
Hari ini kafe sangat ramai pengunjung, Filla agak sedikit kewalahan karena ada beberapa pegawai yang tidak bisa masuk kerja jadilah ia seperti bekerja double sekarang. Bekerja di Singapura membuat Filla sadar bagaimana susahnya mendapatkan uang yang bahkan dulu ia habiskan dalam sekejab, sekarang ia harus bekerja sebulan agar mendapatkan gaji untuk biaya hidup, kuliah dan Apartemennya.
Ia tergolong beruntung, mana ada Apartemen di Singapura yang disewa seharga itu jika pemiliknya bukan sahabat ayah. Ia beruntung mendapat keringanan dari biaya Apartemen.
Filla harus pandai mengatur waktu, siang ia akan fokus kuliah disampingi dengan pekerjaan part time sebagai pengatar pizza dan dimalam hari dengan pelayan kafe.
Melelahkan pastinya, hanya istirahat yang selalu menjadi impiannya. Sekarang ia tahu rasanya susah, walau bunda dan ayah akan selalu menawarkan bantuan tapi Filla selalu menolak dengan halus karena ia tidak bisa selalu bergantung pada ayah dan bunda yang tentunya juga membiayai Rangga.
Dari dua pekerjaan yang dia lakukan ia bisa membayar sewa Apartemen, mencukupi biaya hidup dan mengumpulkan uang semester tiap bulannya, bukan perkara mudah melakukan semua ini, tapi tekat dan keyakinan akan membuat semangat sekecil apapun menjadi batu loncatan keberhasilan.
"Fill, kamu beresin meja depan ya, sebentar lagi kita tutup," ujar Iren salah satu pelayan kafe juga, Irene adalah teman Filla saat bekerja, ia tipikal orang yang mudah berteman dan dekat dengan siapapun. Iren yang pertama kali menegurnya saat pertama kali bekerja di kafe, Iren adalah mahasiswa semester 4 yang juga bergantung hidup dengan pekerjaan part time, sama halnya dengan Filla, Iren juga berasal dari Indonesia.
Filla mengangguk, "Oke Ren, Oiya Ren gimana presentasi kamu kemaren? Sukses?" tanya Filla sambil membersihkan meja, sekarang kafe sudah sepi karena sudah waktunya tutup, jam sudah menunjukkan pukul 12 malam.
"Syukur Fill, aman, kemaren sempet deg-degan banget karena dosennya kiler, tapi ternyata aku dapet A dipresentasi kali ini, ini juga berkat kamu yang ngasih ide," ucap Iren dengan semangat.
"Nggak lah, aku cuma kasih ide, kan kamu yang ngembangin semuanya sampai sebagus itu," ucap Filla sambil berpindah membersihkan meja yang lain.
"Pokoknya makasih lah sama kamu," seru Iren melemparkan senyum pada Filla. "Oiya, aku boleh nanya gak sih Fill? Tapi jangan marah ya," ucap Iren sambil menatap Filla yang berbalik menatapnya.
"Tegang amat, santai aja Ren, tanya aja kalau bisa aku jawab pasti aku jawab," Filla duduk di salah satu kursi karena ia sudah menyelesaikan pekerjaannya, tinggal Iren yang masih sedikit lagi.
Iren menyampirkan rambutnya kebelakang telinga, "Aku cuma penasaran sama cowok yang sering sama kamu, itu pacar kamu? Udah 4 bulan kamu kerja disini dan aku nggak berani nanya," aku Iren sambil cengengesan.
Filla tersenyum, "Bukan, dia udah kayak saudara lah, Papa sama Mama aku dulu temenan sama Ayah dan Bundanya dia, dan karena keharusan aku tinggal sama keluarga dia dan kami kayak adik kakak nggak lebih," ucap Filla, entahlah saat ia mengucapkannya sebagian hatinya menolak. Tapi ditepisnya perasaan aneh itu, ia tak ingin perasaan itu akan berakibat buruk bagi hubungannya dengan Rangga.
Iren mengangguk, "Oh, aku kira pacar kamu karena kalian cocok, dan cowok itu juga ganteng banget," celetuk Iren.
__ADS_1
"Ye, mulai lagi cepet naksirnya kumat. Sama Adit nggak jadi?" olok Filla sambil menyenggol bahu Iren.
"Kelaut itu mah, mati satu tumbuh seribu," celetuk Iren sambil tertawa.
Filla hanya bisa tertawa melihat tingkah Iren, gadis satu ini sangat cepat menaruh hati pada pria manapun yang mengalihkan dunianya, dan itu tak akan bertahan lama, Filla ingat jelas jika Iren menyukai Adit pengantar bunga yang sering mengantar bunga untuk hiasan kafe kemarin, dan sekarang Rangga sasaran selanjutnya.
******
Saat aku rasa punya harapan akan menjadi istimewa
Tiba-tiba kau buat semuanya jadi temaram.
~~
Hujan mendominsi siang yang tadinya terik, kafe tidak begitu ramai hanya ada beberapa meja yang terisi, sepertinya mereka juga menunggu hujan berhenti, musik mengalun mengiringi tetesan hujan yang sesekali mengenai kaca jendela, Filla duduk disana, ditempat dimana hanya pegawai yang ada disana. Tidak ada yang ia kerjakan, teman kerjanya yang lain juga duduk disekitarnya.
"Rangga lagi ngapain ya?" tanyanya pada diri sendiri sambil menatap hujan dan menulis acak dikaca yang berembun.
"Fill, meja 5 butuh pelayan," ucap Rafli mendekat pada Filla dengan nampan yang ia bawa, sepertinya habis mengantarkan pesanan.
Filla mengangguk lalu menghampiri meja yang dimaksud Rafli.
Langkahnya terhenti saat melihat dua orang ada di meja nomor 5, salah satunya ia kenal, pria itu tertawa lepas sambil merapikan rambut perempuan didepannya, sepertinya mereka baru saja menembus hujan terlihat dari pakaian dan rambut mereka yang basah. Filla menatap Rangga, baru ia sadar Rangga tak pernah tertawa lepas bersamanya, tak pernah menatapnya lebih dari seorang saudara seperti bagaimana Rangga menatap gadis didepannya.
Filla mendekat pada mereka yang sibuk saling merapikan rambut satu sama lain, "Hmm," tegur Filla yang membuat keduanya berhenti lalu menatapnya. "Mau pesen apa?" tanya Filla sopan. Ia tak mengenal gadis yang bersama Rangga, gadis itu sangat putih dan cantik menurutnya.
"Fill, biasa ya," ucap Rangga akrab seperti biasanya. "Kamu apa Bi?" tanya Rangga pada gadis itu yang masih sibuk menatap menu.
__ADS_1
"Samain aja deh Ngga," ucapnya lalu memberikan buku menu kembali pada Filla.
Filla mengangguk paham, "Ditunggu," ucapnya sopan lalu berlalu meninggalkan Rangga yang kembali bercanda bersama gadis yang bahkan Filla hanya tahu nama panggilannya tadi.
Rangga belum pernah mengenalkan gadis manapun pada Filla, dan Filla sangka Rangga juga punya rasa yang sama sepertinya, tapi melihat tawa Rangga saat ini sepertinya semua itu hanya angannya, ia dan Rangga tetap saudara tak akan pernah lebih.
"Ini pesanannya, silakan menikmati," ucap Filla setelah meletakkan pesanan Rangga dan gadis itu diatas meja.
"Eh Fill, kenalin ini Vebi, dia dijurusan yang sama kayak gue, dia juga dari Jakarta," ucap Rangga akhirnya mengenalkan Vebi padanya.
Filla mengulurkan tangan dan disambut Vebi sambil tersenyum. Mereka menyebutkan nama masing-masing.
"Oiya Bi, Filla ini saudara aku," ucap Rangga menjelaskan. "Fill, lo kerja sampai jam berapa?" tanya Rangga sambil mengunyah makanannya.
"Kayak biasa, sekitar jam 10," ucap Filla sekenanya.
Vebi menatap Filla lekat, "Setiap hari pulangnya kayak gitu? Lo nggak takut gitu? Atau kenapa sih mau kerja jadi pelayan, emangnya uang dari ortu kurang?" tanya Vebi sambil menatap Filla.
Filla menatap Vebi lekat lalu memilih tersenyum walau hatinya sakit, pertanyaan itu seperti merendahkannya, terlihat jelas dari tatapan Vebi, "Nggak ada yang perlu ditakutin, gue bukan kekurangan tapi emang harus kerja karena gue biayain semuanya sendiri," tekan Filla. "Yaudah kalau nggak ada lagi yang diperlukan, gue permisi," pamit Filla lalu berlalu tanpa memperdulikan tatapan Rangga padanya.
Filla baru saja menaruh nampannya diatas meja, tangannya ditarik oleh seseorang dan membawanya ke dinding, "Fill, kenapa gitu banget dah sama Vebi? Dia cuma nanya," ucap Rangga saat setelah melepas genggamannya dari tangan Filla
Filla menatap Rangga malas, "Dan gue cuma jawab," celetuk Filla sekenanya.
"Kenapa sih? Ya jangan judes gitu lagi, lo tuh ketahuan banget dingin sama dia tadi," tuduh Rangga lalu menatap Filla tepat dimanik matanya.
Filla mendorong Rangga menjauh yang sejak tadi mengurungnya, "Lo yang kenapa? Lo nggak berhak ngatur gimana gue harus bersikap, dan inget. Gue cuma ngembaliin apa yang udah gue terima," tegas Filla lalu berlalu meninggalkan Rangga yang masih diam.
__ADS_1
******