Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 109


__ADS_3

Cuaca cukup cerah saat Rangga dengan motor kesayangannya keluar dari garasi. Rangga dengan t-shirt putih dan kemeja kotak-kotak yang ia jadikan outter tanpa mengancingnya dipadukan dengan chinos warna hitam dan tentu saja jam tangan kesayangannya yang melingkar dipergelangan tangan, menambah kesan santai.


Rangga berhenti melangkah saat mendapati Filla bersama Vino keluar dari rumah, semakin hari melihat kedekatan mereka ada sisi Rangga yang terasa mengganjal, ia tidak pernah peduli sebelumnya tentang Filla, namun melihat Filla bersikap dingin membuatnya merasa kehilangan tanpa Rangga sadari.


Mereka melangkah menuju mobil yang terparkir didepan rumah Filla dengan Vino yang berinisiatif membukakan pintu untuk Filla. Rangga tetap pada tempatnya, menatap mereka sampai mobil milik Vino menghilang.


"Ngga, belum berangkat?" tanya Kania yang berjalan mendekati Rangga.


"Hmm," Rangga hanya berdehem pelan.


"Aku mau minta maaf soal kemarin," ucap Kania penuh harap.


Rangga menatapnya lalu mengangguk, "Asal kamu nggak ulangi lagi," ucap Rangga.


Kania dengan semangat langsung memeluk Rangga, "Iya janji," ucapnya.


Rangga mengusap puncak kepala Kania, namun pikirannya masih saja pada Filla, melihat postingan Filla kemarin, ia masih bertanya apa sebenarnya hubungan diantara keduanya, logikanya tentu saja tidak peduli namun hatinya perlu jawaban.


********


"Fill, Kakak minta tolong ambilkan kotak bekal dibelakang," ucap Vino sambil menunjuk kotak bekal yang sudah ia siapkan pagi tadi.


Filla mengangguk, "Kakak bawa bekel? Tadi aku pikir Kakak udah sarapan, kalau gitu kan kita sarapan aja dulu, nggak apa-apa telat," ucap Filla.


Vino tersenyum, mendengar kecerewetan Filla di pagi hari adalah kesukaannya, entah mengapa Filla tambah menggemaskan saat cerewet menurutnya.


"Mama udah kasih tahu kalau kebiasaan kamu lagi dateng bulan pasti nggak akan sarapan, makanya Kakak buat bekel buat kamu, kamu nggak perlu cari makanan nanti waktu laper," ucap Vino.


Filla menatap kotak bekal dipangkuannya, tidak menyangka Vino tahu tentangnya sedetail itu, "Kakak kok sweet banget sih, kan akunya jadi nggak bisa ngomong ini," ucap Filla.


Vino tertawa, "Itu tadi apa Fill kalau bukan ngomong?" ledek Vino.


"Jadi Kakak udah sarapan atau belum?" tanya Filla.


Vino menggeleng, "Nggak sempet tadi, Kakak kesiangan, udahlah gampang nanti makan di kantin," ucap Vino santai.


Filla menghela napas, "Kakak nggak bisa gitu, harusnya Kakak urus diri sendiri dulu baru mikirin orang lain," ucap Filla.

__ADS_1


"Kamu bukan orang lain," ucap Vino serius.


Filla sempat tertegun, namun ia masih bisa menetralkan detak jantungnya mendengar ucapan manis Vino, "Tau ah," ucap Filla.


"Iya, jangan ngambek," ucap Vino sambil mencolek dagu Filla.


Filla membuka kotak bekal dipangkuannya, ada 3 tingkatan, Filla menemukan potongan beberapa buah pada tingkat pertama, nasi goreng ditingkat kedua dan perkedel pada tingkat terakhir.


"Perkedel?" tanya Filla. "Kakak tahu darimana aku suka semua makanannya?" tanya Filla.


"Kamu nggak perlu tahu," ucap Vino sambil tersenyum. "Kamu mau makan? Kata Mama kamu nggak akan mau makan jam segini," ucap Vino menatap heran.


Filla menyendok nasi goreng, "Emang bukan aku yang makan," ucap Filla sambil menyodorkannya pada Vino. "Aa," ucap Filla meminta Vino membuka mulut.


Vino mengerutkan keningnya, "Kok jadi Kakak yang makan?" tanya Vino.


"Ayo makan dulu, pegel akunya," ucap Filla sambil mempautkan bibirnya.


Vino akhirnya membuka mulut, "Dek, itu buat kamu," ucap Vino.


Filla mengangguk, "Makanya, karena punya aku, aku mau berbagi," ucap Filla sambil menyiapkan suapan selanjutnya untuk Vino yang menyetir. "Kakak juga harus makan, lagian ini terlalu banyak buat aku, kita bagi dua aja," ucap Filla.


"Masak?" Filla mencoba sesuap nasi goreng buatan Vino, dan benar saja rasanya sangat enak, bahkan Filla bisa menyebut nasi goreng buatan Vino malah lebih enak daripada nasi goreng buatan bi Surti yang selalu Filla sukai. "Enak banget Kak, sumpah," ucap Filla.


Vino tertawa lalu mengacak rambut Filla dengan tangan kirinya, "Kamu tuh ngegemesin terus," ucap Vino.


Filla tersenyum, "Kakak juga sweet banget, makasih ya."


Vino mengangguk sambil mengusap rambut Filla yang ia acak, "Kamu nggak makan lagi?" tanya Vino setelah melihat Filla hanya memakan nasi gorengnya sesuap lalu memfokuskan diri menyuapi dirinya.


Filla menggeleng, "Sebenernya alasan aku nggak mau makan pagi pas lagi datang bulan karena rasanya mual banget Kak, makanya aku selalu kelaparan pas jam sembilanan," ucap Filla.


Vino mengangguk, "Mama udah cerita, yaudah kamu jangan lupa makan nanti," Vino mencubit pipi Filla gemas.


"Iya Kakak, buahnya juga," ucap Filla sambil menyuapi Vino potongan buah melon.


Vino adalah sosok pria yang Filla butuhkan, Filla ingat saat dirinya dengan susah payah belajar masak dan memberikannya pada Rangga, bukannya menerima pujian, Rangga malah dengan santai memberikan kotak bekal itu pada orang lain.

__ADS_1


Sedangkan Vino berusaha keras untuk membuatkannya sarapan sampai tidak sempat sarapan untuk dirinya sendiri, Filla tidak akan menyakiti pria sebaik Vino.


*********


Setelah 20 menit perjalanan mereka akhirnya sampai diparkiran kampus, sejak ada Vino, Filla tidak pernah membawa mobilnya, Vino akan dengan sigap menjemput atau mengantarnya pulang tanpa diminta.


Seperti biasa, saat mereka memasuki area kampus, semua mata akan menatap mereka berdua, entah itu tatapan suka atau tatapan kebencian, Filla sudah menerima itu sejak lama, apalagi status Vino yang menjadi pria populer di kampus membuat para kaum wanita menatap Filla dengan tatapan penuh kebencian.


"Belajar yang rajin oke?," Vino mengacak rambut Filla, tapi ia tetap merapikannya.


"Kakak juga, belajar yang rajin," Filla berjinjit agar bisa mengusap rambut Vino.


Vino tertawa, "Yaudah sana masuk kelas, jam 1 Kakak jemput," ucap Vino yang tahu pasti jadwal Filla. Bahkan Filla saja sering lupa dengan jadwal hariannya.


Filla mengangguk, "Sana nanti telat," ucap Filla sambil mendorong pelan Vino.


Filla berjalan masuk kedalam kelas setelah Vino pergi, ia duduk disalah satu bangku bagian tengah tepat didekat Reya yang sudah memanggil dan melambaikan tangan.


"Dimasakin pacar buk?" ledek Reya.


Filla menepuk bahu Reya, "Ember banget," ucap Filla.


"Kan bener, sosweet banget sih Fill laki lo," ucap Reya sambil mempautkan bibirnya.


"Laki, bahasa lo Rey," ucap Filla sambil mengeluarkan buku catatan miliknya dari dalam tas.


Reya melakukan hal yang sama, "Fill," Reya menepuk bahu Filla berulang.


"Iya Reya, sekali aja bisa nepoknya?" ucap Filla sambil menahan tangan Reya.


Reya menunjuk Rangga dengan isyarat bibirnya, "Dari tadi merhatiin lo deh, dari lo masuk kelas sampai akhirnya ketahuan sama gue baru dia pura-pura nggak liat," bisik Reya.


"Stop, gue nggak mau bikin hati gue baper sama apapun," ucap Filla, tak ingin mempercayai ucapan Reya.


"Oke," ucap Reya tak mau membantah, ia malah menyodorkan cokelat yang ia beli sebelum ke kampus, "Mau nggak?" tanyanya.


Filla dengan senang hati menerimanya, karena cokelat adalah hal yang tak mampu ia tolak.

__ADS_1


******


__ADS_2