Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 43


__ADS_3

Filla berjalan keluar dari apartemennya, ia dengan setelan dress pink selutut dan sepatu hitamnya, tak lupa polesan make up natural yang menjadi cirikhasnya, cantik namun elegan.


Filla terhenti saat melihat keberadaan Rangga didepan pintu apartemennya yang berada di pintu kedelapan dari apartemennya.


Mata mereka sampat bertemu, tapi dengan cepat Rangga melewati Filla yang tak melepas pandangannya dari kepergian Rangga.


Filla menghela napas lelah, "Selalu gue yang salah," ucap Filla pelan.


Filla memilih berjalan dibelakang Rangga yang tak lagi berbalik, menatap punggung Rangga yang kian menjauh.


"Dek," sapa Vino sambil menepuk pelan bahu Filla.


Filla menoleh lalu melempar senyumnya, "Kakak nggak kerja?" tanya Filla yang melihat setelan Vino yang sangat santai.


Vino mengangguk, "Kamu mau ke kampus?" tanya Vino.


Filla mengangguk, "Kakak jangan lupa janji hari ini sama Reya," ucap Filla mengingatkan.


"Kamu beneran nggak ikut?" tanya Vino sambil menaikan kedua alisnya.


"Nggak la kak, entar aku jadi obat nyamuk," celetuk Filla.


Vino mengacak rambut Filla gemas, "Tapi kakak nggak bisa janji suka sama temenmu lo dek," ucap Vino serius.


Filla menoleh, "Kalau kakak seandainya nggak tertarik, jangan bikin dia berharap ya kak, ngomong jujur aja," ucap Filla dnegan serius, jika menyangkut Reya.


Vino mengangguk, "Yaudah kamu yang rajin kuliahnya, kakak mau ke super market dulu," ucap Vino yang mengacak rambut Filla lalu berjalan meninggalkan Filla.


Filla tersenyum, Vino adalah sosok kakak yang selalu Filla inginkan.


*****


"Gue pakai baju apa ya Fill," tanya Reya.


Sejak Filla sampai didalam kelas, Reya dengan pertanyaannya mendatangi Filla tanpa henti, antusias Reya membuat Filla sedikit lelah menanggapinya.


"Gue harus bersikap gimana kalau sama Vino?" tanya Reya lagi tanpa henti, sejak tadi ia sibuk berkaca, merapikan setiap detail rambutnya, padahal ia akan bertemu Vino malam nanti bukan sekarang.


"Bersikap kayak lo biasanya Rey, kenapa ribet sih, kak Vino juga nggak mentingin penampilan," jawab Filla yang masih terfokus pada buku yang ia baca.


"Nggak bisa la Fill, ini pertamakali gue ketemu, jadi wajib berpenampilan harus istimewa dong," Reya menatap lama layar ponselnya, ia sedang mencari dress di online shop sejak tadi.


Filla memutar mata malas, lebih baik mendiami Reya dan membiarkan apapun yang ingin dilakukan Reya.

__ADS_1


"Ini bagus nggak?" tanya Reya sambil menepuk pelan tangan Filla berulang.


Filla menoleh malas, "Bagus Reya, semuanya bagus, udah ah gue mau ke perpustakaan aja, nggak konsen gue baca kalau lo tanya mulu," Filla mamakai tasnya.


Reya menahan tangan Filla, "Bentar, kan bentar lagi masuk," ucap Reya sambil menunjuk jam dinding didepan mereka.


"Makanya fokus, tadi James bilang MK kite diundur sampai jam 10," jelas Filla lalu melangkah meninggalkan Reya yang mengangguk.


"Ikut," ucap Reya yang menyedari kepergian Filla.


Filla berhenti dan berbalik, "Jangan ganggu gue, inget perpustakaan bukan kafe," ucap Filla lalu kembali berjalan setelah mendapat anggukan dari Reya.


Seperti biasa perpustakaan adalah tempat tersunyi yang ada, Filla memilih duduk disalah satu kursi kosong dipojok kanan, meja dan kursi disana memiliki skat sehingga terasa lwbih fokus.


Filla melirik kebelakang setelah duduk dan mengeluarkan bukunya mencari keberadaan Reya.


Filla menggeleng saat mendapati Reya duduk diantara rak buku dan sibuk meminkan ponselnya, tentu saja membuka olshop.


Filla melirik kesamping, ia sedikit terkejut mandapati Rangga yang sedang membaca disebelahnya.


Rangga menoleh dan tatapan mereka bertemu, Filla melempar senyumannya sedangkan Rangga menggeleng malas.


Filla tersenyum menertawai dirinya yang diperlakukan Rangga, "Fokus," ucapnya lalu membuka buku desain baju, dan mulai mempelajarinya.


******


Filla berlari menuju apartemen Rangga, seperti biasa Rangga akan memasak makan malam untuk mereka berdua.


"Nggak marah lagi?" tanya Filla sambil tersenyum dengan lebar.


"Hm," Rangga hanya berdehem pelan.


Filla menempatkan diri disebelah Rangga, "Ada yang bisa gue bantu?" tanya Filla masih dengan senyuman khasnya.


"Tumben," ucap Rangga sambil mengiris tipis bawang.


"Seriusan apa yang bisa ditolong?" tanya Filla dengan wajah penuh harap.


Rangga menunjuk sayur yang masih diikat, "Cuci dan potong," ucap Rangga.


Filla mengangguk cepat, "Laksanakan," Ada rasa lega yang Filla rasakan, bermusuhan dengan Rangga tidak membuatnya nyaman, walaupun harus mengesampingkan ego Filla akan tetap melakukannya.


"Oiya Ngga, tadi ngapain di perpus? Kan lo bukan anak perpus," tanya Filla penasaran karena biasanya Rangga enggan menapaki diri didalam perpus, ia lebih memilih taman belakang kampus yang sepi dan sejuk.

__ADS_1


"Ya bacalah, emang ada orang keperpus main bola?" tanya Rangga sambil mengacak rambut Filla.


Filla tersenyum, biasanya jika Rangga mengacak rambutnya, Filla akan berteriak memaki Rangga, tapi kali ini ia menyukainya.


Tak memakan waktu lama Rangga menyelesaikan masakannya, makanan buatan Rangga tertata rapi diatas meja, memang tidak banyak yang Rangga masak mengingat hanya mereka berdua yang akan menghabiskannya.


"Enak," ucap Filla saat ia berhasil menyendokkan sesuap makanan kedalam mulutnya.


"Kapan emang masakan gue nggak enak?" tanya Rangga sombong.


"Nyesel gue muji," ucap Fill dengan memutar bola matanya malas.


Rangga terkekeh pelan mendengar celetukan Filla.


Ponsel Filla tiba-tiba berdering, Filla melihat layar ponselnya sambil mengerutkan dahi, masih sempat ia menyuapkan sesendok lagi kedalam mulutnya baru menerima panggilan dari Reya.


"Hmn, kenapa Rey?" tanya Filla.


"Kak Vino nolak gue, sumpah malu abis, mending gue ditolak secara tidak hormat daripada kayak gini, masak dia ngomong lagi nggak mau punya hubungan, terus nolaknya sopan banget, kan jadi tambah malu," curhat Reya panjang lebar dati seberang.


Filla tak bisa memahan tawanya, Filla menutup mulutnya tak ingin suara tawanya terdengar Reya.


Rangga mengangkat kedua alisnya seolah mempertanyakan mengapa Filla menahan tawanya.


Filla menutup mulutnya dengan jari telunjuk, mengisyaratkan Rangga untuk diam, "Jadi mau gimana dong?" tanya Filla kehabisan kata-kata, ia dengan susah payah menahan tawanya.


"Lo ketawa Fill, dasar resek," teriak Reya yang membuat Filla menjauhkan ponselnya dari telinga.


"Sorry, abisnya gimana? Gue nggak kebayang gimana muka lo pas kak Vino ngomong gitu," ucap Filla lalu tertawa, ia tak bisa menahannya lagi.


"Awas aja, besok pokoknya gue mau curhat, gue kan jadi bingung mau marah atau gimana sama kak Vino, dia nolaknya cute banget."


"Iya besok kita bahas, yang sabar Rey," ucap Filla mencoba serius tapi sisa tawanya masih ada tak bisa ia tahan.


"Filla resek, lo jangan bahas apa-apa didepan kak Vino, pura-pura nggak tahu aja, gue malu," ucap Reya penuh penekanan.


"Laksanakan bu bos."


Reya menutup sambungan telpon setelah memaki Filla, dan Filla hanya menertawai setiap ocehan Reya.


"Kenapa?" tanya Rangga masih penasaran.


"Biasa Reya," jawab Filla tanpa mau memperpanjang dan mulai melahap makanannya lagi.

__ADS_1


******


__ADS_2