
Pagipun datang dengan sinar terangnya, bunda semalaman menjaga Filla, membuat Filla hanya bisa merasa tidak enak, padahal ia hanya numpang dirumah bunda tapi kasih sayang bunda sama dengan kasih sayang yang diberikan mamanya. Entahlah Filla ragu akan bisa bertahan jika tidak dipertemukan dengan bunda.
Bunda melengguh pelan, "Udah bangun Kak?" tanya bunda serak khas bangun tidur.
"Udah Bun," jawab Filla dengan senyum.
"Yaudah Bunda mau siapin sarapan dulu, Filla mandi dulu aja, mandi pagi itu sehat," Bunda yang meraih hormat dari Filla hanya bisa tersenyum. "Mandi lo kak, jangan lanjut tidur," ucap bunda membuat Filla kembali tertawa.
"Siap Bos," ucapnya. Filla langsung bangun dan menuju toiletnya, masih lemah karena demam semalam, entahlah Filla juga heran, sudah lama ia tak merasakan demam, mungkin karena terlalu lama dibawah sower dan troumanya gara-gara Bianca dan teman-temannya, mengingat kejadian kemarin air mata Filla kembali terjatuh, ia kesal pada dirinya sendiri yang hanya bisa diam.
Filla menyelesaikan mandinya sambil menangis, kali ini dia tak mau bodoh lagi dengan membuat tubuhnya kedinginan dan terserang demam lagi, kasian bunda yang merawatnya dengan susah payah.
Sekarang Filla duduk dikasurnya sambil menatap jendela disebelahnya, menatap kolam renang yang cukup besar dipekarangan belakang, sebenarnya hanya matanya saja yang menatap kolam sedangkan pikirannya masih pada kejadian kemarin, kejadian yang benar-benar ia benci.
"Fill, ini sarapan lo, makan dan minum obat," ucap Rangga yang baru masuk kamar Filla dengan senampan makanan dan susu diatasnya. Menyadari Filla yang tidak mengubrisnya sama sekali membuat Rangga sedikit kesal. "Fill, orang ngomong di jawab kenapa sih?" ucap Rangga dengan nada tinggi.
"Nggak apa-apa Ngga," Filla masih tak menatap Rangga.
Rangga jadi kesal sendiri, "Fill, kalau ada apa-apa dihadapin jangan diem aja dan buat semua orang khawatir, gue tahu lo punya masalah dan nggak mau berbagi, ya salah lo sendiri yang nggak mau berbagi jadi jangan diemin semua orang kayak gini. Selesein masalah lo seperti yang lo mau," bentak Rangga.
"Berisik Ngga, jangan ganggu bisa?" bentak Filla menatap Rangga kesal.
"Orang ganggu lo nggak lo bales, gue yang niat baik lo berani bentak, mau lo apa sih? Kalau lo mau diem terus terserah lo. Jangan buat semua orang khawatir, hadepin masalah lo sendiri karena itu pilihan lo, lo milih mau selesein sendiri dan sekarang apa? Lo diem kayak orang kesakitan parah kayak gini. Nggak asik lo Fill," Rangga berlalu pergi setelah meninggalkan nasi goreng buatan bunda dimeja tak lupa dengan bantingan pintu yang berhasil membuat Filla terperajak.
Filla menghapus air matanya yang mengalir dengan punggung tangannya. "Bener kata Rangga, gue nggak boleh gini," ucap Filla yakin.
*****
Filla duduk diayunan halaman belakang, sejak mendengar bentakan Rangga, Filla jadi tahu kalau diam tak akan menyelesaikan masalah, dan terlebih selain dirinya tersiksa, keluarga barunya juga pasti akan mengkhawatirkannya.
"Kak, kakak lagi ngelamun lagi ni?" tanya Rafi sambil membawa buku matematika andalannya, Filla ingat kalau bunda pernah bercerita Rafi adalah anak yang pandai matematika.
"Hei, Nggak kok, Rafi kan?" tanya Filla memastikan.
Rafi tersenyum, "Ternyata Kakak inget," ucapnya lalu kembali tersenyum. "Kenapa duduk sendiri disini Kak?" tanya Rafi kembali.
__ADS_1
"Kakak Nggak ngelamun Fi, kakak cuma lagi liatin Tita sama Ara yang lagi main disana," Filla sambil menunjuk Tita dan Ara yang sedang bermain dengan ditemani Tiara dan Fida. "Lagian kamu kepo banget sih," canda Filla sambil menepuk lengan Rafi.
Rafi tertawa, "Bukan kepo Kak, aku denger kakak ngelamun mulu dari adek-adek," jelasnya membuat Filla mengangguk.
"Adek-adek pada bohong tuh," elak Filla sambil tertawa. "Fi, kakak mau tanya deh, Rafi pernah dibully?" tanya Filla hati-hati.
"Pernah," ucap Rafi mantap.
Filla menatap lekat Rafi, bahkan pria ini berumur masih jauh dibawahnya tapi sudah dewasa dan bijak. Filla jadi iri padanya, "Kamu kok santai banget? bully kan kejam dan nggak ngenakin banget. Gimana kamu ngadepinnya?" tanya Filla antusias.
"Siapa yang bilang Kak kalau bully enak?" ucap Rafi cekikikan. "Ya dibawah santai aja kak, selama kita nggak salah ya kita lawan, kayak aku ya, waktu di SMP, aku selalu dibully karena berbeda dengan penampilan mereka, aku dianggep cupu, dan aku berubah Alhamdulillah aku berhasil jadi cool dan nggak dibully lagi, malah dipuja," ucap Rafi sambil berpose sok ganteng menurut Filla.
Filla menepuk lengan Rafi gemas, "Apaan sih, Dek? narsis banget, tapi beneran sih, kamu itu cool dan kakak sempet mikir sangking dinginnya kamu, kamu bakalan nggak suka sama orang baru kayak kakak," ucap Filla sambil tersenyum.
"Nggaklah Kak, aku malah seneng, punya Kakak perempuan nggak kayak kemaren-kemaren cuma punya Abang kayak Bang Rangga yang super sok ganteng," ucap Rafi sambil tertawa membuat Filla ikut tertawa.
"Kamu bener, kita satu golongan, Dek!" ucap Filla masih tertawa.
Rafi tak bisa menutupi tawanya saat Filla dan leluconnya mendominasi, "Yudah Kak, aku ke kamar ya lanjutin belajar matematika, besok ada tes," Pamit Rafi membuat Filla mengangguk.
******
Tujuanku hanya berusaha bangkit,
perkara baik buruknya tergantung dari sisi mana yang kalian lihat.
~~
Filla menatap dirinya didepan cermin, tersenyum melihat dirinya sendiri dari ujung rambut sampai kaki, sekarang ia memakai seragam sekolah lengkap, masih dengan kunciran yang selama ini membuatnya jadi tampak biasa.
Dengan perlahan ditariknya ikatan rambut yang selama ini membuatnya lemah dimata Bianca dan yang lain. Sekarang ia mau berubah, atau lebih tepatnya bukan berubah tapi kembali pada jati dirinya yang dulu, Filla yang tak pernah mendapat gangguan dan yang paling disegani, itu maunya sekarang, bukan bermaksud ingin jahat lagi seperti dulu hanya saja semua ini untuk membuatnya lebih kuat seperti batu karang.
Filla membuka tas makeupnya yang beberapa minggu terakhir tak pernah ia perhatikan, diambilnya dan ia permak dirinya sendiri, setelah merasa cukup Filla mengolah rambutnya agar terlihat lebih bevolume dan indah.
Setelah semua selesai Filla menatap cermin dan tersenyum, tak butuh waktu lama ia melakukan semua ini karena ini dirinya.
__ADS_1
Filla yang ada didepan cermin yang terlihat cantik dan elegan, ini dia, Filla yang terlihat kuat dengan tatapan tajam. Filla mengambil tasnya lalu keluar kamar, menuju meja makan dilantai bawah, ingin ikut sarapan bersama keluarga besar barunya.
"Pagi," ucap Filla dengan semangat, tanpa ia sadari ia telah ditatap semua mata yang ada diruang makan tak terkecuali Rangga yang super duper kaget. Filla sibuk mengambil roti dan mengoleskan selai sampai ia sadar semua orang menatapnya. "Kenapa pada ngeliatin Filla?" tanya Filla bingung.
"Nggak, Bunda pangling aja kamu berubah," Bunda masih menatap Filla lekat dari atas sampai bawah.
"Filla nggak berubah Bun, cuma kemaren lagi cuti aja, mau cari gaya lain, tapi kayaknya gaya ini yang lebih cocok buat Filla, ya nggak Yah?" tanya Filla meminta persetujuan ayah yang sudah pernah melihat gayanya.
"Tentu," ucap ayah sambil mengedipkan sebelah matanya kearah Filla, membuat Filla jadi tertawa.
"Aku kira tadi artis Kak," celetuk Bagas yang masih mengunyah rotinya.
"Artis dari mana coba? Kayak mbak-mbak menor," celetuk Rangga.
Filla dengan kesal menimpuk Rangga dengan tisu yang ia bawa tadi. "Emang gue kayak artis, syukur Bagas nggak katarak kayak lo," ledek Filla membuat bunda dan ayah hanya bisa menggeleng.
"Jorok banget sih, ini tisu bekas apa Filla!" eriak Rangga membuat semua adik-adik tertawa.
"Bekas ingus, emang enak?" ucap Filla sambil memeletkan lidahnya.
"Ih, nih," ucap Rangga sambil mengembalikan tisu Filla dengan jijik. "Jorok," celetuk Rangga yang meraih tawa Filla, setidaknya Rangga tenang saat melihat Filla kembali ceria.
"Sekarang makanan lo udah abiskan? Cepetan berangkat sekolah, atau gue tinggal," ucap Rangga sambil menyalami ayah dan bunda.
"Siap supir," celetuk Filla mengikuti Rangga menyalami bunda dan ayah.
"Supir?" tanya Rangga tak percaya.
Filla malah mendorong Rangga, "Cepetan entar telat," ucap Filla. "Bun, Yah, kita berangkat, Guys jangan nakal ya. Sama ini," ucap Filla mendekati Rain yang dari kemarin tak ia lihat karena berdiam diri dikamar.
"Kangen banget Kakak sama kamu," ucap Filla sambil menciumi Rain yang ada digendongan bunda dengan gemas.
"Katanya mau cepetan. Gue tinggal beneran nih," Rangga meninggalkan Filla menuju Garasi. "Iya supir," teriak Filla sambil ikut berlari, melihat tingkah mereka semua orang tertawa karena sejak ada Filla keluarga ini terasa lebih hidup.
******
__ADS_1