DOKTER DINGIN ITU PAPAKU

DOKTER DINGIN ITU PAPAKU
Bab. 70.GUGUP


__ADS_3

Bara menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan ketika melihat Vanessa sudah berlari masuk ke dalam kamarnya lagi lagi Bara menggelengkan kepalanya.


"Kebiasaan kalau tidak diminta mana pernah langsung ngasih ciumaan, ucapan salam saja ngak ada romantis romantis nya, sudahlah Aku juga harus bersiap, "


Bara langsung membuka pintu dan masuk ke dalam rumah tapi di saat Bara berada di dalam ruang tamu ponsel hp-nya bergetar.


"Deeerrrrr,... Derrrrtt.. Derrrrtt..!


Dengan sedikit buru-buru Bara merogo saku dan mengeluarkan ponsel hpnya dan ketika melihat nama yang berada di layar depan panggilan telepon untuknya, seperti orang sedang kebingungan Bara melihat ke arah sekeliling sambil kedua bola matanya memandang ke atas.


Rupanya Vanessa sudah mandi Tapi alangkah baiknya Aku bicara diluar ini lebih baik kalau begitu Aku keluar dulu untuk menerima panggilan telepon ini, karena Vanessa bisa sewaktu-waktu muncul dan ini akan menjadikan masalah untuk ku.


bergegas Bara ke luar dari dalam ruangan kemudian di depan rumah di pojok kanan yang mana terdapat sebuah tempat duduk untuk bersantai barang menerima panggilan telepon yang ditujukan kepadanya.


"Halo ada Apa mengapa kamu menelpon ku? "


"Maaf, Pak. Saya harus mengatakan ini Saya tidak mau menunggu Bapak kembali dari jakarta karena bisa jadi saat Bapak kembali saya sudah hamil dan saya bisa dibunuh Abang saya jika Bapak tidak ada disini,"


"Lalu maumu apa Arum! "


"Saya ikut Bapak ke Jakarta,


" Aku akan berangkat malam ini dan Aku tidak membeli tiket lebih hanya tiket untuk keluarga ku mana bisa pergi bersama sudahlah kamu pergi sendiri besok saja kalau mau ikut dan tolong jangan telpon telpon Aku lagi, istriku bisa curiga ingat Aku tidak mau siapa pun tau tentang hubungan kita dan tenang saja Aku akan mencukupi semua kebutuhan mu bila kamu memang positif hamil anakku, "


"Tapi, Pak saya tidak mau berangkat sendiri, Saya ingin pergi bersama Bapak tolong bapak pesankan tiket satu lagi untuk saya meskipun saya mendapatkan kursi ekonomi, pokoknya saya ingin satu pesawat dengan Bapak."


"Tapi itu berbahaya Arum, Aku tidak mau istriku curiga, "


"Bapak Tenang saja saya Akan bersikap sewajarnya agar istri Bapak tidak lagi curiga. "


Bara menarik napas panjang kemudian menghembuskan nya dengan kasar.


"Baiklah tunggu pemberitahuan dariku, "


Dengan hati berbunga senang dan dengan senyum mengembang dibibir Arum menutup pangilan telpon nya.

__ADS_1


Bara segera masukan ke dalam kamar untuk menyiapkan segala nya.


Bara sedikit tertegun melihat Vanessa sudah selesai mandi dengan rambut basah, perlahan-lahan Bara mendekati Vanessa dan memeluknya dari belakang.


"Mas Bara, bikin orang terkejut saja. "


"Kenapa apa kamu sedang melamunkan Dokter itu sehingga di peluk suami terkejut."


"Bukan begitu Mas, Aku cuma lagi konsentrasi menyisir rambut Mas Bara sudah main peluk saja. "


"Sayang, Aku harap kamu selalu menjaga hatimu untuk ku ketika kita sudah ada di Jakarta, Aku tidak ingin kamu terlalu dekat dengan Dokter itu, "


"Apa kamu masih ragu padaku? "


"Tentu saja, siapa yang tidak was was punya istri dan mantan suaminya masih melek aruh hati pada wanita itu mana bisa tenang ini hati. "


Vanessa tersenyum sambil membalikkan badan sehingga tubuh mereka berdua kini saling berhadapan.


"Aku sudah memutuskan untuk menerima Suamiku ini untuk itu Aku akan setia padamu percayalah tidak akan ada ruang lagi untuk nya dihatiku, "


"Tentu saja benar, '


Bara mengulum senyum dan sedikit menekan tubuh Vanessa semakin merapat padanya dan dalam hitungan detik Bara sudah menyambar Bibir ranum sang istri.


Vanessa yang tidak menyangka Suaminya akan melahap nya hanya bisa mendelik karena terkejut, Vanessa tidak bisa melawan ataupun protes karena bibir nya sudah terkurung dalam sangkar bibir Bara.


"Ceklek..!


Suara pintu terbuka yang tiba-tiba membuat Bara dan Vanessa langsung melepaskan ciummannya.


"Maaf Tuan, saya permisi dulu, "ucap Bik sari yang tidak tau jika Tuannya sedang bercinnta buru-buru hendak melangkah pergi keluar lagi.


"Tunggu Mba Sri sini tidak usah malu apa ada yang ingin kamu katakan pada kami, "


"Anu nyonya, itu Non Mikha sudah siap. "

__ADS_1


"Baik Mbak Sri kami akan segera turun. "


Mbak Sri segera keluar kamar setelah menyampaikan pesannya, Vanessa yang juga hendak keluar kamar ditahan tangan Bara.


"Mas lepas kita sudah harus berangkat sekarang. "


"Iya, tapi mau nambah sedikit lagi, masih kurang itu nya, "


"Apaan sih, sudah kan bisa besok lagi. "


"Tapi Nes ini tadi cuma singkat mana puuass, '


Vanessa hanya tersenyum tanpa memperdulikan perkataan suaminya dia sudah berjalan keluar kamar.


" Ah, sial, kenapa Aku tadi lupa tidak mengunci pintu jadinya di gangguin deh, sebenarnya Aku mau buat Vanessa merengek meminta padaku karena aku mau bakar gaiiraahnya tapi sayang nya digangguin dasar bodoh coba tadi Aku kunci pintu nya pasti sudah dapat Aku tadi huuuffp sabar tunggu sampai di Jakarta.


"Ting...!


Bara yang berniat untuk keluar kamar terpaksa menghentikan langkah kakinya ketika mendengar ada pesan masuk.


Buru buru Bara membuka pesan di ponsel hpnya.


" Mas.. Aku sudah memesan tiket dan Sekarang Aku sudah ada dibandara menunggu Kedatangan Mas Bara, Aku memakai baju ini bagus tidak Mas. "


Bara Membulat kan kedua bola matanya ketika melihat Arum mengirim kan foto kepada nya dengan balutan baju yang kurang bahan dimana Arum memakai baju berkrah rendah yang mana menapakkan bukit kembar yang mengoda.


Tanpa sadar Bara menelan ludahnya.


"Berani sekali ini anak kirim foto segala Aku harus cepat menghapus nya sebelum Vanessa mengetahui.


Tangan Bara sudah bersiap menghapus gambar yang ada di dalam ponsel hpnya akan tetapi Vanessa tiba-tiba datang membuat Bara sangat terkejut dan buru buru memasukkan ponsel hpnya pada sakunya.


"Mas, Ayo cepat kita bisa terlambat Nanti. "


Tanpa banyak bicara Vanessa langsung meraih tangan suaminya dan menariknya keluar kamar dengan gugup Bara pun Akhirnya mengikuti langkah istri nya.

__ADS_1


__ADS_2