
Bara melangkah menuju pintu keluar dari kamar kemudian menutupnya kembali. Bara sengaja keluar dari dalam kamar, karena dirinya ingin memberikan Istrinya kesempatan untuk bisa menenangkan hatinya setelah beberapa saat tadi bersitegaang dengannya.
Bara sangat tau dirinya tidak akan mampu mencegah keinginan Vanessa Istrinya karena Vanessa memiliki sifat yang sangat keras kepala yang tidak akan muda dia taklukkantaklukkan.
Untuk itu Bara dengan sengaja terpaksa menggunakan Mikha untuk mengancam Vanessa Istrinya karena Bara yakin Vanessa tidak akan lagi bisa menolak dan mengelak karena Bara sangat tau Vanessa sangat menyayangi Putrinya.
Di dalam kamar tempat Vanessa dan Bara biasanya beristirahat, Vanessa berteriak menangis dengan histeris hingga tubuhnya jatuh terduduk di lantai.
"Aaaaaaahhh.... Mengapa Aku harus mengalami Nasib seperti ini kenapaaaa? Hizk..hizk..Apa salahku , Aku tidak mau apa apa Aku hanya ingin hidup tenang mengapa... mengapa hidupku begini, sekarang apa yang harus Aku lakukan Mas Bara menjadikan Mikha sebagai alat untuk mengancamku dan dia tidak main-main haruskah Aku menjalani hidup dengannya seperti ini kenapa tidak ada setitik kebahagiaan untuk Aku kenapa hidupku selalu menderita mengapa apa salahku... ! ! !
Vanessa yang sangat emosi dan kesal menangis dan berteriak dengan histeris, sementara Bara yang sengaja tidak benar-benar pergi hanya berdiri di luar pintu kamar memejamkan kedua bola matanya hatinya terasa perih dan sakit, tapi sungguh dirinya tidak bisa jika harus melepaskan Orang yang sangat dicintainya.
Apapun akan Bara lakukan demi bisa selalu bersama dan tetap bersama dengan Vanessa Istrinya, tidak perduli Istrinya sudah muak dan tidak mau menerimanya.
Bara yakin seiring berjalannya waktu Vanessa akan berubah dan sikapnya bisa kembali seperti asal mula kepadanya.
Berhenti untuk mendengarkan keluh kesah Istrinya meskipun di luar pintu, kini dengan gontai Bara menuruni anak tangga dan berjalan menuju nke dapur untuk mengambil Air mineral yang sesungguhnya tidak haus akan tetapi Bara hanya ingin membuat kerongkongan nya segar.
Sebuah senyuman tersungging dibibir Arum ketika melihat Bara dan Vanessa bersitegang dan bertengkar, kini senyum Arum semakin melebar ketika melihat Bara Suaminya berada di dapur.
"Pasti yang terjadi diantara mereka berdua sangat seru dan Aku harap Mas Bara segera membuang Wanita sialaan itu, tadi Aku sempat melihat ada dua orang laki-laki yang ketika Aku masuk Rumah ini masuk kedalam Rumah dan membawa pergi Anak kecil dan pembantu bodohnya itu, smoga sebentar lagi giliiiraaan Wanita itu yang akan di sereeet keluar dari Rumah ini, Aku sudah tidak sabar menunggu akan hari itu dan Aku semakin aman karena tidak ada lagi sainganku dan tidak akan ada yang tau jika Aku sudah keguguran, Aku harus bisa merayu Suami kayaku itu agar dirinya semakin mencintai dan memberikan perhatian kepadaku.
"Aduuuh, kenapa sakit... Aduh..perutku, " rintiiih Arum sambil berjalan masuk ke dalam dapur.
Bara yang kala itu berada di dapur dengan gerakan spontan langsung menoleh ke pintu dan mendapati Arum yang sedang mengaduuuh kesakitan dan dengan gerakan Spontan Bara langsung menghampiri.
"Arum ada apa, kau kenapa? "
"Aduh, Mas Anak kamu Nakal sekali perutku sepertinya di tendang tendang terus, Mas sakit Aku tidak tahan, " rengeek Arum yang langsung memeluk Bara.
Bara yang sebenarnya enggan bersentuhan dengan Wanita yang ada di depannya terpaksa membiarkan Arum bersikap dan berbuat sesukanya.
Meskipun dengan deru napas yang sangat berat karena menahan kekesalan Bara mencoba tersenyum semua Bara lakukan demi Mamanya yang sangat menginginkan cucu yang belum bisa Vanessa berikan dan Bara memilih bersabar menunggu meskipun tau kenyataan pahit dimana Istrinya sengaja tidak membiarkan benih yang ditanam nya tumbuh dan berkembang.
Bara tersenyum kecut mengingat semua itu, Benih Rendra dibiarkan hidup dan berkembang tapi benihnya seolah-olah tidak penting dan tidak dia harapkan sungguh sakit kenyataan yang dia rasakan tapi demi Cinta Bara rela menahan semua itu, tapi untuk melepaskan dan kehilangan tidak akan Bara biarkan semua itu terjadi.
Dirinya tidak perduli Istrinya Vanessa menerima dirinya dengan cinta ataupun dengan terpaksa bagi Bara Vanessa harus selalu ada disisinya.
"Mas coba sentuh dan belaai Anak kamu ini biar dia tidak Nakal dan nendang nendang lagi. "
Tanpa menjawab Bara melangkah mengambil sarung tangan karena yang biasanya untuk alas tangan ketika memasak.
Arum yang merasa heran menatap bingung pada Suaminya yang dia minta untuk menyentuuuh perutnya justru mengambil sarung tangan tebal yang ada di dapur.
Tidak hanya itu sebelum Bara Suaminya memasukkan tangannya pada sarung tangan terlebih dahulu Bara mengambil kain lap dan membungkus tangannya baru kemudian tangannya dia masuukan ke dalam sarung tangan.
Melihat apa yang dilakukan Bara Arum yang tadinya merintih kesakitan seolah lupa hingga melongo menatap heran Suami tampannya.
Setelah semua selesai Bara berjalan mendekati Arum.
"Mas kenapa tangannya Mas Bungkus dengan sarung tangan begitu?
Bara menatap sinis Arum dengan tersenyum miring
__ADS_1
Tanpa bicara Bara langsung menyentuh perut Arum.
" Anakmu sudah diam kan, kamu sudah tidak merasa sakit lagi kan? "
"Oh, iya tidak Mas ini masih sakit Aduuuh sakit..!
" Dasar pembohong bilang saja kalau sengaja ingin disentuh dasar wanita tidak tau malu, memangnya dia pikir Aku tidak bisa membedakan mana yang benar-benar merasa sakit mana yang pura-pura sakit dasar menyebalkan gara-gara kamu ini Rumah tangga ku kacau, " geram Bara dalam hati.
Dengan bibir tersenyum Bara mendekat sambil bicara sedikit berbisik.
"Aku ingin ke kamarmu apa kamu tidak keberatan, "
Arum meneguk kasar ludahnya sungguh Arum tidak pernah menyangka jika Bara ingin ke kamarnya dan tentu saja hal itu tidak akan Arum sia-siakan.
Kesempatan yang sangat langka dan Arum bisa berbuat lebih untuk bisa menggoda Suaminya di dalam kamar.
Wajah ceria dengan kedua bola mata berbinar membuat Bara yang melihatnya secara sekilas merasa muak dan ingin muntaaah, akan tetapi Bara tetap berusaha untuk bisa tersenyum.
"Bagaimana apakah boleh? "
"Boleh Mas, sangat boleh ayo, "
Arum segera keluar dari dapur untuk melangkah menuju ke Kamarnya yang kemudian di ikuti oleh Bara dari belakang.
Sampai di dalam kamar Arum merasakan sekujur tubuhnya sudah panas dingin, ini adalah kali pertama Suaminya datang ke kamarnya atas permintaan Suaminya sendiri.
"Ayo Mas duduk mau Aku buatkan kopi atau minuman lain, di kamar hanya ada kopi, susuu dan buah Aku tidak menyimpan makanan lain, "
"Tidak perlu Ambilkan saja Aku handuk bersih. "
"Mas Bara minta handuk apa dia ingin bercinta dengan ku, yess... yes... yess, ini keberuntungan bagiku Aku tidak perlu mengoda agar Mas Bara menanamkan benih lagi di dalam rahimku, "
"Hei, Arum kamu sakit ya dari tadi senyum senyum sendiri cepat mana handuknya Aku sudah geraah ini, "
"Oh, iya iya Mas, sebentar. "
Arum segera membuka Almari dan mengambil handuk bersih kemudian Arum berikan pada Bara.
"Ini Mas, "
Tanpa menjawab Bara langsung meraih dan masuk ke dalam kamar mandi. Jantung dan hati Arum semakin berdebar-debar.
"Bagaimana ini apa Wajahku sudah cantik dan enak di. lihat mungkin bedakku sudah mulai lunntur Aku kasih lagi juga lipstik ku ini pasti sudah mulai hilang, apa lagi ya Oh ya, Aku pakai parfum yang mahal itu, "
Arum segera menyemprotkan parfum, menambah bedak dan lipstik serta rambut Arum rapikan agar terlihat lebih menarik, dengan sangat antuusias.
"Ada yang kurang tidak ya, Ahhh, kenapa Aku lupa ya Aku harus pakai lingerie biar lebih mantap di hadapan Mas Bara pasti Suamiku itu akan klepek-klepek melihat ku, " gumam Arum yang kini mulai buru-buru menganti bajunya.
Bara yang sudah menyelesaikan Ritual mandi dan mengati bajunya dengan baju santai, hanya kaos putih pendek dengan celanaa pendek pula mengernyitkan dahinya melihat keadaan Arum yang terlihat sangat Aneh.
Bajunya ketat karena memakai lingerie memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan bibir menor merah menyala dan bedak setebal satu sentimeter barangkali karena sangat tebal dan terlihat benar-benar seperti lenong.
"Arum apa yang kamu lakukan? "
__ADS_1
"Oh, Mas Bara sudah keluar dari dalam kamar mandi Aku harus mengatur napasku dulu. '
" Hossh.... Hoosssh... Hoosssh.!
"Arum....! "
"Ah, Iya Mas, '
Dengan jantung yang berdetak tidak karuan Arum membalikkan badan menghadap ke arah Bara dan ketika melihat Bara hanya mengenakan celana pendek dan kaos membuat Arum semakin mengagumi ketampanan Suaminya terlebih Rambut Suaminya yang basah makin terlihat sekksi nya.
Bara menaikan satu alis matanya.
"Kamu tidak salah pakai baju begitu, anak kamu bisa bisa gak bisa napas di dalam sana cepat ganti baju kamu, "
"A-Apa?
" Oh, Ya jangan sentuh baju motorku di dalam kamar mandi Nanti biar Nesa yang cuci, Ingat ganti bajumu kasian anak kamu yang di dalam sana bisa sesak napas dia, Aku pergi dulu, "
"Lho... lho Mas mau kemana? "
"Balik ke kamarku lah, mau kemana memangnya, "
"Bukannya Mas mau, ___
" Ya Aku pinjam kamar mandi karena kamar mandi ku di pakai Nesa, sudah kamu jangan lupa ganti baju kamu kemudian tidur, "
Bara segera melangkah pergi.
"Mas..! Mas.. Aaaaah soal ternyata cuma numpang mandi iiiiihh, menyebalkan Aku pikir mau bercinta denganku sial. "
Arum terus mengumpat dalam hati. Bara yang sudah keluar dari dalam kamar Arum dan kini berlari lari kecil menaiki tangga dan langsung membuka pintu.
Bara mengernyitkan dahinya ketika melihat Istrinya masih diam dan terduduk di lantai.Bara membalikkan badan menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
"Bukankah Aku suruh kamu untuk bersiap kenapa masih begini? "
Vanessa yang kesal memilih diam dengan membuang muka membuat Bara menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan.
"Apa kamu mau membantah apa yang Aku katakan sayang,ingat Mikha ada padaku, "
Vanessa segera menoleh dengan tatapan mata tajam penuh dengan kebencian Vanessa bangkit dan berjalan mendekati Bara.
"Kau mau tubuhku kan, lakukan saja, lakukan sesukamu, "bentak Vanessa.
Mendengar perkataan Istrinya sungguh sebenarnya hati Bara sangat sakit dan sesak akan tetapi Bara mencoba untuk menyembunyikannya dengan tersenyum.
Bara mengulas senyuman miring, menatap tajam pada Wanita yang ada di depan nya dimana jarak keduanya hanya tinggal beberapa centimeter.
Tangan Bara menangkup wajah istrinya hingga membuat Vanessa mendongak yang mau tidak mau kedua bola matanya bersitatap dengan kedua bola mata Bara.
"Apa kamu pikir Aku bisa bergaa... iraah jika melihat dirimu begini, ini sangat buruk dan membuat naaaf.. suuuku hilang, cepat pergi mandi, sajikan yang terbaik buat Aku, cepat..!berani membantah jangan salahkan Aku jika terjadi hal buruk pada Mikha. "
"Iya, Aku mandi, jangan ganggu Putriku, "
__ADS_1
Vanessa segera berlari masuk ke dalam kamar mandi, sementara Bara tersenyum sambil Menggelengkan kepalanya.
"Siapa bilang tidak bernaaf sssuu, ini saja sudah jantung ku meloncat loncat dan berdebar-debar, untung kamu tidak tau dan tidak dengar Sayang Aku hanya tidak bisa melihat dirimu begitu kacau, mandilah yang segar, Aku menunggu mu disini sudah tidak tahan dua hari tidak kamu peluuuk rasanya bikin sesak di dada dan hari ini Aku akan mendapatkan lagi meskipun dengan keterpaksaan darimu.