Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 55


__ADS_3

"Ni pake," ucap Rangga sambil memberikan jaketnya pada Filla. "Besok-besok kalau keluar bawa jaket kek biar gak nyusahin," celetuknya.


Filla hanya mengangguk sambil memakai jaket dari Rangga. Ia tak ambil pusing dengan ocehan Rangga, buang-buang tenaga jika terus dilanjutkan.


Jarak rumah sakit dan lapangan futsal tidak terlalu jauh, hanya memakan waktu 15 menit, saat sampai Rangga langsung berjalan meninggalkan Filla yang berlari kecil menyamakan langkahnya.


Filla menatap langkah kaki Rangga yang jauh meninghalkannya walau ia berusaha menyusul tetap saja Rangga tak tergapai.


Filla tersenyum, menertawai dirinya sendiri dengan kebodohan tetap disisi Rangga.


"Gue masih nggak habis pikir kenapa gue kasih tahu lo ini tempat, di dunia mimpi lo itu," ucap Rangga sambil membuka pintu lapangan futsal.


Filla menoleh lalu tersenyum, "Mungkin aku spesial," ucap Filla sambil lalu menertawai dirinya sendiri berharap lebih pada sesuatu yang ia tau jawaban akhirnya.


Rangga tertawa mengejek, "Ngarep, lagian kalau bener gue pernah kasih tahu lo, mungkin pas waktu itu gue gagar otak," sahut Rangga.


"Mungkin," jawab Filla sekenanya.


Mereka berjalan ke tengah lapangan dan duduk disana.


"Sumpah Ngga, kalau diinget-inget saat pertama kali ketemu kamu di dunia mimpi itu rasanya kamu nggak sejutek ini, seriusan," ucap Filla dengan nada mengolok.


"Lo mulai lagi sama cerita halu lo?" tanya Rangga sambil membaringkan dirinya diatas rerumputan dan menjadikan tangannya sebagai bantal.


"Halu atau nggak, semuanya terjadi, hanya beberapa yang berubah alur ceritanya, aku juga bingung, pertama, kamu inget bayi tadi? Namanya Rain, dan aku yang kasih nama kalau dimimpi, terus Mama sama Papa aku meninggal, dan masa kuliah, dimana kita kuliah di Singapur bukan di Bandung. Selebihnya nggak ada yang berubah," jelas Filla sambil mengingat-ingat apa saja yang berubah dan tetap berjalan sebagaimana mestinya.


Rangga kembali duduk mulai tertarik dengan kisah Filla yang awalnya ia anggap halu, tapi makin kesini terasa aneh jika menganggap Filla halu, "Gue masih nggak percaya, kenapa cuma lo yang punya cerita gila itu? Yang lain nggak," jawab Rangga penasaran.


"Aku juga bingung Ngga, kamu pikir enak apa gila sendiri? Nggak dipercayai sama pacar sendiri," celetuk Filla sambil menyindir Rangga.


Rangga berdehem, "Pacar apaan? Gue aja nggak inget, lo ngaku-ngaku pacar gue, cerita kapan taon itu," celetuk Rangga.


Filla hanya mengangkat bahunya malas.

__ADS_1


"Oiya, ada yang aneh, Tita," ucap Filla ketika teringat dengan Tita.


"Tita?" ucap Rangga penasaran.


Filla mengangguk, "Iya dia kenal aku, kalau alur ceritanya semua orang lupa sama aku, terus Tita satu-satunya orang yang inget, berarti ada peluang mimpi itu beneran bukan halu," ucap Filla merangkai tiap kejadian yang berputar diotaknya.


"Palingan Tita denger nama lo pas Bunda manggil lo, kan suara bunda kenceng waktu itu."


"Kenapa sih Ngga, segitu nghak percayanya?" tanya Filla menatap Rangga tepat dimanik matanya, mengharap jawaban pasti dari tanya yang lama ada.


Rangga mengangkat kedua bahunya, "Memang nggak ada yang perlu dipercayain, semuanya aneh, dan orang aneh itu lo," ucap Rangga tegas sambil menatap Filla.


Filla menatap langit yang terasa hampa, sama seperti perasaannya sekarang, ingin menyerah namun tetap bertahan.


"Gue mau tes, kalau bener lo pacar gue, lo tahu dong apa yang gue suka dan yang nggak gue suka?" tanya Rangga sambil menoleh kearah Filla, setelah lama kesunyian mendominasi diantara mereka.


Filla menaikkan alisnya, "Kamu suka tidur, dan nggak suka tidur kamu ada yang ganggu," ucap Filla sekenanya.


"Bener sih, tapi lebih spesifik dong, masak gitu doang," tantang Rangga.


Rangga hanya terdiam, mendengar ucapan Filla yang tidak ia temukan titik kesalahannya, ia jadi bingung, semua ini apa? "Nggak usah, sok tahu," jawab Rangga lalu kembali berbaring seperti tadi.


Filla tertawa karena Rangga terlihat bingung, "Gimana? Muka aku masih pucet nggak?" tanya Filla.


"Masih," jawab Rangga sekenanya.


"Oiya, kenapa nggak make up-pan aja ya," ucap Filla, ia langsung meronggoh bedak dan lipstiknya didalam tas, dan memakainya agar tidak terlihat pucat. "Gimana?" tanya Filla saat ia selesai.


Rangga melihat sebentar, "Lumayan," Lalu kembali terpejam.


Filla bangkit dari duduknya, "Ayo Ngga, udah malem," ajak Filla sambil menarik tangan Rangga yang masih berbaring.


Rangga dengan malas mengikuti tarikan Filla tanpa melawan.

__ADS_1


"Ngga itu apaan?" tanya Filla saat melihat cahaya terang disepanjang halaman rumah yang mereka lewati.


"Lentera, tempat ini memang penduduknya sering menerangi jalan dengan lentera, seperti ciri khas mereka," jawab Rangga menjelaskan.


Filla mengangguk, "Keren banget," ucap Filla sambil merapatkan jaket Rangga ketubuhnya yang terasa mengigil karena kedinginan.


Setelah 20 menit Rangga mengendarai motornya akhirnya mereka sampai didepan rumah Filla.


"Makasih Ngga, besok boleh dong nebeng lagi," ucap Filla masih berusaha.


"Nggak ada nebeng-nebengan, hari ini yang terakhir," jawab Rangga sambil menghidupkan motornya dan berlalu.


"Aku tetep pengen nebeng besok," ucap Filla sambil tersenyum saat Rangga menatapnya kesal saat sedang memasukkan motornya digarasi.


Filla senang, hari ini banyak hal yang ia lalui bersama Rangga, Rangga sudah mulai membuka diri padanya, satu kemajuan yang pesat, ia bahagia, setidaknya ada harapan Rangga akan bersikap seperti dulu.


Filla mencium jaket Rangha dengan senang, aroma Rangga seperti candu untuk Filla sekarang.


"Fill, ngapain?" tanya mama yang mulai berjalan menghampirinya.


Filla terkekeh, "Nggak ngapa-ngapain Ma," ucapnya lalu berjalan mendekati mama.


"Kamu kenapa pulang malem sayang?" tanya mama sambil mengelus pelan puncak kepala Filla.


Filla tersenyum manja, "Maaf Ma, tadi ada eskul terus langsung ngekorin Rangga makan," ucap Filla sedikit berbohong, karena tidak ingin mama khawatir dengan kondisinya tadi.


"Kamu betah deket Rangga?" tanya mama untuk kesekian kalinya, "Mama nggak ngelarang asal kamu bahagia, tapi Mama juga nggak mau kamu selalu nggak dianggep sama Rangga," ucap mama tenang.


Filla tersenyum, "Ma, Filla suka deket sama Rangga, walau Rangga nggak bersikap baik sekarang, tali Filla yakin nanti Rangga pasti berubah," ucap Filla meyakinkan.


"Kalau nanti kamu lelah, kamu harus janji sama Mama, lupain Rangga," ucap mama serius sambil memegang kedua bahu Filla.


Filla mengagguk paham, "Pasti Ma," ucapnya lalu memeluk mama dengan erat, rasanya Filla selalu ingin didekat mama, terpisah selama dua tahun rasanya benar-benar membuatnya rindu pada mama dan papa setiap saat.

__ADS_1


******


__ADS_2