
Bara memilih duduk di samping pintu kamar Mikha yang mana di dekat tempat itu terdapat sebuah ruangan kecil tanpa pintu, yang biasanya digunakan Mikha untuk sekedar duduk-duduk atau makan jika tidak ingin makan di Ruang Makan bersama.
Sesekali Pandangan mata Bara menatap pintu yang tertutup, hatinya benar-benar sakit kini dirinya benar-benar bisa mengerti dan mengetahui jika istrinya benar-benar memiliki sifat keras kepala yang sangat tinggi, entah dengan cara apa lagi bisa meluluhkan nya.
Lamunan Bara langsung buyar dan terhenti ketika mendengar suara teriakan Riang dari Ruang Tamu.
Mamaaa... Mikha pulang..!
"Ssssstttt, sudah Non Mikha tidak boleh berteriak-teriak begitu, kasian kalau Mama lagi Bobo bisa terganggu Ayo Non Mikha masuk ke dalam kamar Nanti saja menemui Mama di kamar atas. "
"Baiklah, sini tas Mikha biar Mikha bawa sendiri Mikha mau cepat mandi dan Nanti langsung ke kamar Mama karena Mikha mau bercerita sama Mama. "
"Hmmm, Baiklah ini tas Non Mikha. "
Dengan tersenyum riang Mikha segera menggulurkan tas yang dia bawa kepada Mikha, setelah menerima Tas dari Mba Sri Mikha langsung berjalan dengan cepat ke arah Kamarnya.
Ketika hendak membuka Pintu Bara yang kala itu mendengar kepulangan dari Putrinya langsung bangkit dari duduknya dan keluar untuk menyambut kedatangan Mikha.
"Halo Sayang kamu sudah pulang, "ucap Bara sambil menggulurkan kedua tangannya dan seperti biasanya Mikha pasti langsung berlari memeluk Papanya.
" Papa. . .!
"Mikha, kesini..!
Mikha yang sudah dekat dengan Bara dan berniat memelukn langsung berhenti ketika mendengar suara yang tidak asing memanggilnya.
" Mama..!
"Ayo masuk cepat, "
"Ya, Ma, " Mikha yang tadinya ingin berlari memeluk Papanya kini berjalan mendekati Mamanya yang sudah berdiri di depan pintu.
Bara yang melihat hal itu meneguk ludahnya dengan kasar, tidak mau tinggal diam Bara juga ikut masuk ke dalam kamar.
"Mikha Papa tidak di peluk Nakal, "
Mikha yang kalau itu masuk sambil memeluk Mamanya segera melepaskan pelukan sang Mama kemudian berniat untuk memeluk Papanya tapi lagi-lagi Vanessa menghalangi dengan meminta Mikha untuk segera pergi mandi dan mencuci muka.
"Mikha Pergi mandi tidak boleh memeluk orang sembarangan, "seru Vanesa yang langsung membuat Mikha kembali menggurungkan Niatnya dan langsung pergi masuk ke dalam kamar mandi.
Sementara Bara mendelik dan menatap tajam pada Vanesa yang kala itu melarangnya, Vanesa tidak mau ambil pusing dengan tatapan tajam mata Bara yang sedang menatapnya dengan intens.
"Nesa, kenapa kamu melarang Aku untuk memeluk Anakku hah, "
__ADS_1
Vanesa tersenyum tipis dengan santai meraih gelas kemudian menuangkan Air putih ke dalam nya dan meneguknya dengan santai.
"Mikha bukan Anakmu apa kamu lupa,
"Vanesa, Aku tau kamu marah dan kesal tapi setidaknya kamu tidak menunjukkan itu di depan Mikha, dan kamu harus tau Mikha sudah kuanggap seperti anakku sendiri dan, ____
"Cukup Aku tidak mau membahas, cepat atau lambat Mikha akan tau jika kamu bukan Papanya,
" Tapi Nes, "
"Sudahlah jangan bicara lagi, katakan pada Mikha Aku menunggu di Ruang makan untuk makan malam."ucap Vanesa seraya pergi meninggalkan Bara yang kala itu menatapnya dengan kecewa.
Bara menarik napas panjang dan menghembuskannya sangat kasar.
" Sabar, lagi marah Nanti kalau sudah ada satu dua bulan pasti Vanesa tidak akan dingin lagi, Aku harus menunjukkan lebih perhatian kepadanya agar hatinya cepat luluhluluh, " gumam Bara yang mulai tersenyum ketika melihat putrinya muncul.
"Papa, ..!
"ya sayang ayo Mama nunggu Mikha untuk makan malam. "
Dengan cepat Mikha mengagguk,
"Sini duduk dekat Mama, '
"Sudah tidak perlu Mikha banyak tanya ayo duduk Nakal, "
Mikha segera menaati apa yang mamanya perintahkan. "
Arum yang kala itu berada di dalam kamar juga turun menuju ke ruang makan, karena saat ini Arum juga makan malam di ruang makan di mana mereka akan makan secara bersama-sama bibir Arum tersenyum ketika melihat Bara yang tampak terlihat kecewa ketika melihat dirinya duduk tidak lagi berada di samping Vanessa akan tetapi Bara memilih duduk berada tepat di depan Vanessa yang mana Arum juga tidak ingin melihat Bara selalu dekat dengan Vanessa maka dia duduk di samping Bara.
melihat kehadiran Arum yang tiba-tiba duduk di sampingnya bara menoleh dan mendengus dengan kesal.
" Kenapa duduk di sini lebih baik kamu duduk di sebelah sana. "
"Memangnya kalau aku berada di sini Kenapa Bukankah sama saja lagi pula anak yang dalam kandungan ku ini ingin duduk dekat dengan papanya, Vanessa yang mendengar itu tersenyum dengan santai dan dengan sangat santai membuat Bara menatap Venesia yang sedang menertawakan nya. dan menatapnya dengan tatapan mata yang sangat kecewa.
"Hemm sudah tau madunya duduk dekat dengan Suaminya justru tersenyum, baiklah Aku mau lihat apa iya tidak akan cemburu jika Aku memberikan perhatian pada Wanita ini, kita lihat saja.
" Baiklah, Anakku yang ada di perutmu itu mau di ambilkan makan apa? "
Arum yang tidak menyangka jika Bara justru memberikan perhatian kepadanya sangat merasa senang dan bersorak bahagia dan dengan cepat Arum menunjuk menu yang dia inginkan dan dengan santai serta perlahan-lahan Bara mengambilkan menu yang Arum inginkan, akan tetapi kedua bola mata Bara melirik kepada Vanessa yang ada di depannya Bara ingin tahu bagaimana reaksi istrinya mendapati Suaminya memberikan perhatian kepada wanita lain.
"Baiklah silakan di makan Sayang, makan yang banyak biar Anak kamu sehat. "
__ADS_1
"Papa, kenapa Mikha tidak di tanya mau menurut apa, Mama juga, " tanya Mikha dengan poloosnya, membuat Bara meneguk ludahnya.
"Sayang kamu mau menu apa?
" Mikha mau udang kecap Papa, "
"Baiklah Papa Ambilkan, "
Ketika Bara hendak mengambilkan laut sebuah tangan menahannya.
"Tidak perlu, Mikha kamu sudah besar ksmu harus belajar mandiri jangan mrn gantungkan dan selalu merepotkan orang yang bukan Papa kandungmu, "
"Deg...!
Vanesa dan Bara langsung menoleh ke sumber suara.
" Mama, Mama bicara apa? "
"Mikha kita makan di dalam saja ayo biar Mama yang ambilkan uangnya."
"Tunggu, Ma, Mikha mau bilang sama Oma,'
" Mau apa Kak? "
"Oma sudah tua jadi sudah pikuun Papa Bara itu Papa Mikha, "
"Iiih, dasar Anak pungut kamu itu anak punggut, "
"Arum diam kau..? sayang jangan dengarkan apa yang Oma dan Wanita itu katakan ya, "
"Mikha, cepat!
" Aduuuh Ma, Mikha kok di tarik, "
"Nesa, jangan begitu kasian Mikha dan, ___
" Diam, urus istri barumu dan kamu tidak perlu pedulikan kami, ayo Mikha, "
Antara mau dan tidak akhirnya Mikha mengikuti Mamanya.
Bara yang ikut bangkit dan berniat ikut pergi di tahaan sama Mamanya.
"Diam dan urus istri dan anakmu dia lebih penting, "
__ADS_1
Bara mendelik mendengar perkataan dari Mamanya.