
Filla dan Rangga sudah siap di lobi dengan menenteng masing-masing dua koper, sejak pagi koper mereka akhirnya sampai di hotel, setelah sarapan, Keluarga Filla dan Rangga langsung pulang ke rumah, begitu banyak wajangan yang Filla dan Rangga dapatkan pagi ini, jika tidak karena Filla meminta untuk mereka pulang duluan, mungkin sampai sekarang ocehan bunda dan mama masih terdengar.
"Ayo, langsung ke mobil," ajak Rangga sambil mengulurkan tangan.
"Gue nunggu disini aja."
"Nggak ada penolakan, bahaya disini sendirian," Rangga menarik tangan Filla pelan, membuat Filla beranjak malas.
"Bahaya gimana coba? orang satpam banyak disini."
"Udah, nurut kenapa sama suami," ucap Rangga tanpa menoleh.
"Pret," Filla menyindir ucapan Rangga.
Rangga hanya menggeleng mendapati tingkah Filla, seperti ucapannya kemarin, menikahi Filla harus banyak menyetok sabar.
********
Mereka sampai di halaman rumah yang cukup luas, Filla mendonggak menatap kedepan, sebuah rumah dengan gaya minimalis dan pekarangan rumah yang luas membuat Filla tertarik menatap lebih.
Rangga patut diancungi jempol menurut Filla, diumur segini Rangga berhasil mendirikan rumah yang nyaman dari nol, berkat kerja kerasnya sendiri.
Filla dan Rangga turun dari mobil, Rangga tentu saja langsung mengeluarkan koper yang ada di bagasi, diikuti Filla dibelakangnya.
"Kamu langsung masuk aja, koper biar aku yang angkat," ucap Rangga.
Filla menggeleng, "Gue bawa punya gue sendiri," Filla meraih koper miliknya namun tangannya langsung ditahan oleh Rangga.
"Ini tugas suami, kamu masuk duluan."
"Ih," Filla bergidik ngeri. "Lo aneh," melihat sikap Rangga benar-benar membuat Filla tak habis pikir. Filla akhirnya mengalah dan berjalan mengikuti Rangga yang membawa 2 koper sekaligus tanpa berniat membaginya dengan Filla.
Filla mengedarkan pandangan, "Lo seriusan bikin rumah ini nol?" tanya Filla.
Rangga mengangguk, "Iya, Filla aku mulai risih sama panggilan lo-gue, beneran nggak bisa dirubah?" tanya Rangga serius.
"Nunggu gue-," ucapan Filla terpotong.
"Apa? Nunggu mood lagi? Nggak ada ya, ini terakhir kamu pake gue-lo," ucap Rangga tanpa mau dibantah.
Filla menghela napas, "Iya," dirinya mendudukkan diri di sofa ruang tamu, Filla mengedarkan pandangan.
"Kamu capek?" tanya Rangga yang berjalan menuruni anak tangga.
Filla mengangguk tanpa menoleh.
"Bentar, aku ambil koper di mobil dulu," Rangga berjalan keluar rumah menuju parkiran.
Ponsel Filla berdering, lagu kesukaannya terdengar memenuhi ruangan, "Kak Rafael?" tanya Filla pada dirinya sendiri saat melihat nama Rafael dilayar ponselnya.
"Siapa?" tanya Rangga dengan menarik dua koper masuk kedalam rumah.
Filla mendonggak, "Kak Rafael," jawab Filla sekenanya.
__ADS_1
Rangga mengerutkan kening, "Cowok yang nyamperin kamu dikelas buat balikin kamera?" tanya Rangga ketika teringat nama Rafael yang tak asing.
Filla mengangguk tanpa menoleh pada Rangga.
From Rafael
Assalamualaikum Fill, maaf nih ganggu waktunya, bisa ketemuan?
Filla menyenderkan tubuhnya pada senderan kursi.
To Rafael
Aku lagi nggak di Bandung Kak, kalau boleh tahu ada apa?
Filla tersentak saat ponselnya beralih ke tangan Rangga, "Apaansih Ngga?" Filla ikut berdiri dihadapan Rangga.
"Kamu bisa pakai aku-kamu sama pria lain, sedangkan sama aku sulit?" tanya Rangga sambil menatap dalam Filla.
"Gue kan cuma-," ucapan Filla terhenti saat Rangga mengembalikan ponselnya dan berjalan keluar rumah meninggalkan Filla.
"Ngga, mau kemana?" tanya Filla, baru kali ini dirinya melihat ekspresi wajah Rangga seperti tadi, "Rangga!"
Rangga benar-benar meninggalkan Filla tanpa berucap.
**********
Filla menatap arloji di pergelangan tangannya, sejak siang tadi Rangga bahkan belum pulang sama sekali, Filla masih berada diruang tamu, dirinya masih segan untuk mencari kamar dilantai atas. Alhasil dirinya sudah berjam-jam menunggu Rangga.
Filla mengerjabkan matanya pelan saat tubuhnya terasa diangkat, "Rangga? Turunin," ucap Filla sat menyadari Rangga sedang menggendongnya.
Rangga menurunkan tubuh Filla, daripada nantinya mereka berdua jatuh karena ulah Filla, "Kenapa nggak tidur dikamar?" tanya Rangga.
"Kamu bahkan belum nunjukin kamarnya, gimana bisa aku langsung nyelonong masuk."
Rangga tak bisa menahan senyumnya, tindakannya membawa hasil, Rangga mengusap puncak kepala Filla, "Nah gitu kan enak dengernya," ucap Rangga.
"Hmm, Kamu dari mana?" tanya Filla.
"Kantor."
Filla hanya mengangguk paham, dirinya kembali menguap.
"Rumah ini juga rumah kamu sekarang, nggak perlu ada rasa nggak enakan," Rangga menggenggam tangan Filla lalu membawanya naik kelantai atas.
"Kamu kan jarang disini, kok rumahnya bersih?" tanya Filla heran, dirinya sudah ingin menanyakan prihal ini sejak tadi.
"Aku sewa orang yang bisa beraih-bersih tiga hari sekali."
Filla mengangguk.
Rangga membuka pintu kamar yang ada dilantai dua, satu-satunya kamar yang terlihat disini, kamarnya begitu besar dengan warna dinding coklat susu, warna kesukaan Rangga
Ponsel Filla kembali berdering, membuat Rangga menoleh padanya.
__ADS_1
"Dia lagi?" tanya Rangga.
Filla mengangguk saat melihat nama Rafael dilayar ponselnya, Filla menyodorkan ponselnya pada Rangga.
Rangga mengerutkan kening, "Kenapa kasih ke aku?"
"Aku mau mandi, terserah mau kamu angkat atau apain, entar kamu marah lagi, capek aku tidur di sofa," sindir Filla.
Rangga tersenyum, "Yaudah, sana mandi, semua keperluan mandi ada didalam sana."
Filla mengangguk paham lalu berjalan meninggalkan Rangga masuk kedalam kamar mandi.
*********
"Ini ruangan apa?" tanya Filla saat mendapati sebuah pintu disebelah lemari.
Rangga mengangkat wajahnya yang sejak tadi didepan laptop, "Ruang foto, kamu mau lihat?" tanya Rangga.
Filla mengangguk antusias, dirinya cukup penasaran sejak tadi.
Rangga beranjak lalu membuka pintu tersebut dengan sidik jari, membuat Filla tertegun. Belum sempat masuk Rangga berbalik lalu tersenyum, menahan Filla agar tidak masuk kedalam.
"Kenapa? Ayo, aku penasaran," Filla berusaha menyingkirkan tangan Rangga yang menghalangi jalannya.
"Berantakan, aku bersihin dulu nanti, setelah bersih baru aku ajak kamu masuk."
Filla menggeleng, "Nggak, maunya sekarang," Filla menyingkirkan tangan Rangga sekuat tenaga, lalu berhasil masuk kedalam ruangan yang sangat gelap tersebut.
"Udah dibilang kan nanti," Rangga ikut menatap arah pandang Filla.
Filla tertegun saat mendapati ruangan ini dipenuhi foto dirinya, Rangga menggantung tiap kenangan tentang Filla diruangan gelap ini.
"Kok banyak foto aku? Jangan bilang kamu psikopat," Filla menyilangkan tangannya didepan dada.
Rangga menoel kening Filla, "Mikirnya kejauhan."
"Terus kenapa banyak foto aku disini?" tanya Filla heran.
"Kamu tahu jawabannya, kenapa harus nanya lagi?"
Filla mengedarkan pandangan, menatap satu persatu fotonya yang berhasil Rangga kumpulkan entah sejak kapan.
"Tau ah," Filla memilih berjalan keluar meninggalkan Rangga.
Rangga tersenyum lalu berjalan mengikuti Filla yang sudah berbaring diatas kasur. Rangga ikut menyelimuti diri dengan selimut yang Filla gunakan.
"Rangga, jangan meluk," Filla berusaha melepaskan diri dari dekapan Rangga.
"Sampai kapan kamu mau gengsi? Aku tahu kamu juga suka sama aku," Rangga mengecup puncak kepala Filla.
Filla memegang dadanya, merasakan degup jantung yang semakin menjadi-jadi.
*******
__ADS_1