
Bahagia dan senang karena telah mampu membuat Istrinya menurut Bara berniat curang dengan ingin menciiuum bibir Istrinya dan rupanya apa yang di rencanakan Bara sudah di pahami oleh Vanessa yang menyadari jika Bara menggunakan kesempatan itu untuk membuat kesal Mamanya menginjak dengan keras kaki Bara sehingga Bara melepaskan pelukan dirinya pada Vanessa istrinya.
"Awwwh...! Sayang. kenapa kakiku di injak, "ucap Bara dengan tatapan mata sayu berharap Istrinya Iba dan mau meminta maaf dengan memeluknya, entah apa yang membuat dirinya benar-benar selalu kurang dan kurang tidak pernah Puuas menghadapi Istrinya, jantungnya tidak pernah bisa Bara kontrool setiap kali dekat dan bermesraan dengan Istrinya meskipun menikah sudah cukup lama dan meskipun sudah berkali-kali mendapatkan kepuuasan di Ranjaang Bara masih tetap merasa kurang dan kurang.
Satu hal yang masih tidak bisa Bara dapatkan hati Vanessa, Bara sangat memahami dan mengerti jika sampai detik ini rasa Cinta Vanessa masih untuk Mantan Suaminya, untuk itu Bara berusaha keras Agar Vanessa bisa cepat hamil buah hatinya agar hati Vanessa bisa dia miliki seutuhnya.
"Sudah pergi sana ini sudah sore sebentar lagi malam, "seru Vanessa mengingatkan.
"Hmmm, baiklah Aku pergi dulu Nanti Aku belikan juga buat kamu ingat Sayang jangan jauh-jauh dari Ponsel HP kamu karena setelah tiba Aku akan menghubungimu. "
"Ya, pergilah Mas, "
Bara melangkah pergi tapi sebelum itu tangannya langsung menarik tangan Istrinya.
"Antar Aku sampai pintu, "ucap Bara lirih.
Dengan terpaksa akhirnya Vanessa mengikuti langkah kaki dari Suaminya mengantarkan sampai pintu, Sebelum masuk ke mobil, Bara lagi-lagi menyempatkan diri untuk menciiuum Istrinya, hampir saja Vanessa mendorong tubuh Bara karena apa yang dilakukan Bara sangat tepat ketika Arum juga berjalan di sampingnya dan Vanessa merasa malu dengan tatapan dingin dari Arum yang ada disampingnya.
"Nanti minta lagi setelah Aku pulang ya jaga diri baik-baik di Rumah."
"Ya, cepatlah pergi kasian Arum dari tadi nungguin. "
"Salah sendiri nungguin, "
Bara melambaikan tangan ketika membuka pintu mobil sementara Arum berkali-kali harus menarik napas melihat pemandangan yang sangat menyakitkan hatinya, bagaimanapun juga Bara adalah Suaminya dimana dia memperlakukan istrinya begitu romantis dan penuh cinta sementara dengan dirinya Bara selalu bersikap dingin dan ketus.
"Hei, ngapain buka pintu depan duduk di belakang sana, "teriak Bara ketika Arum duduk disampingnya.
"Mas, di Rumah Aku bisa terima sikap kamu yang tidak adil padaku tapi di luar, Aku tidak mau, Aku juga istrimu Aku berhak juga atas dirimu, jadi berhentilah bersikap tidak adil padaku dan Aku tidak peduli kamu marah ataupun tidak suka karena dirimulah orang yang telah merusak hidupku jadi bertanggungjawab lah? "
Arum yang kesal berteriak di dalam mobil sambil menutup pintu mobil dengan Sedikit keras sementara Bara memilih diam dengan wajah yang masam tanpa mau melihat pada wanita yang ada di sampingnya.
Melajukan mobil dengan kecepatan sedang, hati Bara juga terasa penuh dengan penyesalan, tapi apa mau dikata saat itu dirinya benar-benar khilaf dan mabuk dimana dirinya melakukan sesuatu diluar kesadaran.
"Sekarang apa maumu? "
"Tidak ada, Aku sadar Mas posisiku ini adalah istri kedua tapi Mas Bara juga harus ingat, Aku ini Istrimu yang juga berhak untuk mendapatkan cinta dan perhatian darimu, "
"Maaf, Aku tidak bisa Aku hanya mencintai Istriku dan diantara kita yang terjadi adalah suatu kesalahan, berhentilah berharap bayak dariku karena Aku tidak akan pernah membagi cintaku. "
__ADS_1
"Oh, begitu?
Arum tersenyum sinis mendengar perkataan Bara yang dirasaa sangat egois dan mau menang sendiri.
" Tidak masalah Aku bisa menerimanya tapi tidak dengan Jenin yang ada di dalam perutku dia adalah anakmu dan mau atau tidak kamu harus memberikan perhatian itu padaku karena Aku mengandung benihmu. "
"Uhuk... uhuk..!
Mendengar kata hamil Bara tiba-tiba terbatuk seolah-olah baru saja makan dan tersedak.
" A-Arum kamu jangan bicara ngawur mana mungkin kamu hamil kita melakukan baru berjalan dua minggu inipun belum genap? "
Arum tersenyum sinis mendengar perkataan Bara yang sedang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Aku tau dan Aku cuma mengatakan jika Aku hamil, "
Syukurlah jadi belum hamil kan? "tanya Bara bernapas dengan lega, entah mengapa rasanya sangat takut dan tidak ingin Gadis yang ada disampinya hamil dari benihnya.
Bara hanya menginginkan Vanessa istrinya yang hamil dan sampai sekarang entah mengapa belum ada tanda-tanda Istrinya itu hamil.
"Sekarang belum tidak tau Nanti, kita lihat saja satu minggu kedepan."
"Iiih, nyebelin Mas tidak mau Aku hamil ya? "
"Sudah tau jawabannya kan? kenapa pula Masih bertanya. "sinis Bara yang sebenarnya sangat muak dan malas duduk satu mobil dengannya.
Arum meneguk kasar ludahnya, benar-benar kesal dirinya dan Benar-benar laki-laki yang ada disampinya yang menjadi Bos sekaligus Suaminya benar-benar laki-laki tidak berperasaan menurutnya.
"Sekarang tidak tapi jika Nanti Aku hamil dari benihmu Aku tidak mau tau kamu harus memberikan perhatian dan kasih sayang padaku karena jika tidak, ___
Arum sengaja mengantung ucapannya, sementara Bara menoleh dengan pandangan mata sinis.
" Jika tidak apa? 'tanya Bara dengan syarat yang keras dan dingin.
Arum tersenyum miring, kemudian membenarkan letak duduknya dan dengan santai menyandarkan kepalanya pada bahu Bara membuat Bara mendelik menggerakkan tubuhnya agar Arum menjauh darinya.
"Jangan kurang ajar jauhkan dirimu dariku, "
"Issh, munafik cuma bersandar saja dilarang dan tidak boleh apa perlu Aku ingatkan bagaimana Mas Bara menikmati tubuhku kala itu, Mas Bara begitu, ____
__ADS_1
" Diam, kau..!"tidak perlu bicara apapun semua sudah Aku jelaskan Aku mabuk Aku tidak sadar dan Aku berpikir saat itu Aku sedang berccinta dengan istriku, "
Wajah Bara yang merah padam tidak membuat Arum merasa takut ataupun gentar, dalam hati Arum yang memang sejak lama bersimpati dan menaruh hati pada Bara sejujurnya sangat bangga karena telah mempersembahkan milik nya yang paling berharga pada orang yang sangat dia cintai, yang mana selalu bermain dalam imajinasinya berharap sedikit saja mendapatkan perhatian dari Bara tapi takdir sepertinya sedang berpihak padanya.
Bukan hanya mendapatkan perhatian sedikit, tapi juga mendapatkan kesempatan menikmati tubuh sixpack dari orang yang sangat dia cintai dan kini kedudukannya juga sudah menjadi Istri meskipun itu hanya istri siri dan istri kedua dari orang yang sangat dia cintai.
Tidak ingin laki-laki tampan yang ada disampingnya semakin marah Arum mengangkat kepalanya yang bersandar dibahu Bara, kemudian Arum tersenyum tipis sambil menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan sangat Bperlahan.
"Ya.. ya Aku tau Mas Aku bisa menoleransi semuanya apapun sikapmu padaku tapi tidak jika Aku Nanti hamil dari benihmu, bagaimanapun kamu harus memberikan perhatian dan kasih sayang mu itu karena jika tidak Aku akan katakan pada Istri pertamamu jika Aku sedang Hamil Anakmu. "
"Kau, ___
" Sudahlah jangan berteriak apa yang Aku minta ini suatu hal yang Wajar masak tega kamu perlakuan anak dari benihmu begitu dingin dan tidak berperasaan."
Bara terdiam dengan bibir mengatup rapat menahan marah dan kekesalan di dalam hatinya, beberapa kali Bara mengusap kasar Wajahnya.
"Kita pergi ke apotik kamu beli obat anti hamil karena Aku tidak mengginginkan Anak darimu, '
Arum menoleh ke Arah Bara sambil tersenyum sinis.
" Sudah terlambat Mas, karena saat ini sudah hampir dua minggu seharusnya dua hari setelah melakukan itu kamu suruh Aku untuk minum obat anti hamil, "
"Ya sudah semoga kamu tidak hamil istriku saja yang sering Aku gauuuli tidak hamil hamil bagaimana kamu yang cuma sekali bisa langsung hamil itu tidak akan mungkin, " ucap Bara menghibur hatinya yang resah, sungguh Bara tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi Nanti jika sampai, Gadis yang ada disampingnya benar-benar hamil dan bagaimana dia menghadapi Istrinya jika semua Rahasianya terbongkar.
Bara bisa dan siap kehilangan apapun tapi dirinya tidak akan siap dan tidak akan mampu jika harus kehilangan Istrinya.
"Mas Bara ini bagaimana sih, kan saat kita berhubungan Aku masih perawan dan, __
" Sudah-sudah diam pusing kepalaku mendengar celotehan kamu, pegangan yang kuat Aku akan sedikit ngebut biar cepat sampai dan Aku tidak mau mendengar apapun darimu jadi diamlah, karena jika tidak, Aku akan turunkan kamu disini."bentak Bara dengan suara yang cukup keras.
Sambil tersenyum Arum menganggukkan kepala.
"Siap, Suamiku, dan Aku berharap semoga Aku hamil biar hubungan kita bisa semakin dekat. "
"Issh, itu sih Maumu,"
"Tentu saja karena dengan Aku hamil maka aku akan mendapatkan tempat dan perhatian yang baik darimu dan juga di hatimu maupun di hati Mertuaku dan sudah pasti siapapun akan senang jika memiliki anak dari benihnya sendiri, Aku juga yakin cepat atau lambat kamu juga akan menyayangi anakmu jika aku Nanti benar-benar sampai hamil."
"Sudah diamlah brisik, "
__ADS_1
Bara mulai mempercepat laju kecepatan dari mobilnya dan diantara mereka untuk sesaat hening tanpa ada yang bersuara sementara Arum tersenyum bahagia karena dirinya Yakin jika dirinya hamil Bara pasti akan bersikap lembut kepadanya, karena Arum sangat yakin Bara tidak akan pernah mengginginkan Rahasia antara dirinya dan Bara akan diketahui oleh istrinya untuk itu Bara pasti akan menuruti apapun yang akan Arum minta selama dirinya mau merahasiakan Rahasia perselingkuhannya.