
Rangga memarkirkan mobil milik Filla didepan garasi, hujan masih setia turun dengan rintik yang senada.
Filla merapatkan jaket milik Rangga pada tubuhnya saat keluar dari dalam mobil, dirinya masih canggung dengan situasi yang bahkan sudah cukup berlalu.
Rangga ikut keluar sambil mengibaskan rambutnya yang masih basah, "Nih," Rangga menyodorkan kunci mobil pada Filla.
"Makasih, jaket lo, gue cuci dulu, lusa gue balikin," ucap Filla saat meraih kunci mobil dari tangan Rangga.
Rangga mengangguk tanpa membantah.
Filla menaikkan kedua alisnya saat mendapati Rangga tak juga beranjak, "Lo nggak pulang?" tanya Filla heran.
Rangga menaikkan kedua alisnya, "Ayo," ucap Rangga.
Filla mengerutkan dahinya, "Ayo? Ngapain?" tanya Filla tak mengerti maksud ajakan Rangga.
"Kamu nggak buka ponsel? Malam ini papa, mama dan Tita, mendadak harus berangkat ke Jakarta karena urusan bisnis."
Filla langsung meronggoh ponselnya yang berada didalam tas yang sejak tadi dirinya pegang, "Bukan harusnya minggu depan?" tanya Filla tanpa menoleh pada Rangga.
"Harusnya iya, tapi dipercepat hari ini."
Filla menghidupkan ponselnya yang sengaja dirinya matikan karena daya yang tinggal 20 persen. Benar saja saat membuka ponsel, notifikasi pertama yang muncul adalah dari papa dan mama.
Filla membulatkan mata saat membaca pesan terakhir sebelum ditutup dengan emoticon love dari mama. Dirinya tanpa sadar langsung menatap Rangga.
"Makanya, ponsel itu harus selalu di cek," ucap Rangga. "Bener kan?"
Filla menghela napas, "Yaudah, lo pulang aja, gue bisa dirumah sendirian kok, lagian ada pak Hafidz," ucap Filla sambil menoleh pada pos jaga didepan sana.
"Malam ini ada pemadaman listrik bergilir, kamu seriusan berani didalam rumah sendirian? Atau mau gabung jaga sama pak Hafidz, secara kan Bi Surti lagi cuti."
Filla menatap Rangga sebal, ucapan yang dikatakan Rangga benar namun membuatnya kesal sekarang, bagaimana bisa kedua orang tuanya meminta Filla tidur dirumah Rangga, padahal tahu hubungannya dengan Rangga tidak begitu baik.
"Udah, tidur dirumah aja, lagian kamarku masih bisa di ambil alih," ucap Rangga sengaja menyindir sambil melipat tangan didepan dada.
Filla menghela napas, tidak ada pilihan lain selain mengiyakan ucapan Rangga atau akan ketakutan karena pemadaman listrik nantinya.
"Ayo," Rangga menarik tangan Filla tanpa menunggu persetujuan Filla sedikitpun.
Filla melepas genggaman tangan Rangga pada pergelangan tangannya, "Iya gue ikut, tapi nggak perlu pegangan," ucap Filla lalu mendahului langkah Rangga.
__ADS_1
Rangga hanya mengangguk, lalu berjalan mengikuti Filla dibelakang.
Filla melepas sepatunya saat berada diteras rumah Bunda, menyusun sepatunya pada rak yang sudah disiapkan didepan, diikuti Rangga setelahnya.
Rangga mendahului Filla membuka pintu, "Assalamualaikum," ucap Rangga ketika menginjakkan kaki masuk kedalam rumah.
"Assalamualaikum," ucap Filla.
"Waalaikumsalam," ucap ayah dan bunda berbarengan.
"Cepet banget pulangnya Kak? Bunda pikir sekitar jam 10-an," ucap bunda yang duduk diruang keluarga bersama ayah.
Filla dan Rangga menyalami bunda dan ayah bergantian.
"Nggak Bun, Filla cuma ketemuan sama Reya bentar," Filla mendudukkan diri disebelah bunda.
"Loh, Bunda pikir sama Rangga," ucap bunda sambil menoleh pada Rangga.
Rangga duduk disebelah ayah, "Rangga cuma jemput Filla aja Bun, sesuai perintah mama mertua," ucap Rangga sengaja ingin membuat Filla salting.
Bunda dan ayah ikut tertawa.
Filla membulatkan mata menatap Rangga, lalu dirinya menatap tajam Rangga, seolah memberi peringatan.
"Tanya sama orangnya dong Yah," Rangga menaikkan kedua alisnya berulang membuat bunda dan ayah tertawa, sedangkan Filla berusaha tersenyum walau merutuki ucapan Rangga.
"Yaudah, anter Filla ke kamar kamu Ngga, nanti kamu tidur sama Aza aja," ucap bunda.
"Nggak usah repot-repot Bun, Filla bisa tidur dikamar Adek-adek," ucap Filla.
Bunda menggeleng, "Jangan Kak, nanti Kakak malah tidurnya nggak nyenyak, udah nggak usah nggak enakan sama Rangga, pake aja kamarnya," ucap bunda sambil mengusap punggung Filla.
Filla hanya tersenyum.
"Berapa hari Kak mereka di Jakarta?" tanya ayah.
"Paling cepet tiga hari Yah, tapi bisa aja semingguan," ucap Filla.
"Papamu itu memang sibuk Kak, dari masih bujangan sampai sekarang dia nggak pernah capek kalau menyangkut kerjaan."
"Iya Yah, mama sering banget nyeletuk harusnya papa nikah aja sama dokumen-dokumen dan laptopnya," ucap Filla membuat yang lain tertawa.
__ADS_1
"Bener itu kata mamamu, tapi yang bikin Bunda bangga, papa sama mamamu nggak pernah bisa pisah, sekarang aja mamamu masih harus ikut kemanapun papamu pergi," ucap bunda.
Filla tersenyum, "Iya Bun, sampai bela-belain ninggalin Filla sendirian dirumah," ucap Filla bercanda membuat yang lain tertawa.
"Yaudah Bun, Yah, Rangga anter Filla dulu ke kamar," ucap Rangga yang meraih anggukan bunda dan ayah.
"Filla duluan ya Bun, Yah," ucap Filla yang juga meraih anggukan kepala dari keduanya.
Filla mengikuti langkah Rangga menaiki anak tangga sampai ia juga ikut berhenti ketika Rangga berhenti didepan pintu kamar.
Hampir 8 tahun Filla tak pernah lagi melihat pintu kamar yang dulu bahkan jadi kamarnya. Sejak bangun dari koma dan hanya dirinya yang ingat, Filla harus mengasingkan diri dari setiap sudut rumah Bunda, Filla hanya membatasi dirinya berkeliaran dilantai bawah, dan malam ini ia kembali pada ingatan yang sangat ingin dirinya lupakan.
Rangga mengayun kenop pintu lalu membiarkan pintu terbuka lebar, "Kamu langsung tidur aja, kalau butuh apa-apa telpon atau panggil aku, aku ada disebelah."
Filla hanya mengangguk sambil merapatkan jaket Rangga pada tubuhnya.
Rangga tersenyum lalu masuk kedalam kamar membuat Filla menatap heran.
Filla pikir Rangga akan meninggalkannya setelah mengatakan itu, namun Rangga malah masuk kedalam kamar dan membuka lemari.
Rangga berjalan sambil membawa baju dan celana ditangannya sambil tersenyum lalu menyodorkannya pada Filla.
Filla mengerutkan keningnya, tak mengerti maksud Rangga, atau dapat dikatakan otaknya menolak untuk berpikir jika berada dekat dengan Rangga.
"Ganti baju, kamu nggak mungkin kan pakai baju basah itu sampai besok," ucap Rangga sambil melihat pakaian Filla yang mulai sedikit mengering.
Filla merapatkan jaket pada tubuh, "Jangan banyak liat," ucap Filla membuat Rangga tertawa.
"Aku udah lihat tadi," Rangga menepuk bahu Filla lalu berjalan melalui Filla dan masuk kedalam kamar sebelah.
"Rangga ...!" teriak Filla kesal, namun yang terdengar hanya suara tawa Rangga dari dalam sana.
Filla menghentakkan kaki lalu masuk kedalam kamar dan mengunci pintunya. Dirinya menghembuskan napas, berusaha tenang.
Filla tersadar, sekarang dirinya berada didalam kamar, tempat dimana dulu Filla bahkan tidak boleh menginjakkan kaki disini, tempat yang selalu Rangga kunci saat dirinya datang bertamu.
Aroma Rangga menyeruak mendominasi ruangan, Filla menarik napas, aroma ini adalah aroma yang sangat ia suka dulu, namun sepertinya masih sampai sekarang.
Filla mulai melangkah memandangi tiap sudut ruangan, masih sama seperti sebelumnya, kamar Rangga adalah kamar laki-laki terapi menurut Filla walau laki-laki dalam hidup Filla ya hanya papa dan adik-adik panti.
Kamar dengan warna coklat susu mendominasi dinding, seperti layaknya kamar pria, tentu kamar Rangga dipenuhi miniatur motor dan beberapa gitar.
__ADS_1
"Gimana bisa move on kalau kayak gini?" Filla mengacak rambutnya sendiri, lalu mendudukkan diri pada pinggiran ranjang Rangga.
*******