
"Nggak, kan masih ada paman sama keluarga paman disini, Papa sama Mama kamu udah minta paman buat jagain kamu, jadi kamu tenang saja," hibur pria paruh baya itu, ia mengelus puncak kepala Filla dengan sayang, dunia memang memberikan apa yang kita takuti, untuk mejadikan kita kuat atau melemah seperti kapas.
"Makasih Paman," Filla melepaskan pelukannya dari orang yang sudah seperti papanya sendiri, bahkan ia tak mengenal pria paruh baya ini tapi entah mengapa pria ini seperti papanya. Pelukannya sama hangatnya dengan papanya.
"Iya, sekarang Papa sama Mamanya Filla mau dimakamkan," ujar pria itu sambil menatap sekilas tubuh kaku sahabat-sahabatnya.
Filla berusaha tegar, dihapusnya airmata yang membanjiri wajahnya, "Baik Paman, tolong makamkan orangtua Filla dengan baik," ucap Filla berusaha tersenyum dibalik rasa sakitnya.
Setelah proses pemakaman selesai, Filla dan paman Toni bergegas menuju rumah, disana sudah ada beberapa orang yang menunggu kedatangan Filla, mereka adalah beberapa orang dari pihak Bank dan kantor papanya. Entahlah, Filla tak tahu untuk apa semua ini, ia hanya menuruti paman Toni yang meminta ikut bersamanya.
"Nak Filla, beresin bajunya ya Nak, Filla harus ikut Paman ke Bandung disana kamu akan tinggal dengan Paman dan keluarga," ucap paman Toni sambil mengelus puncak kepala Filla.
"Sebentar Paman, tapi kenapa Filla harus ikut sama Paman? Ini rumah Filla, Filla nggak bisa ninggalin rumah ini," Filla bingung dengan ajakan paman Toni untuk tinggal bersamanya. Bagaimana bisa ia meninggalkan rumah yang menjadi satu-satunya kenangan bersama keluarganya.
"Tapi rumah ini sudah disita Filla, kamu nggak mungkin bisa tinggal disini," jelas paman Toni menatap rumah yang menjadi rumah sahabatnya.
Filla mengikuti pandangan paman Toni dan tanpa ia sadari sejak tadi tulisan rumah ini akan disita telah bertengger dipintu rumahnya, apalagi ini, setelah kedua orangtuanya meninggal, Filla harus menanggung beban yang lebih parah lagi, "Apa disita? Nggak mungkin, kenapa bisa disita?" Filla bingung sendiri, disatu sisi ia tak ingin mempercayai semua ini, tapi disisilain semua jelas nyata bukan mimpi atau hayalannya.
"Perusahaan Papa kamu ditipu dan mengalami kebangkrutan, rumah serta harta didalamnya semuanya disita. Dan karena ini Papamu bisa kecelakaan, selain mengejarmu yang kabur dari rumah, kecelakaan ini juga disebabkan kabar bangkrutnya semua perusahaan yang ia miliki," jelas paman Toni menatap Filla iba.
__ADS_1
Filla menatap tak percaya pada paman Toni, "Paman ..., paman jangan becanda, baru tadi aku dirumah dan Papa nggak bilang apa-apa," Filla benar-benar rapuh saat ini, ia tak punya siapapun tempatnya mengadu.
"Memang Papa kamu baru tahu saat dia mau cari kamu diperjalanan dan dia mengalami syok berat, dan bisa dipastiin hal ini yang memicu terjadinya kecelakaan Filla, kamu harus ikhlas, ini semua cobaan," Paman Toni mendekat dan menggosok punggung Filla yang sudah naik turun karena isak tangisnya.
"Paman ...," Filla merasa tubuhnya lemas dan terduduk dilantai. Filla begitu tak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi disini, dia hanya berharap bahwa semua ini adalah mimpi dan dia akan bangun dari mimpi buruk ini suatu saat nanti.
"Tapi Papa kamu sudah meninggalkan warisan untukmu, tapi jumlahnya tidaklah banyak Filla, hanya 100 juta, semua itu tidak disita karena sudah atas nama kamu, tapi harta lainnya semua disita hanya itu yang tersisa dan warisan itu bisa kamu ambil kalau kamu tinggal sama Paman Filla," Paman Toni membawa Filla berdiri, mengajaknya masuk kedalam rumah dan duduk diruang tamu, yang bahkan sekarang bukan rumah Filla lagi.
"Paman, aku nggak ngerti dengan semua ini, dan aku masih sekolah disini, dan hampir naik kelas, aku nggak mungkin ke Bandung sekarang. Itu nggak mungkin. Gimana aku harus mulai?" tanya Filla masih dengan isak tangisnya. Filla yang dulu keras menjadi sangat rapuh sekarang.
"Kamu tenang aja, Paman akan urusin semua itu kamu bakalan ujian ulang disana karena nggak mungkin kamu tinggal disini, Paman juga nggak punya rumah disini."
"Paman akan atur itu, kamu tenang saja Filla, nanti kamu sekolah disana selesaiin ujian dan Paman harap kamu bisa banggain orangtua kamu, karena disaat terakhir mereka mereka ingin kamu lulus ujian dengan nilai yang baik," ucap paman Toni tersenyum kearah Filla.
"Iya Paman maksih banyak," jawab Filla sambil memaksa dirinya tersenyum.
"Iya, sekarang beresin barang-barang kamu, kita ke Bandung," ucap paman Toni yakin.
******
__ADS_1
Jangan menyerah terlalu akrab dengan kesedihan, Karena semangat bukan hanya ada pada satu fase.
~~
Selama 2,5 jam menempuh perjalanan Jakarta-Bandung akhirnya Filla dan Paman Toni sampai di Bandung. Paman mengajak Filla masuk kedalam rumah, Filla menjadi sangat ragu karena dia merasa asing berada disini, tempat yang belum pernah dia bayangkan, tapi setelah masuk rumah, Filla disambut dengan senyuman oleh keluarga Paman Toni, disana ada seorang wanita paruh baya yang diketahui Filla pasti istri Paman Toni.
Banyak anak kecil disekitar perempuan paruh baya itu. Baru Filla ketahui bahwa Paman Toni memiliki sebuah panti asuhan yang mereka urus sendiri.
Rumah Paman bisa dibilang cukup besar, dan bisa dibilang dia keluarga yang bercukupan bahkan lebih dari kata bercukupan, Filla membalas senyuman mereka, ada rasa lega melihat senyuman mereka. Para anak kecil juga menatap Filla dengan ceria. Filla sempat risih berada didekat mereka yang belum Filla kenal. Bahkan sejak dulu Filla memang tidak begitu suka anak kecil. Tapi ia bertekat akan berusaha dekat dengan mereka. Karena mereka seperti papa dan mamanya yang juga berasal dari panti asuhan.
"Nak ayo masuk dulu, monggo kamu pasti kecapaian perjalanan cukup jauh kan?" ucap wanita paruh baya itu merangkul Filla masuk kedalam rumah dengan seyuman khasnya.
"Iya, makasih Tante," jawab Filla masih gugup.
"Jangan panggil Tante atuh, panggil aja Bunda, kayak adek-adek disini, semuanya manggil ibu itu Bunda," ucapnya membawa Filla duduk dikursi ruang tamu.
"Iya Bunda, makasih banget," ucap Filla senang, ia diterima disini.
"Yasudah, ayo Bunda anterin kekamar, kamu pasti capek itu," Filla mengikuti bunda masuk kesebuah ruangan yang cukup besar walaupun tak sebesar kamarnya dulu, dekorasi kamar itu cukup bagus dengan welpaper berwarna biru, asesoris dinding yang menarik, dan tempat tidur yang cukup besar dan tak lupa meja belajar serta lemari, sepertinya kamar ini baru dikosongkan, karena tidak ada barang apapun dikamar ini selain buku yang berjejer di rak-rak kecil yang tergantung didinding kamar, memberikan kesan yang istimewa saat masuk ke ruangan ini.
__ADS_1