
Yuli terkekeh merasakan pukulan dari Sukma sahabatnya yang mana Sukma merasa sangat kesal karena sudah dikatakan sebagai mertua yang kejam mobil terus melaju dengan kecepatan rata-rata menembus gelapnya Malam, di mana di jalan banyak sekali kendaraan yang berlalu Lalang melewati jalan itu.
Di Rumah tampak Bara sedang duduk di Ruang Makan sedang menunggu makan malam bersama.
"Sayang..cepat kesini Aku sudah lapar Nih, " seru Bara berteriak dari dalam ruang makan berharap istrinya segera turun menemui dirinya untuk makan malam bersama.
"Sebentar Mas, Mikha lagi rewel dia tidak mau turun untuk makan, "
"Udah biarin saja dulu sini temani makan Aku sudah laper banget nih, entar Mikha biar Bik Sri yang urus, kalau masih rewel Nanti Aku yang tangani, "
Mendengar perkataan Suaminya akhirnya Vanessa turun dan meminta Mbak Sri untuk membawakan makanan untuk Mikha.
"Mbak Sri kamu turun ambilkan Mikha makan siapa tau Nanti dia mau makan entah ada apa dengan anak itu kenapa tiba-tiba ngambek dan marah padahal Aku tidak buat salah padanya, "
"Mungkin Non Mikha rindu dengan temannya yang di London Non, makanya marah kan disini sepi Non Mikha tidak punya teman satupun makanya marah-marah. "
"Bisa jadi sih Mba ya sudah ambilkan Mikha makan dan bawa keatas suapin dia jika mau, "
"Baik, Non, "
Bara menatap cemberut kepada istrinya yang baru saja turun dari dalam kamar putrinya yang mana Bara menilai sangat lama dan menjengkelkan, Vanessa hanya mengulum senyum ketika melihat tatapan mata dari suaminya yang terlihat kesal karena lama menunggu.
"Hmmm, Sudah ayo makan, " ujar Vanessa setelah mendudukkan bokongnya di kursi.
"Sayang lama sekali sih, apa kamu ngak kasian cacing di perutku pada bernyayi dan menggigiitku, "
"Hahaha, lama gimana sih Mas, baru juga sepuluh menit, Aku berada di kamar Mikha kon sudah dibilang lama. "
Bara nyengir mendengar perkataan Istrinya memang benar Vanessa baru sepuluh menittan berada di dalam kamar Mikha, akan tetapi entah mengapa Bara merasa sangat lama dan tidak sabaran, rasanya ingin selalu dekat dengan Istri.
"Bik, ambil yang banyak sekalian dua piring yang satu Nanti untuk kamu, ambil lauk yang banyak makanannya banyak jangan sungkan. "seru Bara pada Mbak Sri sang Pengasuhnya.
__ADS_1
"Iya, Pak."
" Lho Mas, kok minta dua piring kan Mbak Sri bisa makan disini bersama kita, "tanya Vanessa dengan penuh selidik pandangan matanya menatap tajam ke arah Bara sang suami, sementara Bara hanya tersenyum smrik melihat tatapan mata istrinya yang sedikit horor karena Vanessa menatap sambil melotot.
" Sayang, Aku jangan dipelototin dong, bik Sri kamu tidak apa-apa kan makan di atas bersama Mikha, kamu tau kan Mama tidak ada di Rumah dan bukankah ini kesempatan Aku bisa bersenang-senang dengan Istriku, "
, "Iya, Tuan tidak apa-apa, saya mengerti kok, "
"Tuh kan Sayang, Bik Sri saja mengerti kok kamu tidak bisa ngertiin Suami sih, "cicit Bara dengan senyuman mengoda sementara Vanessa menggelengkan kepalanya.
" Uh, dasar, laki-laki, "
"Ih, di omelin, berani omelin lagi ada hukumannya, lho gimana masih berani ngomelin Suami, "
"Apaan sih, emang dasar lebay, "
Bara menarik napas panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan dan dengan perlahan-lahan bangkit dari duduknya sementara Vanessa dengan santai duduk dan mulai menyeduh Nasi kedalam piringnya, ketika Vanessa meletakkan centong Nasi, Tiba-tiba Bara berbuat sesuatu yang membuat Vanessa terkejut hingga menjerit histeris, ternyata Bara sedang usilin sangat Istri dengan menarik Kursi yang diduduki istrinya kebelakang sehingga tubuh dan kursi yang Vanessa duduki Naik keatas.
Bara yang jahil sengaja menarik kursi kebelakang dengan posisi mengambang yang Artinya kursi itu tidak sampai menyentuh tanah sehingga tubuh Vanessa bagai berada diayunan.
"Turunkan, Aku bisa jatuh..? teriak Vanessa kesal benar-benar kesal.
"Ada syaratnya, bagaimana?
" Tidak mau cepat turunkan Aku ini pengecut namanya, "
"Tidak mau..? Bara menghilang perkataan dari Istrinya.
" Tidak mau, "
"Yakin, tidak mau, "
__ADS_1
"Pokoknya tidak mau cepat turunkan Aku. "
"Baik, tidak mau kan kalau begitu nikmati ini, "
Bara menggoyang ngoyangkan kursi yang di duduki istrinya, sudah pasti Vanessa menjadi panik dan takut.
"Hentikan jangan, "
"Ada syaratnya sayang, "
"Iya.. ya cepat hentikan dan katakan spa syaratnya, "
Bara segera menghentikan pergerakan tangannya yang menggoyangkan kursi istrinya.
"Sini peluuk Aku,"
Melihat istrinya diam tidak menjawab akan tetapi tatapan matanya seperti orang yang sedang mencibir, membuat Bara paham jika Istrinya ingkar janji.
"Tidak mau kan? Bara kembali meraih kursi istrinya sebelum Vanessa sempat turun dari kursi.
Melihat pergerakan suaminya yang sepertinya ingin mengerjainnya lagi, Vanessa segera berteriak.
" Iya.. ya Aku mau. "
Bara segera tersenyum menyeringai penuh kemenangan dan Vanessa sambil cemberut melangkah mendekati Suaminya yang sudah menunggu untuk di peeluuk.
Dengan berat hati akhirnya Vanessa melakukan apa yang diinginkan Bara suaminya, apa yang dilakukan Bara tidak lepas dari pandangan mata Mbak Sri yang kalau itu hendak Naik ke kamare atas terpaksa menghentikan langkah kakinya ketika mendengar Nona Vanessa nya berteriak dan ketika menoleh dan melihat semua karena ulah dari Tuannya, Mbak Sri hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Tuan sedikit berlebihan sangat terlihat sekali jika Tuan ingin selalu di manja dan di peeluuk Nona Nesa dan pepatah bilang bukan pepatah tapi kebanyakan orang bilang jika mencintai dengan sangat berlebihan Nanti akan merasakan sakit dan kecewa pada akhirnya dan dianjurkan untuk mencintai yang sewajarnya, tapi itu kan kata orang tapi banyak juga yang kejadian, smoga rumah tangga Tuan Bara dan Non Nesa selalu bahagia dan baik-baik saja, Diam-diam Aku juga takut, Aku khawatir kebahagiaan mereka ini tidak akan berlangsung lama, sudah Aku harus cepat Naik sebelum Tuan melihat Aku mengetahui kejahilaannya. "
Dengan cepat Mbak Sri langsung Naik ke kamar atas.
__ADS_1