
Mereka menghabiskan banyak waktu di pasar malam, menjelajahi berbagai permainan setelah hujan reda, melupakan tentang semua yang terjadi dan menjadi diri sendiri. Setidaknya itu yang Filla janjikan untuk dirinya sendiri.
Mereka duduk disalah satu stand makanan cepat saji, Rangga menikmati burger sedangkan Filla hanya memesan jus alpukat kesukaannya.
Filla meronggoh sesuatu dalam tasnya, "Happy Birthday Ngga," ucap Filla sambil menyodorkan sebuah kotak pada Rangga.
Rangga mengerutkan kening, "Ulangtahun ku masih 3 hari lagi," ucap Rangga.
Filla mengangguk, "Gue kasih lebih cepat nggak apa-apakan?" ucap Filla sambil tersenyum.
Rangga mengangguk, "Rumah kita sebelahan, kamu bisa kasih kapan aja," ucap Rangga sambil mengambil kotak tersebut dari Filla.
Filla mengangkat kedua bahu lalu menyeruput jus alpukat miliknya, "Bisa aja nanti gue nggak bisa kasih langsung," ucap Filla.
Rangga mengangguk walau merasa heran, "Makasih," ucap Rangga.
"Dan ini," Filla meronggoh kembali tasnya lalu menyerahkan sebuah buku kecil pada Rangga.
"Untuk aku?" tanya Rangga.
Filla mengangguk, "Tapi jangan lo buka sekarang ya, itu semua yang tentang lo yang gue laluin di dunia mimpi," ucap Filla.
Rangga mengerutkan keningnya, "Aku inget semua, kenapa kamu kasih ini ke aku?" tanya Rangga heran.
Filla tersenyum, "Gue udah seharusnya nggak nyimpen itu dalam waktu yang lama, gue nggak bisa buang buku itu, jadi gue putusin buat kasih ke lo, setelahnya terserah mau lo buang atau lakuin apapun sama buku itu."
"Aku nggak mungkin buang la, kamu kenapa ngomong gitu? Kita udah baik-baik aja kan?"
Filla mengangguk, "Nggak apa-apa buat lo, tapi berat buat gue Ngga," ucap Filla tersenyum miris, Filla menghela napas menetralkan rasa sesak yang ia rasakan, yang ingin ia akhiri malam ini sangat berat untuk dikatakan.
"Maksud kamu?" tanya Rangga.
"Gue selalu mengatakan bahwa gue nggak bisa melupakan lo dan tanpa sadar selalu berharap, namun kali ini gue rasa gue tahu caranya pergi, dan menjadikan lo hanya sebuah masa lalu," ucap Filla sambil menatap mata Rangga dengan matanya yang berkaca.
"Kenapa harus lupain aku Fill? Kita nggak bisa kembali seperti dulu? Aku minta maaf selalu nyakitin kamu," ucap Rangga menahan tangisnya, dan Rangga dapat mengatakan sekali lagi hanya Filla perempuan yang bisa membuat matanya berkaca selain bunda.
Filla menggeleng, "Nggak bisa Ngga, kalau gue kembali, gue menghukum diri gue sendiri, banyak yang gue korbankan buat lupain lo," ucap Filla tersenyum getir.
Rangga menatap mata Filla, ia tidak bisa melihat ketidakseriusan didalam sana, hal yang sangat ia harapkan sekarang.
Filla mengulurkan tangannya, "Kita bisa berteman kan? Gue mungkin egois dulu selalu berharap lo berbalik namun kali ini jangan tolak ajakan pertemanan gue ya," ucap Filla memaksa senyumnya.
Rangga menatap tangan Filla tanpa berniat menyambutnya.
__ADS_1
Filla menurunkan tangannya lalu tersenyum, "Sepertinya ditolak lagi, makasih Ngga, ngajarin gue banyak hal tentang hidup," ucap Filla.
Rangga terdiam menunduk.
"Gue balik ya, lo hati-hati dijalan," ucap Filla beranjak pergi namun tangannya langsung ditahan Rangga.
"Aku anter," ucap Rangga menatap mata Filla.
Filla menggeleng, "Gue udah telpon supir gue," Filla meninggalkan Rangga, dirinya tersenyum saat berjalan menjauh dari Rangga.
"Kali ini kamu hebat," bisik Filla pada dirinya sendiri. Filla menghapus airmata yang membasahi pipi lalu benar-benar meninggalkan Rangga.
Rangga memukul meja membuat semua orang menatapnya, dirinya tak perduli dengan tatap tidak suka orang-orang disekitarnya, ucapan Filla seolah akhir dari harapan yang ia pupuk.
********
Rangga membuka matanya, ia baru bisa tidur subuh tadi, dirinya melihat jam weker yang ada diatas meja yang menunjukkan pukul 12 siang. Rangga mengambil handuk lalu masuk kedalam kamar mandi.
"Bang, Bunda udah pulang, cepetan entar lo diomelin," teriak Rafi yang masuk kedalam kamar Rangga dan menggedor pintu toilet Rangga.
"Sabar, baru juga gue masuk," teriak Rangga dari dalam.
Rafi menepuk pintu toilet Rangga, "Terserah lo gue nggak tanggung jawab," ucap Rafi lalu melangkah pergi meninggalkan kamar Rangga.
Rangga menghela napas, dirinya sangat malas melakukan aktivitas hari ini, ucapan Filla seolah berputar dalam otaknya.
Rangga menyempatkan diri melaksanakan sholat Zuhur sebelum turun kebawah.
*********
"Masih hidup Ngga?" ledek ayah yang sedang menikmati makan siang membuat yang lain tertawa mendengar ucapan ayah.
"Emang tu Yah, Bang Rangga baru bangun kebo banget lagi, dibangunin malah dia yang marah," adu Tiara.
"Udah, Ngga makan dulu, kamu nggak tidur semalem? Tumben bangun siang," ucap bunda sambil menyiapkan nasi untuk Rangga.
Rangga menghela napas lalu duduk disebelah ayah dan bunda.
"Lemes amat Ngga, kayak habis putus cinta aja," ledek ayah.
Rangga tak menggubris, hanya mengunyah dengan malas makanan yang disiapkan bunda.
"Udah Ayah, emang suka banget ledekin anak," ucap bunda.
__ADS_1
"Kan emang putus cinta Ayah, kemaren berantem sama Kak Kania," ucap Rafi.
"Kenapa pada resek sih?" ucap Rangga sambil menatap tajam Rafi.
"Ya maaf, kan fakta," ucap Rafi.
"Udah, entar malah berantem, Bunda nggak suka ya," ucap bunda.
"Bunda, Riko udah selesai makannya, boleh kerumah Tita?" tanya Riko.
Bunda mengangguk, "Yaudah sana, Titanya di hibur Ko bukan diajak berantem," ucap bunda mengingatkan.
"Siap Bunda, Riko kasihan sama Tita, nggak bisa ketemu Kak Ila," ucap Riko, memang dirinya terbiasa memanggil Filla dengan sebutan Kak Ila sejak kecil.
Rangga mengerutkan kening, "Emang Filla kemana?" tanya Rangga.
"Kamu nggak tahu Ngga?" tanya bunda heran, sedangkan Rangga menggeleng. "Bunda kira kamu tahu, makanya bunda nggak bangunin tadi pagi," ucap bunda sambil menyendok makanan untuk dirinya setelah mengurus adik-adik.
"Jadi Filla kemana?" tanya Rangga tak sabar.
"Filla lanjutin kuliah ke Milan, dia keterima di beasiswa kampus seperti kamu, bukannya kamu udah tahu? Kan pengumumannya berbarengan," ucap ayah.
Rangga terbelalak, "Sekarang Filla dimana?" tanya Rangga sambil berdiri.
"Ya udah berangkat Ngga, jam 7 tadi take off pesawatnya," ucap bunda menatap heran Rangga.
"Kenapa nggak ada yang kasih tahu Rangga?" tanya Rangga sambil mengusap kasar wajahnya.
"Bunda kira kamu udah tahu, bukannya semalem kalian jalan-jalan? Bunda kira itu perpisahan," ucap bunda.
Rangga berlari menaiki tangga meninggalkan bunda dan ayah yang memanggil Rangga dengan heran.
Rangga masuk kedalam kamar dan mencari ponselnya, Rangga dengan cepat menelpon nomor Filla namun nihil, nomor Filla tidak aktif.
"Filla aku mohon," ucap Rangga frustasi terus menghubungi Filla walau ia tahu hasilnya akan tetap sama.
Rangga melempar ponselnya keatas kasur lalu berjalan cepat mengganti baju dan mengambil jaket dan keluar dari dalam kamar setelah mengambil ponsel yang sempat ia lempar.
*******
Hallo semuanya apa kabar? gimana? 🤗 Semoga suka ya, Btw makasih banyak yang udah tinggalin komen, like dan dukungan lainnya...😍
Aku baca semua masukan dan komen kalian, jadi jangan ragu buat tinggalin jejak ya baik saran ataupun kritik tapi yang membangun ya hehheh 🥰 karena aku seneng banget baca-bacain satu persatu.
__ADS_1
Selamat membaca.....