
Filla dengan atasan putih dan rok biru muda selutut terlihat elegan ditemani sepatu biru yang senada dengan warna tas yang ia kenakan dan tak lupa polesan make up yang natural tapi menambah kecantikannya menuruni tangga, menghampiri mamanya yang sibuk didepan laptopnya.
Mama memang sering dirumah sejak Filla bangun dari koma, ia selalu menyempatkan diri berada dirumah melihat anak kesayangannya, walau ia harus membawa pekerjaannya kedalam rumah demi Filla.
"Ma, Filla berangkat kekampus dulu ya," ucap Filla saat berada disamping mamanya.
Mama mengalihkan pandangannya dari laptop dan melihat kearah Filla, "Yaampun, anak Mama cantik banget," ucap mama sambil memutar-mutar Filla.
"Mama," panggil Filla kesal melihat tingkah mamanya.
"Kamu kembali kayak Filla yang dulu, modis dan cantik," ucap mama sambil menatap kagum pada Filla.
Filla melipat tangannya didepan dada, "Jadi kemaren-kemaren Filla kampungan dan jelek gitu?" tanya Filla menatap mama sambil mempautkan bibirnya.
Mama tertawa dibuatnya, "Nggak, kemaren juga cantik, kamu mau diapain juga cantik sayang, kalau turunan Mama mah bisa apa, emang cantik dari orok," ucap mama dengan bangganya menyombongkan diri.
"Iya, iya, Mama yang paling cantik," ucap Filla.
"Mama nggak nyangka, semua barang yang Mama beli untuk kamu akhirnya bisa Mama lihat saat kamu memakainya, Mama seneng banget, Mama yakin dulu saat ini pasti akan terjadi, kamu pasti bangun, dan Alhamdulillah Tuhan mengabulkan doa Mama," ucap mama dengan haru.
Filla memeluk Mamanya, "Aku yang makasih, Mama selalu percaya aku bisa bangun dan nungguin aku bersama Papa, makasih Ma," ucap Filla memeluk mamanya erat.
Mama mengangguk sambil menciumi puncak kepala Filla penuh kehangatan.
"Yaudah, aku berangkat dulu," ucap Filla.
Mama mengikuti Filla sampai keluar rumah, tak hentinya tersenyum melihat Filla yang kembali ceria, "Kamu hati-hati jangan ngebut," pesan mama yang meraih anggukan kepala dari Filla.
"Siap Bos, Filla pergi dulu," Setelah menyalimi dan mencium tangan mama ia langsung masuk kedalam mobil Mercedes Benz hitam pemberian papanya, mobil ini sangat elegan dengan harga yang cukup fantastis, papanya tak tanggung-tanggung membelikan mobil ini untuknya saat ia berulang tahun padahal ia dalam keadaan koma saat itu.
Filla menjalankan mobilnya setelah melambaikan tangan pada mama, sambil tersenyum ia menyapa Pak Samsul, satpam rumahnya dan berlalu menuju kampus, tanpa ia ketahui, sepasang mata menatap kepergiannya dengan sedikit kekecewaan.
******
Sejak Filla memasuki gerbang kampus dan memarkirkan mobilnya diparkiran kampus, semua mata tertuju pada kehadirannya, Filla hanya tersenyum tipis melihat banyak orang yang sengaja menghentikan aktivitasnya hanya untuk memandangi mobil Filla dengan kagum, dia tahu pasti mereka adalah orang-orang yang melihat tingkat pertemanan hanya sebatas kekayaan bukan ketulusan.
Filla keluar dari mobilnya dan berjalan menuju gedung tempatnya biasa kuliah, masih saja banyak orang memandang kagum padanya,tapi saat ini bukan pada mobilnya tapi pada dirinya yang berubah derastis.
Seorang Filla bahkan kemarin-kemarin tak dipedulikan keberadaannya tapi sekarang menjadi pusat perhatian, wanita cantik ini membuat semua mata terpacu padanya, bagaimana tidak, Filla dengan postur tubuh yang ideal dan kulit putih pastinya membuat semua iri padanya, sayangnya kemarin-kemarin ia menyembunyikannya dengan penampilan sederhana, tapi kali ia Filla ingin terlihat, setidaknya bukan ingin disanjung tapi hanya sebatas dihargai.
__ADS_1
Filla berhenti tepat dianak tangga pertama ketika ia melihat Rasti menatap dengan wajah terkejut dianak tangga didepan sana, tanpa berpikir panjang Filla berjalan tanpa memperdulikannya, sampai tangannya dicekal Rasti.
Rasti memandangnya dari atas sampai bawah, "Bukannya lo udah bangkrut?" tanyanya penuh heran.
Filla menepis tangannya yang digenggam Rasti, lalu mengalihkan pandangannya dan menatap Rasti tepat dimanik matanya, "Bukan urusan lo!" ucap Filla lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Rasti hanya bisa menatap Filla penuh tanya dan sebal, bagaimana seorang Filla yang terlihat lusuh beberapa hari ini menjadi terlihat seperti seorang putri saat ini, benar-benar terlihat membingungkan, apalagi Filla datang dengan mobil yang bukan mobil main-main untuk datang dan membuat semuanya tertegun.
"Yaampun ini benaran temen gue," ucap Reya yang berlari menghampiri Filla, dan melakukan hal yang sama seperti dilakukan mama tadi pagi, memutar Filla berulang.
Filla mengenggam bahu Reya dengan kedua tangannya, "Stop, pusing gue," ucap Filla kesal.
Reya memundurkan langkahnya dan menatap Filla dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Pantesan semua orang didalem bilang kalau ada anak orang kaya yang pindahan, ternyata lo? Kaget gue, sumpah, mimpi apa lo bisa kayak gini?" tanya Reya tanpa jeda.
Filla hanya tertawa melihat tingkah Reya yang benar-benar terlihat kaget dengan penampilannya, "Mau aja, aneh nggak?" tanya Filla meminta pendapat Reya.
"Nggaklah, keren abis, udah gue bilang lo tu cantik, sumpah cantikan elo kalau gini, gue udah kayak upik abu," celetuk Reya.
Filla tertawa lepas mendengar celetukan Reya, "Berlebihan lo, tapi emang cantikan gue sih," ucap Filla.
Filla tertawa melihat kelakuan Reya.
"Sambil jalan kekelas aja, lo harus cerita kenapa bisa berubah dan dateng dengan mobil yang bikin semua orang merinding?" ucap Reya sambil bergidik ngeri.
Reya merangkul bahu Filla dan mereka berjalan menuju kelas sambil tertawa. Filla sudah tahu pasti jika reaksi Reya akan selebai ini, jadi ia sudah mempersiapkan diri.
Mereka masuk kedalam kelas, dan mata Filla dan Rangga bertemu, Rangga memang sejak tadi sudah ada didalam kelas, Filla mengalihkan pandangannya dari Rangga dan memilih duduk jauh dari Rangga, ia akan berusaha melupakan semua memori yang hanya miliknya sesuai permintaan Rangga.
Filla mengeluarkan buku catatannya dari dalam tas dan menyampirkan rambut yang menghalangi wajahnya dibelakang telinga, semua orang diruang ini juga menatapnya dengan kagum, banyak yang berbisik memuji Filla, tapi Filla berusaha untuk tidak mendengarnya dan memilih menatap ponsel dan memainkannya. Tanpa ia sadari sepasang mata hazel terus menatapnya penuh heran.
"Fill semua orang ngomongin lo," ucap Reya yang menggoyangkan tubuh Filla dengan tangannya.
"Gue tahu, udah sih nggak usah didenger," ucap Filla lalu kembali menatap layar ponselnya.
Reya masih menggoyangkan tubuh Filla, "Dan sekarang Rangga yang nggak lepas pandangan sejak kita masuk tadi," ucap Reya.
"Lo salah liat kali, udah diem, mending lo belajar," jawab Filla tak menggubris informasi dari Reya walau ia sangat penasaran, apakah benar Rangga memperhatikannya, ia harap itu hanya omong kosong dan Filla harap hatinya tak lemah dan menengok ke Rangga lagi.
__ADS_1
Reya mulai lelah dengan ocehannya yang tidak digubris Filla, akhirnya ia memilih menyudahi kekepoannya terhadap orang-orang yang ada didalam kelas, "Oiya, tumben lo nggak bawa sarapan buat Rangga, dan duduk jauh banget dari Rangga, kalian marahan?" tanya Reya mulai kepo.
Filla tersenyum kecut, "Emang gue sama dia kapan punya hubungan baik?" tanya Filla menatap Reya.
"Oke bagus, akhirnya lo sadar, bagus Filla, kemajuan pesat," celetuk Reya senang.
Filla hanya bisa menetralkan hatinya dan membenarkan kata Reya walau menyakitkan.
"Filla ya?" tanya seorang pria yang tidak Filla kenal, dan pria itu berdiri tepat didepan dirinya dan Reya.
Filla mengangguk mengiyakan, lalu memasang wajah penuh tanya, karena ia benar-benar tidak mengenal pria didepannya.
"Oiya, Rafael," ucap pria itu sambil mengulurkan tangan ingin berkenalan.
"Filla," ucap Filla menyambut jabatan tangan Rafael. "Ada apa ya?" tanya Filla akhirnya.
Rafael duduk di kursi yang berada didepan Filla, "Cuma mau balikin ini," ucap Rafael sambil memberikan kamera kepada Filla.
Filla baru ingat, ternyata pria didepannya adalah orang yang sama, yang ia temui 3 hari lalu di taman kampus, saat ia sibuk mencari bahan untuk makalah tugasnya, ia melihat pria ini sibuk memperbaiki kameranya yang terlihat rusak saat itu, dan tanpa berpikir Filla memberikan kameranya untuk dipakai pria itu.
"Oiya, gue lupa, makasih udah dibalikin," ucap Filla sambil mengambil kamera yang disodorkan padanya.
"Gue yang makasih, karena lo udah pinjemin kamera itu ke gue, gue nggak dimarahin dosen," jelas Rafael sambil tersenyum.
Filla membalas senyumnya, "Sama-sama."
"Sebentar, kamu kakak kelas kan? Jurusan fotografi, Rafael Morgan," ucap Reya tiba-tiba dengan semangat dan mata berbinar.
Rafael mengangguk mengiyakan, "Yaudah, gue balik ke kelas, makasih sekali lagi," ucapnya lalu melangkah pergi masih dengan senyuman saat meraih anggukan kepala dari Filla.
Reya kembali menepuk bahu Filla semangat, "Sumpah Filla, dia kakak ter hits di kampus ini, dan tadi dia ngomong sama kita, ahhhh," Reya dengan semangat dan mata yang masih berbinar melompat kegirangan.
Filla dengan cepat menarik Reya kembali duduk, "Malu tau, lebay banget sih, lagian dia cuma kakak kelas loh," ucap Filla saat Reya sudah duduk disebelahnya.
"Lo nggak ada seneng-senengnya gitu? Yaampun Filla, lo buta? Dia itu cogan plus kating kita yang ter the best," ucap Reya masih dengan kelebayannya.
Filla hanya mengalihkan pandangannya dan mengangguk malas, percuma berbicara dengan Reya yang memang sifat lebaynya sudah stadium akhir.
******
__ADS_1