yang tiba-tiba datang begitu saja, satu rasa takut yang tidak Vanessa mengerti penyebabnya.
"Cukup sayang, Aku sekarang tidak lagi memiliki seleera makan Aku mau memandang Istriku yang Cantik, "
"Apaan sih gombal banget, "
"Aku tidak sedang mengombal Sayang Aku bicara apa adanya kamu sangat Cantik dan Aku sangat mencintai mu, "
"Bruuugh...!
Pada saat Bara mengatakan Dia sangat mencintai istrinya tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dengan sangat keras di belakang mereka tepatnya di ujung kamar mandi, sontak saja hal itu membuat Bara yang tadinya tiduran di atas pangkuan istrinya tiba-tiba bangkit dan duduk Begitu juga dengan Vanessa, kemudian keduanya bersamaan menoleh ke arah pintu kamar mandi dan tampaklah oleh mereka Arum sedang memegangi kepalanya dikarenakan ternyata Arum yang kala itu juga mendengar Bara mengatakan cinta kepada istrinya membuat Arum syok dan kesal sehingga dia keluar tidak melihat pintu di depannya masih tertutup hanya terbuka sedikit sehingga kepalanya terjaduk pintu.
__ADS_1
"Arum...! kamu tidak apa-apa? " tanya Vanessa dengan panik.
Vanessa berniat bangkit dari duduknya dan menghampiri Arum yang kala itu memegangi kepalanya yang mungkin terasa sakit akan tetapi tangan Bara menggenggam tangannya dan menekannya membuat Vanessa tidak bisa berdiri Bara melakukan hal itu karena dia tidak ingin Vanessa mendekati Arum.
"Tidak usah di bantu, itu salah dirinya sendiri, " ucap Bara memberikan larangan kepada Vanessa.
"Tapi, Mas kasian, "
Bara menaruh jari telunjuknya di bibir Vanessa.
"Sssstttt, diam, tidak perlu dipedulikan, "ucap Bara memberikan peringatan.
Vanessa menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan, mencoba mendengarkan apa yang suaminya katakan.
Sementara Arum berdecak kesal dan geram, tidak bisa dipungkiri jika ada segurat rasa cemburu di dalam hatinya, karena bagaimanapun juga Bara juga Suaminya.
"Iihh, sial Mas Bara masih juga tidak mau peduli dengan Aku, rupanya Aku harus pakai cara lain tapi harus dengan cara apa ya, "
Arum melangkah perlahan dengan otak kepalanya sibuk berpikir bagaimana caranya bisa mendapatkan simpati dan perhatian dari Bara yang juga Suaminya karena hsl itu juga haknya.
"Hei, kamu jalan yang cepat dan cept keluar dari kamar kami jangan berdiri disitu saja, ngaggu orang saja. " sinis Bara dengan nada kasar dan dingin.
"Mas Bara, kok ngomong begitu sih itu tidak baik jangan terlalu kasar dengan pembantu baru, dia kan masih baru Nanti dia takut lho dan kalau Mama tau Mas bersikap begini pasti Mama marah. "
"Mama tidak akan tau jika Wanita itu tidak berbuat comberan dengan ngadu ke Mama '
Arum yang mendengar perkataan Bara mendelik seketika menatap wajah Bara yang kala itu masih duduk dengan santai di samping istrinya, sementara Vanessa hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika suaminya bersikap sangat kasar dan sulit untuk dinasehati.
"Enak saja ngatain Aku pembantu, issh jahat sekali kamu Mas, baiklah Aku akan perlihatkan siapa Arum yang sebenarnya, Aku ini adik dari Abang Faisal sudah terbiasa dengan kekerasan dunia jadi bersiaplah menerima balasan dariku Suamiku tersayang, Akan Aku pastikan kamu tidak akan berani lagi bicara kasar kepadaku. "sungut Arum dengan gigi menyatu hingga menimbulkan suara gemeretak.
__ADS_1