
Pagi yang cerah diiringi dengan sinar mentari yang masuk melalui celah dan langit-langit jendela, Vanessa yang sudah tidur dari awal Sore sudah terbangun dan sudah membersihkan dirinya kemudian berjalan menuju ke dapur setelah mengikat rambutnya dengan satu ikatan, membuat leher jenjang Wanita Cantik berkulit putih halus itu terekspos sempurna,
Vanessa sengaja tidak membangunkan Suaminya yang masih tertidur pulas dengan perlahan-lahan Vanessa membuka pintu kamar dengan sangat pelan, Vanessa tidak ingin suaranya bisa mengaggu tidur Bara Suaminya, tidak lupa pula Vanessa tersenyum melihat Suaminya tidur dengan pulas sambil memeluuk guling, Vanessa sengaja memberikan guling di tangan Bara agar dirinya bisa tidur nyenyak guling sebagai ganti dirinya, karena Bara sering ikut terbangun jika tangannya tidak memeluk sesuatu.
"Suamiku yang Manja Aku masak dulu, untuk membantu Mama karena Bibi kemarin pulang kampung pasti Mama di dapur sendiri kasian jadi Aku bantu, selamat tidur suamiku, keinginan kamu yang ingin memiliki anak dariku kita pikirkan Nanti, Aku minta maaf karena selama ini tanpa sepengetahuan kamu diam-diam Aku selalu minum obat Anti hamil, Aku belum yakin dengan hatiku tapi sekarang tidak lagi Aku sudah yakinkan hatiku untuk mencintaimu dan hidup bahagia dengannu, bersabarlah Aku juga menyayangimu, mungkin Mas Rendra memang lebih Tampan darimu tapi Kamu lebih perhatian dan sayang padaku jadi Aku putuskan untuk memilih dan memantapkan hatiku padamu."
Puas berponolog sendiri Vanessa segera menuruni anak tangga berjalan menuju ke pintu dapur, bibirnya yang tipis menyungiklngkan sebuah senyuman ketika bertemu dengan Mba Sri pengasuh Putrinya.
"Selamat Pagi Non? "
"Selamat pagi Mba, bagaimana Mikha semalam apa dia masih rewel, Aku mau melihat tapi kamu tidak datang menemui kami itu artinya kamu bisa mengatasi Mikha kan? "
"Iya Non semalam Non Mikha sudah tidak rewel lagi,"
"Baiklah kamu lanjutkan kerja Aku mau ke dapur kamu bantu Mikha bersiap, Nanti siang Aku akan antarkan dia untuk mendaftar sekolah di tempatnya yang baru. "
"Baik, Non, '
Vanessa melanjutkan langkahnya menuju ke dapur dan terlihatlah sang Mama sudah sangat sibuk di dapur dengan berbagai olahan masakan yang dia hidangkan untuk menu pagi ini.
" Selamat pagi Ma..!
"Hmm, kau sudah bagun, "
"Ya, apa yang bisa Nesa bantu Ma? "
"Tidak usah kamu bantu Anak kamu saja ini biar Mama sendiri yang siapin, "
"Tapi Ma..! "
__ADS_1
"Sudahlah, kamu duduk saja ini juga sudah selesai, lagi pula masakan kamu itu belum tentu akan cocok di lidah Mama dan Suamimu karena kalau dia bilang enak itu pasti cuma agar kamu tidak tersinggung saja dari penampilan kamu saja, kamu itu bukan tipe istri yang pandai memasak, "
"Juuuzzz...! bagaikan pisau tajam yang langsung menusuk ke Ulu hati, kalimat demi kalimat yang Mamanya ucapkan benar-benar membuat Vanessa tidak mampu bicara apa-apa selain diam dan menunduk, dengan Wajah lesu tanpa bicara dan dengan kepala menunduk Vanessa keluar dari dapur.
Raut wajahnya tampak murung dan sendu rupanya apa yang menjadi pemikirannya selama ini salah, dia berpikir jika Sang Mama mertua sudah bisa menerimanya tapi ternyata tidak Mama mertuanya hanya baik ketika Bara ada disampinya dan ketika mereka hanya berdua saja Mama Bara bagaikan ibu tiri yang kejaam.
Duduk melamun di pojok pingir ruang tamu menatap kosong keluar jendela yang terdapat hamparan tanah yang luas dengan berbagai macam tumbuhan bunga di sekelilingnya dimana Pak tukang kebun sedang menyiram bunga.
Bibir Vanessa tersenyum melihat kebahagiaan dari tukang kebun yang bekerja dengan sangat bahagia sambil bersenandung meskipun suaranya sangat buruk akan tetapi pancaran kebahagiaan yang terpancar di Wajahnya membuat hati Vanessa merasa iri.
Tanpa Vanessa sadari dirinya yang sedang melamun di ketahui oleh Suaminya.
Perlahan-lahan Bara menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan.
"Vanessa terlihat sedih ini pasti ulah Mama, mungkin Mama pikir Aku tidak akan tau, dasar Mama, " sungut Bara sambil mendekati istrinya yang sedang sibuk menatap keluar jendela.
Vanessa yang sedang duduk melamun sontak saja terkejut mendengar sapaan dari Bara suaminya yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya sambil memeluk dirinya.
" Mas, sejak kapan kamu disini, "
"Baru saja, kamu tidak nyaman ya disini, maafkan Aku sayang sudah buat kamu sedih bersabar sedikit ya kita disini cuma dia hari saja Aku akan beli Rumah untuk kita biar kamu bisa nyaman. "
"Nyaman kok Mas, siapa bilang Aku tidak nyaman Mas jangan berprasangka yang tidak tidak lihat lah Aku malah duduk santai begini seperti ini kok kamu bilang tidak nyaman ini nyaman kamu tenang saja, dan santai saja dalam bekerja tidak perlu berpikir buru-buru untuk membeli Rumah, kasian Mama masih rindu sama kamu kok kamu sudah mau pergi Mas,"
Bara menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan.
"Rupanya istriku sudah sangat pintar dan cerdas dalam menyembunyikan perasaan hatinya yang sedih agar Aku tidak khawatir padanya, bagus tapi tetap saja Aku tidak akan bisa tahan melihat istriku sedih meskipun tidak bicara Akupun sudah tau dan Aku tidak akan membiarkan itu, tapi apa yang dilakukan Vanessa ini juga dia lakukan padaku dimana dia pura-pura bahagia bersamaku tapi sebenarnya masih mengharapkan Rendra Araaaaghh, kenapa Rendra lagi sih Tidak kalau soal itu Aku tidak mau tau yang pasti Vanessa tetap menjadi milikku, " gumam Bara dalam hati.
"Baiklah Sayang Ayo kita ke Ruang makan kita makan dulu, setelah ini Aku harus pergi bekerja untuk membantu Papa. "
__ADS_1
"Aku masih belum lspar Mas, Nanti saja Mas makan saja duluan bersama Mama. "
"Hmmm, Sayang mau berjalan sendiri ke Ruang makan apa Aku gendong? "
"Mas, ngomong apaan sih, "
"Apa pernah Aku main main dengan ucapan Aku tinggal pilih, mau jalan sendiri ke Ruang Makan apa Aku gendong,"
"Aku belum lapar, "
"Baiklah, __
Tanpa bicara Bara langsung mengendong Vanessa dan langsung melangkah. "
"Mas... Mas Stop malu dilihat Mama, "
"Peduli, '
" Iya-ya, Aku mau jalan sendiri turunkan, "
"Mmm, baiklah, "
Segera Bara menurunkan tubuh Vanessa sambil mengulum senyum sementara Vanessa yang sebenarnya malas untuk makan bersama dikarenakan sikap sang Mama yang tidak mengenakkan terpaksa mengikuti kemauan Bara suaminya meskipun entah akan ada pemikiran apa di dalam hati Mama mertuanya.
Bara menggelengkan kepala melihat langkah malas istrinya ke Ruang makan.
"Aku tau jika Aku pergi kamu tidak akan makan karena Aku paham kamu tidak begitu nyaman dengan Mama tidak usah bicara Aku tau itu dan Mama tidak akan bisa menyakiti kamu selama kamu berada didekatku untuk itu Aku sengaja mengajakmu makan Agar Mama tidak bisa bertingkah ketika kamu disisiku." gumam Bara dalam hati meskipun diam-diam Bara mersaa kesal dengan sikap Mama nya yang seperti bunglon.
Bersikap lembut baik dan manis pada istrinya ketika Vanessa berada disampinya tapi jika tidak ada sikap Mamanya akan sangat dingin dan menyakitkan.
__ADS_1