
Serasa bagaikan mimpi dan seolah-olah apa yang dilihatnya hanya fatamorgana yang mana semua hanya Maya dan tidak nyata, Eva menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan bibirnya mengembangkan sebuah senyuman.
"Benarkah apa yang kulihat ini apakah Aku tidak sedang bermimpi, Apa ini benar? "tanya Eva dengan suara terbata-bata sedangkan seseorang yang ditatapnya dan dilihatnya hanya menatapnya dengan tatapan datar Dan dingin tak terlihat kebahagiaan ataupun senyuman bibirnya akan tetapi bagi Eva hal itu tidaklah penting
" IBuuu...!seru Eva sambil berlari memeluk sosok wanita yang berdiri di depannya Eva memeluk dengan sangat erat sambil menenggelamkan wajahnya kepada sang IBU, akan tetapi pelukan Eva tidak mendapatkan sambutan apapun bahkan sang Ibu terlihat kaku datar dan kedua pandangan matanya lurus ke depan sementara kedua tangannya tidak menyentuh Eva sama sekali.
"Merasa tidak dihiraukan dan diabaikan Eva melepaskan pelukannya mendongakkan wajahnya menatap sang ibu yang pandangan matanya lurus ke depan tanpa menatap dirinya.
" Ibu, Aku sangat merindukanmu, bagaimana kabar Ibu, apakah ibu baik baik saja, Eva sangat rindu sekali Bu, Bu.. Kenapa Ibu diam saja Apakah ibu tidak merindukanku, "tanya Eva dengan perasaan sedih.
Perlahan-lahan sang Ibu menundukkan kepala menatap wajah pada Eva kemudian menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan.
" Aku baik, Ibu tidak pernah menyangka dengan apa yang kamu lakukan saat ini kenapa kamu tega menyakiti kakakmu, Kenapa kamu tega ingin mencelakakan kakakmu, sampai kamu menyuruh orang untuk mencelakakannya apa kamu lupa dia itu kakakmu lagi pula Ibu baru tahu ternyata kamu bermain api dengan suami kakakmu kenapa? kenapa kamu harus merusak kebahagiaan keluarga itu, apa maumu Kenapa kamu berbuat begitu rendah, Apakah kamu sudah tidak memiliki hati dan perasaan, Apakah hatimu sudah mati apa kamu lupa jika Vanessa itu adalah kakakmu.! "geram sangat Ibu kepada Eva.
"Cukup, Bu..! jadi ini, ibu datang hanya untuk memarahiku jadi ini, ibu datang hanya ingin membela Mbak Nesa Kenapa Ibu tidak pernah berubah, sejak dulu sampai sekarang Mbak Nesa Mbak Nesa dan selalu dia yang Ibu Bela sedangkan ibu tidak pernah tahu Mbak Nesa juga tidak pernah baik sama Aku, Apa salahku Aku mencintai Mas Rendra dia juga mencintaiku dan Aku tidak mau anak pungut itu juga menjadi istri Mas Rendra, Aku mau anak pungut itu tahu tidak pantas mendapatkan Mas Rendra dia itu hanya anak pungut anak yang kebetulan Ibu rawat dan besarkan yang tidak tahu siapa Bapak dan siapa ibunya Siapa tahu dia tuh anak haram anak orang yang tidak benar Jadi untuk apa aku harus bersimpati dan peduli dengan anak pungut itu. "
"Evaaaa....! jaga ucapan mu, sekali lagi kamu mengatakan Vanessa anak pungut aku akan menamparmu.
" Oh, hebat anak pungut ibu puja-puja sementara aku sebagai anak kandung ibu, tapi Ibu tidak memperdulikan Ibu memang keterlaluan Ibu memang sangat keterlaluan memuja dan menyayangi Mbak Nesa yang tidak tahu siapa Bapak dan siapa ibunya tapi menyia-nyiakan dan tidak menyayangi anak kandung sendiri Ibu benar-benar keterlaluan.
"Evaaaaa.....! jaga ucapanmu. "
__ADS_1
Plaaaakk.... plaaaakk..! sebuah tamparan bertubi-tubi mendarat di pipi Eva.
" IBu, kau tega menamparku.. kau, __
"Ya, aku tega menamparmu bahkan aku bisa melakukan lebih dari itu asal kamu tahu Vanessa bukan anak pungut sembarang pungut asal kamu tahu, jika tidak ada Papa Vanessa mungkin kehidupan kamu tidak akan sebagus ini, apa dayanya seorang sopir pribadi apa dia bisa memberikan pendidikan dan juga kehidupan yang layak padamu dan ini berkat ginjal yang di berikan Papa Vanessa kamu masih bisa melihat Ibumu ini, Sampai detik ini apa kamu tahu Keadaanku saat itu Aku hampir sekarat aku hampir mati dan kebetulan Ayah Vanessa mengalami musibah dan akhirnya dia mati dan sebelum menghembuskan nafas terakhirnya dia mendonorkan ginjalnya kepada ibu dan mereka hanya meminta agar ibu merawat anaknya kamu tahu bukan hanya itu saja seluruh harta yang kita miliki itu semua adalah hartanya Vanessa, itu peninggalan Papanya Vanessa Jadi kalau kamu melihat aku begitu membelanya kamu harus tahu Vanessa itu Putri majikan ibu.
mendengar perkataan dari sang ibu tubuh Eva seakan Limbung dan terhubung ke belakang sungguh dia tidak percaya bahkan Eva menggelengkan kepalanya berkali-kali sambil mendekat mulutnya sendiri.
"Tidak itu tidak mungkin, Ibu berbohong, ibu, __
" Diam, kau! dasar anak tidak punya hati, trima ini !"dan selamat Atas kebebasan mu tapi mulai sekarang jangan pernah kamu panggil Aku ibu, jangan pernah kamu menemuiku lagi Aku tidak pernah memiliki anak yang tidak tahu terima kasih tidak tahu balas budi. . .
"Ibuu...!
"Ibu, tunggu.. Ibu.. ! Ibu.. hizk... hizk maaf kan Eva Bu, "
di kala Eva sedang menangis dan menyesali apa yang dia lakukan Baim datang sambil menyerahkan baju milik Eva.
"Hari ini kamu bebas, kakakmu tidak menuntutmu dan meminta kepada Rendra untuk mencabut semua tuntutannya, '
Eva bebas tapi hatinya begitu sangat sedih karena dia harus kehilangan sang Ibu dan ibunya tidak mau menemui ataupun ditemui oleh Eva lagi ketika Eva berjalan dengan sambil menunduk tiba-tiba langkah kakinya terhenti ketika di depannya terlihat 4 pasang kaki Eva mendongak dan terlihatlah di depannya sudah berdiri Rendra dan Robi.
__ADS_1
keduanya menatap sinis dan dingin bahkan masih terpancar jelas wajah kemarahan di wajah Rendra.
"Jika bukan karena Vanessa yang meminta untuk kebebasan mu, Aku tidak akan pernah membebaskanmu aku akan biarkan kamu busuk di penjara karena aku benar-benar tidak terima dengan perbuatanmu karena kamu hampir saja membunuh anakku, "
"Mas.. Maafkan Aku, "
Eva berusaha meraih tangan Rendra tapi dengan cepat Rendra tepis.
"Jangan sentuh Aku karena mulai sekarang kamu bukan siapa siapa ku lagi, ayo Rob kita pergi. "
"Mas... Mas Rendra tunggu maafkan Aku. "
Indra tidak memperdulikan teriakan Eva dia terus berjalan kemudian langsung naik ke dalam mobilnya sementara Eva menangis tergugu.
"Sudahlah ayo kita pulang Aku akan mengantarmu, " tawar Baim pada Eva yang mana tanpa menolak Eva mengikuti Baim membawanya Naik mobil dan di sepanjang perjalanan Eva terdiam dengan pandangan dan tatapan mata kosong.
**Flash Back off.
"Ibu...! Ibu... Maafkan Eva Bu, Ibu... Eva menyesal..! " seru** Eva sambil menangis.
sementara di luar kamar Baim dan ayah Eva yang sedang berbincang-bincang menjadi terkejut ketika mendengar suara isakan tangis dari dalam kamar Eva.
__ADS_1
"Paman Eva..!
" Iya, Nak Baim Ayah juga mendengarnya Ayo kita lihat ke kamarnya jangan sampai anak itu berbuat yang tidak tidak seru Aya Eva kepada Baim yang mana keduanya langsung berlari menuju kamar Eva.