
Aku akan memulainya kembali, hidup yang terhenti
tapi nyatanya aku hanya berputar karena waktu.
~~
Setelah dua minggu menjalani terapi dirumah sakit akhirnya Filla sudah bisa berjalan dengan lancar, perkembangan yang cukup cepat bagi semua orang, Rangga juga terapi bersama Filla, tapi tetap sama, Rangga masih dengan sikap dinginnya, sedangkan Filla terus berusaha mendekatinya.
Hari ini hari terakhir mereka ada dirumah sakit, Filla sibuk membereskan barang-barangnya untuk dibawa pulang. Sesekali ia menatap barang yang sedang ia susun dalam tasnya, ia tersenyum melihat jam tangan yang masih ada setelah tiga tahun tak pernah ia lihat, apalagi buku catatan sekolah yang dominan kosong karena ia tak suka belajar, semuanya membuatnya mengingat masa lalu, dimana ia masih menjadi Filla pembangkang, ia hanya berharap waktu akan membuatnya bisa menjadi lebih baik.
Filla duduk menatap jam dinding yang masih menunjukkan pukul 7 pagi, papa dan mama sedang dirumah karena semalam Filla menyuruh mereka pulang dan beristirahat, dan menyuruh mereka kembali sekitar jam 8, tapi sepertinya ia terlalu lama menentukan waktu untuk dijemput, ia harus menunggu satu jam sekarang.
"Hmm bosen," ucapnya pelan. "Apa ketempat Rangga aja ya?" tanyanya pada diri sendiri lalu tersenyum. Dilangkahkan kakinya menghampiri Rangga yang ternyata juga sendiri didalam kamar.
Rangga menoleh kearah Filla yang masuk kekamarnya, dipalingkannya tatapan malas saat melihat wajah gadis yang sangat menggeramkan menurutnya, "Ngapain sih?" tanyanya kesal.
Filla masih tersenyum lalu duduk dihadapan Rangga, "Hai, sapanya senang, akhirnya kita pulang, BTW kamu balik ke Bandung?" tanya Filla masih dengan senyumnya.
Rangga menatap Filla sebal, "Bukan urusan lo!" jawab Rangga ketus.
Filla mempautkan bibirnya, "Yaelah Ngga, gitu amat, kalau kamu inget, nyesel kamu jutekin aku," sindir Filla.
"Masih aja sama cerita halu lo, gila kali ya? Berhenti sama cerita yang cuma imajinasi lo," ucap Rangga dengan nada tinggi.
Filla menaikkan bahunya tak peduli, "Terserah deh," celetuk Filla masih melempar senyum pada Rangga yang terlihat memasang wajah tak mengenakkan.
Terdengar bunyi pintu yang dibuka, refleks keduanya menoleh kesumber suara, "Hey, ada Filla," ucap bunda senang melihat Filla.
"Gimana, udah bener-bener sehat Fill?" tanya bunda sambil merangkul Filla.
Filla mengangguk cepat, "Udah dong, kalau Rangga sehat aku juga sehat Bun," jawab Filla sabil meledek Rangga. Membuat bunda dan ayah tertawa dengan ucapannya. "Oiya Bun, kalian balik ke Bandung ya?" tanya Filla.
__ADS_1
"Iya, tapi tenang aja, Bandungkan deket, Filla bisa main-main kesana dan kenalan sama adek-adek disana," hibur bunda.
"Tenang aja Bun, pasti," celetuk Filla membuat bunda tertawa.
"Awas aja gue liat muka lo di Bandung," ucap Rangga ketus.
Bunda menampar betis Rangga, "Jahat banget sih Bang, ya nggak apa-apalah Filla ke Bandung, orang Filla mau ketemu sama Bunda, bukan sama kamu," ucap bunda membela Filla.
"Iya, ih Ge-Er, bilang aja kamu yang mau ketemu aku," olok Filla sambil menoel bahu Rangga, ya begini Filla, ia terus berusaha dekat dengan Rangga, sudah 2 minggu ia mencoba mendekati Rangga tapi hasilnya masih sama, sikap Rangga tak berubah padanya, tapi setidaknya Rangga tak mengusirnya lagi, mungkin Rangga bosan.
Rangga menatap Filla sengit, "Terserah," ucapnya lalu berjalan duduk di sofa. Ada sedikit rasa sedih, bagaimana ia bisa tanpa Rangga, setelah ini ia dan Rangga akan melanjutkan hidup seperti dulu, dimana tak saling kenal. Tapi Filla yakin Tuhan punya caranya sendiri bila ia dan Rangga berjodoh.
******
Filla menatap sekeliling, ini rumah yang sangat ia rindukan, rumah tempat ia tumbuh, terlihat masih sama, tidak ada bedanya sama sekali.
Papa merangkul pinggang Filla, "Sana ke kamar kamu, disana banyak banget kado yang Mama sama Papa siapin buat kamu, kami selalu yakin kamu bisa pake barang-barang yang kami belikan setiap tahunnya diulang tahunmu," ucap papa dengan mata yang menahan tangisnya.
"Sudah, ayo Filla butuh istirahat," ucap mama sambil berjalan menuju kamar Filla dilantai dua.
Filla dan papa mengikuti mama kelantai dua, saat pintu kamarnya terbuka Filla memandang sekeliling, kamarnya berubah tapi sangat indah menurutnya.
"Ini, Mama sama Papa yang desain?" tanya Filla masih sibuk menatap kamarnya yang indah dengan perpaduan warna moca dan sedikit aksen bunga yang sangat teliti disetiap sentinya.
"Iya, Mama sama Papa mau kamu punya suasana baru, mulai semuanya dari awal lagi," ucap mama lalu memeluk Filla. "Makasih Nak, kamu bangun dan sesehat ini," ucap mama menangis.
Filla mempererat pelukannya pada mama, wanita ini ada dihadapnnya, tak ada yang lebih penting dari ini semua, "Aku yang makasih Mama masih sama aku," ucap Filla.
"Aduh pada mewek, Papa kan jadi sedih," ucap papa lalu berjalan dan memeluk Filla serta mama.
Filla menatap takjub pada rak sepatu yang sebelumnya hanya satu sekarang ada dua dan sangat besar, terlebih termasuk isinya.
__ADS_1
Filla menatap mama dan papa lekat, "Ini kado yang kalian maksud? Banyak banget, ini kado buat 3 kali ultah kan? Kok jadi kayak 13 tahun ultah sangking banyak hadiahnya?" celetuk Filla.
"Iya iyalah, Mama kan setiap bulan belinya bukan setiap tahun lagi, setiap Mama kemanapun Mama inget sama kamu, dan Mama berharap kamu bisa pake ini semua," ucap mama sambil tersenyum.
Filla tersenyum menatap mama dan papanya, "Makenya gimana coba?" ucap Filla lalu melirik sepatu yang pasti jumlahnya lebih dari 200 pasang.
"Sehari 5 kali ganti Fill," celetuk papa sambil tertawa.
"Udah sih, bukan cuma itu aja, lemari kamu juga banyak banget dress yang Mama beli, jadi kamu tinggal pake, kamu kan mau kuliah juga, cocok tuh," ucap mama.
Filla hanya menggeleng, "Mau gimana lagi? Tapi makasih Ma, Pa," Filla lalu berhambur kepelukan mama dan papanya.
Mama dan papa akhirnya meninggalkan kamar Filla, Filla membaringkan tubuhnya di kasur yang sudah sangat lama ia tinggalkan, dihirupnya napas sambil tersenyum lalu menghembuskannya lagi, ia merindukan kamar ini.
Suara ketukan pintu lalu pintu kamar terbuka membuatnya membuka mata dan menatap wanita tua yang membawa nampan berisikan susu dan bubur ditangannya, "Permisi Non," sapa bibi takut-takut menatap Filla yang sudah duduk.
Filla hanya berdehem, ia jadi ingat bagaimana ia telah memperlakukan bibi dengan tidak baik selama ini, ia jadi merutuki dirinya dulu yang kejam padahal bibi adalah orang yang selalu menjaganya sejak kecil.
"Non, ini makanan, Non makan ya biar cepet sembuh," ucap bibi tapi tak berani menatap Filla.
Filla menggeser duduknya mendekati bibi, lalu menggenggam tangan yang sudah mulai keriput karena usia, "Bi maafin Filla ya, Filla udah nggak sopan sama Bibi padahal Bibi selalu baik sama Filla dari Filla kecil," ucap Filla sambil menangis, menyesali semua yang sudah ia perbuat terhadap bibi.
"Nggak Non, Non nggak salah, Non marah ya karena Bibi sering ceroboh," ucap bibi tulus.
Filla menggeleng, "Filla nggak seharusnya jahat sama Bibi, maafin Filla ya," pinta Filla menatap bibi lekat lalu tersenyum.
"Iya Non, dan maafin Bibi juga ya yang sering ceroboh," ucap bibi sambil tersenyum.
Filla ikut tersenyum lalu memeluk bibi, terlihat jelas bibi canggung dengan apa yang ia lakukan, tapi Filla tetap memeluknya dengan penuh kasih sayang dan penyesalan.
Akhirnya bibi juga membalas pelukannya.
__ADS_1
******