Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 32


__ADS_3

Filla berjalan menuruni tangga, sejak tadi tengorokannya terasa haus. Dikepalanya masih bertengger handuk karena rambutnya yang masih basah. Dibukanya kulkas dan menuang segelas air. Ia berjalan menuju ruang keluarga.


"Bun, adek-adek pada kemana?" tanyanya lalu duduk disebelah Bunda.


Bunda seperti biasa tersenyum menatap Filla, "Pada tidur Kak, Kakak badannya udah mendingan?" tanya bunda sambil merapikan buku yang tadi dimaini Tita.


"Udah Bun, tadj sempet belajar tapi mumet lama-lama," ucapnya jujur membuat bunda tertawa. "Bun, Kania udah pulang?" tanyanya saat melihat Rangga yang tertidur di sofa.


"Belum Kak katanya tadi ketoilet," bunda beranjak kedapur.


"Oh," jawab Filla sambil mengangguk. "Yaudah Bun, Filla kekamar adek-adek ya, mau lihat Rain," pamit Filla yang meraih anggukan bunda.


"Kalau Rain tidur jangan dibangunin ya Kak," pinta bunda sambil menatap Filla.


Filla memamerkan gigi rapinya, "Iya deh Bun," sepertinya bunda sudah hapal kelakuan Filla yang sering membangunkan Rain karena gemas.


Filla berjalan meninggalkan ruang tamu, sesaat Filla berhenti melangkah saat melihat Kania sedang mengangkat Rain berusaha menggendongnya, tapi suara tangisan Rain yang malah makin terdengar kuat selama Kania menempatkan Rain dalam gendongannya, "Kamu bisa diem nggak sih? Nggak usah berisik," ucapnya sambil menampar pipi Rain beberapa kali.


Filla dengan geram mengambil Rain dari Kania, "Apa-apaan sih, jangan kasar gitu dong sama Rain, dia nggak tahu apa-apa!" bentak Filla. "Rain? Rain nggak apa-apa kan?" tanya Filla sambil menghapus airmata Rain dengan tangannya.


Bunda dengan cepat menghampiri mereka karena mendengar teriakan Filla, "Kak ada apa?" tanya bunda dengan cemas saat melihat Rain yang menangis kuat.


"Kania cubit dan tampar Rain Bun," jelas Filla sambil memberikan Rain digendongan Bunda. "Jahat banget sih!" Filla menyenggol kuat bahu Kania.


"Ada apaan sih Fill? Berisik amat," tanya Rangga dengan ciri khas orang bangun tidur.


"Ini temen lo, masak cubit dan tampar Rain," ucap Filla kesal sambil menatap sengit Kania, dan yang ditatap malah santai-santai aja.


"Bener Kania?" tanya Rangga sambil menatap Kania yang masih diam sejak tadi.

__ADS_1


Kania memasang wajah lesu, "Nggak, aku nggak pernah cubit atau tampar Rain, aku cuma mau bikin dia tenang aja, pas aku ke toilet dia nangis yaudah aku gendong dan tenangin dia, tapi Filla malah nuduh aku cubit dan tampar Rain," ucap Kania hampir menangis. "Kamu kalau marah sama aku jangan fitnah aku didepan Rangga sama Bunda Fill," lanjutnya sambil menangis.


"Apaan sih, beneran Bun, Ngga, dia cubit dan tampar Rain, aku liat sendiri, lagian Tita sama Rico juga liat," Filla menatap Rico dan Tita yang diam sejak tadi, mereka pasti tahu kalau Kania sudah mencubit Rain karena sejak tadi mereka bermain dikamar ini.


"Fill, cukup kamu nggak perlu bujuk adik-adik yang lain bela kamu, aku serius nggak pernah jahat sama mereka, aku sayang mereka sebelum kamu ada," ucap Kania dengan kesal. Terlihat jelas semuanya palsu dimata Filla.


Bunda menengahi, "Sudah, Kania maafin Filla, Filla mungkin salah lihat aja, udah nggak usah berantem kasian adik-adik ketakutan," ucap bunda.


"Bun aku nggak bohong ataupun salah lihat, dia emang-," ucapan Filla terpotong.


"Udah Filla, kamu salah lihat!" ucap bunda tegas membuat Filla terdiam, tak biasanya bunda seperti ini, dimana bunda yang baik dan ia kagumi, hari ini bunda berbeda, apakah bunda marah padanya? Filla hanya bisa diam melihat bunda menaruh Rain di box bayi dan merangkul Kania yang menangis sesegukan ke luar kamar.


Rangga mendekat, "Makanya kalau salah lihat nggak usah ngotot," ucap Rangga lalu meninggalkan Filla yang memilih diam.


Sekarang rasanya sama seperti kejadian sebelum orang tuanya meninggal, tak satupun orang mempercayainya. Sakit itu kembali.


Filla diam dan terduduk diranjang. Merasakan sakit tak dipercayai untuk kedua kalinya oleh mereka yang Filla mulai anggap berarti, "Napa angis?" tanya Tita sambil menghapus airmata yang membanjiri wajah Filla.


"Nyenyek lampir itu jahat sama aku, secarang jahat ama akak, awas ia," ucap Tita kesal.


Filla mengerutkan keningnya, "Dia jahat sama kalian?" tanya Filla menatap Tita yang mengangguk. "Jahat gimana Ta? Kok nggak kasih tahu Bunda?" tanya Filla pelan.


Tita menunduk, "Atut, Ita dicubit nanti, Bang Rico sama Kak Anton uga," adu Tita membuat Filla mengeram, jahat sekali ternyata Kania, sampai Tita yang masih kecil takut dengannya.


"Yaudah, Tita nggak usah takut lagi, kalau dia jahat sama Tita atau yang lain kasih tahu Kakak ya, jangan diem," Filla mengelus puncak kepala Tita.


"Kenapa Kak?" tanya Rafi yang baru masuk kedalam kamar, saat melihat Filla yang maaih dengan mata sembabnya.


Filla menghapus air matanya dan tersenyum menatap Rafi, "Nggak Fi, nggak kenapa-kenapa," jawab Filla sambil tersenyum.

__ADS_1


"Ada kita kok Kak, mereka nggak percaya bukan karena nggak peduli hanya saja mereka bingung ditempatkan pada kedua kenyataan yang berbeda," ucap Rafi sambil menepuk bahu Filla dan melangkah keluar.


Hati Filla serasa tersentuh, kata-kata Rafi mengingatkannya pada kedua orangtuanya yang tak percaya padanya, benar kata Rafi mungkin mereka hanya bingung bukan mereka tak peduli. Filla mengangguk paham. Andai ia dipertemukan dengan keluarga ini lebih cepat, mungkin semuanya bisa ia rubah.


******


Filla duduk dibalkon kamarnya, menatap beberapa bintang yang tersa lebih tereng dari yang lainnya.


"Ngelamun aja terus, kesurupan baru tahu," ucap seseorang beriringan dengan suara pintu balkon kamar sebelah terbuka, siapa lagi kalau bukan Rangga.


Filla kembali menatap langit setelah menatap malas pada kehadiran Rangga.


"Woy, diajak ngomong juga!" ucap Rangga sedikit keras karena tak mendapat respon Filla.


Filla menyeruput coklat panas yang sejak tadi ia genggam gelasnya berusaha mengusir dingin yang semakin menusuk, "Gue lagi nggak mau debat atau bercanda," ucap Filla tanpa menoleh pada Rangga.


"Siapa juga yang mau ngomong sama lo, tukang hasut," ucap Rangha terdengar jelas nada meledek didalamnya.


Filla menoleh dengan tatapan yang sulit Rangga artikan, "Maksud lo bilang gue tukang hasut?" tanya Filla.


"Ya, iyalah tukang hasut, Kania nggak salah lo hasut didepan Bunda, asal lo tahu Kania adalah satu-satunya orang yang gue kenal paling baik, selama ini juga nggak pernah jahatin adek-adek," ucap Rangga mulai terpancing emosi.


Filla tersenyum kecut, "Ya terserah," ucap Filla malas, walau jauh dilubuk hati rasanya sesak, untuk menerima ketidakpercayaan ini berulangkali.


"Lo nggak sebaik yang gue kira, gue nggak tahu lo ngincer apa saat berniat ngehasut Kania, gue nggak habis pikir."


"Dan lo punya bukti kalau gue ngehasut? Lo bahkan nggak tanya sama gue, nyimpulin sendiri, nggak enak Ngga selalu jadi orang yang menjelaskan, paham!" ucap Filla lalu berjalan meninggalkan Rangga yang diam menatap punggungnya.


Rangga sedikit terkejut melihat kemarahan Filla yang tidak pernah ia dapati, kali ini mata Filla seolah mengatakan bahwa ia tersakiti.

__ADS_1


******


__ADS_2