Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 79


__ADS_3

Filla membuka mata dan mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan, ia mengerutkan alisnya, ruangan ini kamarnya, bukankah tadi dia berada ditaman belakang rumah sakit? Sekarang permainan apalagi?


Filla teringat mama dilepasnya selimut yang menutupi kakinya lalu berlari keluar dari kamar menuruni anak tangga.


"Papa," ucap Filla masih bingung dengan situasi yang ada.


"Kak, sarapan dulu, kamu dibangunin bukannya bangun malah tidur lagi," ucap papa sambil menikmati roti dengan selai coklat ditangannya.


Filla memegang kepalanya, situasi yang benar-benar membuatnya bingung, "Mama mana?" tanya Filla saat berada dihadapan papa.


"Mama didapur akak," jawab Tita yang tiba-tiba keluar dari dapur dengan segelas susu ditangannya.


"Mama udah sembuh?" tanya Filla sambil melihat keadaan mama yang berada dihadapannya.


"Sembuh apa kak? Mama nggak sakit," ucap mama bingung sambil melepaskan tangan Filla di bahunya dan menaruh roti yang sudah ia panggang diatas meja.


Filla mendudukan dirinya dikursi, menerjemahkan semua yang benar-benar tidak masuk akal.


"Kakak kenapa?" tanya mama penasaran dengan wajah Filla. yang seperti memikirkan banyak hal.


Filla tersenyum, mencoba menenangkan mama, sekarang bukan saatnya memusingkan hal tidak masuk akal ini, yang penting mama ada didepannya dan dalam keadaan sehat.


"Nggak apa-apa Ma, baru bangun masih linglung," ucap Filla sambil mengambil selembar roti.


"Gimana jalan-jalnnya kemarin? Kamu bilang ada dua temanmu saat SMA didalam mimpi," ucap mama antusias.


Filla mengerutkan kening, "Aku cerita sama Mama?" tanya Filla penasaran.


Mama mengangguk cepat, "Kamu bilang kalian nonton bareng dan jalan-jalan sampai malem," ucap mama sambil menyesap tehnya yang mulai dingin.


Filla menatap mama intens, "Rangga?" tanya Filla.


"Buat apa Kak kamu nanyain dia? Kamu bilang mau move on," ucap mama terlihat perubahan wajahnya karena membicarakan Rangga.


Filla mengerutkan keningnya, ia jadi bingung dengan ini semua, berarti tidak ada yang berubah sampai kemarin hanya Rangga yang tidak ada ditempatnya.


"Semalem aku pulang sama siapa?" tanya Filla penasaran, jika benar Rangga yang terhapus dari setiap kejadian Filla harus memastikan itu.


"Kamu lupa kak?" tanya mama penasaran.


"Tahu ah Kak, pikun ngalahin Papa," ledek papa.


"Papa jangan ngatain Akak," ucap Tita sambil mempautkan bibirnya.


Papa ikut membuat muka merajuk didepan Tita, "Tita cuma sayang Kakak," ucap papa sengaja menggodai Tita.

__ADS_1


Tita berjalan mendekati papa, "Bukan bejitu Papa, ndak boleh olok kakak, Tita cayang cemuanya," ucap Tita sambil memeluk pinggang papa.


Papa tertawa lalu mengusap berulang puncak kepala Tita.


"Jadi siapa yang pulang bareng aku?" tanya Filla menatap mama penuh harap.


Mama mengerutkan keningnya, "Reya dan Ola siapa lagi?"


Filla menyenderkan punggungnya kesenderan kursi, tebakannya benar Rangga terhapus dalam setiap kejadian yang Filla lalui bersamanya.


"Filla mau telpon temen-temen," ucap Filla sambil berlari kekamar, ia harus memastikan bahwa semua ini hanya perkiraannya.


Ola adalah orang pertama yang akan Filla hubungi, "Ola," panggil Filla cepat saat Ola sudah mengangkat telponnya.


"Halo Fill, ada apa? Pagi-pagi bener," ucap Ola terdengar sedikit tawanya.


"Gue mau nanya, kemaren kita jalan-jalan siapa aja yang ikut?"


Ola diam membuat Filla tak sabar menunggu.


"La," panggil Filla lagi tak sabaran.


"Eh iya, lo pikun atau gimana? Kita kemaren pergi sama Reya, Dinda dan Freya," ucap Ola.


"Rangga?" tanya Filla penuh harap.


"Iya La, lo udah kenalan kemaren," ucap Filla frustasi.


"Kapan kenalannya? Gue lihat dia aja baru pertama kali, lo ngigo pagi-pagi?" ucap Ola sambil tertawa diseberang.


Filla menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal, ia kesal dengan situasi yang akan ia hadapi terus menerus.


"Yaudah La, makasih," ucap Filla menyerah.


"Siap sama-sama," ucap Ola lalu panggilan terputus.


Filla menghela napasnya mencoba tenang dan berpikir positif, Reya, dia pasti inget, batin Filla.


"Fill, ada apa lo nelpon gue pagi-pagi?" tanya Reya dengan gaya santainya seperti biasa.


"La, kemaren Rangga sama kita kan?" tanya Filla penuh harap.


Reya diam sejenak, "Sejak kapan dia mau sama kita Filla, jangankan bareng kita, sarapan dari lo aja di kasih masuk ke perut ornag lain," ucap Reya.


"Kemaren dia sama kita Reya," ucap Filla kesal, mengapa hanya dia yang selalu mengingat hal yang terjadi.

__ADS_1


"Ngigo ni anak, katanya lo mau move on dari Rangga, baru juga 2 minggu gue bangga banget, eh sekarang balik lagi nih?" ucap Reya malas.


Filla menangkupkan wajahnya, semua terasa aneh, semua orang melupakan. "Yaudah deh, gue mau kerumah Rangga aja," ucap Filla.


"Bodoh banget ni anak, woy move on, lo-," Filla menutup telponnya sepihak, ocehan Reya bukan yang ia butuhkan sekarang.


Filla berlari menuruni anak tangga, sekarang hanya Rangga jawaban satu-satunya tentang pikirannya sekarang.


"Kak, sarapannya habisin," teriak mama.


"Nanti Ma," Filla tetap berlari, keluar dari rumah.


Filla melihat Rangga yang seperti biasa mencuci motornya dihalaman, terlihat baik-baik saja dengan wajah dingin dan tatapan tajamnya.


"Ngga," panggil Filla saat berada didekat Rangga.


Rangga menoleh malas, tatapan yang selalu Filla terima selama ini kembali, tatapan kesal dan muak melihat Filla berada didekatnya.


"Ngga, please jangan lupa juga," ucap Filla penuh harap.


"Lo ngomong apa sih? Mimpi lo? Gila kali pagi-pagi ni anak," ucap Rangga lalu berjalan meninggalkan Filla.


Filla tak bisa menahan airmatanya, kenapa cuma dia yang terkurung dalam kenangan ini, Filla tak mampu lagi melewati sikap Rangga, tak mampu lagi berjalan sendiri dengan ingatan yang hanya miliknya. Filla lelah.


Filla menghapus airmatanya lalu berbalik berjalan kembali masuk kedalam rumahnya.


"Kak kenapa nangis?" tanya mama menahan tubuh Filla saat Filla berlari masuk kedalam rumah.


Filla menggeleng, ia tak mau membuat mama khawatir.


"Kak, kenapa? Cerita Kak," mama memeluk Filla erat.


"Aku capek Ma, kenapa harus aku," ucap Filla menyesali setiap hal yang terjadi dalam hidupnya


"Rangga? Dia ngapain kamu?" tanya mama yang mulai kesal.


"Bukan dia Ma, aku yang gila," ucap Filla lalu meninggalkan mama.


Filla berlari menaiki anak tangga meninggalkan mama dengan teriakan khawatirnya, Filla terduduk didepan pintu saat berhasil menutupnya dengan keras.


"Kenapa aku?" tanya Filla dengan nada kesal yang terlihat jelas.


Filla menatap dreamcatcher dan bunga lily diatas meja riasnya, Filla dengan kesal berjalan lalu meraih keduanya dan melemparnya kesembarang membuat pot bunga lilynya pecah berkeping-keping.


"Kalian siapa? Bermain-main dengan hidupku," teriak Filla lalu terduduk dipinggir kasurnya, menyenderkan tubuhnya yang naik turun karena terisak.

__ADS_1


"Balikin hidupku," ucapnya lemah hampir tak terdengar.


******


__ADS_2