
Robi berlari kesana kemari mencari sosok dari gadis egois beserta dengan Bara yang baru saja dia lihat dan di depan kasir.
Setelah berlari mengejar keluar halaman dan berhenti di tempat parkiran yang ada di Mall itu, Robi merasa heran karena tidak melihat satu mobil pun yang keluar dari tempat parkir yang ada di sekitar Mall.
Merasa heran dan sedikit bingung dikarenakan di dalam tidak ada di luar pun juga tidak ada mobil yang keluar masuk dari halaman parkir pun juga untuk jam saat ini belum ada itu artinya Bara dengan gadis egois itu masih berada di sekitar Mall.
Robi menggaruk kepalanya karena dia tidak menemukan sosok orang yang dicarinya.
"Sial Bagaimana Aku bisa kehilangan jejak, ini sangat gawat jika Rendra tau dia akan marah bisa jadi Rendra tidak lagi mempercayai ucapanku ini yang lebih gawat.
Aku tidak mau Rendra berpikir aku sedang berbohong jelas-jelas Aku tadi melihat Bara ada di depanku dan keberuntungan berpihak padaku karena Bara tidak mengenaliku, Bara hanya mengenal Rendra Mantan suami dari Vanessa sedangkan Aku yang posisinya hanyalah seorang teman tidak diketahui dan tidak dikenal oleh Bara.
Tapi kemana mereka perginya, Bagaimana bisa secepat ini seharusnya Mobil itu belum keluar dari parkiran dan seharusnya Aku sudah bisa melihat mereka, Aku mendengarkan telepon hanya beberapa menit saja mana mungkin secepat itu mengemudikan mobil atau jangan-jangan mereka berdua lagi di dalam mobil parkiran sedang bermesraan.
Siapa tahu gadis egois itu sedang memakai baju-baju transparan dan lingerie Siapa tahu dia pergunakan dalam mobil karena sudah tidak sabar, Baiklah aku akan pergi untuk memeriksa satu persatu mobil-mobil yang ada di parkiran tapi bagaimana jika hal itu benar apa aku tidak malu melihatnya, peduli daripada Rendra marah-marah dan menuduh aku berbohong Lebih baik aku memeriksa semuanya sebelum Rendra datang bisa Gawat kalau Rendra sudah datang dan aku belum menemukan orang itu bisa-bisa dia menganggapku hanya membohongi dirinya. "
Robi segera berlari-lari kecil ke tempat parkir di mana Banyak sekali mobil yang sedang diparkir di sana mulai dari depan melangkah ke belakang Robi terus mengamati dan mengawasi setiap mobil yang dirasa sangat mencurigakan.
"Aku bisa gilaa disini, semua pintu mobil tertutup seolah tidak ada penghuninya lalu di mobil yang mana Aku harus mencari, huuuff menjengkelkan. "
"Maaf Mas, ada yang bisa kami bantu, saya melihat Mas dari tadi memandangi mobil mobil yang ada disini, Mas juga bukan berniat mau mencuri Mobil kan?
Robi mendelik seketika ketika seorang satpam tiba-tiba berdiri di depannya dan menyapanya, ucapan dan perkataan dari satpam itu sungguh sangat membuat Robi geram dan kesal, di mana dirinya juga dituduh sedang ingin melakukan pencurian mobil.
Robi Berjalan lebih dekat ke arah satpam kemudian menepuk tangannya seolah-olah tangannya penuh dengan Debu.
"Kebetulan ada kamu Pak Satpam, di sini Seharusnya aku memang bertanya kepadamu karena kamu tidak ada, Makanya aku berkeliling karena aku sedang mencari temanku yang tiba-tiba pergi sebelum memberitahuku dan aku kehilangan jejaknya Aku heran sebagai seorang Satpam Seharusnya kamu selalu berada di sini untuk menjaga dan berjaga-jaga tapi mengapa kamu baru datang, Jika bos kamu tahu kamu bisa dipecat karena kamu telah teledor dimana kamu mengabaikan pekerjaanmu dengan sesukamu pergi, Bukankah ini masih jam kerja? 'jawab Robi yang kalimatnya tidak kalah menyakitkan.
Kini giliran Satpam itu yang mendelik dan terkejut dengan perkataan Robi di mana perkataan Robi, justru sangat menyakitkan dirinya di mana dia dikatakan sebagai seorang Satpam yang teledor dan bekerja tidak becus karena dirinya pergi ketika jam kerja masih berlangsung.
Untuk menutupi rasa marah dan juga sakit hati serta kesal yang ada di dalam hatinya, Pak Satpam itu menyunggingkan sebuah senyuman.
" Bagaimana mungkin aku harus menahan jika Aku ingin pergi ke kamar kecil, Bukankah kita tidak tahu kapan waktunya orang akan pergi ke kamar kecil dan tidak lucu Seandainya aku menahan dan tiba-tiba ngompol di sini. " jawab Satpam dengan tatapan mata yang tajam.
Robi tersenyum melihat kecerdasan dari Satpam didepannya yang tidak Terima jika dirinya dituduh tidak bertanggungjawab dalam bekerja.
Dengan senyum tersungging dibibir Robi menganggukanggukan kepala.
"Pak Satpam benar sekali, kalau begitu bisakah saya meminta bantuan dari Pak Satpam untuk melihat Mobil siapa saja yang sudah keluar dari tempat Parkir ini di menit 9.10 menit. "
"Boleh, mari ikut saya kita akan bersama-sama melihat lewat CCTV yang ada disini. "
"Baik, Pak trimakasih atas kesediaanya membantu. "
Pak Satpam hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Sampai di Ruangan Pak Satpam langsung memutar rekaman CCTV dan langsung memutar di menit 9.10 Waktu yang di minta Robi kepada Satpam.
Beberapa lama menunggu hingga Menit dari Waktu yang diputar sudah sampai di pukul 9,30 tidak ada satu mobilpun yang keluar dari tempat Parkir.
"Tidak ada Mobil yang keluar Mas, "ucap Pak Satpam pada Robi.
"Itu Artinya mereka masih di tempat Parkir, Pak. baiklah saya akan memeriksa langsung saja jika begitu. "
Ketika Robi hendak melangkah keluar tiba-tiba layar monitor dari Rekaman CCTV memperlihatkan satu Mobil Hitam hendak keluar Ruangan parkir dengan kaca depan samping sebelah kiri terbuka lebar, sehingga memperlihatkan dengan jelas Wajah penumpang yang ada disana.
Tampak Seorang Gadis sedang duduk sambil bersandar.
__ADS_1
"Pak tolong Tahan mobil yang keluar itu',"seru Robi tiba-tiba karena dia melihat dari kaca Mobil yang terbuka tampak seorang Gadis Egois ada disana itu artinya sang Pengendara Mobil hitam itu adalah Bara.
Pak Satpam yang mendengar seruan dari Robi segera berlari keluar ruangan dengan tidak lupa memencet satu tombol warna merah yang ada di depannya di mana tombol itu berfungsi untuk menurunkan alat penutup dari gerbang parkir sehingga mobil yang akan lewat tidak bisa keluar.
Melihat Apa yang dilakukan oleh satpam tanpa harus berlari mengejar dan menghentikan orang yang melajukan mobil akan tetapi mobil tidak bisa keluar karena alat penghalang yang tiba-tiba diturunkan di depannya membuat Robi berdecak kagum kemudian muncullah ide dari pemikirannya.
"Pak biar saya yang kesana saya ingin bertanya tanya tetang sesuatu hal yang penting, tolong kerjasamanya. "
Awalnya Satpam itu merasa keberatan dengan apa yang akan dilakukan Robi tapi mengingat Robby bersih Kekeh itu artinya ada sesuatu hal yang sangat penting yang menyangkut urusan pribadinya membuat Pak satpam mulai memahami dan mengizinkan Robi untuk menangani semuanya.
" Baiklah aku berikan waktu kamu untuk menyelesaikan masalah pribadimu, Aku tahu dan aku yakin kamu pasti memiliki masalah pribadi dengan orang itu, terlihat dari kecemasan serta kepanikan dan antusiasmu dalam mencari orang itu, Baiklah kamu boleh ke sana untuk menyelesaikan semuanya aku akan berada di sini jika sudah selesai kamu boleh memberitahu aku."
Perkataan Pak satpam membuat Robi merasa sangat senang dan girang, dengan cepat Robi langsung membuka pintu ruangan dan berlari menuju ke tempat di mana mobil yang ada di parkiran akan keluar.
*****
"Duuuuzzz....! Sial kenapa tiba-tiba ditutup dengan besi penghalang, apa orang yang menjaga tempat parkir ini tidak tau jika ada mobil yang akan keluar, " Grutu Bara yang kala itu terpaksa tidak bisa keluar dari tempat parkir karena ada besi penghalang.
Bara yang kesal memukul setir mobilnya berkali-kali sambil berapa kali Bara membunyikan klakson agar penjaga segera membuka penghalang jalan yang ada di sana.
Robi yang menyadari dan mengetahui hal itu tersenyum simpul berpura-pura dengan menyambar satu baju jas yang ada di tempat itu untuk menjadi salah satu petugas tidak tetap yang tanpa memiliki nama di bajunya akan tetapi dia juga menjaga tempat itu.
langkah Robi yang cukup cepat dari ruangan CCTV ke ruangan tempat dekat dengan kantor penjagaan membuat dirinya tidak terlambat untuk menemui salah satu pengemudi Mobil yang kelihatannya sangat kesal karena dirinya belum bisa keluar dari tempat parkir.
Dengan senyum mengembang di bibir dan Robi sengaja masih mengenakan kacamata, keluar mendekati mobil yang berkali-kali membunyikan klakson Mobilnya.
"Maaf Pak ada yang bisa saya bantu? "
Tampak pengemudi mobil menurunkan kacanya sambil melotot ke arah Robi mungkin karena pertanyaan Robi yang terlihat sangat kacau dan culun di mana berpura-pura tidak mengerti dan tidak memahami apa yang diinginkan oleh dirinya.
Rabi sendiri tertawa dalam hati karena dia menyadari Betapa bodoh dan kacaunya pertanyaan yang dia lontarkan kepada sang pengemudi mobil.
"Maaf, Atas ketidaknyamanan Bapak tunggu sebentar karena sepertinya tombol dari alat untuk membuka dan menutup besi sedang rusak. "
Bara semakin melotot mendengar perkataan dari laki-laki yang menjadi petugas disana.
"Sejak kapan alat pembuka dan penutup besi ini bisa Rusak, bukankah ini tadi baru kamu tutup?
"Deg..!
Robi yang Menyadari ucapannya salah diam-diam Tersenyum dalam hati karena dirinya sendiri bicara ngawur tanpa berpikir dan asal bicara saja dikarenakan Robi sendiri juga tidak mengerti dan tidak memahami tentang masalah ini.
" Sudah, Bapak Jangan memikirkan hal itu saya hanya ditugaskan untuk mendata mobil yang akan keluar masuk di tempat ini, tolong isi data Apakah Bapak bersama dengan keluarga atau mungkin teman atau tetangga tolong beri penjelasan agar saya cepat memberikan informasi ke petugas utama, agar segera membukakan pintu besi untuk bapak sehingga bapak bisa cepat pergi dari sini, karena jika Bapak tidak memberikan informasi apapun Bapak tidak akan pernah bisa pergi dari tempat ini karena kami, ___
Tapi belum sempat Robi melanjutkan ucapannya Bara sudah memotong perkataan dari Robi dengan kata-kata yang sangat membuatnya kesal
"Sudah Cukup, Isssh, sejak kapan ada peraturan seperti itu, jangan mengada-ngada cepat buka Jika kamu membutuhkan uang Nih ambil dan sekarang cepat buka aku harus cepat pergi."
"Maaf Pak, Sekali lagi kami minta maaf atas ketidaknyamanan yang Bapak rasakan tapi lagi-lagi saya harus mengatakan kepada bapak pendataan ini cukup perlu dan penting bapak sedang pergi dengan siapa Apakah dengan ibu istri bapak atau dengan, ____
" Sudah! Tidak perlu dilanjutkan, Aku pergi dengan Istriku, sudah cukup kan? "bentak Bara dengan suara yang sangat keras.
"Duaaaaarrr....!
Bagaikan petir yang menyambar disiang hari
Robi benar-benar tidak menyangka jika Bara akan menjawab dengan sangat cepat dan dengan tegas mengakui Jika dia sedang pergi bersama dengan istrinya, hal itu membuat Robi mendelik seketika.
__ADS_1
Hal itu semakin membuat Bara merasa heran karena satpam yang ada di depannya tiba-tiba seperti patung diam tak bersuara dengan bibir terbuka.
"Hei, Mas petugas baru, ada apa kenapa mulut kamu sampai terbuka begitu, apa kamu pikir Aku ini laki-laki brengsek, yang keluyuran dengan membawa kupu-kupu malam? "
"Aissh bahasanya Bara dalam memberikan penjelasan keren dan cukup gauul juga, " gumam Robi yang semakin membuat tertawa keras dalam hati.
Rabi mengetahui jika Bara terlihat sangat kesal dan marah dengan ulah yang dia lakukan kepadanya, sehingga Bara bicara dengan serampanggan dan terkesan dingin dan cuek.
"Oh, Maaf Pak, Boleh saya ambil fotonya sebentar? "
"Apa? "
permintaan Robi yang cukup mengada-ngada menurut Bara membuat Bara tanpa sadar menggebrak pintu mobilnya dengan keras, karena sebenarnya Bara benar-benar merasa sangat kesal dan geram, Bara yakin dirinya sedang dipermainkan oleh Satpam Penjaga baru yang ada di tempat itu.
"Bilang saja mau uang berapa tidak perlu banyak alasan dan memberikan aturan yang tidak benar dan tidak tepat di tempat iini cepat katakan berapa uang yang kamu inginkan 500 600 atau 1 juta akan Aku berikan, kamu tidak perlu membuat beberapa alasan dan aturan yang tidak benar setelah itu cepat Buka pintu besi penghalang jalannya, Aku mau lewat, " geram Bara yang sudah sangat emosi.
"Aku tidak mengada-ada apa yang Aku katakan benar dan kami tidak sedang membutuhkan dan meminta uang kami hanya, ___
" Sudahlah Aku tidak mau berlama-lama di sini Cepat buka dan ambil uang ini, " ucap Bara memutuskan sambil melemparkan uang lembaran berwarna merah ke muka Robi.
"Brengsek, berani kau melemparkan uang di depan mukaku, " geram Robi dalam hati yang mana kedua tangannya sudah mengepal kuat siap bakuu hantaam dengan sang pengemudi Mobil.
Mencoba meredam emosi dan amarah yang kini meluap di dalam hatinya Robi menyunggingkan sebuah senyuman kemudian membungkuk mengambil dan memungguti lembaran uang yang jatuh ke lantai.
Ketika Robi sibuk memungguti Lembaran uang yang jatuh sambil membungkuk tiba-tiba ada seseorang yang disampingnya juga ikut memungguti.
"Sudah, beres," ucap laki-laki yang ada disamping Robi.
"Maaf, Mas ini uangnya kami tidak memunggut biaya apapun dan memang peraturan baru seperti itu, jika ingin segera bisa pergi maka cepat lakukan, biar pekerjaan kamipun cept selesai, "ucap laki-laki yang tidak lain Satpam yang di bajunya sudah tertera Nama.
Bara mendengus dengan kesal karena permintaan yang kedua sungguh sangat membuatnya tidak bisa menerima.
" Gilaaa, sejak kapan ada peraturan harus foto bersama? "
"Arum yang duduk disamping Bara melihat Bara kesal dan geram menjadi ingin tau dan penasaran.
" Ada apa Mas, kenapa belum dibuka juga itu besi penghalang nya apakah harus bayar mahal? "
"Bukan bayar mahal tapi diminta untuk foto berdua mereka mau mengambil foto kita, enak saja minta yang tidak tidak." sungut Bara kesal.
"Owala cuma foto saja, "
Arum segera melambaikan tangannya pada Satpam yang ada disamping Robi.
"Silakan ambil foto kami, tapi cepat ya karena kami di Rumah sedang ada Acara jadi buru-buru, cepatlah, " perintah Arum mengizinkan.
"Oh, baik, Mba trimakasih. "ucap Pak Satpam yang langsung memberitahu Robi untuk segera memotret mereka berdua.
Robi yang mendapatkan angin segar karena diizinkan segera memosisikan layar ponsel hpnya.
Sangat mengaggu ketika Robi akan membidikkan foto yang ada didepan nya ponselnya bergetar tanda ada panggilan masuk dan Robi bisa melihat dengan jelas panggilan dari siapa itu.
Nomor Rendra terpampaang dengan jelas, Robi berusaha mengabaikan panggilan dari Rendra karena dirinya sedang fokus memfoto dia orang incaraannya.
Sambil tersenyum Robi memerintahkan untuk mereka berdua yang ada di dalam mobil ber Acton.
Kurang lebih ada lima kali panggilan telepon dari Nomor Rendra Yang sepertinya sangat kesal dan geram karena panggilan teleponnya tidak segera dijawab oleh Robi, sementara Robi lebih memfokuskan untuk memotret dua orang yang kini sedang dalam incaraannya, Robi tidak ingin membuang kesempatan emas untuk mendapatkan bukti dari perselingkuhan Bara.
__ADS_1
Robi tidak perduli jika Rendra akan marah karena baginya yang terpenting dirinya harus segera mendapatkan bukti dari Perselingkuhan Bara demi Rendra, saudara sepupu tercintanya, sudah pusing Robi melihat Wajah Dokter Tampan yang dulunya selalu tersenyum ramah dan penuh dengan keceriaan kini menjadi Seorang yang sangat Dingin dan sulit untuk tersenyum.
Ikut merasakan sakit dan sedih melihat kehidupan dari saudaranya yang kacau tak dan tidak bersemangat.