
Sejak pertemuan terakhir kali, Vino tidak pernah menampakkan diri lagi dihadapan Filla, yang Filla tahu akhirnya Vino menikah dengan Salsa, Filla mendapat kabar itu dari Salsa sendiri, namun pernikahan mereka tidak dirayakan sedikitpun, bahkan kedua orangtua Vino tidak datang.
Filla sudah mendewasakan diri sejak kejadian ini terjadi, bagaimanapun apapun yang terjadi akan memberinya pelajaran yang berharga.
Filla dengan sweeter abu-abu ditemani jins biru muda memperhatikan penampilannya didepan cermin, Filla menyampirkan rambutnya kebelakang telinga, ia memang membiarkan rambutnya tergerai sempurna.
Diraihnya tas dan ponsel diatas meja lalu berjalan keluar dari kamar, menuruni anak tangga menuju lantai bawah.
"Mau kemana Kak?" tanya mama sambil membawa sepiring singkong rebus keruang keluarga dimana sudah ada Tita dan papa yang bercengkrama disana.
Filla mengikuti langkah mama menuju ruang keluarga, "Mau ke toko buku kecil depan komplek Ma," ucap Filla yang sudah mengambil sepotong singkong rebus dan mendudukkan diri disebelah papa.
"Emang ada toko buku disana?" tanya papa berusaha mengingat.
"Baru buka Pa, sekitar 2 minggu yang lalu, Filla sempet kesana."
"Ikut," ucap Tita manja yang langsung menyempil mendudukkan diri diantara papa dan Filla.
"Kakak lama Dek, entar kamu bosen, mending sama mama," ucap Filla sambil mencium pipi Tita.
Tita mengangguk, Tita memang tidak pernah membantah ucapan Filla sekalipun.
"Nanti deh, kalau Kakak cuma bentar, pasti ajak kamu," ucap Filla membuat Tita mengangguk antusias.
"Kak, Kakak benaran nggak akan pertimbangin lagi?" tanya mama, mama memang sudah beberapa hari menerornya dengan pertanyaan yang sama setelah Filla memutuskan pilihannya.
"Ma, Kita udah bicarain ini," ucap Filla.
"Tapi kan-," ucap mama terpotong.
"Yaudah hati-hati, jangan pulang malem-malem mentang-mentang malam minggu," ucap papa, papa memang selalu menyelamatkan Filla dari pertanyaan mama.
Filla tertawa, "Siap bos," Filla meminum air digelas Tita. "Bagi ya dek," ucap Filla setelah menegak habis air minum Tita.
"Akak," ucap Filla sebal setelah mendapati gelasnya kosong.
Filla tertawa, "Ya maaf dek, haus," ucap Filla sambil menyalami papa dan mama bergantian.
"Kamu sih Kakak, suka banget gangguin adiknya," ucap mama membuat Filla tertawa.
Tita cemberut tapi tetap mengunyah anggur kesukaannya.
"heheheh maaf dek," ucap Filla yang langsung mencium puncak kepala Tita.
Tita akhirnya mengangguk walau terpaksa, membuat Filla tertawa, "Yaudah, Filla pergi dulu," ucap Filla yang langsung diangguki ketiganya.
**********
__ADS_1
Filla mengendarai sepedanya keluar dari garasi, bersepeda adalah pilihan yang tepat untuk Filla sampai ke toko buku yang tidak terlalu jauh dari rumahnya.
"Kak," panggil bunda saat Filla melintasi depan rumah bunda, bunda menyirami beberapa tanaman kesayangannya di teras.
"Iya," Filla membelokkan sepedanya masuk ke halaman rumah bunda. "Ada apa Bun?" tanya Filla saat berada dihadapan bunda.
"Mau kemana, cantik-cantik naik sepeda?" tanya bunda.
Filla tertawa, "Cuma ke toko buku depan komplek Bun, ribet naik mobil," ucap Filla jujur.
Bunda ikut tersenyum, "Yaudah hati-hari, jangan pulang kemaleman apalagi naik sepeda," ucap bunda mengingatkan.
Filla mengangkat tangannya, hormat pada bunda, "Siap bos," ucap Filla membuat bunda tersenyum.
"Rangga, harus aku pulang sekarang?"
Filla menoleh ke sumber suara, ternyata Kania sedang berada dirumah bunda sekarang.
Rangga sempat bertemu tatap dengan Filla, "Sebaiknya kamu pulang," ucap Rangga.
Kania melirik kearah Filla lalu melipat tangannya didepan dada, "Yaudah, aku balik lagi nanti," ucap Kania sambil mengusap pipi Rangga, namun Rangga menepisnya. "Da," ucap Kania.
Kania menatap tajam Filla, "Bun, Kania pulang," ucap Kania sambil menyalami bunda.
"Hati-hati," ucap bunda yang diangguki Kania.
"Biasa pada berantem," ucap bunda pada Filla.
Filla tersenyum, "Yaudah Bun, Filla berangkat," Filla memutar sepedanya lalu meninggalkan bunda setelah meraih anggukan.
Filla menatap sekeliling komplek, sore seperti ini terasa sangat nyaman, Filla sudah lama tidak berkeliling, dirinya disibukkan dengan urusan kuliah sampai tidak pernah berjalan-jalan disekitar komplek.
Setelah beberapa menit, Filla memarkirkan sepedanya didepan toko, toko buku yang terlihat sangat nyaman, ternyata toko buku ini juga dilengkapi perpustakaan berbayar, Filla tambah antusias untuk masuk kedalamnya.
"Selamat datang," ucap pria paruh baya sambil tersenyum, Filla dapat menyimpulkan bahwa paman tersebut adalah pemilik toko.
"Assalamualaikum Paman," sapa Filla sopan.
"Eh Eneng, anaknya pak Prasetyo kan?" tanya paman tersebut.
Filla tersenyum, "Kok tahu Paman?"
"Siapa yang tidak tahu, Eneng cantik begini pasti satu komplek tahu," ucapnya ramah.
"Paman Roni?" tanya Filla setelah melihat nama yang terukir di pajangan kayu.
"Kok tahu neng?" tanya paman Roni heran.
__ADS_1
Filla tertawa sambil menunjuk pajangan kayu diatas meja paman Roni membuat paman Roni tertawa.
"Ya ampun, lupa Paman, Neng."
"Panggil Filla saja Paman," ucap Filla sopan sambil tersenyum.
"Oke siap Filla, Filla mau cari buku atau baca-baca?" tanya paman Roni antusias.
Filla melihat sekeliling, "Dua-duanya Paman, tapi baca dulu," ucap Filla.
Paman Roni tertawa, "Oke siap, Filla tinggal ke ruangan itu aja buat baca," ucap paman Roni menunjuk pintu disamping mereka.
Filla mengangguk, "Makasih Paman, Filla kesana dulu," Filla meninggalkan paman Roni setelah meraih anggukan.
Filla membuka pintu yang ditunjuk paman Roni tadi, dan menjadi kesukaannya, bau buku menyebar ke seluruh ruangan. Filla berjalan masuk, sudah banyak yang membaca dan beberapa juga memanfaatkan ruangan perpustakaan berbayar ini sebagai tempat belajar.
Filla berjalan lalu duduk disalah satu kursi kosong di bagian kanan ruangan, dirinya meletakkan tas kemudian berjalan menyusuri rak buku yang berjejer dibelakang.
Tidak berhentinya Filla berdecak kagum melihat banyak buku yang selalu ia incar, Filla mengambil beberapa buku lalu membawanya kembali kemeja.
*******
Filla menyelesaikan buku yang ia baca, ia merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku setelah lama duduk.
Kening Filla berkerut saat mendapati ruangan sangat sepi, hanya dirinya sendiri diruangan ini, Filla melihat arloji yang melingkar dipergelangan tangannya.
"Hah, udah jam setengah 6, pantas aja sepi," ucap Filla pada dirinya sendiri.
Filla berjalan lalu mengembalikan buku yang ia baca pada rak, Filla membereskan alat-alatnya lalu berjalan kerah pintu.
Krek...
"Kok nggak bisa?" Filla mencoba menarik pintu berulang, namun tetap tidak bisa dibuka, sepertinya pintu ini sudah terkunci.
Filla menampar pintu berulang, "Paman! Paman!" panggil Filla sedikit berteriak namun tidak ada yang menjawab panggilannya. "Apa udah tutup?" tanya Filla pada dirinya sendiri dengan cemas.
"Hai Fill, santai aja kali," ucap Kania membuat Filla berbalik.
"Kania? Kok lo disini?" tanya Filla heran sambil melihat sekeliling.
Kania tertawa, "Iyalah gue disini, ini kan toko paman gue," ucap Kania sambil melipat kedua tangannya.
"Syukurlah, kayaknya kita ke kunci Kania, bisa lo buka pintunya?" tanya Filla sedikit lega.
Kania tersenyum sinis, "Harusnya lo takut bukan bersyukur," ucap Kania dengan tatapan yang tidak bisa Filla artikan.
********
__ADS_1