Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 155


__ADS_3

"Lo gila?" bisik Filla pada Iren.


Iren mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum, "Kan dia babak belur gara-gara lo juga, bales budi nggak apa-apa kali," bisik Iren.


"Yaudah, Filla sama Iren bareng Rangga, biar para orangtua langsung ke Bandara, tapi kalian hati-hati," ucap papa menegangi.


"Beneran nggak apa-apa kalian berdua?" tanya bunda tak enak hati. "Maaf ya, Bunda jadi ngerepotin."


Filla memaksa senyumnya, mau bagaimana lagi, jika menolak sama saja dengan mengecewakan bunda, dan Filla selalu menghindari itu, Filla akhirnya mengangguk.


"Alhamdulillah kalau gitu, agak tenang Bunda, tapi janji hati-hati, kalau Rangga ngebut langsung tampar aja," pesan bunda sambil memukul bahu Rangga.


"Sakit Bun," ucap Rangga sambil mengelus bahunya.


"Syukurin," ucap bunda membuat yang lain tertawa, tapi tidak dengan Filla yang merutuki Iren.


Iren hanya tersenyum sambil menaikkan kedua alisnya untuk membalas tatapan kesal Filla


"Yaudah, kita ke Bandara ya," ucap ayah yang diangguki ketiganya.


"Akak, hati-hati, babay," ucap Tita masih sempat memeluk pingang Filla.


Filla tertawa, "Kamu juga," ucap Filla sambil mengacak rambut Tita.


Setelah kepergian yang lain, hanya diam yang menyelimuti ketiganya.


IIren berdehem pelan, "Mau disini sampai kapan ngomong-ngomong?" ucap Iren memecahkan suasana, membuat Ranga sedikit tersentak karena lama berdebat dengan dirinya sendiri.


"Sorry, yaudah yuk," ajak Rangga ke parkiran, diikuti Filla dan Iren.


Rangga membukakan pintu mobil depan untuk Filla sambil tersenyum.


"Gue dibelakang aja," ucap Filla yang langsung membuka pintu belakang dan masuk kedalam mobil.


Iren tersenyum pada Rangga, "Emang ngeselin anaknya, dari pada lo ditolak, udah gue aja yang didepan, makasih," ucap Iren yang langsung masuk kedalam.


Rangga menghela napas lalu menutup pintu mobil dan berjalan menuju kursi kemudi.


******


"Lo jurusan fotografi ya Ngga?" tanya Iren membuka obrolan sambil menoleh pada Rangga.


Rangga mengangguk, "Siapa yang cerita?" tanya Rangga sambil melihat kaca diatasnya, melihat pergerakan Filla yang seakan tak tertarik dengan obrolan mereka.


"Caca deh kayaknya yang kasih tahu," ucap Iren mengingat-ingat.


Rangga mengangguk, walau kecewa mendengar jawaban Iren, karena ia harap Filla lah yang akan membicarakannya.

__ADS_1


Filla memasang earphone ditelinganya lalu menyender pada kaca jendela, dirinya melihat jalanan tidak ingin bergabung dengan obrolan Iren dan Rangga.


Hujan mulai turun membuat Filla sedikit menatap keatas lalu tersenyum, penyuka hujan sepertinya tentu akan sangat senang melihat rintik yang turun.


"Yah hujan," ucap Iren.


Rangga melihat Filla dari kaca diatasnya lalu tersenyum, melihat senyum Filla entah mengapa ia juga ingin tersenyum.


"Kayaknya kita harus nepi dulu, jalanan nggak kelihatan," cap Rangga.


Iren mengangguk menyetujui, karena jika dilanjutkan akan sangat berbahaya bagi mereka, Iren menoleh kebelakang lalu menepuk lurut Filla.


Filla menaikkan kedua alisnya sambil melepas earphone yang ia gunakan, "Apa?" tanya Filla.


"Kita kayaknya berenti dulu, soalnya jalanan nggakkeliatan sama sekali," ucap Iren membuat Filla mengangguk tanpa berucap.


Rangga menepikan mobilnya pada sebuah warung yang terlihat sepi.


Mereka semua berlari dibawah hujan untuk mencapai warung yang sedikit tinggi dari jalanan, membuat mereka harus menaiki beberapa anak tangga.


Filla mengibaskan lengan bajunya ketika mereka sampai di teras warung, dirinya membenarkan rambut yang mulai lepek karena air huja.


"Aduh, pake tiba-tiba hujan segala," ucap Iren yang juga mengibaskan lengannya.


"Kita ngangetin diri dulu aja disini," ucap Rangga sambil berjalan masuk kedalam warung.


Filla mengerutkan keningnya, "Bukannya lo suka sama dia? Bagus dong buat lo, kalau gue beneran nggak mau lagi," ucap Filla.


Iren tersenyum lalu menutup mulutnya, "Lo cemburu? Ah elah, gue nggak mungkin rebut dia dari lo kali, gue cuma mau lihat pergerakan dia aja," ucap Iren sambil menyenggol bahu Filla. "Seriusan lo cemburu?" ledek Iren.


Filla mengalihkan pandnagannya, "Apaansih, nggak," Filla meninggalkan Iren masuk kedalam warung.


"Cie," ledek Iren yang berjalan dibelakang Filla.


Sudut bibir Filla sedikit tertarik, dirinya harus menahan itu sekarang, benar-benar tidak singkron antara hati dan otaknya sekarang jika berhubungan dengan Rangga.


*******


Mereka bertiga duduk disalah satu meja kosong di sudut ruangan, tepatnya mereka berusaha mencari tempat yang tidak terjamah percikan air dari rintik hujan.


"Mau pesen apa?" tanya Rangga.


"Gue teh anget aja," ucap Iren cepat, lalu menyenggol bahu Filla.


"Gue aja yang pesen lo mau apa?" tanya Filla yang langsung berdiri.


Rangga memegang bahu Filla lalu menekannya agar Filla kembali duduk, "Aku aja, kamu mau apa?" tanya Rangga serius.

__ADS_1


Filla sedikit tertegun namun tetap berusaha mengkondisikan wajahnya, "Teh anget," ucap Filla akhirnya.


Rangga mengangguk lalu meninggalkan mereka menuju bagian depan, menemui penjaga warung.


Iren mengangkat kedua alisnya, "Cie, fiks gagal move on ini mah," ucap Iren sengaja meledek Filla.


"Jangan mulai deh Ren, kalau dia dengar habis lo sama gue," ucap Filla menatap kesal Iren.


Iren menutup mulutnya menahan tawa, lalu mengangguk, "Siap," ucapnya walau masih saja menahan tawanya membuat Filla menatap malas.


Rangga berjalan mendekati mereka dengan membawa nampan berisi tiga gelas teh hangat, Rangga menempatkan satu persatu gelas di atas meja depan mereka masing-masing.


"Makasih Rangga," ucap Iren sambil tersenyum.


"Makasih," ucap Filla.


Rangga hanya mengangguk lalu menyesap teh miliknya.


"Lah berenti," ucap Iren saat suara hujan tak lagi terdengar walau awan masih sedikit gelap.


Rangga dan Filla ikut melihat sekeliling, "Kalian nggak mau makan dulu?" tanya Rangga menatap Filla.


Filla berusaha untuk tidak bertemu tatap dengan Rangga.


"Kenyang gue, lo Fill?" tanya Iren.


Filla menggeleng, "Gue juga kenyang," ucap Filla lalu mulai menyesap teh didepannya.


"Kalau lo mau makan dulu, kita tungguin nggak apa-apa Ngga," ucap Iren.


Rangga menggeleng, "Gue juga kenyang," ucap Rangga lalu menghabiskan teh didalam gelasnya. "Gue bayar dulu," ucap Rangga setelah meletakkan gelasnya yang kosong diatas meja.


Iren mengangguk sedangkan Filla tak merespon.


Filla juga menghabiskan teh didalam gelasnya, menyisakan sedikit untuk tetap tertinggal disana.


"Canggung banget lo berdua, sumpah, nggak pengen gitu ngobrol?" gerutu Iren sambil menyenderkan tubuhnya pada senderan kursi.


"Biasa aja," ucap Filla.


Iren memajukan bibir bawahnya, "Biasa apaan, capek gue nyairin suasana, kalau lo bersikap kayak gitu artinya lo emang masih menyimpan dendam, dan orang yang udah meninggalkan masa lalu nggak akan punya dendam." Iren menepuk bahu Filla.


"Sok bijak amat lo," ledek Filla walau sebenarnya ucapan Iren terasa menohok sekali.


Filla mengacak rambut Iren, akhirnya mereka berdua malah saling berbalas lalu menyerah sendiri dan tertawa.


Rangga menghentikan langkahnya hanya untuk melihat tawa Filla yang lama tak ia jumpai.

__ADS_1


********


__ADS_2