DOKTER DINGIN ITU PAPAKU

DOKTER DINGIN ITU PAPAKU
Bab. 7.DINGIN


__ADS_3

Meskipun dengan perasaan berat hati dan dengan perasaan tidak suka akhirnya Rendra masuk ke dalam kamar istrinya yang mana sebelumnya Rendra mengetuk pintu sebelum masuk.


"Tok..


" Tok..


"Tok..


" Masuk lah pintu tidak dikunci, "


seorang wanita di dalam kamar menjadi terkejut ketika mengetahui siapa yang masuk ke dalam kamarnya bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman dan wajahnya berseri-seri berjalan menghampiri laki-laki yang baru saja masuk ke dalam kamarnya Yang mana laki-laki itu bernama Rendra yaitu suaminya.


"Mas Rendra, ayo masuk, " ajak wanita yang menjadi istrinya dengan Ramah.


"Mama memintamu untuk ikut denganku keluar makan malam karena malam ini ada sel menginginkan pesta ulang tahunnya dirayakan di restoran dan dia ingin kamu ada di sana dan ikut bersama kami.


" Baiklah, Aku ganti bajuku dulu, "


Tanpa tersenyum ataupun menjawab pertanyaan dari wanita yang ada di depannya Rendra segera berbalik dan melangkah menuju pintu akan tetapi sebuah tangan lembut menariknya membuat langkah kakinya terhenti.


"Tunggu, Mas Rendra jangan pergi dulu."


"Ada apa lagi? "

__ADS_1


Sebuah pertanyaan yang sangat dingin dan terkesan sangat acuh meskipun sesungguhnya hati Alena sedikit sesak dan merasa sakit oleh sikap laki-laki yang ada di depannya yang mana kini menjadi suaminya akan tetapi Alena berusaha untuk bersabar dan menerima karena dia yakin Seiring berjalannya waktu es batu yang ada di depannya akan bisa mencair meskipun hari ini dan hari-hari ini mungkin dirinya akan selalu mendapati suaminya bagaikan kulkas 7 pintu.


Alena meneguk ludahnya dengan kasar.


"Aku mau Mas Rendra membantuku untuk memilihkan baju apa yang cocok untuk ku pakai malam ini, "


"Aku sibuk, kamu bisa pakai apapun yang kamu suka, " ucap Rendra yang hendak keluar kamar akan tetapi dengan cepat wanita yang bernama Alena langsung berlari ke arah pintu dan menguncinya, kemudian melepas kunci dan menaruhnya di leher tepatnya di sebuah kalung liontin yang dia pakai.


Kunci yang memiliki rantai benang kecil diikatkan pada liontin yang dia pakai. Rendra yang melihat hal itu merasa sangat geram dan kesal karena tidak mungkin Rendra menarik dan merampas kunci yang sengaja diletakkan di liontin lehernya di mana liontin itu dekat dengan sesuatu yang jadi kebanggaan seorang Wanita.


Melihat Rendra yang akhirnya diam dan tidak lagi bergerak berniat untuk mengambil kunci diam diam membuat hati Alena tersenyum.


"Ini kesempatanku, Mama bilang Aku harus bisa menarik hati Mas Rendra dan Mama bilang aku juga cantik jadi ada kemungkinan hati Mas Rendra bisa luluh apabila Aku mau sedikit bersabar dan mmerayunya. Aku yakin setiap laki-laki normal pasti akan tergoda jika aku melakukan satu hal yang membangkitkan emosi kelakian jiwanya."


Alena menyungingkan senyum melihat Rendra duduk dengan kesal membelakangi dirinya, tidak kurang akal dan juga ide Alena segera mengambil baju yang akan dikenakan untuk pergi makan malam bersama.


"Baju ini sepertinya Cocok Aku pakai ini saja, " ketika tangan Alena hendak menutup pintu almari tiba-tiba kedua bola mata Alena tertuju pada satu kain baju yang ada di atasnya baju yang begitu sangat indah dan ternyata baju itu baju yang cukup transparan di mana sangat tipis dan memperlihatkan lekuk keindahan tubuh dari siapapun yang memakainya.


"Kenapa Aku bodoh, ini adalah kesempatan aku untuk bisa dekat dan memiliki hatinya aku akan memakai baju ini, bukankah Mas Rendra masih ada di dalam kamar, jadi baju ini bisa Aku pergunakan di sini dan memperlihatkan padanya pasti dia akan tergoda, Aku yakin tidak ada satu laki-laki pun di dunia ini yang tahan melihat godaan dari wanita yang memakai baju trasparan seperti ini." gumam Alena bermonolog sendiri.


Meskipun Sejujurnya Alena merasa risih dan tidak nyaman karena baju yang dia kenakan begitu transparan dan terbuka akan tetapi demi bisa meraih hati dan perhatian dari suaminya pada Alena rela melakukannya demi mendapatkan sebuah hati.


Sedikit ragu ragu Alena berjalan mendekati Rendra yang kala itu duduk membelakanginya masih terlihat jelas jika wajah Rendra sangat kesal dan geram akibat pintu kamar yang dikunci dengan sengaja dari dalam bahkan kunci pintu diambil dan digantungkan di leher nya.

__ADS_1


"Ehem...!


Alena berdahan kecil untuk menarik perhatian dari Rendra agar mau menoleh ke arahnya akan tetapi selama hampir 5 menit menunggu Rendra tidak bergeming dari tempat duduknya membuat Alena kembali berdehem untuk yang kedua kali dan lagi-lagi Alena harus menelan kekecewaan di mana Rendra sama sekali tidak menoleh ataupun berbicara padanya karena merasa kesal akhirnya Alena berteriak Sedikit keras memanggil Rendra.


"Mas, menurutmu bagus tidak baju ini..? "


"Suka suka kamu, "


"Haisss, segitu dinginnya sih, ini Pak Dokter, benar apa yang dikatakan Mama Aku harus sabar Karena Aku tidak akan bisa dengan mudah meluluhkannya hatinya."


Alena yang tidak pantang menyerah langsung meraih koran yang dibaca Rendra Dan berdiri tepat di hadapannya.


"Sreet..! Alena meraih koran dan menaruhnya di atas meja kemudian berdiri tepat dihadapan Rendra dan Rendra kala itu yang terpaksa harus melepaskan koran yang dianggap dan terpaksa harus melihat Alena yang berdiri tepat di hadapannya merasa geram dan beras semakin geram ketika mengetahui Pakaian apa yang digunakan oleh Alena.


"Kau... siapa yang mengizinkan Kamu memakai baju ini cepat lepas dan ganti bajumu itu, " teriak Rendra dengan kasar yang mana membuat Alena sedikit terkejut dengan sikap Rendra Alena tidak pernah menyangka jika Rendra akan marah kepadanya Alena berfikir Rendra akan tertarik dan tergoda dengan apa yang dia kenakan akan tetapi dugaan Alena ssalah, Rendra terlihat semakin sangat marah dan geram bahkan tidak segan-segan mendorong tubuhnya sehingga jatuh ke lantai.


"Siapa yang mengizinkan kamu memakai lingerie istriku, hah? cepat lepas Dan kembalikan pada tempatnya, Aku peringatkan padamu jangan sekali kali kamu lancang menyentuuh semua barang yang Ada di rumah ini terutama milik istriku, " sinis Rendra dengan kasar yang mana tangan Rendra menyambar satu payung yang memiliki tangkai bernentuk cembung.


Kemudian Rendra berjalan mendekati Alena yang kala itu jatuh terduduk di lantai akibat dari dorongan tangan Rendra.


Alena sudah sangat bergidik ketakutan melihat Rendra datang dengan membawa payung panjang dengan tangkai pegangan yang memiliki bentuk cembung. Alena berpikir Rendra pasti akan memukulnya Karena rasa takut itu Alena memejamkan matanya.


Menunggu payung yang dipegang Rendra dipukulkan ke punggungnya tapi ternyata dugaan Alina salah di mana Rendra menggunakan payung panjang dengan pegangan tangan berbentuk cembung untuk menarik kalung liontin yang dia gunakan sehingga hanya dengan sekali tarik kalung itu terputus dan terjatuhlah kunci yang tadinya menggelantung di leher Alena.

__ADS_1


Dengan sedikit membungkuk Rendra mengambil kunci yang terjatuh kemudian melangkah pergi meninggalkan Alena tapi sebelum pergi Rendra kembali memberikan peringatan kepada Alena.


" Cepat ganti bajumu dan kembalikan pada tempatnya Jangan coba-coba lagi kamu mengambil barang yang bukan milikmu karena aku tidak akan segan-segan untuk memberikan hukuman kepadamu., "sinis Rendra yang kemudian dia melangkah pergi.


__ADS_2