
Rangga masih dilema dengan beberapa potongan memori yang sesekali muncul didalam kepalanya, kebenaran dari memori yang ada pun masih perlu dipertanyakan, apalagi Filla menutup rapat semuanya.
Mungkin Rangga terlalu egois bermain pada perasaan Filla, namun jauh dalam dirinya sendiripun Rangga menyumpahi dirinya sendiri.
Rangga duduk di balkon kamar yang ia tempati, menatap langit yang terasa indah dipagi hari, Rangga menghirup napas menenangkan perasaannya yang terasa bercampur, belum lagi Rangga sangat malas membuka ponselnya, entah sudah berapa panggilan tak terjawab dan pesan dari Kania sejak semalam.
Hujan menjatuhkan butiran air kecil, gerimis menemani Rangga pagi ini, pagi dengan sejuta pertanyaan dalam benak.
"Bang," panggil Tita yang tiba-tiba menepuk bahu Rangga.
Rangga tersentak, lalu menghela napas saat mendapati Tita, "Ngagetin lo Ta," ucap Rangga sambil mengusap dadanya.
"Cemen," ucap Tita sambil mengangkat ibu jarinya namun terbalik.
"Mau apa?" tanya Rangga to the poin.
"Nggak, bosen aja," ucap Tita sambil tertawa.
Rangga memutar bola mata malas, "Terserah ya Ta," ucap Rangga lalu meninggalkan Tita masuk kedalam kamar. Rangga menghempas tubuhnya diatas kasur.
"Tambah nggak asik," ucap Tita yang juga meninggalkan balkon.
"Tita, pintu balkonnya tutup," ucap Rangga saat mendapati Tita yang berjalan keluar kamar meninggalkan balkon dengan keadaan terbuka.
"Abang aja, males," ucap Tita lalu meleletkan lidahnya pada Rangga sebelum menutup pintu dan berlari.
Rangga menghembuskan napas, "Sabar Ngga," ucap Rangga pada dirinya sendiri, lalu menutup pintu balkon. Rangga kembali menghempaskan tubuhnya diatas kasur dengan tangan menutup wajahnya menghalangi cahaya lampu yang berada tepat diatasnya.
********
"Makasih loh Kak, mau nemenin jalan-jalan," ucap Filla yang duduk disebelah Nindy.
Nindy tertawa, "Santai aja dek, aku juga lagi kosong, dan kalau nggak nemenin kalian jalan, mungkin lagi-lagi weekend dirumah," ucap Nindy sambil menyetir mobil.
Nindy memang diminta tante Lina untuk menemani Filla dan juga Rangga jalan-jalan, seperti biasa para orangtua dalam situasi liburan pun akan menyempatkan diri berbisnis, tujuan awal mereka memang berlibur sambil membicarakan rencana bisnis bersama yang akan mereka kembangkan.
"Tapi nggak apa-apakan kalau nanti temenku gabung?" tanya Nindy sambil menoleh pada Filla disebelahnya dan melirik kaca diatasnya melihat Rangga yang duduk sendiri dibelakang.
"Iya Kak, malah seru kalo rame," ucap Filla sambil tersenyum, sedangkan Rangga mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
Nindy ikut tersenyum, "Oiya Ngga, kamu jurusan Arsitektur kan? Ngomong-ngomong asik nggak jurusan itu? Soalnya pernah minat tapi nggak tahu deh tiba-tiba berubah," ucap Nindy sambil tertawa.
"Iya Kak, lumayan sih, menurut aku tergantung suka nggak sama jurusannya, semua jurusan tentu ada kesulitannya, cuma karena suka jadi jalaninnya lumayan," ucap Rangga.
Nindy mengangguk, "Bener, kalau minat kita disana, pasti jalaninnya juga nyaman," ucap Nindy. "Oiya Fill, kalau kamu jurusan apa?" tanya Nindy sambil menoleh kearah Filla.
"Tata busana Kak," ucap Filla.
"Wah, pantesan style fashion kamu emang keren-keren," ucap Nindy kagum.
Filla tersenyum, "Nggaklah Kak, masih belajar."
"Pokoknya nanti kalau kamu jadi designer harus buatin aku baju," ucap Nindy semangat. "Rangga buatin rumahnya," ucap Nindy membuat Filla dan Rangga ikut tertawa.
"Aamiin Kak, semoga," ucap Filla.
********
Filla menatap layar ponselnya, sekarang ia tambah yakin, Vino bersikap berbeda, bahkan semalam Filla yang menyempatkan diri menelpon namun hanya satu menit berbicara Vino malah mematikan hubungan telpon.
Sampai sekarang belum ada panggilan atau pesan dari Vino, terasa aneh memang, berhubungan dengan Vino hampir dua bulan, belum pernah Filla mendapati sikap seperti ini darinya.
Filla tersenyum, "Nggak Kak," ucap Filla.
"Oke," Nindy memasuki gerbang tempat wisata yang akan mereka kunjungi. "Tiga orang Paman," ucap Nindy pada seseorang diloket.
"Nggak usah," ucap pria paruh baya sambil mengibaskan tangan.
"Makasih Paman," ucap Nindy lalu menjalankan mobil masuk setelah portal dibuka.
"Kok nggak usah Kak?" tanya Rangga sambil memajukan diri melihat sekitar.
"Biasa, kalau orang sini digeratisin, cuma turis atau pengunjung dari kota lain yang beli tiket, tapi murah kok, cuma bayar parkiran aja," ucap Nindy.
Rangga mengangguk, "Iya lumayan murah Kak, padahal tempatnya bagus," ucap Rangga setelah melihat sekeliling.
"Soalnya cuma buat nambah uang perawatan aja kok, selain itu perawatan juga kan ada dari pemerintah," jelas Nindy.
Ponsel Rangga berdering, nama Kania yang muncul dilayar ponselnya, dan sekali lagi Rangga mematikan panggilan dari Kania.
__ADS_1
"Kok nggak diangkat Ngga, udah dari tadi nelpon, entar penting," ucap Nindy sambil membuka sabuk pengaman.
"Nggak penting Kak," ucap Rangga.
Filla melirik Rangga dari kaca diatasnya, rasa penasaran tentang apa yang terjadi diantara Rangga dan Kania tentu saja memenuhinya, namun ia tidak boleh terpengaruh sedikitpun.
"Nindy lame ka ni," (Nindy, lama banget kamu) ucap seorang pria sambil mengetuk kaca jendela mobil Nindy.
Nindy tertawa lalu menurunkan kaca jendelanya, "Bentar Agra, dk usa hibo," (Sebentar Agra, jangan heboh) ucap Nindy dengan bahas Bangka-nya yang khas.
Filla dan Rangga tertawa melihat celotehan mereka berdua yang tidak mereka mengerti sama sekali.
"Emang gitu orangnya, heboh," ucap Nindy.
"Lucu kok Kak," ucap Filla sambil tertawa.
"Yaudah yuk, turun" ucap Nindy yang membuka pintu mobilnya. "Nih kunci mobil, ka yang nyetir kelak e," (Nih Kunci mobil, kamu yang nyetir nanti) ucap Nindy sambil melempar kunci mobil pada Agra yang siap menangkapnya.
Agra menaikkan kedua alisnya, "Kenalken wah," (Kenalin dong) bisik Agra sambil melirik Filla.
Nindy memutar bola mata malas, "Fill, Ngga ini Agra temenku, dan Agra ini Filla dan Rangga anak sahabat orangtuaku," ucap Nindy.
Mereka bersalaman bergantian sambil menyebutkan nama masing-masing.
Filla tersenyum pada Agra, Filla yakin Agra adalah tipikal orang yang sangat ramah dan humoris, terbukti sikap yang ia tunjukan diawal pun adalah sikap akrab.
"Kalian harus lihat kebawah, pemandangannya keren," ucap Agra sambil menunjuk danau yang ada di dataran rendah dibawah mereka. "Yuk," ajak Agra yang tanpa sungkan langsung merangkul Rangga.
Mereka berjalan menuju kebawah, menyusuri jembatan kayu yang memang dibuat agar lebih mudah berjalan kebawah.
Danau biru (Danau Koalin) seperti namanya danau di samping kanan mereka memang berwarna biru jernih, bahkan dasar dari danau bisa dilihat sangking jernihnya.
Filla tak bisa membayangkan bagaimana sebuah galian dari pertambangan bisa seindah ini, dan tak kalah mengejutkan, disebelah kiri mereka juga ada danau dengan air bewarna hijau jernih yang tidak terlalu lebar namun panjang.
Banyak orang yang menyempatkan diri berfoto dengan pandangan yang disuguhkan, beberapa orang juga menaiki sepeda air bentuk bebek dibawah sana.
"Kita naik itu yuk," ajak Agra sambil menarik tangan Nindy membuat Filla dan Rangga juga mau tidak mau mengikuti mereka.
********
__ADS_1