
Bara yang tersulut emosi dan masih merasa sangat kesal dan geram dengan kejadian di tempat parkir membuat dirinya tidak lagi mau memperdulikan teriakan dari Arum yang kala itu sedang kesulitan membawa barang bawaannya.
Dimana Arum memilih membeli banyak baju serta beberapa makanan yang ada di dalam Mall.
"Mas Bara ini gimana sih, kenapa tidak dibantuin berat ini, "grutu Arum yang merasa sangat kesulitan membawa semua barang belanjaannya.
" Mari Nonton, biar saya bantu bawakan? "
Dengan gerakan spontan Arum menoleh ke sumber suara dan ketika melihat Mang Parjo disana Arum menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan keras.
Ada perasaan kecewa dan kesal karena ternyata yang akan membantu dirinya hanyalah seorang Penjaga Pintu yang benar-benar membuat Arum kesal dan jijiiik, terlebih melihat senyum dari Mang Parjo.
Dengan pandangan penuh rasa tidak suka Arum menatap ke arah Mang Parjo.
"Mau bantu? "
Dengan santun dan penuh hormat Mang Parjo menganggukkan kepala.
"Ini bawa masuk kedalam dan taruh di dalam kamarku, "seru Arum sambil menjatuhkan barang bawaannya ke lantai semua,
Arum sengaja menjatuhkan semua barang belanjaannya karena Arum tidak ingin tangannya bersentuhan dengan mang Parjo yang dekil dan jelek menurutnya.
Mang Parjo hanya tersenyum tipis melihat sikap dan perilaku dari Gadis yang sangat angkuh dan sombong bersikap dingin dan kasar kepadanya.
Bukan tidak memahami dan tidak mengerti, Mang Parjo tahu jika sesungguhnya Wanita yang baru saja turun dari Mobil bersama dengan Tuannya dia sangat tidak suka kepadanya, meskipun Mang Parjo berusaha bersikap santun vdan baik padanya.
"Kasar dan Sombong sekali Wanita ini, sebenarnya dia itu apanya Den Bara, kenapa sikapnya seolah olah dirinya ini seorang Nyonya di Rumah ini, sungguh jauh berbeda dengan Non Nesa, dia sangat lembut dan murah senyum bahasanya juga sangat sopan dan santun tidak seperti Wanita ini, dia benar-benar seperti Nenek Lampir.
Mungkin karena Aku hanyalah seorang pekerja yang tidak berguna tapi sudahlah Wanita ini kan cuma tamu di Rumah Nyonya Sukma jadi aman Aku tidak akan selamanya melihat Nenek Lampir yang Sombong." gumam Mang Parjo dalam hati.
Mang Parjo terus masuk kedalam dan membuka pintu kamar tamu utama, karena Arum memberikan petunjuk melalui telunjuk jarinya agar Mang Parjo membawa masuk ke dalam kamar semua barang bawaan yang dibelinya.
__ADS_1
Dengan patuh Mang Parjo masuk ke dalam kemudian meletakkan semua barang-barang yang dia bawa ke dalam kamar kemudian Mang Parjo segera pergi meninggalkan kamar Arum, sementara Arum sedang sibuk mencari Di mana keberadaan Bara yang masuk kedalam Rumah lebih dulu.
"Mas Bara kemana, kok tiba-tiba ngilang apa dia sudah pergi nemuin Istrinya, masa sih begitu buncinnya, tidak, Aku tidak mau selalu diabaikan tinggal menunggu lima hari lagi pasti bisa terlihat Aku hamil atau tidak, bukankah orang bilang setelah melakukan jaraknya tidak lama, dua minggu saja bisa, Aku yakin Mas Bara akan lebih mencintai dan memperhatikan aku karena bagaimanapun juga tidak ada orang tua yang akan mengabaikan anaknya, terlebih anak itu darah dagingnya sendiri sudah pasti Mas Bara akan memperhatikanku lebih dari biasanya bahkan Mama mertua juga pasti akan sangat menyayangiku lebih dari sebelumnya dan wanita itu pasti lama kelamaan akan pergi dengan sendirinya, tinggallah Aku hidup bahagia dengan Mas Bara, pasti sangat menyenangkan. "lirih Arum sambil tersenyum sendiri.
" Buuugh...!
"Auuw..! siapa sih! triak Arum spontan.
Sebuah pukulan kecil mendarat di Punggung Arum, seketika Arum menjadi sangat terkejut dan dengan gerakan refleks menoleh ke belakang.
Sungguh kedua bola mata Arum mendelik seketika disaat dirinya mengetahui siapa yang telah memukulnya.
"Kau, lancaang sekali memukulku? "geram Arum dengan kedua matanya melotot ke arah Mba Sri.
Dengan senyum dibibir tanpa rasa bersalahMba Sri berjalan mendekati Arum sambil tersenyum miring.
"Memangnya kenapa? enak saja mau menyingkirkan Non Nesa dan Mau menjadi yang utama memangnya lo mau jadi pelakor Rumah tangga orang, hei babu baru sadar sadar dan bercerminlah dirimu kamu itu lebih pantas dan cocoknya sama Mang Parjo jangan menghayal tinggi tinggi kalau jatuh Nanti sakit lho, "
Arum yang mendengar perkataan Mbak Sri semakin melotot, Wajahnya merah padam, andai saja dirinya sudah mendapatkan penggakuan sudah pasti Arum Akan menampar mulut Mba Sri pengasuh Mikha agar bibirnya tidak bicara lancaang dan menyakitkan lagi.
"Aduh, Pembantu baru ini benar-benar bodoh Aku kan sudah punya Suami mana mungkin Aku dengan Mang parjo yang bener dan tepat itu memang kamu, "
"Kamu, " Triak Arum dengan sangat keras dan kesal sungguh hatinya sangat kesal karena Mbak Sri pengasuh dari Mikha benar-benar menjengkelkan kata-katanya.
"Kamu, "jawab Mbak Sri tidak mau kalah, sudah sejak Awal dirinya melihat kedatangan dari Arum Mba Sri benar-benar sudah merasa tidak suka dan benci.
Ketika kedua orang itu sedang bertengkar tiba-tiba terdengar suara yang keras dan menggema menghentikan pertengkaran mereka.
"Ada apa ini? "
Sontak saja kedua orang yang sedang bertengkar yaitu Arum dan Mba Sri dengan gerakan spontan menoleh ke sumber suara dan ketika mereka mengetahui siapa yang ada di belakang mereka keduanya berinsut mundur sambil menundukkan kepala.
__ADS_1
"Nyonya besar, "
"Tante, "
"Hmmm, ada apa kenapa kalian bertengkar, "
"Engg, Kami, ____ kami, ___
" Iya, Ayo katakan ada apa?"bentak Wanita Yang sudah berumur akan tetapi masih terlihat jelas gadis kecantikannya.
"Kami tidak bertengkar Tante, Aku cuma sedang bertanya tanya sedikit padanya apakah dia melihat Mas Bara, bukankah begitu Mba Sri, "
"Oh, Iya," jawab Mba Sri gugup.
Mba Sri mengerti apa yang dilakukan dan dikatakan oleh Arum agar wanita yang ada di depan mereka tidak semakin menaruh curiga dan juga tidak semakin marah dan membenci mereka
"Memangnya Bara tidak menunggu dirimu saat pulang? "
"Tidak Tante Mas Bara langsung pergi, "
Tampak Ibu Sukma manggut-manggut kemudian berpindah menatap pada Mbak Sri yang kala itu masih berdiri dengan senyum tersungging dibibir.
"Mba Sri tolong kamu panggilkan Bara dia pasti ada di kamar bersama Istrinya, bilang suruh menemui Aku."
"Baik, Nyonya, "
Bergegas Mbak Sri pergi meninggalkan tempat di mana Arum dan Nyonya Sukma masih berdiri dan sedang berbincang-bincang.
"Bagaimana hari pertama kamu bersama dengan Bara apakah ada kemajuan, "
"Belum ada Tante, Mas Bara masih sangat dingin dan Acuh padaku, Tante apakah Mas Bara bisa mencintai Aku? "
__ADS_1
" Kenapa kamu bertanya seperti itu tentu saja bisa cepat atau lambat barang pasti akan mencintai dan menyayangi dirimu seperti halnya dia mencintai dan menyayangi Vanessa kamu tenang saja semua hanya membutuhkan waktu dan jika waktu itu tiba maka kamu akan mendapatkan semua yang kamu inginkan bahkan Perhatian para bisa berkali-kali lipat Jika Di Antara Kalian ada keturunan pasti Bara akan menyayangi dirimu karena tidak ada seorang ayah yang tega kepada anaknya sendiri Jadi kamu jangan khawatir dan semua hanya membutuhkan kesabaran kamu tenang saja dan jangan putus asa karena aku selalu berada di pihakmu, "
"Trimakasih Tante, sungguh Arum merasa beruntung memiliki seorang mertua seperti Tante sudah cantik tante juga memiliki hati yang sangat baik dan sederhana.