Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 62


__ADS_3

Filla dan Raya sekarang duduk disalah satu kursi di kantin kampus, mereka bercengkrama sejak mata kuliah terakhir selesai setengah jam lalu, Filla ditemani jus alpokat bercerita banyak kepada Reya yang sibuk memakan nasi goreng dan jus stroberi didepannya.


"Lo nggak laper?" Entah pertanyaan keberapa yang Reya layangkan untuk Filla.


Dan jawaban Filla hanya berupa gelengan untuk kesekian kalinya.


"Sumpah keren banget lo bisa ngobrol sama kak Rafael, biasanya nggak ada satu cewekpun yang ia ajak ngobrol duluan, dia itu cowok paling pendiem dan cool dikampus ini."


Filla kembali menggeleng, sudah kesekian kalinya Reya menanyakan prihal kak Rafael sejak pagi tadi, "Biasa aja kali Rey, cuma diajak ngobrol," jawab Filla sekenanya.


Reya meletakkan sendok makannya dan menatap Filla, "Biasa aja gimana? Lo pikir cewek dikampus ini bisa biasa aja waktu liat lo disamperin kak Rafael?" tanya Reya kesal.


"Kan jelas, dia cuma balikin kamera," jawab Filla sekenanya.


Reya bernapas pasrah dan diam, ya Filla menang kali ini, Reya setidaknya akan diam jika kalah dengan Filla.


Saat Filla mengambil minumannya dan hendak meminum jus alpokatnya, Rasti dengan kasar tiba-tiba mengambil jus Filla dengan paksa sambil tersenyum jahat, "Disini ternyata," ucap Rasti menatap Filla yang menatap malas padanya.


"Apaan lo nenek sihir?" bentak Reya muak melihat Rasti yang selalu mencari masalah.


"Lo, diem aja, urusan gue sama temen lo, bukan sama lo!" ucap Rasti sambil mendorong Reya dengan telunjuknya membuat Reya mundur.


Melihat perlakuan Rasti terhadap Reya, Filla bangkit dan manatap Rasti malas, "Mau lo apa?" tanya Filla dengan mata tajamnya, semua orang sedang melihat kearah mereka sekarang, menunggu adegan peradegan yang akan dipertontonkan.


Rasti dengan senyum liciknya menumpahkan minuman Filla ke lantai dan kembali meletakkan gelas yang masih berisi setengah keatas meja, "Cuma itu aja kok mau gue," ucap Rasti setelah menumpahkan minuman Filla.


"Lo apaan sih cewek gila?" bentak Reya yang mulai kesal dibuat Rasti.


Filla menahan Reya dengan tangannya, dan menatap Reya mengisaratkan Reya untuk diam, dan Reya menurutinya, "Mau lo cuma itu? Yaudah mau gue juga sederhana," ucap Filla lalu mengambil gelas yang masih berisi setengah jus alpokatnya dan menyiramnya ke Rasti.


Rasti terdiam mencerna apa yang terjadi, ia sangat terkejut, tak menyangka Filla akan menyiramnya.


Reya senang Filla berhasil membungkam Rasti.

__ADS_1


"Sederhana kan? Hanya mengembalikan yang gue terima," ucap Filla lalu menabrak bahu Rasti sehingga Rasti terhuyung dan melangkah sambil menarik Reya pergi dari tempat itu, terdengar sorak meriah mendukung Filla, dan menyoraki Rasti saat Filla menjauh.


Tanpa Filla ketahui Rangga menatap punggungnya sampai menghilang dan terdiam saat beberapa bayangan tentang Filla berputar diotaknya.


*****


"Makasih lo udah mau dateng," ucap Rafael saat dirinya dan juga Filla sudah duduk berhadapan disebuah kafe.


Filla mengangguk, "Gue yang makasih Kak, padahal nggak diteraktir juga nggak apa-apa," jawab Filla sambil tersenyum kearah Rafael, awalnya ia juga terkejut saat menerima DM dari Rafael yang ingin meneraktirnya karena sudah meminjamkan kamera, Filla awalnya menolak tapi karena Rafael terus membujuk jadi apa salahnya jika Filla menjalin pertemanan dengan Rafael yang notaben Katingnya.


"Gue beneran makasih buat kamera yang lo pinjemin, jadi traktiran harus dilakuin dong buat ucapan terimakasih," jawab Rafael sekenanya.


Rafael memang pria humble yang murah senyum, siapapun yang berada didekatnya merasa akan cepat akrab termasuk Filla.


Cukup lama mereka berbicara dan sesekali melempar candaan, mereka sudah sangat akrab, sifat Rafael yang sangat ramah membuat Filla lepas bercerita walau baru pertama berbicara panjang bersamanya.


"Makasih Kak traktirannya, tapi gue udah harus pulang ni," ucap Filla sambil tersenyum setelah melihat arloji yang melingkar dipergelangan tangannya.


Rafael mengangguk, "Yaudah, yuk gue anter," ucap Rafael sambil beranjak dari duduknya.


Rafael mengagguk paham dan tersenyum, "Gue anter sampai parkir kalau gitu," ucapnya dengan ramah.


Filla mengangguk, tidak ada alasan untuknya menolak.


Mereka melangkah keluar kafe beriringan dengan membawa es krim ditangan mereka masing-masing, banyak yang berbisik mengatakan mereka sangat serasi sebagai sepasang kekasih, Filla dan Rafael bukannya canggung malah tertawa mendengar ucapan mereka yang lewat disamping mereka.


Jika masalah keren, Filla akui Rafael benar-benar pria yang mendekati sempurna, tak kalah oke dengan Rangga, bahkan jika diperhatikan Rafael memiliki lesung pipi yang cukup dalam menambah ketampanannya.


Rafael memiliki tubuh yang tinggi, bahkan Filla hanya sebatas bahunya walau Filla sudah memiliki tinggi ideal para wanita, Rafael juga terkesan cool, tapi ketika sudah akrab maka semua tak akan percaya ia adalah pria humoris dan ramah.


"Sini gue bukain es krimnya," ucap Rafael sambil meraih es krim dari tangan Filla dan membukanya, lalu ia kembalikan ke tangan Filla.


"Makasih," ucap Filla, sesaat ia terdiam saat melihat es krim ditangannya memiliki toping dengan rasa stroberi, ia merutuki dirinya sendiri kenapa tadi tidak memperhatikan es krim yang ia ambil.

__ADS_1


Langkah Filla terhenti saat ia melihat kehadiran Rangga didepan sana, Rangga menatap Filla dan Rafael dengan mata elangnya, menyadari hal itu Filla mengalihkan pandangannya, hatinya tak mampu jika matanya terus bertatapan dengan Rangga, ia tak bisa memungkiri bahwa dengan 3 hari ia belum bisa melupakan Rangga dalam hidupnya walau ia sudah memaksakannya.


"Kenapa berenti?" tanya Rafael bingung.


Filla hanya melempar senyuman dan menggeleng, lalu mengajak Rafael kembali berjalan menuju parkiran.


"Fill," Rangga memanggil ketika tepat dihadapan Filla dan Rafael.


Filla menatap Rangga penuh tanya, "Hay Ngga," sapa Filla sekenanya. "Kanalin Kak ini Rangga, tetangga," jelas Filla pada Rafael yang sejak tadi diam.


Rangga menatap es krim ditangan Filla lalu mengambilnya dan melemparnya jauh ke tanah.


"Apa-apaan sih Ngga?" tanya Filla tak habis fikir dengan tingkah Rangga.


Rangga menatap Filla tajam, lalu meraih tangan Filla dan menariknya kuat hingga Filla mengikutinya, "Dia pulang bareng gue," ucap Rangga pada Rafael tegas.


Filla hanya bisa mentap Rafael dengan wajah merasa bersalah, tapi Rafael hanya mengangguk dan tersenyum.


"Tangan gue sakit Ngga," bentak Filla dan menghempas tangan Rangga dan akhirnya cengkraman kuat Rangga lepas dari tangannya, meninggalkan jejak merah pada pergelangan tangannya.


Rangga menatap Filla tajam, "Ngapain jam segini disini?" tanyanya tajam.


Filla menatapnya kesal, "Ya makanlah mau ngapain lagi?" jawab Filla.


Rangga menggeram marah mendengar jawaban ketus Filla, dan perubahan sikap Filla yang selalu lembut, "Lo yang bilang kalau lo pacar gue, kenapa sekarang lo jalan sama cowok lain? Selingkuh?" bentak Rangga. Benar-benar marah.


Filla mengkerutkan keningnya bingung dengan apa yang diucapkan Rangga, "Pacaran dalam mimpi, kan lo yang bilang sendiri," jawab Filla keras, kesal dengan tingkah Rangga yang membuatnya berharap nantinya. Ia ingin mengakhirinya.


"Lo kok jadi kayak gini? Bukannya lo yang kekeh bilang gue pacar lo? Sekarang malah jadi ketus gini," ucap Rangga penuh emosi.


Filla menetralkan emosinya, lalu menatap Rangga tajam, "Gue cuma ngaku-ngaku dan nggak tahu malu, jelas? Jadi sekarang jangan buat gue bodoh kayak dulu karena sikap lo, lo yang suruh gue berhenti, kenapa sekarang lo pertanyakan? Gue capek Ngga," ucap Filla, akhirnya airmata yang ia tahan sejak tadi mengalir.


Rangga bernapas pasrah dan mendekati Filla, tapi Filla malah memundurkan langkahnya, "Fill," ucap Rangga pelan.

__ADS_1


"Cukup, gue mau pulang, gue minta lo jangan bersikap kayak gini lagi, anggep kita cuma tetangga," ucap Filla lalu berlari meninggalkan Rangga yang masih terpaku ditempatnya.


******


__ADS_2