
Dengan baju santai mereka semua keluar dari dalam Vila, kali ini mereka berangkat bersama, tidak ingin seperti kemarin piknik gagal dan membahayakan banyak orang termasuk Filla.
"Akhirnya jadi piknik," ucap Ola membuat yang lain tertawa.
"Makanya kalau dibilangin bareng, nurut aja, entar jadi kayak kemaren, sok-soan mandiri malah susah sendiri," ledek Jiel sambil memegang kepala Ola.
Ola melipat kedua tangan, "Terus aja diungkit," ucap Ola mulai kesal, karena sejak kemaren yang diucapkan Jiel hanya itu-itu saja.
Jiel hanya tersenyum sambil mencubit gemas pipi Ola yang selalu menghindar.
"Berangkat sekarang?" tanya Rangga yang diangguki yang lain.
Mereka semua masing-masing menenteng perlengkapan piknik, mulai dari makanan, panggangan dan lain sebagainya.
"Eh Hai," sapa seseorang membuat semua menoleh dan mengerutkan kening, termasuk Filla.
"Kania?" ucap Reya membuat Ola dan Iren saling pandang, mereka berdua teringat obrolan Filla tentang wanita didepan mereka sekarang.
"Kalian liburan disini juga? Wah kebetulan, gue di vila sebelah," ucap Kania santai sambil menunjuk Vila yang berada tepat disebelah Vila mereka.
"Mantan Rangga?" tanya Ola pada Reya sambil berbisik.
"Hush," Reya menyenggol tubuh Ola pelan.
Kania menoleh pada Filla dan Rangga yang tepat berada disebelahnya, Rangga masih sama dengan wajah dinginnya, "Selamet buat kalian berdua, sorry nggak bisa dateng waktu itu," ucap Kania sambil mengulurkan tangan.
Filla melirik pada Rangga yang wajahnya berubah derastis, Rangga hanya menoleh malas pada uluran tangan Kania.
Kania mengangkat kedua alisnya.
Filla akhirnya menjabat tangan Kania, membuat Rangga menoleh, "Makasih," ucap Filla sekenanya.
"Sorry ya, gue sebenernya pengen dateng, cuma sibuk banget."
Reya memutar bola mata malas, melihat sikap Kania sekarang, entah kenapa Reya merasakan penuh kecurigaan.
"Ya nggak papa, sorry juga lupa ngundang," ucap Rangga sarkas, bisa dibayangkan bagaimana ucapan itu keluar dari mulut Rangga namun dengan wajah tanpa ekspresi.
Ola menahan tawanya, bukan hanya Ola, semua yang mendengar ucapan Rangga menahan tawa mereka dengan menutup mulut rapat, "Jangan jujur juga Ngga," ucap Ola.
Kania sempat kesal dengan ucapan Rangga namun kembali tersenyum seolah tidak ada yang terjadi, "Yaudah, kalian mau piknik? Gue duluan," ucap Kania yang meraih anggukan dari yang lain.
__ADS_1
Kania berjalan meninggalkan rombongan Rangga.
"Malu tuh pasti," ucap Ola pelan diiringi dengan tawanya membuat yang lain ikut tertawa.
"Udah yuk, entar kesiangan," ucap Filla menengahi.
Tanpa mereka ketahui Kania berhenti melangkah dan menoleh pada mereka, bisa dibayangkan bagaimana wajah licik Kania, "Sekarang gue biarin kalian ketawa," ucapnya lalu berjalan masuk ke dalam Vila.
******
Mereka sampai diarea piknik, semua langsung sibuk mempersiapkan barang-barang yang mereka bawa, mulai dari panggangan, tikar dan lain sebagainya.
Filla dan Rangga kebagian memanggang daging sejak lima menit yang lalu.
Rangga menyenggol bahu Filla membuat Filla menoleh, "Kamu cemburu karena tadi ada Kania?" tanya Rangga.
Filla mengerutkan kening, "Nggak, biasa aja," ucap Filla lalu kembali mengipas sate yang sedang ia panggang.
Rangga menghela napas, "Nggak bisa bilang cemburu aja gitu?" ucap Rangga kecewa.
Filla melirik pada Rangga, lalu senyum terlihat diwajahnya, "Buat apa cemburu, cemburu cuma buat orang yang nggak percaya diri, dan aku percaya diri, aku lebih cantik," ucap Filla sengaja mengibas rambutnya.
Rangga tertawa, "Percaya diri yang berlebihan," ucap Rangga sambil mengacak rambut Filla.
"Bilang aja iri," ucap Rangga.
Samuel tertawa, "Hati-hati Fill, suami lo tuh sering fotoin lo diem-diem," ucap Samuel lalu membawa minuman meninggalkan Rangga dan Filla, dirinya sengaja menjahili Rangga.
Rangga menatapnya dengan tatapan tajam, "Resek lo," teriak Rangga yang hanya meraih lambaian tangan jahil dari Samuel, bagaimana bisa sahabatnya yang satu itu membocorkan hal klise itu pada Filla secara langsung padahal dirinya menekankan untuk tidak pernah membahasnya.
"Masih?" tanya Filla serius.
Rangga menaikkan kedua alis, seolah bertanya maksud pertanyaan Filla walau sudah tahu arah pembicaraannya.
"Fotoin aku diem-diem, kamu benaran psikopat jangan-jangan," ucap Filla bergidik ngeri sambil menatap Rangga curiga.
"Kejauhan mikirnya, ya kenapa nggak boleh? Kan fotoin istri sendiri," ucap Rangga santai walau dirinya salah tingkah sebenarnya.
"Istri apaan? Waktu sebelum jadi istri juga foto-foto aku tanpa izin," ucap Filla tak mau kalah.
"Ya kan dulu, fotoin calon istri sendiri," ucap Rangga.
__ADS_1
Filla menampar lengan Rangga, "Ngeles aja terus, udah ah aku mau ketoilet," Filla melepas celemek yang dipakaikan Ola padanya tadi.
"Aku temenin," Rangga meletakkan kipas dan capit pembalik sate.
Filla menggeleng, "Kamu panggang aja, aku cuma bentar," Filla berjalan meninggalkan Rangga setelah meraih anggukan dari Rangga.
Filla berjalan menyusuri sedikit turunan, dirinya sempat kagum mendapati toilet yang cukup bagus untuk keberadaan didalam hutan, walaupun kecil toilet ini terlihat nyaman.
Tidak butuh waktu lama dirinya keluar, Filla membenarkan kaosnya yang sengaja dimasukkan kedalam celana jins.
"Filla kamu disini?" tanya seseorang membuat Filla mengangkat wajah.
Filla mengerutkan kening saat mendapati Rafael dihadapannya, bagaimana bisa ditempat ini dirinya menjumpai Rafael.
"Aku lagi liburan, Kakak sendiri?" tanya Filla bingung.
"Sama, nggak nyangka bisa ketemu disini, kamu sama siapa?" tanya Rafael sambil mengedarkan pandangan.
"Sama temen-temen dan ...," belum sempat Filla menyambung kalimatnya, Rafael memotong.
"Jangan bilang sama suami lagi, aku nggak percaya," ucap Rafael sambil tersenyum. "Aku masih kepikiran sampai sekarang setelah ucapan kamu waktu itu, kayak mustahil aja tiba-tiba nikah," ucap Rafael lalu tertawa.
"Emang gitu kenyataannya Kak, Rangga suami aku," ucap Filla serius.
Rafael terdiam, "Kamu serius?" tanya Rafael, terlihat jelas dirinya kecewa dengan pernyataan Filla.
Filla mengangguk.
"Fill," Rafael memegang tangan Filla membuat Filla tersentak.
"Kak ini nggak bener," Filla berusaha menarik tangannya namun Rafael memegangnya erat.
"Kamu tahu kan aku suka sama kamu sejak lama, bilang sama aku ini nggak bener," ucap Rafael memaksa.
"Kak lepasin, aku serius Rangga suamiku sekarang," ucap Filla mulai risih.
Rafael menarik Filla dalam pelukannya, walau Filla memberontak namun Rafael tetap mempertahankannya, "Kamu harus tahu aku suka kamu sejak lama, aku berusaha untuk mempersiapkan diri untuk dateng dalam keadaan mapan ke hadapan kamu, bukan gini akhir yang aku mau," ucap Rafael serius.
Filla terbelalak saat mendapati Rangga memperhatikannya dari kejauhan dengan raut wajah yang sangat sulit Filla artikan. Terlebih lagi sekarang Rangga malah berbalik berjalan menjauh dari mereka.
Filla mendorong tubuh Rafael kuat sampai terlepas "Kak please jangan gini, aku cuma anggep Kakak temen, nggak lebih, dan aku sekarang punya kehidupanku yang baru sama Rangga, dia orangnya bukak Kakak, aku minta maaf," Filla meninggalkan Rafael dan berlari mengejar Rangga tanpa memperdulikan teriakan Rafael.
__ADS_1
******