Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)

Filla Dan Rangga (The Perfect Dream)
Bab 78


__ADS_3

"Nih," ucap Rangga sambil memberikan jaketnya pada Filla, sekarang mereka berdua berada di basement Mal setelah berpisah dengan yang lain.


Filla menggeleng, "Gue udah pake jaket Ngga," ucap Filla sambil memperlihatkan jaket denim yang melakat dibadannya.


"Masih dingin itu," ucap Rangga sambil menarik tangan Filla dan memberikan jaketnya.


"Lo?" tanya Filla saat melihat Rangga hanya menggunakan kaos tipis.


Rangga tanpa memperdulikan ucapan Filla menaiki motornya dan memakai helem, "Ayo naik, entar tambah malem," ucap Rangga sambil menoleh kearah Filla.


Filla mengangguk, belum sempat menaiki motor ponsel Filla berdering, membuat gema di sekitarnya.


Filla dengan cepat meronggoh tasnya, "Hallo Papa, ada apa?" ucap Filla.


Papa diam, hanya deru napasnya yang terdengar.


"Papa?" Filla menjadi gelisah jika papa bersikap seperti sekarang.


"Kakak tenang, jangan panik ya," ucap papa berusaha tenang diseberang.


Filla mengatur napasnya menyiapkan diri apa saja yang akan papa katakan.


"Mama sekarang dirumah sakit, kakak pelan-pelan kesini jangan khawatir, mama baik-baik aja," ucap papa tenang walau terdengar jelas nada khawatienya.


Filla menutup mulutnya, perasaan yang sama saat ia mengetahui orangtuanya meninggal terasa kembali.


"Pa, mama nggak Kenapa-kenapa kan?" tanya Filla yang mulai menangis.


Rangga yang terjejut mendekati Filla dan mencoba menenangkan Filla dengan menggosok bahu Filla.


"Papa," panggil Filla tak sabar saat papa tak kunjung menjawab pertanyaannya.


"Kakak tenang, mama baik-baik saja," ucap papa.


Filla tahu pasti keadaan sekarang lebih Buruk jika papa ragu menjawab pertanyaannya.


Filla menangkup wajahnya dengan tangan saat sambungan telpon dengan papa berakhir.


Rangga menarik Filla dalam pelukannya, "Nggak akan terjadi apa-apa," ucap Rangga menangkan.


"Gue nggak mau kehilangan mama lagi Ngga, nggak mau," ucap Filla menumpahkan tangisnya pada dada bidang Rangga.

__ADS_1


Rangga mengelus puncak kepala Filla, "Lo jangan mikir yang macem-macem, yakin semua baik-baik aja," ucap Rangga.


Filla tak menjawab, sekarang Perasaannya campur aduk, membayangkan akan ada yang terulang pada mimpi buruknya membuat Filla enggan.


"Rangga anter gue kerumah sakit," pinta Filla smabil melepas pelukannya dari Rangga.


Rangga mengangguk cepat.


******


"Papa," Filla langsung berlari kepelukan papa. "Papa, Filla nggak mau kehilangan mama lagi," ucap Filla sambil terisak.


"Nggak akan Kak, jangan mikir macem-macem," ucap papa sambil mengelus puncak kepala Filla.


Filla menumpahkan tangisnya didalam pelukan papa. menyalurkan rasa takutnya yang mendominasi saat ini.


"Keadaan mama gimana?" tanya Filla tak sabar setelah melepas pelukan papa.


"Mama koma," ucap papa pelan hampir tak terdengar.


Tangisan Filla benar-benar tumpah sekarang, mamanya berjuang didalam ruangan kecil disana, dan mereka hanya bisa menunggu.


Filla terduduk dikursi tunggu, menangkup wajahnya, sampai pelukan hangat bunda terasa hangat ditubuhnya.


Rangga menatap Filla yang begitu rapuh sekarang, melihat Filla lemah membuatnya ikut merasakan sakit teramat dihatinya.


"Kakak tenang, berdoa untuk mama, Bunda yakin mama akan baik-baik aja," ucap bunda menenangkan.


Fia mengangguk dalam tangisnya.


Filla tak bisa menahan tangisnya melihat mama terbaring dengan wajah pucat didepannya, saat ini ia berdua bersama mama, keterbatasan penjenguk membuat Filla dan yang lain harus berganti menemui mama sekarang.


Filla meraih tangan mama yang terasa dingin, Filla menahan tangisnya dan mencoba tersenyum walau masih ada tetes airmata yang mebasahi wajahnya.


"Dulu Mama yakin Filla akan bangun dari koma, sekarang giliran Filla yang akan yakin Mama juga bisa bangun, Mama pasti bisa, Mama adalah Mama terkuat yang Filla punya, jangan pernah berpikir buat ninggalin Filla Ma," ucap Filla sambil menaruh kepalanya pada tangan mama.


Filla menatap wajah mama yang sangat pucat, melihatnya terasa ada hati Filla yang hancur sekarang, ia tak akan bisa membayangkan jika semua ini akan terulang, dan ia akan hidup tanpa mama, Filla tak akan pernah mampu.


"Filla keluar dulu, Mama cepet bangun ya," pinta Filla terus mengajak mama berbicara sambil menahan tangisnya, ia tak mau terlihat rapuh didepan mama, yang dibutuhkan mama sekarang adalah semangat dari orang-orang disekitarnya.


*****

__ADS_1


Filla duduk disalah satu kursi ditaman belakang rumah sakit, papa menyuruhnya mencari udara segar sekarang, mungkin papa prihatin melihat Filla dengan mata pandanya, hampir 3 hari ia tak pernah ridur, selalu menemani mama tanpa mau meninggalkannya sedetikpun.


Belum ada tanda-tanda mama akan bangun dari komanya, namun Filla tetap yakin setiap harinya.


Filla tersentak saat seseorang duduk disebelahnya tanpa menyapa sedikitpun.


Filla menoleh, ia tambah terkejut saat nenek yang ia temui beberapa kali duduk disebelahnya tapi menatap lurus kedepan.


Filla mengerutkan keningnya bingung, nenek ini adalah orang yang menjadi teka-teki dreamcatcher yang masih ia simpan sampai saat ini.


Nenek itu menoleh pada Filla lalu menarik senyuman diwajahnya, "Sekarang tergantung pilihanmu," ucap nenek itu sambil tersenyum.


Filla menatap nenek itu tanpa berkedip, menerjemahkan setiap kata yang nenek itu ucapkan, "Maksud Nenek?" tanya Filla memberanikan diri.


Nenek itu tersenyum sambil memberikan Filla setangkai bunga lily putih, bunga yang sama ia terima dirumah.


Filla mengambilnya, "Untuk apa? Nenek juga mengirimnya kerumahku," ucap Filla.


"Arti bunga itu adalah kehidupan yang baru, sekarang waktunya kehidupan baru itu untukmu," ucap nenek.


Filla masih tidak mengerti dengan ucapan nenek yang terasa penuh teka-teki.


"Kamu sudah merasakan hidup tanpa orang tua namun ada pemuda itu disisimu, sudah cukup banyak keberuntungan untukmu, kamu mendapatkan keduanya sampai saat ini, namun sekarang saatnya kamu memilih, orangtuamu yang akan selalu bersamamu atau pemuda itu," ucap nenek itu sambil tersenyum.


Filla membulatkan matanya, "Maksud nenek saya harus memilih salah satu diantara mereka?"


Nenek itu tersenyum, "Pilihlah," ucapnya.


Filla memegang kepalanya, mencerna setiap keadaan yang ia alami sekarang, semua terasa memuakkan, sekarang ia harus memilih pilihan berat dalam hidupnya.


"Pilih pemuda itu dan ibumu meghilang atau pilih ibumu dan pemuda itu melupakanmu," ucap nenek itu sambil tertawa.


"Nenek siapa mengatur hidupku sampai sejauh ini?" tanya Filla kesal pada keadaan disekitarnya.


"Jangan pernah tamak," ucap nenek itu lalu berjalan meninggalkan Filla yang meneriakinya.


Filla menanggkupkan wajahnya, ia tidak mungkin membuat mama menghilang, ucapan nenek tadi adalah takdir terburuk yang tak ingin ia percayai sampai sekarang.


Filla menatap bunga lily ditangannya lalu menatap langit yang sedikit mendung, "Sepertinya aku mendapat hukuman," ucap Filla memaksa senyumnya menatap langit. "Sekarang harus bagaimana? Aku harus memilih?" tanya Filla, ia seperti orang gila sekarang, berbicara pada langit.


"Aku tidak bisa kehilangan mama," ucap Filla yang memejamkan matanya dengan tangan meremas kuat bunga lily yang masih ada ditangannya. Pilihan yang seharusnya memang ia pilih tanpa berpikir panjang, mama adalah segalanya walau ia harus kehilangan Rangga.

__ADS_1


******


__ADS_2