
Vanessa yang menggendong putrinya Mikha masuk ke dalam Rumah kemudian menurunkan dengan sangat pelan-pelan dan mengajaknya naik ke atas kamar Mikha dengan perlahan-lahan.
"Ayo sayang kita masuk ke dalam kamar, Nanti Mikha bisa cerita sama Mama. "
Dengan penuh riang Mikha mengaggukkan kepala, Mikha merasa sangat senang dan bergembira karena di dalam rumahnya tidak lagi ada sang Nenek yang sangat bersikap dingin padanya, juga tidak ada Rebecca sang sepupu yang sangat menyebalkan menurutnya.
Sampai di dalam kamar Mikha langsung duduk sambil bersilang kaki di Atas Ranjang., membuat Vanessa menggelengkan kepalanya karena Mikha termasuk anak yang sangat bandel di mana sangat sulit untuknya diperintah atau disuruh Mikha lebih banyak melakukan sesuatu dengan keinginan hatinya, sementara sesuatu yang tidak dia sukai seringkali Mikha abaikan bahkan Mikha tidak pernah takut dengan siapa pun yang berbuat kurang baik padanya.
"Ayo, sekarang cerita kan pada Mama bagaimana mungkin Mikha pulang membawa boneka bukan kah Mikha pergi Ke Rumah Agnes dan apakah boneka ini milik Agnes, tapi kenapa keliatan nya masih baru begini, " tanya sang Mama bertubi-tubi.
"Mama, boneka ini bukan punya Agnes tapi punya Mikha sendiri, Mikha baru saja beli di mall bersama Mang Dadang. "
"Oh, jadi mang Dadang yang bayarin dan beliin Boneka ini, "
"Bukan, mang Dadang tidak punya uang, mang Dadang mengajak Mikha pulang tapi Mikha tidak mau, Mikha mau boneka itu terus ada om Tampan yang baik banget, Dia yang bayarin boneka buat Mikha Om Tampan itu siapa ya namanya Mikha lupa. "
"Aduuh, anak Mama tau orang Tampan segala coba beritau Mama Tampan nya seperti apa?"
Mendapatkan pertanyaan dari sang Mama wajah Mikha langsung mendongak ke atas sambil memutar bola matanya kemudian tangannya ditaruh di pipi kanan dan kiri.
"Dia itu Tampan Ma, sangat tampan dan juga dia sangat baik. "
"Ehem..! "
Bara yang baru masuk ke dalam kamar dan mendengar celotehan dari putrinya segera berdehem kecil sehingga membuat Mikha berhenti membayangkan tentang om Tampan yang baru saja di ceritakannya.
"Papa..! seru Mikha turun sambil berlari ke arah Papanya.
" Hai sayang, hemm tadi Papa denger Mikha di belikan boneka sama Om Tampan, hrmm Tampan mana sama PapaPapa? "
Seolah Sedang berpikir Mikha memutar bola matanya kemudian menyungginkan sebuah senyuman yang sangat lucu dan menggemaskan.
__ADS_1
Dengan menunjukkan beberapa barisan giginya yang putih Mikha tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya dan melepaskan pelukannya dari sang Papa kemudian berlari ke arah sang Mama.
"Hei, Mikha belum jawab pertanyaan Papa kenapa berlari ke Mama, "
"Hahaha..!
Mikha tertawa lebar sambil bersembunyi di balik punggung sang Mama.
" Tampan si Om itu, " seru Mikha sambil bersembunyi di balik punggung Mamanya.
"Apa, __
Sedangkan Vanessa tertawa lebar mendengar perkataan pooloos dari putrinya.
" Hahaha, Mikha bilang kamu tidak tampan Papa, "ucap Vanessa sambil tersenyum dan tertawa.
" Hmm, begitu baik, Papa ngak akan belikan Mikha Piano kalau begitu. "
"Baiklah sekarang Mikha mandi di bantu Bik Sri ya, Mama dan Papa menunggu di Ruang makan, kita makan malam bersama. "
"Baik, Pa..!
Dengan bahasa isyarat Bara mengajak Vanessa untuk keluar dari dalam kamar Mikha, kemudian memanggil pengasuh Mikha Bik Sri dan meminta nya untuk membantu Mikha mandi.
Di acara makan malam tidak banyak yang dibicarakan karena Mikha merasa sangat lelah Mikha hanya menghabiskan separuh dari makanannya, kemudian pergi tidur di temani bibik pengasuh Bik sri.
Bara yang sudah lelah pun masuk kedalam kamar bersama dengan Vanessa, dan seperti yang sudah di sepakati bersama, dimana kala itu Vanessa yang berniat memberikan nafkah batin kepada Bara akan tetapi dengan lembut Bara menolaknya dikarenakan Bara menginginkan Vanessa memberikannya dengan keikhlasan bukan dengan keterpaksaan terlebih semua atas dasar Ancaman dari sang Mama dan pada akhirnya Bara memberikan kesempatan kepada Vanessa untuk memastikan dirinya benar-benar siap dan ikhlas.
"Mas..!seru Vanessa lirih.
Bara mengulum senyum berjalan mendekati Vanessa.
__ADS_1
" Apa kamu sudah siap, dan apa kamu yakin kamu ihklas melakukan nya, hemm. "lirih Bara yang kini sudah berdiri saling berhadapan dengan Vanessa.
Jantung berdebar dengan sangat kencang, seolah bibir terasa keluh, untuk menjawab pertanyaan Bara, bagi Vanessa Bara memang sudah berhak atas dirinya, Bara berhak mendapatkan nafkah batin darinya meskipun jika harus jujur semua terasa berat dan sulit bagaimana pun Rasa cintanya pada Rendra belum bisa dia padamkan, akan tetapi bukan kah kehidupan terus berjalan dan tidak perlu lagi menengok ke belakang dan bukan kah Bara juga laki laki yang Baik dimana dia tidak pernah menganggap Mikha seperti anak tiri akan tetapi menganggap Mikha seperti anak kandung nya sendiri, lalu apakah adil jika masih menahan hakim suaminya atas dirinya, sedangkan semua kebutuhan dan juga keutuhan kebahagiaan keluarga sudah Bara berikan.
Dengan perlahan Vanessa mengaggukkan kepala nya. Bara tersenyum melihat jawaban Sang Istri dengan sangat hati hati dan penuh dengan kasih sayang Bara menjatuhkan kecuupaannya pada dahi Vanessa.
Tidak bisa di bayangkan rasanya sudah seperti jantung yang mau lepas, gugup dan serasa berdetak lebih cepat dari biasanya.
Bara membimbing Vanessa kedekat Ranjang dan perlahan lahan merebahkan nya dengan sangat lembut.
"Boleh, Aku mulai..!
Sambil menggigit salivanya Vanessa menggangguk.
"Sayang, jika malam ini Aku sudah bisa menjadikan dirimu milikku seutuhnya maka Aku tidak akan rela orang lain menggambilmu dariku, apakah kamu bisa mengerti itu, "
"Aku mengerti, "
Bara tersenyum mendengar perkataan Vanessa, perlahan lahan Bara bangkit dari atas tubuh Vanessa dan menarik dengan perlahan Vanessa untuk ikut bangkit juga kemudian menyuruh Vanessa untuk duduk, Vanessa sedikit bingung dengan apa yang dilakukan Bara, Vanessa berpikir mungkin Bara tidak ingin melakukan malam ini, buktinya Bara justru mengajaknya duduk dan Bara menyalahkan TV drama remaja.
"Bara bangkit dari duduk nya kemudian mengambil beberapa cemilan dan meletakkan di atas meja.
" Ini enak, ayo sambil makan."ajak Bara dengan santai dan tenang sementara Vanessa merasa semakin bingung dan tidak mengerti, akan tetapi semua Vanessa pendam dalam hati tidak Vanessa pertanyakan pada Bara.
Bara yang sudah duduk disamping Vanessa segera menganti Chanel yang tadinya drama Remaja kini berubah menjadi film horor yang mana semua itu membuat Vanessa takut dan tanpa sadar sering menjatuhkan wajahnya pada dada bidang Bara sementara Bara senyum senyum.
"Bara, ganti chanel nya Aku takut, "
"Tenang jangan takut kan ada Aku, sudah kalau takut sembuyikan wajahmu disini.' tawar Bara yang mana tidak ada penolakan Vanessa langsung menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Bara.
Sambil mengulum senyum Bara menatap layar yang ada di depan nya.
__ADS_1
" Kita akan melakukan dengan keinginan mu, bukan keinginan ku, Aku akan sabar menunggu hari itu, Aku yakin saat itu akan tiba dimana kamu sendiri yang menginginkan ku untuk menyentuh mu. "gumam Bara dalam hati.