Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 77


__ADS_3

Beberapa menit kemudian sushi yang Ola pesan terhidang rapi dimeja depan mereka.


"Oiya La, temen lo jadi dateng?" tanya Filla sambil mengambil sumpit dan melepaskan rekatan antar sumpitnya.


Ola yang sudah mengunyah sushi dimulutnya mendonggak melihat Filla, Ola mengangguk, "Jadi, mereka agak telat," jawab Ola yang meraih anggukan Filla dan Reya.


"Hai," sapa dua orang yang datang.


Filla menatap dua perempuan yang sekarang berdiri disebelah Rangga. Filla tersenyum hangat pada mereka, kali ini Freya dan Dinda terasa nyata, sahabat yang ia kira salah-satu ilusi dalam mimpinya ternyata juga ada didunia nyata.


"Din, Frey, dari tadi kita nungguin kalian," ucap Ola sambil berdiri dan cepika-cepiki sepertinya sudah jadi kebiasaan.


"Duduk dulu," ucap Filla tak bisa melepas tatapannya dari mereka berdua.


Dinda dan Freya menempatkan diri dikursi kosong depan Filla, "Sorry banget nih telat," ucap Freya sambil meletakkan tasnya.


"Nggak apa-apa, udah biasa," ucap Filla tanpa sadar.


Semua menatap Filla meminta penjelasan.


Filla tersenyum kikuk, "Nggak maksudnya, udah biasa juga gue telat."


"Tapi bener loh, gue emang sering telat," ucap Freya sambil tertawa membuat yang lain ikut tertawa.


Mereka satu persatu berkenalan, "Gue kok kayak nggak asing ya sama muka Filla," ucap Dinda sambil memperhatikan wajah Filla.


Filla tersenyum, "Mungkin muka gue pasaran," ucap Filla melempar candaannya membuat yang lain tertawa.


Mereka bercerita banyak, berbagi pengalaman, bisa dikatakan Filla banyak belajar dari mereka, keterlambatannya dalam hal apapun membuat Filla harus lebih ekstra untuk mengganti semua waktu yang ia tinggalkan.


"Oiya Fill, Satya nayain lo, mungkin dia lihat foto postingan gue di instagram kemaren," ucap Ola masih menyantap sushi miliknya.


"Satya?" tanya Filla sambil mengingat-ingat.


Ola sengaja membicarakan hal ini, merasa senang melihat perubahan wajah Rangga yang tepat sesuai perkiraannya, "Satya anak IPA 3, yang pernah nggak sengaja nendang bola sampai mendarat dikepala lo," jelas Ola lalu menyesap minumannya dengan sedotan.


"Oh, gue inget, dia dimana sekarang?" tanya Filla antusias menceritakan hal dimasa lalu.


Rangga menoleh lalu membuang mukanya kearah istana balon yang berada sedikit jauh didepan tempat makan mereka saat ini.


Ola menahan senyumnya melihat sikap Rangga.


"Satya sekarang lanjut di Jogja Fill, perasaan sih banyak banget anak angkatan kita lanjutin di Jogja." jelas Ola.


Filla mengangguk, "Gue juga pernah mau kesana, cuma bokap nggak ngizinin," curhat Filla.

__ADS_1


"Satya juga minta kontak WhatsApp lo sih," ucap Ola sambil melirik kearah Rangga yang memilih acuh namun tetap memasang telinga.


"Kayaknya kepopuleran lo di SMA dulu masih aktif Fill," ucap Reya sambil membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan.


"Mungkin," ucap Filla sambil menaikkan kedua alisnya.


******


Mereka memasuki studio 3, rencana awal adalah menonton, Reya sudah menyiapkan tiket untuk mereka semua.


"Kalian duluan aja, gue mau ketoilet dulu," ucap Filla, lalu melangkah muju tolet yang terletak dibagian kanan saat semua orang mengiyakan.


Saat Filla memasuki toilet, ada beberpa perempuan dengan penampilan modis berdandan didepan kaca besar yang disediakan dekat wastafel.


Filla tanpa memperdulikan langsung masuk kesalah satu bilik didalam toilet tersebut.


Tidak memakan waktu cukup lama Filla keluar, lalu berjalan menuju wastafel untuk berkaca dan mencuci tangan.


Filla sedikit bingung saat perempuan disebalahnya mencuri pandang, Filla memberanikan diri menoleh lalu tersenyum untuk menyapa.


Dua perempuan disampingnya juga ikut tersenyum walau terlihat kikuk, "Kak boleh gue nanya?" ucap Perempuan dengan baju tanpa lengan biru.


Filla mengangguk sambil tersenyum, "Boleh," jawab Filla tanpa melepas senyuman dan wajah ramahnya.


"Kak perawatan dimana? Kulitnya mulus banget," ucap perempuan tersebut dengan antusias.


"Gue bilang juga apa, kayaknya alami," ucap perempuan dengan baju dress krem selutut.


Filla tertawa mendengar bisikan mereka, "Yaudah, gue duluan ya," ucap Filla lalu melangkah keluar saat meraih anggukan dari keduanya.


Filla terdiam saat melihat Rangga masih berdiri didepan pintu masuk studio, sepertinya Rangga menunggu dirinya. Filla tersenyum lalu melangkah mendekati Rangga.


"Ngapain? Kenapa nggak masuk?" tanya Filla.


"Nggak apa-apa, yuk," ajak Rangga sambil merangkul Filla.


Mereka memasuki ruangan, belum ada film yang terputar hanya beberapa iklan pembuka yang biasa mencuri 10 menit waktu awal.


Filla menghidupkan flash ponselnya untuk menerangi jalannya yang sangat gelap, Filla mencari kursi dengan nomor yang ia pegang.


Reya melambaikan tangan pada Filla, Filla membalasnya dan melangkah mendekat pada Reya dan yang lain.


"Tuh kursi lo, udah gue setting biar deket sama pujaan," ucap Reya berbisik saat Filla sudah duduk disebalahnya.


"Resek banget lo," ucap Filla kesal, Reya memang teman menyebalkan menurut Filla.

__ADS_1


Ola, Dinda dan Freya yang duduk disebelah Reya berurutan tertawa mendengar celetukan Filla.


"Nggak apa-apa Fill, kite siap jadi obat nyamuk," ledek Freya sambil tertawa.


Filla mempautkan bibirnya, menatap kesal pada mereka semua yang sekarang sekongkol.


Filla menempatkan diri duduk disebelah Rangga, Filla melirik sebentar pada Rangga, wajah Rangga tetap sama, datar dan dingin. Filla menatap layar didepannya, tanpa memperdulikan ekspresi Rangga yang membuatnya terbiasa dan celotehan keempat temannya.


Mereka memutuskan membeli popcorn saat seseorang menawarkan popcorn yang ia bawa.


Rangga dan Filla memutuskan membeli 2 lemon tea dan 1 popcorn ukuran sedang.


"Ngga, lihat deh, itu pemeran kesukaan gue," ucap Filla antusias saat salah satu aktor kesukaannya muncul dilayar.


Rangga mengangguk, sambil mengunyah popcorn-nya.


Filla melirik lalu mendapati Rangga yang hanya menatap lurus kedepan tanpa memperdulikan ucapannya.


Filla menghela napas, "Sabar," ucapnya pelan. Akhirnya Filla memilih ikut menikmati Film tanpa membicarakan hal apapun yang menarik menurutnya pada Rangga.


"Gue ketoilet dulu," ucap Reya sambil berjalan pelan melewati Filla dan Rangga.


"Ganggu banget lo," ledek Filla sambil menampar tangan Reya pelan.


Reya menatap Filla sambil meleletkan lidahnya, "Terserah gue dong," ucapnya lalu berjalan cepat agar tamparan lanjutan Filla tidak ia rasakan untuk kedua kalinya.


Rangga mendekat pada telinga Filla, berbisik pelan, "Menurut lo siapa dalang dari cerita ini?" tanya Rangga.


Filla menaikkan kedua bahunya, kesalnya dengan Rangga belum selesai, sekarang gilirannya membalas dendam, "Mana tahu, emang lo pikir gue penulis skenarionya," ucap Filla.


"Lo lagi dapet?" tanya Rangga menatap Filla.


Filla mengerutkan keningnya, "Kalau ia kenapa?" tanya Filla penasaran.


"Pantes," ucap Rangga sambil kembali menatap layar.


Filla menepuk tangan Rangga, "Pantesan apaan? Bisa pake bahasa manusia?" tanya Filla kesal.


"Tadi udah sih, kalau lo nggak paham, patut dipertanyakan aja mana manusianya," ucap Rangga tanpa menoleh pada Filla.


Filla menatap Rangga sengit, tanpa basa-basi tamparan kencangnya mendarat ditangan kiri Rangga.


"Aw Filla!" ucap Rangga keras walau dalam keadaan berbisik.


"Rasain, jadi orang ngeselin, dodol," ucap Filla lalu kembali memfokuskan diri pada Film tanpa mau memperdulikan Rangga.

__ADS_1


******


__ADS_2