
"Nanti Filla, Papa akan antar tapi nggak sekarang," bujuk papa.
"Iya nak," ucap mama mendukung.
Filla menggeleng, "Filla mohon Pa, Filla harus mastiin sesuatu, kalau pria itu Rangga, orang yang selama ini sama Filla, Filla nggak tahu gimana jelasinnya, tapi sepertinya saat Filla koma, Filla ngalamin banyak hal dalam mimpi dan semua itu ada kaitannya sama Rangga dan panti asuhan, ayolah Pa, Filla harus memastikan," rengek Filla sambil menatap kedua orangtuanya memohon.
Papa dan mama menatap Filla heran, "Disebelah memang benar Rangga, anak sahabat Papa dan Mama, dan gimana kamu tahu nama anak itu?" tanya papa penasaran.
Filla menatap papa tak percaya, ada harapan kalau Rangga memang bukan ilusi, "Rangga?" Filla meyakinkan pendengarannya. "Pa bawa aku ketemu sama Rangga," pinta Filla yang akhirnya meraih anggukan papa dan mamanya.
Filla dengan kursi roda yang didorong papa dan mamanya menuju ruangan disebelah ruangan Filla, Filla memejamkan matanya berharap ketenangan dan berharap memang benar Rangga yang ada didalam sana.
Saat pintu kamar terbuka Filla menatap pria yang memunggunginya saat ini, sepertinya pria itu sedang disuapi sesuatu oleh ibunya.
"Assalamualaikum Ton," ucap papa saat memasuki ruangan.
Orang yang disapa seketika mengangkat wajahnya dari koran yang ia baca, "Waalaikumsalam Yo, masuk," jawab pria itu ramah diikuti juga oleh istrinya.
Filla seketika terdiam, mereka benar bunda dan ayah yang selama ini bersamanya, entah itu didunia mana dan diwaktu seperti apa, Filla merasa tatapan mereka tak mengenal Filla sedikitpun hanya ada tatapan ramah seperti pertama kali Filla masuk kedalam keluarga mereka, semua seperti terulang kembali. Filla masih menatap punggung seseorang yang semakin dekat semakin membuatnya yakin dia adalah Rangga.
"Wah Filla sudah bisa jalan-jalan ya?" tanya bunda lalu menghampiri Filla dan mengelus puncak kepalanya.
Filla menatap wanita paruh baya yang ada didepannya ini, "Bunda," ucapnya pelan.
Semua orang menatapnya heran termasuk pria yang sejak tadi memunggunginya, Filla tertegun melihat pria itu benar Rangga, tapi ia ragu untuk menyapa apalagi untuk memeluk Rangga walau ia sangat ingin, melihat reaksi Rangga, mengingatkannya saat ia pertama kali bertemu dengan Rangga dikamar Rangga sendiri, tatapan tajam dan asing.
Bunda tersenyum menatap Filla, "Iya panggil Bunda aja, bagus nggak perlu Bunda suruh deh, ah seru deh punya anak perempuan gede," kata bunda persis seperti pertama kali Filla bertemu dengannya, tapi kali ini situasinya beda.
__ADS_1
"Enak aja kamu Ra, anakku mau kamu ambil juga," celetuk mama membuat bunda tertawa.
Yang lain juga ikut tertawa mendengar celetukan mama kecuali Rangga yang masih saling tatap dengan Filla, semua ini benar nyata, Filla tidak yakin sekarang ia diposisi apa, semuanya aneh, ia tahu semua orang yang ada disini tapi yang lain asing menatapnya, apa yang terjadi sebenarnya, apa hanya dia yang bermimpi.
Bunda mengikuti arah pandang Filla yang menatap Rangga. Seulas senyum ia pancarkan, "Aduh pada saling tatap ini, ada apa atuh?" cletuk bunda membuat Filla memalingkan tatapannya. "Ayo kenalan dulu," ajak bunda sambil mendorong kursi roda Filla mendekat pada ranjang Rangga.
"Rangga nggak mau kenalan sama dia!" ucap Rangga tegas.
Filla menatap Rangga tak percaya, apa benar Rangga tak mengenalinya? Drama apa sebenarnya yang mereka lakoni sekarang?
"Rangga! Jutek amat, apa salahnya saling mengenal, jadi teman," tegur bunda tak suka melihat sikap Rangga.
Rangga menatap Filla tajam, "Gara-gara dia kan aku koma, aku inget, dia penyebab kecelakaannya!" bentak Rangga membuat semua yang ada dalam ruangan menatapnya.
"Semua kecelakaan Ngga, Nggak ada orang yang mau nabrakin diri, Filla juga sakit sama kayak kamu," ucap ayah menengahi.
Filla tak percaya semua ini, dugaannya benar Rangga tak mengenalnya dan sekarang malah membencinya, "Ma, aku mau keluar dari sini," ucap Filla sambil menunduk, ia tak sanggup berada disini, semuanya tak sesuai dugaannya, mengapa semuanya jadi seperti ini. Apa dia gila menyangkut pautkan mimpi dengan kenyataan? Sepertinya ia karena tak ada yang merasa sama dengannya, lalu kenapa semua mimpinya benar, ia menganal semua orang disini.
"Iya Nak," ucap mama lalu mendorong kursi Filla menuju pintu diikuti papa.
"Ton, Ra. Kami keruangan sebelah dulu ya," ucap papa mencairkan suasana yang begitu beku.
Bunda dan ayah hanya mengangguk merasa tak enak hati dengan sikap Rangga.
Filla dan kedua orangtuanya kembali keruang rawat Filla, Filla sejak tadi menunduk dan menangis, entahlah apa yang ia rasakan, tapi hatinya sakit melihat sikap Rangga dan kenyataan yang ada didepannya bahwa ingatan itu hanya miliknya.
"Sayang kenapa? Kamu kesel sama sikap Rangga? Udahlah mungkin karena dia lagi sakit," ucap mama menenangkan Filla.
__ADS_1
"Nggak Ma, Rangga keterlaluan, Filla sudah datang baik-baik kesana, dia pikir dia nggak bersalah? Filla juga korban, kenapa nyalahin Filla," ocehan papa terdengar geram dengan sikap Rangga terhadap putrinya.
Mama menggenggam tangan papa, "Sudahlah," ucap mama menenangkan.
"Filla nggak tau, Pa, Ma, ini semua apa dan harus gimana nyikapinnya?" ucap Filla kesal dengan keadaan, ia menangkupkan wajah dan memijit pelan kepalanya yang terasa pusing.
"Maksud kamu gimana, Nak?" tanya papa bingung dengan ucapan Filla.
Akhirnya Filla menceritakan semua yang ia hadapi selama ini, didunia yang begitu nyata baginya, tanpa ada yang ia tinggalkan, dari mulai kematian orangtuanya sampai kuliah di Singapura yang belum terselesaikan.
"Jadi maksud kamu, selama kamu koma kamu melakukan banyak hal?" tanya mama meyakinkan.
Filla mengangguk, "Banyak Ma, dan sampai saat ini Filla nggak tahu apa maksudnya, Filla juga bingung seharusnya kalau mimpi itu cuma bunga tidur nggak mungkin kan wajah Rangga, Bunda dan Ayah semuanya mirip? Sedangkan Filla nggak pernah sekalipun bertemu mereka," ucap Filla panjang lebar.
Papa mengangguk paham, "Kamu melawati banyak hal yang membingungkan, dan cuma kamu yang memiliki ingatan itu, dan semuanya benar, Papa juga jadi bingung antara percaya dan tidak, tapi melihat keadaannya seperti nyata," ucap papa menimbang-nimbang semua cerita Filla yang rumit.
"Udahlah Fill, syukurin semuanya, dengan ini kamu jadi paham kerasnya hidup tanpa orangtua, dan kamu bisa mandiri, Mama harap kamu bisa berubah jadi Filla yang baik, anak Mama yang menggemaskan, setidaknya akhirnya Mama bisa peluk kamu dan bisa ngobrol sama kamu dengan nada santai nggak teriak-teriak kayak biasanya," ucap mama yang meraih anggukan Filla.
Filla memeluk mama diikuti papa yang juga memeluk mereka, "Ma, Pa makasih masih ada disini, hidup Filla tanpa kalian terlalu berat, semuanya terasa sepi, Filla bersyukur semua itu hanya mimpi walau ada sedikit sedih karena mereka nggak tahu semuanya, tapi ada kalian cukup, karena kalian yang paling berharga," ucap Filla.
Papa mengelus rambut Filla pelan, "Papa yakin semua yang Tuhan gariskan ada hikmanya nak, kita mulai semua dari awal, Papa janji akan selalu mempercayai kamu," ucap papa tulus.
Setidaknya dari semua kesedihan ada satu kebahagiaan yang menutupi segalanya, Filla sekarang tak sendiri ada mama dan papanya yang akan selalu berada disampingnya, memulai hari-hari baru, melanjutkan hidupnya yang terhenti sementara, ia akan jadikan semuanya pelajaran.
Dimana pelajaran itu berharap dapat merubah tingkah dan cara berfikir dirinya. Tuhan mengambil kebahagiaannya dulu, lalu menggantikannya dengan kebahagiaan lain, dan sekarang Tuhan mengembalikan kebahagiaan yang dulu tapi menarik kembali kebahagiaan yang baru ia jalani, setidaknya dari semua ini ia belajar bahwa tak semuanya bisa digenggam karena tangan kita terlalu kecil, cukup satu dan yakini hatimu kamu mensyukurinya karena dasar dari kebahagiaan adalah seberapa besar rasa ikhlas dan syukurmu terhadap apa yang telah digariskan Tuhan.
******
__ADS_1