Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 60


__ADS_3

"Kenapa tiba-tiba pengen naik mobil Fill?" tanya mama penasaran.


Filla menunduk, "Sebenernya Filla cuma nggak mau diremehin," ucap Filla pelan.


"Siapa Fill? Rangga?" tanya mama.


Filla menggeleng, "Rasti," jawab Filla pelan, takut membuat kedua orangtuanya khawatir.


"Rasti? Maksud kamu Rasti anak kurangajar yang bikin semua ini terjadi?" tanya papa mulai terdengar kesal.


"Papa tenang dulu, Filla jadi takut kalau gini mau cerita," ucap Filla sambil menatap mata papanya yang mulai terlihat menyeramkan.


Papa memang seorang yang sangat ramah dan humoris, tapi Filla tahu betul kemarahan papa harus benar-benar ia jauhi.


"Iya Papa tenang, cerita Filla, jangan sampai semua terulang, Mama nggak mau," ucap mama khawatir.


"Sebenernya 3 hari yang lalu Rasti pindah kekampus, aku nggak paham apa alasan dia sampai pindah jurusan dan akhirnya mengulang sampai harus berada ditingkatan yang sama sama aku."


"Dia cari masalah?" tanya papa cepat.


Filla mengangguk, "Dia selalu cari masalah, Filla udah berusaha menghindar, bahkan kemarin-" Filla terdiam, mengingatnya mwmbuat Filla merasa sesak seperti kemarin.


"Kenapa sayang?" tanya mama penasaran.


"Dia sengaja cium Rangga didepan Filla," ucap Filla bergetar menahan tangis.


Mama menghembuskan Napas pelan, "Mama nggak tahu anak itu kenapa? Dia nggak puas bikin keluarga kita tidak saling mempercayai?" ucap mama kesal.


"Papa nggak akan tinggal diam Ma, sudah cukup Papa sabar sama apa yang anak itu perbuat," ucap Papa.


"Filla akan coba hadapin sendiri, alasan Filla mau bawa mobil, Filla capek dikatain kalau Papa bangkrut karena biaya rumah sakit Filla, padahal aku nggak mau pamerin semua itu karena aku nggak mau jadi Filla yang dulu," ucap Filla sambil menangis.


Mama mendekat membawa Filla dalam pelukannya, "Kamu nggak perlu berubah sayang, nggak perlu sembunyi dari diri sendiri, jalanin senyaman kamu, Mama bersyukur kamu belajar untuk jadi lebih baik, tapi kamu nggak perlu merubah," ucap mama sambil mengusap puncak kepala Filla.


Filla mengangguk, menceritakan permasalahannya pada mereka ternyata membuat Filla selerti punya dukungan, ia salah jika dulu pernah berpikir kedua orangtuanya tak perduli.


"Mau kamu apa Fill? Atau Papa perlu beresin tuh anak?" tanya papa masih terdengar amarah dari ucapannya.


Filla menggeleng, "Filla selesein sendiri ya? Asal kalian selalu percaya sama Filla, Filla nggak mau kejadian waktu itu terulang," ucap Filla.


"Kami akan selalu percaya kamu Fill, apapun itu," ucap mama sambil mengusap punggung Filla.


"Papa nggak habis pikir anak itu pernah diajarin atau nggak sama orangtuanya," ucap papa sambil menyendokkan nasi kedalam mulutnya.

__ADS_1


Filla tersenyum, kemarahan tidak mengurangi rasa lapar papa.


"Kamu mau Papa cariin supir? Atau nggak Pak Tino ikut kamu aja hari ini, biar papa nyetir sendiri," saran papa menawarkan supir pribadinya sambil meminum segelas air yang sudah Filla siapkan.


"Filla nyetir sendiri boleh kan?" tanya Filla penuh harap.


"Apapun itu, asal kamu seneng," ucap papa tulus.


"Iya apapun itu asal kamu seneng, kita dukung," mama tersenyum menatap anaknya.


Filla tersenyum haru, "Ih kalian sweet banget,” Filla berjalan memeluk kedua orang tuanya. "Makasih Ma, Pa kalian orangtua terbaik, jangan tinggalin Filla ya, kalau Filla diberikan 1 aja permintaan, Filla hanya minta pergi lebih dulu sebelum kalian yang meninggalkan Filla," ucap Filla sambil memeluk kedua orangtuanya erat.


"Jangan ngomong gitu, kami tanpa kamu itu hampa, jadi jangan pergi, bila perlu kita pergi sama-sama," ucap mama sedih mendengar permintaan Filla.


"Ah, Papa harus kerja lebih keras," ucap papa lesu.


"Kenapa?" tanya Filla heran.


"Kalau perginya bareng, tiket mahal atuh, abis duit Papa," celetuk papa membuat Filla dan Mama tertawa dengan tingkah dan lelucon papa yang garing tapi selalu bisa membuat tertawa.


******


"Papa nggak ngantor?" tanya Filla yang sudah duduk disebelah papa yang bersantai di taman dengan segelas kopinya dan koran yang ia baca.


Filla tertawa, "Seriusan Filla nanya," ucap Filla sedikit kesal.


"Nggak kerjaan Papa dikantor udah diurus sama asisten Papa, jadi bisa santai walau cuma sehari."


Filla menggangguk paham.


Papa menoleh heran, "Kamu nggak kuliah?" tanya papa penasaran.


"Kuliah tapi kelasnya ada jam 1 siang," ucap Filla.


"Kamu seriusan nggak mau pake supir?" tanya papa yang sudah mengalihkan pandangannya kepada Filla.


Filla mengangguk, "Papa khawatir?" tanya Filla.


"Sedikit, tapi Papa yakin kamu bisa," ucap papa sambil mengepalkan tangannya.


Filla tertawa, "Apaansih Pa?" ucap Filla sambil menggeleng.


"Kak Illa," teriakan khas anak kecil.

__ADS_1


"Tita," ucap Filla sambil merentangkan tangan menunggu pelukan Tita, seperti sudah menjadi kebiasaan setiap hari.


"Papa," ucap Tita sambil menatap papa disebelah Filla. Tita langsung mencium tangan papa.


"Anak pinter," ucap papa sambil mengusap puncak kepala Tita.


Tita memang sangat dekat dengan keluarga Filla, Tita juga terbiasa memanggil siapupun sama dengan Filla.


"Tita udah kasih tahu Bunda kalau Tita kesini?" tanya Filla sambil memeluk Tita yang ada dipangkuannya.


Tita mengangguk cepat, "Kak illa ndak cekola?" tanya Tita sambil menatap Filla.


"Cekola dong, tapi nanti," ucap Filla meniru gaya bahasa Tita. "Tita juga bentar lagi cekola kan?" tanya Filla sambil mencium puncak kepala Tita, ia suka aroma khas anak kecil.


Tita mengangguk semangat, "Kata Bunda, nanti Tita cekola sama kayak Bang Anton," ucap Tita semangat.


"Wah Tita udah besar ya, udah mau sekolah," ucap mama yang keluar dari rumah dengan sepiring kue buatannya.


Mama memang sangat sering menyempatkan diri dirumah, simulasi menjadi ibu rumah tangga, itu yang selalu mama ucapkan.


"Fill tolong ambilin kotak dikamar Mama, yang warna cream," pinta mama ketika duduk kursi depan Filla dan papa.


"Siap bos, Tita sama Mama dulu ya," ucap Filla sambil memindahkan Tita kepangkuan mama.


Selang beberapa menit Filla berjalan mendekati mama dan papa sedang mencandai Tita, sungguh kejadian yang tak pernah Filla lihat atau bayangkan, ia benar-benar bersyukur atas apa yang tuhan berikan dalam hidupnya.


"Ni Ma, apaan isinya?" tanya Filla penasaran.


Mama menurunkan Tita dari pangkuannya dan membuka kotak yang cukup besar itu, "Tara, ini buat Tita," ucap mama ketika kotak itu dibuka.


Filla tersenyum melihat tas dan alat sekolah unicorn semua berwarna pink.


Tita menatap takjub pada apa yang mama perlihatkan, "Untuk Tita?" tanya Tita menunjuk dirinya sendiri.


"Iya sayang, untuk kamu, nanti sekolahnya yang rajin ya," pinta mama sambil mengusap puncak kepala Tita.


"Nanti kalau sekolahnya pinter, Papa kasih hadiah," ucap Papa ikut nimbrung.


Tita tertawa senang, "Acih Ma," ucap Tita sambil memeluk mama dengan erat, lalu memuluk papa erat, "Acih Pa," kemudian berbalik dan memeluk Filla, "Acih akak," Tita sangat senang dengan apa yang ia dapatkan hari ini.


"Iya Ta, yang pinter ya sekolahnya," ucap Filla sambil memeluk Filla kencang, membuat papa dan mama tersenyum melihatnya.


******

__ADS_1


__ADS_2